
Mesti demikian, Pandan wangi hanya bisa tersenyum, memandangi ke lima orang Ibu-ibu tersebut. Dia merasa geli, karena ulah sifatnya yang jahat, akhirnya mereka mendapat ganjarannya.
Di saat Pandan wangi asik memperhatikan, kelima orang Ibu-ibu itu. Tiba-tiba saja, dari luar Pak Kades memanggilnya. Pandan wangi pun langsung menghampiri Pak Kades, yang saat itu masih berada di depan pintu rumahnya.
"Pak Kades memanggil saya?" tanya Pandan wangi dengan suara lembut.
"Iya nak. Dari tadi Bapak menunggu Ibu-ibu yang masuk tadi, tapi hingga saat sekarang mereka belum juga keluar. Apakah mereka masih berada di dalam?"
"Iya Pak Kades, mereka masih berada di dalam. Sepertinya, mereka menikmati suasana yang menyenangkan di dalam sana. Bapak boleh kembali dulu, nanti Ibu-ibu itu, kan bisa pulang sendiri ke rumah mereka."
"Oh, kalau begitu baiklah. Bapak pulang dulu, nanti kalau Ibu-ibu itu tanya, bilang saja Bapak udah duluan ke kantor."
"Baik Pak Kades, nanti saya sampaikan kepada para Ibu-ibu itu," jawab Pandan wangi seraya tersenyum lebar.
"Terima kasih Pandan wangi, kalau begitu Bapak permisi dulu."
"Ya Pak Kades," jawab Pandan wangi dengan suara lembut.
Ketika Pak Kades telah pergi, meninggalkan rumah Pandan wangi. Wanita cantik itu pun, langsung masuk ke dalam kamar putrinya.
"Pak Kades tadi mana?" tanya Askara, ketika melihat Pandan wangi masuk ke dalam kamar Dea.
"Pak Kades sudah pergi Bang, hanya tinggal Ibu-ibu itu, yang masih berada di dalam rumah kita."
"Biarkan saja, sebentar lagi dia akan mencari jalan pulangnya sendiri," jawab Askara pelan.
"Maksud Abang apa?" tanya Pandan wangi tak mengerti.
"Abang kesal melihat kelakuan Ibu-ibu itu, apalagi perempuan yang bernama Tuti. Dia selalu saja membuat masalah, dengan keluarga kita. Abang akan beri mereka pelajaran, agar suatu saat nanti, dia tak akan lagi mengganggu keluarga kita."
Mendengar ucapan suaminya, Pandan wangi hanya diam saja. Karena apa yang dikatakan suaminya, memang benar adanya. Tuti bersama Ibu-ibu yang lain, mereka selalu saja mencari masalah.
__ADS_1
Mulai dari Pandan wangi masih kecil, sampai sudah dewasa, mereka selalu saja membuat keluarga Pandan wangi merasa kesulitan. Bahkan, mereka tega mengurung Pandan wangi, di dalam rumahnya sendiri. Karena takut, membahayakan pada suami mereka masing-masing.
Di saat Askara dan Pandan wangi sedang berada di kamar Dea, Askara pun membuka rajah gaib yang melindungi rumah mereka. Ketika rajah gaib itu terbuka, maka tanpa diduga, kelima Ibu itu, telah berada di dalam hutan.
Mereka semua kaget dan terkejut, karena saat itu mereka merasa bingung. Kenapa tiba-tiba saja telah berada di tengah hutan. Padahal saat itu, mereka berada di rumah Pandan wangi.
"Ya ampun, kita berada di mana ini Yol?" tanya Dewi heran.
"Hah benar. Kita berada di tengah hutan. Ya ampun, kenapa tiba-tiba saja kita berada di sini?" tanya Dewi ketakutan.
"Sepertinya kita terjebak di tengah hutan ini, sementara kita tidak tahu kita berada di hutan yang mana?"
"Tunggu-tunggu, kita tadi bersama Pak Kades, kita berjalan terus tanpa melihat di sekeliling kita. Berarti kita berjalan menuju hutan, apa kalian ingat dari mana kita tadi masuknya?" tanya Sinta pada keempat temannya itu.
"Ya Tuhan, aku takut sekali. Bagaimana ini?" tanya Yola pada tempat temannya.
"HP, ya HP. Kita akan memanggil suami kita, dengan HP. Kalian bawa HP kan?" tanya Dewi pada yang lainnya.
"Ya, kami bawa HP."
"Nggak ada signal, lagi. Gimana ini, kita berada di hutan yang mana, Dewi?"
"Aku juga nggak tahu Yol, saat ini kita berada di mana. Rumah kita pun entah di mana arahnya."
"Aduh, ini pasti ulahnya Pandan wangi," gerutu Aida seraya mengepalkan tangannya.
Di saat semua Ibu-ibu itu ribut, memikirkan jalan keluar dari dalam hutan itu. Tuti tampak diam, dia sadar kalau ulahnya itu, membuat Pandan wangi dan suaminya marah. Namun apa daya, mereka telah disesatkan oleh Askara di dalam hutan belantara.
"Aku yakin, pasti suami Pandan wangi yang telah menyesatkan kita," ujar Yola pada teman-temannya.
"Ya aku pun beranggapan seperti itu, pasti suami Pandan wangi itu adalah makhluk halus. Dia telah menyesatkan kita, karena dia kesal melihat kita memasuki rumahnya."
__ADS_1
"Itu semua ulahmu Tuti, gara-gara kau kami tersesat di hutan ini!" bentak Aida pada Tuti.
"Iya benar, dasar pecundang. Tahunya mengusik ketenangan orang. Sekarang kau lihat sendiri kan Tuti, kita terjebak di dalam hutan ini," timpal Dewi kesal.
"Aak..aak...!" ucap Tuti dengan kesal.
"Nggak usah pura-pura kesal, dasar bisu gak tau diri lagi!" bentak Dewi, seraya mendorong tubuh Tuti, hingga dia terjatuh.
"Dewi! apa yang kau lakukan pada Tuti kenapa kau mendorongnya?" tanya Sinta heran.
Gara-gara dia kan, kita semua terjebak di dalam hutan ini. Coba kalau dia tidak memprovokasi kita tadi siang, hal ini pasti takkan pernah terjadi pada kita. Apa nggak pecundang namanya."
"Salah Tuti. Dewi, itu salah kita semua, kenapa juga kita masuk ke rumah Pandan wangi. Coba kalau kita berdiri di depan pintunya, nggak perlu masuk ketika Pak Kades melarang, pasti hal itu nggak terjadi pada kita kan?"
"Sinta itu benar, ini semua bukan gara-gara Tuti. Tapi kita juga salah, bukankah tadi Pak Kades sudah melarang kita masuk ke rumah Pandan wangi. Tapi kita tetap ngotot untuk masuk ke dalam."
"Iya, aku tahu. Tapi kalau bukan Tuti, yang menyeret tanganku untuk mendekati rumah Pandan wangi, kita nggak akan nyampe di sini."
"Kau juga salah Dewi, nggak usah sok-sok bersih. Kau tadi yang mengajak kita, melaporkan kejadian itu sama Pak Kades. Sekarang kau malah menyalahkan Tuti."
Kelimanya pun saling menyalahkan, satu sama lainnya. Karena merasa kebingungan, mereka pun duduk di bawah pohon kayu, menanti keajaiban datang menghampiri mereka semua.
Sementara itu, Ara yang pergi ke hutan larangan, merasa kesulitan. Karena dia tidak berhasil menemukan cara untuk naik ke Kayangan.
"Bantu Ara, kenapa sih Ma. Panggilkan Ayah Danu, Ara mau ke hutan larangan Ma."
"Nggak sayang, hutan larangan itu sangat bahaya. Tak ada manusia di sana yang hidup nak, ngapain kau ke hutan larangan?"
"Ara mau mencari Ratu kupu-kupu Ma, karena dia telah menyerang Dea sahabatku. Hingga Dea sekarat Ma. Aku kasihan melihat kondisinya, Aku mau membantunya Ma."
"Nggak sayang, Mama nggak akan izinkan kau ke sana."
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*