AraDea

AraDea
Part 94 Makan daging mentah


__ADS_3

Lama Ara menunggu di samping Kemuning, namun Mamanya tetap belum sadarkan diri. Beberapa saat kemudian, Ara merasa gelisah, lalu dia pun pergi meninggalkan Mamanya sendirian.


Ara pergi ke sekolah dengan mulut berdarah-darah. Di perjalanan dia berpapasan dengan Dea, saat itu Dea melihat wajah Ara dipenuhi darah.


Sebelum orang lain melihat Ara seperti itu, Dea langsung menarik tangan Ara dan membawanya ke pinggir sungai.


"Lepaskan!" teriak Ara, di saat tangannya ditarik oleh Dea ke sebuah sungai.


"Tenanglah, aku nggak bermaksud jahat padamu."


"Lalu kenapa kau menarik tanganku begitu kuat?" tanya Ara tak mengerti.


"Berkaca lah di air itu, lihat wajahmu yang dipenuhi oleh darah. Apa kau ingin semua teman-teman menertawakan dirimu?" tanya Dea, seraya membantu membersihkan wajah Ara dengan air.


Saat tangan Dea menyentuh wajah Ara, gadis itu mencium aroma yang sangat wangi dari tubuh Dea.


"Kenapa tubuhmu begitu wangi Dea?" tanya Ara dengan suara pelan.


"Tubuhku memang dari bayi sudah wangi Ara, nggak ada yang ku tambahi dan nggak ada yang ku kurangi."


"Jika saja tubuhku sewangi tubuhmu, pasti aku merasa senang sekali. Karena tak ada yang enggan berteman denganku."


"Saat ini pun, nggak ada yang merasa enggan berteman denganmu Ara, semua teman bahkan merasa senang bersahabat denganmu!"


"Bohong! siapa bilang mereka suka berteman denganku Dea, mereka hanya suka berteman denganmu. Bukan aku!" ujar Ara dengan suara keras.


"Ayolah Ara, kita kembali ke sekolah!" ajak Dea pada Ara.


"Apa wajahku nggak berdarah lagi?"


"Nggak, udah bersih kok. Ayo kita ke sekolah!"


"Ayo!"


Lalu mereka berdua pun segera berangkat ke sekolah dengan wajah Ara yang tampak bersih.


Namun setelah mereka tiba di sekolah, semua teman-teman mencium bau amis di tubuh Ara, mereka semua merasa mual dan bahkan ada yang muntah ketika Ara mendekatinya.


Hal itu membuat Ara marah dan kesal, dia pun memukul dinding sekolah hingga dinding itu retak.


Melihat kejadian itu, semua murid berlarian keluar. Karena mereka takut kalau-kalau ruangan mereka, akan roboh. Karena dinding yang dipukul Ara, mengalami keretakan yang parah.


Ketika seluruh siswa berlarian keluar, para guru merasa heran dan mereka berdatangan ke kelas 1A.


"Ada apa ini?" tanya guru biologi kepada salah seorang murid kelas 1A.


"Dinding sekolah kami retak Bu!"


"Kenapa bisa retak, kan dinding itu kokoh?"

__ADS_1


"Ara baru saja meninjunya Bu."


"Ara meninju dinding hingga retak?"


"Iya Bu. Kalau Ibu nggak percaya, lihat aja sendiri ke sana."


"Ah serius kamu!" ujar guru biologi itu tak percaya.


Mendengar penjelasan dari seorang siswa tersebut, beberapa orang guru langsung datang ke kelas 1A, untuk memeriksa kondisi ruangan itu. Apa benar mengalami keretakan atau tidak.


Setelah diperiksa, ternyata laporan siswa itu benar adanya. Dinding kelas 1A mengalami retak yang cukup parah, bahkan plafonnya pun hampir terjatuh ke bawah.


Melihat kondisi yang sangat parah itu, kepala sekolah memanggil Ara untuk datang ke kantor.


"Tenang Ara, kontrol emosimu. Jangan sampai semua orang tahu, siapa kau yang sebenarnya."


"Tapi mereka menghina aku Dea!"


"Mereka nggak menghinamu Ara, hanya saja mereka merasa mual ketika berpapasan denganmu."


"Kenapa mereka merasa mual, bukankah aku telah mencuci muka ku di sungai bersamamu?"


"Itu benar Ara, tapi kita lupa bahwa bau amis darah di wajahmu, masih tercium oleh manusia biasa."


"Lalu apa yang harus kita lakukan Dea, agar mereka nggak lagi mencium bau amis di tubuhku ini."


"Aku makan daging ayam mentah Dea."


"Masya Allah, kau makan daging mentah rupanya?"


"Iya Dea, rasanya lezat sekali. Darahnya yang masih segar terasa begitu manis. Aku nggak sanggup membayangkannya, betapa nikmatnya daging itu."


Di saat Ara menjelaskannya, Dea baru sadar, kalau Ara adalah makhluk genderuwo.


"Ya udah, kalau begitu kita pulang saja ke rumahmu, kita bersihkan di rumahmu saja, kau harus mandi Ara."


"Baiklah, ayo kita pulang!" ajak Ara pada Dea.


Ketika Ara menarik tangan Dea, Dea langsung menipisnya. Bukan berarti Dea marah kepada Ara. Akan tetapi, Dea ingin membawanya, secepat kedipan mata Ara.


"Kenapa? kau nggak mau nemani aku ke rumah?"


"Siapa bilang aku nggak mau menemanimu."


"Lalu kenapa kau menepis tanganku?"


"Biar aku saja yang memegang tanganmu."


"Kenapa? apa aku salah memegang tanganmu."

__ADS_1


"Nggak juga. Tapi kalau aku yang memegang tanganmu, kita akan tiba di rumahmu dalam sekejap mata," jawab Dea, seraya langsung menghilang dari pandangan semua orang.


Hanya sekejap mata, seperti yang diucapkan Dea, mereka berdua pun langsung tiba di depan rumah Ara.


Ketika keduanya hendak masuk ke dalam, di depan rumah Ara, Dea melihat seekor ayam yang telah dikerubungi lalat berserakan.


"Apakah kau memakannya tadi Ara?"


"Iya, kenapa?"


"Apa Mamamu nggak melihat?"


"Iya, dia melihat dengan jelas."


"Lalu apa reaksinya?"


"Dia pingsan nggak sadarkan diri. Saat ini Mama ada di ruang tengah, tadi aku tinggal, karena dia tak kunjung sadarkan diri."


"Astagfirullah, kenapa kau begitu tega Ara, meninggalkan Mamamu dalam keadaan tak sadarkan diri."


"Kenapa? apa masalah denganmu?"


"Masalahnya bukan denganku Ara, tapi dengan Mamamu sendiri. Jika dia tidak sadarkan diri, lalu kau tinggalkan apa kau nggak takut, terjadi sesuatu pada Mamamu."


"Iya juga sih!" ujar Ara, seraya berlari menuju ruang tengah. Di mana, dia menaruh tubuh Mamanya di atas sebuah dipan.


Saat Dea menghampiri Kemuning, perempuan itu masih tak sadarkan diri. Lalu Dea menaruh telapak tangannya di kening Kemuning. Seketika perempuan itu pun, sadar dari pingsannya.


"Oh putriku, kenapa kau makan daging mentah nak!" teriak Kemuning histeris ketika dia sadar dari pingsannya.


"Ibu, Ibu yang tenang ya. Ini aku Dea," ujar Dea, seraya membantu Kemuning untuk duduk.


ana Ara nak, kenapa dia nggak kelihatan?"


"Ara sedang di kamar mandi Bu, Dia membersihkan tubuhnya yang berbau amis."


"Ibu tadi melihat sendiri, kalau Ara memakan daging mentah di depan rumah nak."


"Iya Bu, aku sudah tahu itu, lagian Ibu tahu sendiri kan, siapa Ara sebenarnya?"


"Iya nak, Ibu tahu tapi Ibu tak tega melihatnya seperti itu. Padahal kalau dia bilang ingin makan ayam panggang, Ibu pasti membuatkannya dan memasakkan spesial untuk dia. Tapi dia malah memakan daging ayam mentah, tepat di hadapan Ibu nak."


"Ibu, itu udah tabiat Ara. Makan daging mentah dan meminum darah segar. Ibu nggak usah kaget dan takut, bagaimanapun caranya Ibu melarang, dia akan tetap melakukan hal itu, Bu."


"Ibu takut nak. Jika suatu saat nanti, orang akan melihat hal itu. Ibu malu nak."


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2