AraDea

AraDea
Part 81 Kemarahan Ara


__ADS_3

"Insya Allah Ma, semoga saja pertikaianku dengan raja Dasamuka segera berakhir," jawab Dea dengan suara lembut.


"Ya sudah, kalau kau mau istirahat istirahatlah sayang. Bukankah besok kau akan pergi sekolah?"


"Iya Ma, besok aku harus pergi sekolah."


"Baiklah peristirahatan dulu, kalau begitu Mama akan ke kamar. Jangan lupa baca doa nak, agar tidurmu nggak diganggu oleh mimpi buruk."


"Baik Ma, terima kasih atas nasihatnya."


"Sama-sama sayang," jawab Pandan wangi, seraya meninggalkan kamar Dea.


Setelah Pandan wangi pergi meninggalkan kamarnya, Dea pun tampak duduk sendiri merenungi diri. Saat itu Dea teringat dengan percakapannya, bersama raja Dasamuka.


"Apakah benar, aku nggak memiliki masa depan, seperti ruangan hampa. Apa benar aku nggak memiliki tujuan hidup?" tanya Dea pada dirinya sendiri.


"Siapa bilang, kamu nggak punya masa depan sayang," ujar suara lembut di telinga Dea.


Suara yang sangat familiar tersebut, membuat Dea tersentak dari lamunannya.


"Papa!" teriak Dea seraya memeluk tubuh Askara dengan lembut.


"Kata siapa sayang, kalau anak Papa ini nggak punya masa depan?"


"Itu hanya menurut pemikiranku Pa. Apakah seorang anak raja jin, aku juga mendapat tempat dan masa depan yang penuh di bumi ini?"


"Bukankah semua orang tak tahu, kalau kau seorang anak raja jin?"


"Sebenarnya iya sih. Tapi aku masih ragu, dengan keberadaanku di bumi ini."


"Percayalah sayang, orang desa hanya tahu, kalau suami Pandan wangi itu adalah seorang pengusaha yang sukses. Bukan raja jin dan Papa harap kau jaga itu, jangan beritahu siapapun tentang siapa Ayah kandungmu sebenarnya."


Mendengar ucapan Papanya, Dea hanya bisa diam tertunduk. Memang, selama ini tak seorangpun yang mengetahui, kalau Papa Dea adalah raja jin. Yang mereka tahu, Papa Dea adalah seorang pengusaha terkenal di kota.


"Sekarang tenanglah putriku. Jangan pikirkan hal yang tak mungkin kau ketahui, tetaplah berperilaku seperti gadis biasa. Jangan tonjolkan hal-hal yang membuat mereka curiga kepadamu."


"Baik Pa, nasihat Papa akan selalu ku ikuti."


"Bagus putriku, sebagai seorang anak, kewajibanmu lah menjaga marwah keluarganya."


"Insya Allah Pa," jawab Dea pelan.


Disaat mereka selesai bicara, tiba-tiba saja Askara menghilang dari pandangan Dea. Setelah kepergian Papanya Dea pun merebahkan tubuhnya di atas kasur. Memikirkan tentang percakapannya bersama raja Dasamuka. Hingga Dea tertidur dengan pulas.


Esok hari, saat Dea hendak bergegas pergi sekolah. Tiba-tiba saja, di depan pintu Dea dihadang oleh Ara, yang saat itu sudah berpakaian seragam lengkap.


"Kau...!" ujar Dea, seraya menatap wajah Ara dengan pandangan mata yang sangat tajam.

__ADS_1


"Kenapa, kau kaget melihat Aku, sudah kembali bersekolah seperti biasa?"


"Nggak, buat apa kaget. Bukankah aku yang menyelamatkanmu dari cengkraman prabu Dasamuka."


"Ooo...! jadi kau mau imbalan, atas usahamu menyelamatkan aku!"


"Aku nggak ada ngomong kayak gitu, perasaanmu barangkali," jawab Dea dengan tenang.


"Kau selalu begitu!"


"O iya, siapa yang melepaskanmu dan mengeluarkanmu dari kamar itu?"


"Aku sendiri, kenapa emangnya?"


"Berarti kau sudah sembuh, kau sudah kuat rupanya. Karena orang sakit, nggak akan mampu melepaskan raja gaib milikku."


"Kau lupa ya Dea, kalau aku ini Putri raja Dasamuka. Kau kira aku nggak sanggup melawanmu?"


"Ya sudah, kalau kau merasa sanggup melawanku, kenapa kau nggak bisa melepaskan diri, dari jeratan Ayahmu, raja Dasamuka."


"Kau kira aku lemah, nggak bisa melepaskan diri dari jeratan Ayahku. Kau salah Dea, aku sanggup melepaskan diri dari Angkara. Tapi aku mencari waktu yang tepat, untuk lari dari tempat itu."


"Hm...! kau masih saja bicara sombong Ara. Padahal waktu itu, jangankan untuk bicara, mengangkat kepala pun kau bahkan nggak sanggup."


"Apa maksudmu Dea?"


"Ayo! kamu barengan sama aku?" tanya Ara pada Dea.


"Ya tentu, kenapa emangnya, bukankah kau sudah datang ke sini?"


"Siapa tahu kau merasa malu, berteman dengan Putri seorang genderuwo."


"Apa menurutmu kita berteman?"


"Iya, kita berteman."


"Kau salah Ara, selama ini kita saling bermusuhan dan kau bukan temanku, melainkan kau ini seorang musuh bebuyutan keluargaku."


Sambil berbicara, mereka pun berlari menuju ke sekolah. Ilmu peringatan tubuh mereka sangatlah sempurna. Sehingga mereka berdua berkelebat berlari secepat kilat, meliuk-liuk di antara perumahan para penduduk.


Setibanya mereka berdua di gerbang sekolah, mereka kembali berlagak seperti gadis biasa, yang tidak memiliki kelebihan apapun. Sesampainya di dalam kelas, Ara dan Dea duduk diam di bangku mereka. Sampai guru datang ke ruangan tersebut.


Ketika mengambil absen kelas, guru seni budaya terkejut, melihat kehadiran mereka berdua.


"Kalian! kenapa baru hari ini muncul?" tanya Bu Betty heran.


Mendengar pertanyaan dari Bu Betty, Ara dan Dea hanya diam saja. Mereka berdua tak menjawab pertanyaan dari guru seni budaya tersebut.

__ADS_1


"Kenapa diam, ke mana saja kalian seminggu ini, nggak masuk kelas?"


"O..o..anu..Bu..!" jawab Ara gugup.


"Kalau aku sakit Bu," jawab Dea memotong pembicaraan Ara.


"Sakit? kalau sakit, kenapa nggak ngasih kabar ke sekolah?"


"Udah kok Bu, saya udah ngasih kabar. Buktinya saja, ada surat di dalam laci meja ibu!"


"Laci meja?"


"Iya Bu."


"Ah masa, kemarin-kemarin Ibu melihatnya nggak ada kok."


"Coba Ibu periksa dulu, orang suratnya, udah aku kasih kok Bu?"


Mendengar jawaban dari Dea, Bu Betty langsung memeriksa laci mejanya. Ternyata apa yang dikatakan Dea itu benar, di dalam laci Bu Betty terdapat sepucuk surat, yang menerangkan kalau saat itu Dea sedang sakit.


"Iya benar, mungkin Ibu lupa membacanya," jawab Bu Betty pelan.


"Lalu bagaimana dengan kamu Ara?"


"Saya juga udah memberi kabar kok Bu, kalau saat itu saya minta izin!"


"Kamu memberi kabar pada siapa?" tanya Bu Betty pada Ara.


"Hmm...! ya pada Anto," jawab Ara seraya menunjuk Anto yang saat itu sedang menulis.


Mendengar jawaban dari Ara, Anto merasa heran. Karena menurutnya, dia tak pernah sekalipun bertemu dengan Ara di luar sekolah, apalagi arah rumah mereka berlawanan.


"Beneran Anto. Kalau Ara berpesan padamu?"


"Nggak kok Bu, saya nggak pernah berjumpa dengan Ara. Karena rumah kami berbeda arah, aku ke arah selatan sementara Ara ke arah utara.


"Mendengar jawaban dari Anto, yang terus menundukkan kepala itu. Membuat Ara kesal, dia langsung menampar meja hingga mejanya patah.


"Kamu ini apa-apaan sih Anto. Bukankah hari itu, aku sudah menyampaikan pesan kepadamu, kalau aku minta izin untuk menemui Papaku di kota!"


"Kau bohong Ara, aku nggak merasa kau menyampaikan pesan apapun pada ku."


"Dasar kurang ajar kau Anto, berani-beraninya, kau berbohong di hadapan Bu Betty!"


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2