AraDea

AraDea
Part 9 Lamaran untuk Pandan


__ADS_3

“Aku bukan penduduk bumi ini, kerajaan ku membutuhkan seorang Ratu yang nantinya bisa melahirkan seorang pewaris tahta ku. Dia akan ku jadikan senjata untuk membasmi klan sesat yang telah meresahkan,” bisik pria itu pelan.


Lalu di hadapan Pandan pria itu langsung merubah wujudnya menjadi seorang pria tampan yang memakai mahkota di kepalanya.


“Hah, kau seorang raja?”


“Iya, saat ini aku butuh seorang Ratu yang dapat melahirkan keturunan ku agar dapat melanjutkan tugas ku untuk masa yang akan datang.”


“lalu apa yang bisa ku bantu?”


“Menikahlah dengan ku!” ujar pria itu pelan.


“Menikah, tapi aku nggak punya apa-apa untuk menikah, kami orang miskin yang tak punya apa-apa,” jawab Pandan wangi dengan jujur.


“Kalau soal biaya pernikahan, kau nggak perlu pikirkan itu, kerajaan ku sanggup membiayai pernikahan kita selama empat puluh hari empat puluh malam.”


“Hah, benarkah itu?”


“Iya, sekarang jawablah pertanyaan ku, mau kah kau menjadi istri ku?”


“Untuk suatu pernikahan, Bumi punya peraturannya sendiri, setiap jiwa yang akan menikah, akan di ikat dalam satu perjanjian yang sakral."


"Aku akan mengikuti semua keinginan mu, aku akan turuti semua peraturan yang ada di muka bumi ini.”


Mendengar perkatan pria tersebut, Pandan tak dapat lagi mengelak, dengan sikap yang lembut Pandan menerima permintaan pria itu.


Setelah kesepakatan mereka buat, lalu pria itu menghilang begitu saja. Pandan berusaha mencari keberadaannya di setiap sudut rumah, namun tetap saja tak ketemu.


Sementara itu, Yeni yang telah selesai sholat, datang menghampiri Pandan yang saat itu di tinggal Ibunya di ruang tamu.


Setelah tiba di ruang tamu, Yeni tak melihat siapa pun di sana termasuk pria itu, Yeni pun langsung bergegas menuju kamar Pandan untuk memastikan kalau pria itu ada bersama Pandan di kamarnya.


Ketika pintu di buka oleh Yeni, dia tak melihat pria itu bersama putrinya. Merasa tak senang, Yeni pun kembali bergegas keluar dan kesumur, siapa tau pria itu berada di sana. Hal serupa pun tak ditemukan Yeni di luar dan di dapur.


“Aneh sekali, pergi kemana dia ya?” tanya Yeni pada dirinya sendiri.


Tak ingin berfikir panjang, lalu Yeni kembali ke kamar putrinya, yang saat itu masih mengerjakan sholat.


“Pria itu menghilang!” teriak Yeni pada Pandan yang tampak tenang sekali.


“Biarkan aja Bu,” jawab Pandan dengan tenang.


“Biarkan aja gimana maksudnya, nak?”


“Kalau dia ingin pergi, biarkan aja pergi, yang terpenting kita telah berusaha menolongnya, nanti kalau dia teringat dengan kita, maka dia pasti akan kembali lagi kerumah ini.”


Mendengar penjelasan Pandan, Yeni hanya diam saja. Putrinya berkata benar, kalau suatu hari nanti pria itu teringat akan kebaikkan mereka, dia pasti datang lagi untuk menemui mereka berdua.


Setelah mendengar penuturan Pandan wangi, Yeni langsung pergi meninggalkan kamar putrinya. Menyusul pula dengan pandan sesudah itu, mereka berdua sama-sama pergi ke dapur untuk membuat sarapan pagi.

__ADS_1


Saat memasak, tak sepetah katapun yang keluar dari mulut Pandan, karena saat itu tak ada yang bisa dia ucapkan, mesti begitu banyak sekali yang ingin Pandan katakan kepada Ibunya.


Tapi Yeni seorang Ibu yang bijak, dia mengerti betul dengan apa yang di rasakan putri satu-satunya. Setelah mereka selesai memasak, Yeni memanggil putrinya untuk duduk di sampingnya.


“Kamu sedang memikirkan apa nak?” tanya Yeni dengan suara pelan.


“Sebenarnya ada yang ingin ku sampaikan pada Ibu, tapi aku nggak tau mesti memulainya dari mana,” ujar Pandan dengan lembut.


“Ucapkanlah Bismillah, maka segala yang ada di dalam pikiranmu akan dapat kau ucapkan dengan baik dan benar.”


“Bismillah!” Pandan pun mengawali ucapannya dengan membaca nama Allah.


“Nah bicaralah Pandan, Ibu mu akan mendengarkannya.


“Baiklah, sebenarnya aku mau menikah Bu.”


“Menikah? Alhamdulillah ya Allah!” ucap Yeni dengan rasa bahagia.


“Ibu setuju?”


“Tentu sayang, Ibu pasti menyetujuinya.”


Lalu Yeni terdiam sejenak, membayangkan jika putrinya menikah sebentarlagi dia pasti akan menimang seorang cucu yang sangat lucu.


“Ibu kenapa tersenyum?” tanya Pandan ingin tau.


“Ibu sangat senang sekali sayang.”


“Kalau boleh Ibu tau, sebenarnya kamu mau menikah dengan siapa nak?”


“Dengan seorang pria yang sudah lama ku kenal Bu,” jawab Pandan berbohong.


“O ya? tapi semenjak kapan kau mengenal pria itu, padahal kau sendiri nggak pernah keluar rumah sekali pun.”


“Pria itu datang dalam mimpi ku Ibu.”


“Datang dalam mimpi mu?”


“Iya, Bu.”


“Kau kenal dengan pria itu nak?”


“Nggak Bu, tapi aku yakin kalau pria itu akan datang pada ku.”


“Siapa pun dia, Ibu pasti merestui pernikahan kalian tersebut.”


“Terimakasih, Bu.”


“Iya sayang, sama-sama.”

__ADS_1


Mereka berduapun saling berpelukan, rasa bahagia mewarnai pagi yang cerah itu. Lalu Yeni mempersiapkan sarapan pagi dan mereka melahapnya dengan senang hati.


“Ibu mau kekebun pagi ini nak, apakah kamu mau ikut?” tanya Yeni pada putrinya.


“Iya, Bu. aku akan ikut dengan Ibu, bosan dirumah sendirian.”


Yeni hanya tersenyum mendengar jawaban dari putrinya itu. Hatinya bahagia kalau putrinya itu bahagia.


Dua hari setelah itu, seorang pria bersama beberapa keluarganya datang kerumah Pandan, sementara itu Yeni dan Panda tak menyadari kalau seseorang datang kerumahnya.


“Tok, tok, tok!” dari luar Yeni mendengar seseorang mengetuk pintu.


“Iya, tunggu sebentar!” ujar Yeni seraya bergegas menuju pintu.


“Siapa Bu?” tanya Pandan ingin tau.


“Ibu nggak tau nak,” jawab Yeni seraya berjalan terus menuju pintu depan.


Ketika pintu di buka betapa terkejutnya Yeni, ketika di lihatnya begitu banyak orang yang berada di luar rumah dan semuanya mengenakan pakaian yang cukup bagus serta wangi.


“Hah, kalian siapa?” tanya Yeni ingin tau.


“Kami datang kesini untuk menikahkan putra kami dengan putri Ibu,” ujar seorang Ibu pada Yeni.


“Menikah?”


“Ya, menikah!”


“Tapi kami!” jawab Yeni bingung.


“Siapa yang datang Bu?” tanya Pandan dari dalam kamarnya.


“Ibu nggak tau nak, kesini lah dan lihat siapa yang datang.”


Di saat Pandan menghampiri Ibunya. Lalu, secara leluasa Pandan bicara dan menerangkan tentang pernikahan itu pada Ibunya.


“Baiklah, sekarang silahkan kalian semua masuk dulu,” ujar Yeni, yang saat itu kebingungan.


Pandan yang melihat wajah Ibunya sangat kuatir, dia pun datang menghampiri, dan memegang punggung Ibunya agar tetap mengambil hikmahnya saja.


“Tapi nak, kita ini miskin, Ibu nggak punya apa-apa untuk biaya pernikahan kalian.


“Ibu nggak perlu memikirkan biayanya, yang terpenting saat ini, Ibu mau memberi kami restu, kalau soal biaya udah di tanggung oleh mempelai prianya Bu.”


jawab Pandan dengan suara lembut.


“Baiklah Ibu akan merestui pernikahan kalian berdua,” jawab Yeni seraya memeluk tubuh putri kecilnya dengan lembut.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2