
Kenapa kau mesti marah, aku berkata jujur kok. Kalau memang, kau nggak pernah berpesan apapun padaku. Ingat itu!" kata Anto, seraya melototkan matanya kepada ke arah Ara.
Melihat sikap Anto, yang telah membuat kebohongannya terbongkar. Ara langsung berdiri dan berjalan menuju meja Anto. Dengan sikapnya yang arogan, Ara menarik kerah baju Anto dan mengangkatnya, serta melemparnya ke depan kelas.
Hal itu membuat Dea terkejut, tanpa berpikir panjang lagi, Dea langsung membantu Anto. Sehingga tubuhnya, tidak membentur dinding kelas.
Melihat sikap Dea tersebut, seluruh murid langsung bertepuk tangan. Karena Dea secara spontan menyelamatkan Anto, sehingga Anto tidak mengalami luka memar di tubuhnya.
Melihat semua murid bertepuk tangan menyerukan keberhasilan Dea, Ara menjadi sakit hati. Ara menatap Dea dengan penuh amarah. Di hadapan seluruh murid Ara berencana hendak memukul Dea.
Di saat itu, Dea langsung berbisik ke telinga Ara, yang sedang menahan amarahnya.
"Tenanglah Ara, apakah kau mau mereka semua tahu, siapa kau sebenarnya?"
"Mendengar ucapkan Dea, Ara langsung mengendalikan amarahnya. Sehingga tubuhnya kembali melemah dan seperti biasa lagi.
"Kau keterlaluan Dea, kau selalu saja membuat aku malu di depan semua teman-teman," ucap Ara, setengah menekan suaranya kedalam.
"Apa Aku nggak salah dengar," bisik Dea sembari terus mencatat, tugas-tugas yang selama ini tertinggal.
"Salah dengar apanya! udah jelas-jelas kau selalu membuat aku merasa tersakiti."
"Ingat Ara, aku juga telah berusaha untuk menenangkan dirimu. Kalau nggak, mereka semua akan tahu siapa kau sebenarnya."
"Huuuh...! kau menyebalkan Dea."
"Mendengar ucapan Ara, Dea hanya diam saja. Dia tahu, kalau Ara tersinggung, tubuhnya akan berubah. Untuk itu, Dea berusaha untuk tidak menyakiti hati Ara.
Namun, niat Dea tak dipedulikan oleh Ara. Kemarahannya, di bawahnya hingga pulang sekolah.
"Ada apa lagi Ara?' tanya Dea dengan sedikit emosi.
"Aku ingin menyelesaikan masalah yang tadi," jawab Ara seraya menghalangi langkah Dea.
"Nggak mau lagi berurusan denganmu Ara. Sebab jika aku terus berurusan denganmu, maka aku akan berurusan dengan Ayahmu raja Dasamuka."
__ADS_1
"Tapi aku ingin berurusan denganmu, kita akan selesaikan hal ini secara satria."
"Baiklah, kalau memang itu yang kau inginkan, aku akan meladenimu!" ujar Dea seraya berlari secepat kilat menjauhi Ara.
Di saat Dea berlari menjauhinya, Ara merasa tersakiti. Dia pun emosi dan mengejar Dea hingga ke perbatasan desa. Setelah jauh berlari Ara merasa kehilangan Dea, karena dia sudah tak terlihat lagi.
"Kurang ajar! kau mempermainkan aku Dea!" teriak Ara kesal.
Di saat Ara sibuk mencari keberadaan Dea, gadis cantik itu pun datang dengan menotok bagian urat saraf Ara.
Gadis manis itu langsung meronta-ronta, minta dilepaskan. Namun totokan urat sarafnya, telah membuatnya melemah dan tak berdaya.
"Apa yang kau lakukan padaku Dea!"teriak Ara dengan suara lantang.
"Hahaha... hahaha...! ternyata kau tak sehebat yang kubayangkan Ara!" seru Dea dari atas pohon.
"Mendengar suara Dea, Ara langsung melihat ke atas pohon tersebut. Ternyata dia melihat Dea, duduk santai di dahan pohon yang berada di hadapannya.
"Kalau kau merasa hebat, lepaskan aku dulu. Kita adu tanding, siapa yang paling kuat di antara kita, maka dialah yang akan menjadi pemimpinnya," tantang Ara pada Dea.
"Iya, kalau kau berani turunlah! lepaskan totokan ini, agar aku bisa melawanmu."
"Kenapa mesti aku yang harus melepaskannya, kalau kau merasa kuat dan hebat, lepaskanlah sendiri totokan itu. Tapi ingat, jika kau salah sedikit saja, maka pembuluh darahmu akan pecah."
"Kurang ajar! kau mengancamku!" teriak Ara seraya meronta-ronta melepaskan totokan di tubuhnya.
"Aku nggak mengancammu. Tapi kalau kau merasa hebat lepaskan aja sendiri," ujar Dea sembari berlalu meninggalkan Ara sendirian.
"Ya ampun, kurang ajar kau Dea. Awas kau, akan kubuat kau menyesal seumur hidupmu," gumam Ara dengan suara pelan.
Ara terus berusaha melepaskan totokan di tubuhnya. Mesti sangat sulit sekali, namun dia tetap berusaha dengan emosi. Saat itu, Ara pun merubah bentuk tubuhnya, sehingga dia menjadi makhluk yang mengerikan.
Sementara itu, Dea yang tadinya pergi ternyata dia masih berada di sekitar Ara. Dea sengaja memancing emosi Ara, agar Dea dapat melihat, bentuk tubuh Ara yang sesungguhnya. Setelah Ara berubah wujud, Dea langsung menghampirinya dan duduk di atas gundukan batu yang besar.
Aku nggak kemana-mana Ara, aku masih di sini menemanimu!" seru Dea dari atas gundukan batu tersebut.
__ADS_1
"Kau kurang ajar Dea, rasakan pembalasanku ini!" ujar Ara seraya berlari menyerang Dea.
"Stop tunggu dulu! apakah kau tahu Ara, kenapa aku memancingmu hingga kau marah kepadaku?"
Mendengar pertanyaan Dea, Ara hanya diam saja. Tapi emosinya telah meluap-luap dan tak dapat ditahannya lagi. Ketika Ara kembali hendak menyerang Dea, tangan Dea langsung mendorong tubuh Ara, hingga genderuwo itu pun, terjungkal seketika dan tubuhnya kembali menjadi seorang gadis cantik."
"Sabar Ara. Aku sengaja melakukan semua itu, agar aku melihat. Jika kau sedang emosi, maka tubuhmu akan berubah wujud menjadi genderuwo yang mengerikan. Seandainya hal itu kau lakukan di dalam kelas, maka orang akan menghinamu nantinya."
"Apa maksudmu Dea, kau mau menghina aku?"
"Bukan Ara. Aku punya tujuan yang lain. Jika kau emosi di dalam kelas, maka tubuhmu akan berubah menjadi genderuwo yang mengerikan. Untuk itu, jangan sekali-sekali kau emosi di dalam kelas, agar mereka tidak tahu dan tidak mengetahui siapa kau sebenarnya."
"Aaaahh...! kau terlalu banyak bicara Dea. Ingat! urusan kita belum selesai. Aku harus bisa menghabisimu terlebih dahulu, sebelum kau menjadi penghalang untuk hidupku.
"Hmm....! ternyata dugaanku benar. Selamanya, kau akan tetap menjadi musuhku dan musuh bebuyutan kerajaan Parahyangan."
"Kalau kau sudah tahu, tunggu apa lagi. Ayo, kita akan akhiri semuanya sampai di sini!"
"Aku nggak mau Ara, kau tahu alasannya kenapa?"
"Apakah kau punya alasan untuk itu?" ujar Ara balik bertanya.
"Ya tentu...! apakah kau ingin tahu apa alasannya? ketahuilah Ara, jika kita wafat di saat kita sedang berduel di bumi. Maka jasad kita tak akan dihargai oleh prajurit kita. Akan tetapi, jika kita wafat saat bertempur di medan perang, maka jasad kita akan diagungkan oleh prajurit kita."
"Aaaahh...! bodo amat. Sekarang kau lawan aku dulu, urusan menang dan kalah baru kita selesaikan di medan pertempuran.
" Kau terlalu keras hati Ara, sebenarnya aku bukanlah tandinganmu. Sebab kau takkan mampu melawan aku."
"Banyak cerita kau Dea..!" teriak Ara, seraya menyerang Dea yang sudah siap untuk melawannya.
Pertarungan pun tak dapat dielakkan lagi, satu lawan satu sedang beradu kekuatan di bumi. Mereka sama-sama mengeluarkan jurus andalan mereka. Sehingga disaat kedua jurus mereka beradu, terdengarlah suara menggelegar di bumi.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1