AraDea

AraDea
Part 33 Ancaman


__ADS_3

"Ara senang melakukannya?"


"Iya Pa."


"Melakukan apa sayang?" tanya Bondan heran.


"Papa nggak usah banyak tanya deh, Ara kan minta Papa beliin bunga. Cepat dong Pa beliin, Ara udah lapar. Ara mau melakukan ritual Pa."


"Kenapa mesti melakukan ritual sih sayang, itu perbuatan syirik namanya nak. Agama kita melarang untuk melakukan hal itu. Sama artinya kamu telah menyekutukan Allah," ujar Bondan kepada putrinya.


"Ah Papa, kebanyakan ngomong tau. Ayo cepat beliin, nanti keburu terlambat," jawab Ara, seraya mendorong tubuh Bondan untuk segera membelikan kembang.


Mesti terasa begitu berat, namun Bondan tak mampu menolak permintaan Putri kecilnya itu. Dengan langkah pelan, Bondan pun akhirnya menuju garasi mobil. Malam itu juga, Bondan pergi ke toko bunga untuk membeli pesanan Ara.


"Assalamualaikum, Mak."


"Waalaikumsalam, eh nak Bondan. Mau beli kembang lagi ya?" tanya Mak Rodiah ingin tahu.


"Bener Mak, Ara katanya udah lapar."


"Emangnya, putrimu makan kembang setiap hari ya, Bondan?"


"Iya Mak, dia makan kembang dua kali sehari."


"Saat ini kan udah malam nak Bondan, kau membeli kembang untuk siapa?" tanya Mak Rodiah heran.


"Untuk Ara, Mak."


"Malam-malam begini putrimu masih makan kembang juga, Bondan."


Bondan Tak menjawabnya mesti pertanyaan Mak Rodiah terdengar jelas di telinganya. Bondan sengaja tak menjawab karena, jika dijelaskan Mak Rodiah pasti menduga kalau putrinya ikut bersekutu dengan iblis.


"Aku mau kembangnya dua bungkus ya Mak," ujar Bondan mengalihkan pertanyaan Mak Rodiah.


Setelah kembang itu dibungkus dengan menggunakan daun pisang, lalu Mak Rodiah menyerahkannya kepada Bondan untuk dibawa pulang. Lalu Bondan mengambil kembang itu secepatnya dari tangan Mak Rodiah.


"Ini uangnya Mak," ujar Bondan Seraya memberikan uang pecahan Lima puluh ribu kepada Mak Rodiah.

__ADS_1


"Bondan, Kau harus hati-hati dengan istri dan putrimu. Karena nantinya bisa membahayakan nyawamu sendiri."


"Maksud mak apa ya?" tanya Bondan tak mengerti.


"Ah sudahlah, nggak usah dibahas. Segeralah pulang ke rumah, berikan kembang itu secepatnya kepada putrimu."


"Baik Mak," jawab Bondan sembari berlalu meninggalkan toko kembang milik Mak Rodiah.


Di perjalanan menuju rumah, hati Bondan merasa tak tenang. Dia teringat dengan ucapan Mak Rodiah, yang menyuruhnya berhati-hati pada Putri dan istrinya Kemuning.


"Sebenarnya maksud Mak Rodiah apa ya? kenapa dia menyuruhku berhati-hati pada istri dan putriku sendiri, apakah mak Rodiah tahu, kalau istri dan putriku melakukan ritual pemujaan setiap malam purnama."


Tak ingin berpikir lama, Bondan pun memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Lalu tiba-tiba saja di depan mobilnya melintas seorang perempuan.


Hal itu membuat Bondan terkejut, mobil pun direm secara mendadak hingga kepala Bondan terbentur kaca. Darah pun bercucuran mengenai wajahnya Bondan tampak menangis sedih.


Sementara itu, di rumah Ara dan Kemuning telah resah menantikan Bondan kembali. karena tanpa kembang tujuh rupa perlengkapan untuk melaksanakan ritual sudah dipastikan gagal dan hal itu membuat raja Dasamuka menjadi marah.


"Ada apa ini, kenapa kalian tak melakukan pemujaan kepadaku malam ini?" tanya dasamuka dengan wajah memerah.


"Maafkan aku Ayah, Papa belum kembali. Dia pergi ke toko bunga untuk membeli kembang pesananku."


"Bondan saat ini sedang mengalami kecelakaan, sebentar lagi kembang pesananmu akan tiba di sini. Lakukan secepatnya ritual yang aku pesankan."


"Lalu bagaimana dengan Mas Bondan Bang?" tanya Kemuning ingin tahu.


"Saat ini dia tak sadarkan diri di atas mobilnya."


"Oh kang Mas!" jerit Kemuning seraya menangis dan berlari menghampiri pintu.


Di saat itu, Dasamuka marah ketika Kemuning mengabaikan perintahnya. Dia menarik tangan Kemuning dan mengantarkannya ke atas balkon.


"Kau mau bawa ke mana aku bang?" tanya Kemuning marah.


"Kau tak akan kemana-mana Kemuning, malam ini juga lakukanlah pemujaan kepadaku."


"Lalu bagaimana dengan mas Bondan? kalau terjadi sesuatu padanya aku akan melarang putrimu untuk pergi ke kayangan," ancam Kemuning kepada Danu.

__ADS_1


"Kau selalu mengancamku Kemuning, aku bisa melakukan apa saja untukmu. Jika kau tidak menuruti perintahku, maka kau tak akan pernah bertemu dengan putrimu lagi," balas Dasamuka pada Kemuning.


"Lepaskan tanganku ini!" teriak Kemuning seraya meronta untuk dilepaskan.


"Tidak akan. Jika kau tak melakukan ritual malam ini, maka akan kupastikan Ara takkan lagi pernah menemuimu."


"Kau jahat Bang, kau memperlakukan aku dengan kejam. Katakan padaku, siapa sebenarnya kamu yang selalu memaksaku untuk melakukan ritual keji ini."


Mesti Dasamuka mendengarkan ucapan Kemuning, namun dia tak menjawabnya. Dasamuka tahu, jika Kemuning mengetahui siapa dirinya, maka Kemuning akan meninggalkannya.


Sesuai perintah Dasamuka, kepada Kemuning dan putrinya. Akhirnya mereka berdua melaksanakan ritual pemujaan itu di atas balkon rumahnya. Mesti hati Kemuning terasa begitu sakit karena Bondan sedang mengalami kecelakaan, namun dia tak dapat berbuat banyak untuk menolak permintaan Dasamuka.


Di saat ritual pemujaan akan dimulai, seperti biasa tiba-tiba saja terdengar suara gamelan mengalun membuat Kemuning dan Ara menari layaknya seorang sinden. Mereka berdua mengitari bunga tujuh rupa dan asap kemenyan yang mengepul tinggi.


Hati Kemuning yang terasa begitu sakit membuatnya tak konsentrasi dalam melaksanakan ritual tersebut. Hal itu pun diketahui oleh Dasamuka, dia marah dan mendorong tubuh Kemuning hingga dia jengkal ke belakang.


"Ulangi ritualmu Kemuning, kau tidak melakukannya dengan bersungguh-sungguh!" bisik Dasamuka ke telinga Kemuning."


"Aku bukan budakmu yang bisa kau suruh sesuka hatimu, aku lelah untuk melakukan pemujaan ini dan aku takkan mau lagi melanjutkannya," jawab Kemuning seraya duduk di tepi balkon.


"Kau harus melakukannya Kemuning, Jika kau tak mau lagi melanjutkannya maka aku akan membunuh Bondan dan membawa putrimu ke kayangan kau tak akan dapat lagi menemuinya."


"Kau jahat Danu, kau kejam!" seru Kemuning dengan deraian air mata.


"Dasar bodoh! sekarang kau jangan banyak bertanya lakukanlah apa yang Aku perintahkan kepadamu. Jika kau membantah aku akan membunuh Bondan suamimu."


Kemuning pun menangis histeris di hadapan Ara Putri kecilnya. Hatinya terasa begitu sakit sekali, karena dia tak sanggup menolong Bondan suaminya yang sedang mengalami kecelakaan. Kekejaman Danu membuat hati Kemuning terasa begitu sakit.


Ara yang melihat mamanya menangis, dia langsung berdiri dan meninggalkan arena pemujaan dan menghampiri Danu.


"Kenapa ayah menyakiti Mama?" tanya Ara ingin tahu.


"Mamamu telah membuat satu kesalahan sayang, jadi Ayah harus menghukumnya."


"Nggak, nggak! kalau Ayah menghukum Mama, maka aku tak akan membantu ayah menjadi ratu kayangan dan akan Aku pastikan kalau aku tak akan melakukan pemujaan lagi."


Melihat putrinya kesal, Dasamuka terpaksa mengalah dan mengabulkan permintaan putri kecilnya itu. Dia memaafkan Kemuning dan menyuruhnya untuk menghentikan ritualnya malam itu. walau Dasamuka sangat murka sekali.

__ADS_1


bersambung...


"selamat membaca*


__ADS_2