
Tak sabaran melihat kondisi putrinya, Pandan wangi langsung membangunkan Dea, yang saat itu sedang mengalami mimpi buruk.
"Dea, Dea sayang, bangun Nak. Kamu mimpi lagi ya?" tanya Pandan wangi sembari menggoyangkan tubuh putrinya.
"Mama!"
"Kamu mimpi lagi nak?" tanya Pandan wangi tak sabaran.
"Iya Ma, aku mimpi lagi. Kali ini, aku melihat sendiri boneka itu keluar dari sebuah rumah mewah dan menuju ke suatu tempat. Tapi aku nggak bisa mengikutinya. Aku udah berusaha untuk mengikutinya, namun boneka itu tak bisa dilihat oleh mata batinku."
"Jangan-jangan, boneka yang kau lihat adalah boneka darah!"
"Maksud Mama, boneka darah apa?"
"Boneka, biasanya sering dimanfaatkan oleh para dukun, atau orang yang melakukan pesugihan. Boneka itu berfungsi, untuk mencari mangsa atau menghisap darah manusia. Agar kekuatan yang dihisap dapat berpindah kepada majikannya."
"Kalau begitu, berarti Ara menghisap darah manusia."
"Kamu yakin, boneka itu keluar dari rumah Ara? apakah kau udah melihat bagaimana bentuk rumah Ara tersebut."
"Belum Ma. Tapi sewaktu bermimpi, aku sangat yakin, kalau itu adalah rumah Ara."
"Kenapa, kau nggak menggunakan mata batinmu, untuk melihat keberadaan Ara. Padahal, sampai saat ini, belum dipastikan di mana dia tinggal."
"Aku udah mencobanya Ma, tapi nggak pernah berhasil. Baik Ara mau pun ibunya, mereka seperti tertutup oleh kabut hitam yang sangat gelap. Sehingga pandangan mata batinku, nggak dapat menembusnya."
"Hmm...!"
Seraya menarik nafas panjang, Pandan wangi duduk di atas sofa. Tatapan matanya yang indah, seperti sedang memendam rasa sedih, akibat tertekan oleh perasaan nya sendiri.
Betapa tidak. Sebenarnya Pandan wangi begitu tersiksa. Karena Putri satu-satunya yang masih kecil, sudah dijadikan mata-mata oleh raja dari Nirwana, yang tak lain adalah Papanya sendiri.
"Mama nggak usah bersedih. Aku nggak apa-apa kok, lagian ini nggak terlalu berat untuk dijalani. Semuanya tergantung kita Ma, jika pun aku nggak sanggup nantinya, aku akan mengabari Papa soal itu."
__ADS_1
"Kenapa nggak Papamu aja, atau prajuritnya yang menyelidiki semua ini. Bukankah kau masih kecil, Mama merasa kau nggak pantas menyandang gelar jenderal. Tolonglah mengerti Mama nak, sedikit aja, karena setiap kau menjauh dari Mama, mata ini nggak bisa tidur, Mama nggak bisa tenang nak"
"Sudahlah Ma, jangan terlalu dipikirkan. Aku baik-baik aja kok," jawab Dea, seraya kembali menarik selimutnya.
Melihat putrinya kembali tidur, pandan juga ikut tidur. Namun begitu sulit rasanya matanya dipejamkan. Rasa sedih di hatinya, membuat air mata Pandan tak pernah berhenti mengalir.
Askara yang merasakan kesedihan istrinya, dia langsung datang ke bumi dan menghampiri Pandan.
"Kenapa sayang, apa yang telah mengganggu pikiranmu saat ini. Katakan kepadaku, aku akan mencoba untuk membantunya."
"Aku hanya ingin, bebaskan putrimu dari tugas yang berat ini. Aku nggak bisa tenang, jika dia dibebankan tugas yang terlalu berat."
"Pandan. Dea itu bukanlah sembarang manusia, dia adalah keturunan bangsa jin yang sangat kuat sekali. Kau nggak perlu cemas, dia nggak akan semudah itu untuk meninggal atau mati dibunuh orang. Lagian, ada aku yang selalu melihatnya dari bola kristal istana."
"Aku ini manusia Bang, aku nggak sama dengan bangsamu. Aku seorang ibu, aku lemah dan aku tak ingin putriku menderita. Bukankah, prajuritmu begitu banyak yang akan mengurus semua urusan kerajaanmu. Kenapa harus dibebankan pada Putri kita?" Pandan tampak menangis pilu.
"Sayang, aku sengaja melakukan semua itu, untuk melatih daya ingat dan keberanian Putri kita. Apakah dia mampu mengemban tugasnya, atau dia selalu melalaikannya. Aku melakukan semua ini untuk mengujinya. Bukan hanya dia tapi ada puluhan prajurit mengikutinya dari
kejauhan."
"Tentu sayang, ada dua puluh lima orang prajurit yang selalu mengikuti kemana putrimu pergi mesti dia tidak menampakkan diri, namun mereka semua sudah terlatih untuk selalu mengikuti jejak musuhnya."
"Kalau begitu, baiklah. Akan ku izinkan putriku mengemban tugas ini. Tapi ingat, jika terjadi sesuatu pada Dea, aku nggak akan pernah lagi ke Nirwana menemuimu."
"Sayang, kenapa harus mengancam?"
"Karena selama ini, aku merasa kau hanya mementingkan kerajaanmu, ketimbang nyawa putriku."
Mendengar perkataan Pandan wangi Askara langsung memeluk istrinya. Apa yang dirasakan oleh Pandan wangi dia juga ikut merasakannya. Keberatan hati yang dirasakan oleh istrinya telah dijawab dengan jujur oleh Askara.
Setelah mereka selesai berbicara, Askara langsung kembali ke Nirwana. Dia selalu meninggalkan Pandan wangi bersama putrinya di bumi, karena memang Pandan wangi tak ingin tinggal di Nirwana, di kerajaan Parahyangan.
Keesokan harinya, seperti janji Dea kepada Pandan wangi. Setelah selesai salat subuh, Dea langsung menghilang, mesti terlihat pendiam namun Dea punya kekuatan dan ilmu yang sangat tinggi.
__ADS_1
Walau perjalanan menuju rumah Kemuning, begitu jauh dan bahkan harus ditempuh selama dua jam perjalanan. Namun Dea hanya melakukannya sekejap saja. Dari mata batin Dea, dia melihat ada sebuah rumah mewah yang terletak di tengah-tengah desa.
Di depan rumahnya ada tiga buah mobil yang sangat mewah. Tersusun rapi di garasi. Namun, Dea tak bisa masuk ke dalamnya. karena rumah itu sudah di lindungi oleh raja Dasamuka dari musuh-musuh yang akan mengganggu istri dan putrinya.
Rajah gaib itu, memang tak bisa dilihat oleh mata batin Dea, Tapi dia bisa merasakan kekuatan rajah gaib itu.
Dari atas balkon sebuah rumah, yang sangat jauh dari tempat Ara, Dea duduk bersila, seraya menutup kedua mata dan meletakkan kedua ujung jarinya di kening. Pandangan mata batin Dea, langsung menuju ke rumah Ara.
"Kenapa aku, nggak bisa menembus rajah gaib rumah itu?" tanya Dea pada dirinya sendiri.
Karena tak berhasil, Dea mencoba berulang-ulang kali. Namun alhasil tetap sama. Lagi-lagi Dea tak bisa menembus rajah gaib yang dipasang oleh raja Dasamuka.
Karena tak berhasil, Dea langsung turun dari balkon rumah tersebut. Gadis kecil itu berencana untuk menyusup masuk ke dalam, namun rencananya gagal, karena dilihat oleh prajurit Dasamuka.
Ketika ketahuan hendak menyusup, Dea pun bersikap biasa-biasa saja. Dea tak memperlihatkan kekuatannya sama sekali ke pada para prajurit itu. Bukan hanya itu saja, Dea juga berpura-pura tak melihat makhluk yang menjaga rumah tersebut.
Dengan tenang, layaknya seorang anak kecil, Dea pun mengetuk pintu rumah mewah itu dari luar secara berulang-ulang kali.
Mendengar suara pintu diketuk dari luar, Bondan langsung bergegas menuju pintu. Sementara para prajurit, yang diutus oleh raja Dasamuka untuk melindungi rumah itu tak mampu mencegah, Dea untuk menemui majikannya.
"Assalamualaikum Om," sapa Dea.
"Waalaikumsalam," jawab Bondan, seraya membuka pintu rumah itu.
"Benarkah di sini itu, rumah Ara Om?"
"Bena,r kamu siapa?"
"Aku temannya, Ara ada Om?"
"Ada, dia masih tidur di kamar," jawab Bondan dengan tenang.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*