
"Itu makanya, kau jangan terlalu asik tinggal di hutanmu ini. Sehingga kau sendiri tidak mengetahui, siapa yang akan bakal menjadi pemimpin sesudah raja Dasamuka tiada."
"Maafkan kesalahan hamba yang mulia, hamba benar-benar tidak mengetahuinya," jawab Ratu kupu-kupu seraya sujud di hadapan Dea.
"Kau tahu Ratu. Saat ini kau telah membuat masalah besar. Kau telah memicu peperangan antara kerajaan Angkara dan kerajaan Parahyangan."
"Apa maksud yang mulia, hamba tidak mengetahui sama sekali."
"Aku yakin, kau sadar sepenuhnya dengan apa yang telah kau lakukan. Ketika kau turun ke bumi, Ratu kupu-kupu."
Mendengar ucapan Ara, Ratu kupu-kupu itu terdiam sejenak. Dia mengingat kembali masa lalu, yang telah dilewatinya saat turun ke bumi.
"Apa kau sudah mengingat semuanya?" tanya Ara pada Ratu kupu-kupu tersebut.
"Sudah yang mulia."
"Katakan padaku, apa yang ada di ingatanmu saat ini."
"Saat hamba turun ke bumi, hamba telah menyerang seorang gadis, yang pernah melakukan kesalahan dan membuat keturunan hamba musnah, di hutan larangan ini."
"Apakah kau mengenalnya?"
"Tentu yang mulia."
"Siapa namanya?"
"Gadis itu bernama Dea, dia hidup di bumi bersama Ibu dan Neneknya. Waktu itu, yang mulia raja menyekap Ibu dan Neneknya di hutan larangan ini. Lalu gadis itu melepaskan mereka berdua, dengan cara mengeluarkan senjata pusaka, milik kerajaan Parahyangan."
"Saat kau menyebut Parahyangan. Apa kau sadar, siapa gadis itu sebenarnya?"
Mendengar pertanyaan Ara, Ratu kupu-kupu terdiam sejenak. Tidak semudah itu, kerajaan Parahyangan memberikan senjata rahasia kepada orang lain. Saat itu Ratu kupu-kupu sadar, kalau yang datang menyelamatkan Ibu dan Neneknya itu, adalah putri raja Askara.
"Apakah kau sudah mengetahui, siapa gadis yang telah kau serang, sewaktu berada di bumi?"
"Iya yang Mulia, dia bernama Dea, Putri dari raja Askara sendiri."
"Iya, itu benar. Sekarang Dea sedang sekarat. Dia terus saja mengeluarkan darah dari mulutnya, karena racun yang kau berikan kepadanya. Tugasmu sekarang, turun ke bumi dan musnahkan racun yang berada di tubuh Dea."
"Tapi yang mulia!"
"Tapi apa Ratu?"
__ADS_1
"Bukankah Dea adalah, musuh kerajaan Angkara. Bahkan Ayahnya raja Askara adalah musuh bebuyutan yang mulia raja Dasamuka."
"Ya, itu benar Ratu kupu-kupu. Tapi satu hal yang kau tidak ketahui, dia itu adalah sahabat baikku, selama di bumi. Aku nggak akan pernah menyakitinya dan aku akan membunuh orang yang telah menyakitinya."
"Ara Apa maksudmu?"
"Selama kami masih berada di bumi, Dea akan tetap menjadi sahabatku dan kami saling melindungi. Tapi lain halnya, jika saat itu kami berada di medan perang, kami akan saling membunuh satu sama lainnya."
Mendengar jawaban Ara, raja Dasamuka tersenyum lebar. Dia senang karena putrinya kembali berperang untuk melindungi wilayah kerajaannya.
"Sekarang ikutlah bersama ku, turun ke bumi untuk mengobati sahabatku Dea."
"Baik yang mulia, hamba akan segera turun ke bumi untuk mengobati Dea."
"Bagus, ayo kita berangkat," ujar Ara seraya memegang tangan Ratu kupu-kupu.
Di saat Ara dan Ratu kupu-kupu turun ke bumi, raja Dasamuka kembali ke kerajaan Angkara.
Setelah raja Dasamuka tiba di alun-alun istana, seorang telik sandi datang menghampirinya.
"Ampun beribu-ribu ampun yang Mulia. Kami telik sandi dari perbatasan Angkara dan kerajaan Buana, datang untuk menghadap."
"Katakan telik sandiku, apa yang telah kau dengar dan kau lihat selama berada di perbatasan?"
"Kenapa para penduduk kerajaan Parahyangan, keluar dari kerajaan itu secara diam-diam, menuju kerajaan Buana, wahai telik sandiku?"
"Kami tidak mengetahuinya yang mulia, tapi tidak sedikit dari penduduk Parahyangan yang keluar dari kerajaan itu."
"Aneh, apa yang terjadi dengan mereka. Bukankah selama ini kerajaan Parahyangan, sangat menjunjung tinggi ketentraman masyarakatnya. Tapi kenapa mereka justru keluar dari kerajaan itu secara diam-diam?" tanya raja Dasamuka pada dirinya sendiri.
"Telik sandiku, pergilah kau ke perbatasan kerajaan Angkara. Tanya kepada seluruh penduduk, kenapa mereka keluar dari kerajaan Parahyangan secara diam-diam."
"Baik yang Mulia, titah yang Mulia segera hamba laksanakan."
Setelah mendapat tugas baru, telik sandi tersebut langsung bergegas pergi, meninggalkan alun-alun kerajaan. Senyum menggembirakan, terlihat jelas dari raut wajah prajurit tersebut. Karena informasi yang dia dapat, disambut baik oleh raja Dasamuka.
Sesuai dengan perintah raja Dasamuka, telik sandi itu, langsung pergi dengan mengendarai makhluk dari kerajaan Angkara. Kecepatan makhluk itu, sangat luar biasa. Sehingga tak membutuhkan waktu lama, tibalah mereka di perbatasan kerajaan Angkara.
Lama prajurit tersebut menunggu di perbatasan kerajaan Angkara. Namun tak seorang para penduduk pun melintas di tempat itu.
"Aneh, kenapa hari ini tak seorangpun para penduduk yang lewat melintasi tempat ini. Padahal dua hari yang lalu, mereka lewat berbondong-bondong menuju kerajaan Buana," gumam telik sandi tersebut, dengan suara pelan.
__ADS_1
Setelah setengah hari menunggu, akhirnya telik sandi tersebut, melihat dua orang pemuda sedang melintasi perbatasan kerajaan Angkara dan Parahyangan.
Lalu dengan pelan, telik sandi kerajaan Angkara mencoba untuk menghampirinya.
"Mau ke mana kalian?" tanya telik sandi tersebut."
"Kami mau menuju kerajaan Buana!"
"Apa! kerajaan Buana?"
"Apa yang kalian cari di kerajaan Buana. Bukankah kalian hidup tenang, di kerajaan Parahyangan?"
"Itu memang benar. Tapi selama kami berada di kerajaan Buana, masa depan kami terjamin di sana. Karena raja dari kerajaan Buana, memberi kami imbalan yang cukup besar, asalkan kami mau menyembahnya."
"Jadi kalian ke sana, hanya untuk menyembah raja dari kerajaan Buana?"
"Iya, setelah itu kami kembali ke sini dan kami manfaatkan hadiah yang telah diberikan oleh raja dari kerajaan Buana tersebut, untuk kehidupan kami sehari-hari.
"Emangnya apa yang telah dijanjikan oleh raja, dari kerajaan Buana tersebut kepada kalian?"
"Raja dari kerajaan Buana, menjanjikan kami sebidang kebun bunga yang telah siap panen untuk kami hisap madunya."
"Hanya itukah?"
"Iya, hanya itu saja."
"Kalau hanya mengharapkan sebidang kebun bunga, kenapa kalian nggak minta kepada raja Askara. Untuk sebidang kebun bunga yang siap panen untuk kalian hisap madunya?"
"Kami tak berani, karena kami takut untuk bicara kepada raja."
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi."
"Baiklah, silakan kau pergi."
Setelah mendapatkan begitu banyak informasi, dari para penduduk kerajaan Parahyangan, telik sandi dari kerajaan Angkara kembali menghadap rajanya.
"Ampun yang Mulia raja, saat ini hamba telah kembali untuk menghadap."
"Apa yang kau dengar dan apa yang kau lihat wahai telik sandiku?"
"Para penduduk dari kerajaan Parahyangan, ternyata mengharapkan sebidang kebun bunga yang sudah siap panen. Yang diberikan secara cuma-cuma oleh prabu kerajaan Buana. Bagi siapa yang mau mengakui dan menyembahnya sebagai sesembahan."
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*