AraDea

AraDea
Part 100 Keajaiban pada Tuti.


__ADS_3

"Iya Pak, saya tahu itu dan saya nggak akan memarahinya. Saya hanya bertanya, kenapa kemarin saat belajar Dea itu menghilang."


"Sebenarnya, itu juga yang telah menjadi permasalahan bagi kami para guru. Kami merasa tak senang, Dea pergi diam-diam, lalu kembali dengan bercak darah di sekujur tubuhnya."


"Kemana kamu kemarin Dea? jawab pertanyaan kepala sekolah, jangan diam aja. Kalau kau diam, berarti kau salah. Bicara dengan jujur, tak ada yang perlu ditutup-tutupi!" ujar Askara pada Dea.


Sebenarnya saat itu Dea tahu, kalau Askara sedang mengada-ngada. Agar kepala sekolah dan guru yakin, bahwa kemarin, Dea sedang berbuat masalah.


Tapi karena sakit hatinya, Dea tak menjawab sepatah pun pertanyaan dari Papanya. Dea hanya diam saja.


"Ya sudah Pak, kalau memang Dea nggak mau menceritakannya kepada kami dengan jujur, nggak apa-apa. Yang penting Bapak sudah tahu, kalau kemarin Dea menghilang dari sekolah."


"Terima kasih Pak. Untung saja Bapak datang ke sini memberitahukannya, kalau nggak, kami pasti nggak tahu apa yang dilakukan oleh putri kami di sekolah. Karena saat ini, pihak sekolah sudah menyerahkannya kepada kami, maka kami akan mengurusnya."


"Baiklah kalau begitu kami permisi dulu Pak."


"Oh iya, silakan Pak," jawab Askara dengan suara pelan.


Setelah kepala sekolah dan dua orang guru itu pergi, Askara langsung masuk ke dalam untuk mencari Dea, melihat gelagat suaminya, Pandan wangi langsung marah pada suaminya. Pandan wangi tampak terburu-buru mengunci kamar Dea, agar Askara tak bisa masuk ke dalam.


"Kamu mau apa Bang, kamu mau menyakiti Putri kita?" tanya Pandan wangi pada suaminya.


"Dia sudah keterlaluan sayang, dia telah membuka kedok kita pada gurunya itu, dan entah pada siapa lagi di sekolahnya."


"Emangnya kenapa, kau merasa tersinggung kalau keaslian, asal usulmu diketahui orang banyak?"


"Aku nggak kesinggung, tapi orang menjadi pusing dibuatnya. Orang mengira, Putri kita itu sedang berhalusinasi."


"Biar aja Bang, terserah mereka menanggapi apa."


"Nggak bisa gitu dong sayang, lama kelamaan orang akan mengetahui kebenarannya. Kalau aku ini bukan manusia!" ujar Askara dengan suara lantang.


Mendengar perselisihan Askara dengan Pandan wangi di rumah megah itu, Tuti yang saat itu berada di sebelah rumahnya mencoba untuk menguping pertengkaran keduanya. Mesti saat itu Tuti sudah tidak bisa bicara, namun niatnya masih tetap salah.


"Hm...! ternyata mereka bertengkar, syukurlah. Semoga saja rumah tangga perempuan sialan itu, akan segera hancur. Suaminya pergi dan dia akan jatuh miskin seperti waktu gadis nya dulu," ujar Tuti seraya bermonolog pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Saat Tuti sedang menguping pertengkaran Pandan wangi dengan suaminya. Putrinya Nunik, datang menghampirinya secara diam-diam.


"Mama sedang mendengarkan apa Ma?" tanya Nunik ingin tahu.


Mendengar suara Nunik, yang tiba-tiba saja sudah berada di belakangnya, Tuti menjadi kaget. Dia langsung menjerit dan suaranya pun keluar seketika.


"Haah...! Nunik kamu ngagetin Mama tahu!" bentak Tuti pada Nunik putrinya.


Melihat Tuti tiba-tiba sudah bicara, Nunik pun kaget dia langsung berteriak dan melompat-lompat kegirangan.


"Mama udah bisa bicara?"


"Hah...! benar Mama udah bisa bicara nak!" jawab Tuti seraya menepuk wajahnya.


"Oh syukurlah, Mama sudah bisa bicara!"


"Iya sayang, Mama sudah bisa bicara saat ini," jawab Tuti kegirangan.


Lalu mereka pun saling berpelukan dan berlari serta melompat kesana kemari.


Mendengar suara gelak tawa di luar, Askara langsung menoleh lewat jendela, saat itu dia melihat Tuti tetangganya sudah bisa bicara.


Sementara itu, Tuti dan Nunik yang sedang merayakan kebahagiaan mereka langsung berlari masuk rumah untuk menceritakan kabar baik itu, kepada suaminya Edi.


"Bang, Bang, aku sudah bisa bicara Bang. Aku sudah bisa bicara lagi!" teriak Tuti kegirangan.


"Benarkah sayang, kau sudah bisa bicara lagi?"


"Iya Bang, aku sudah bisa bicara lagi," jawab Tuti seraya memeluk suaminya.


Saat Tuti memeluk suaminya Edi, saat itu Edi merasa ketakutan. Sebab, jika Tuti istrinya bisa bicara lagi, mungkin saja azab pun akan mereka terima kembali.


Ketika Tuti memeluk tubuh suaminya, Edi langsung saja mendorong tubuh istrinya itu. Karena saat itu, Edi merasa takut kalau suatu ketika, Allah akan kembali mengazab istrinya itu.


"Kenapa kau mendorong ku, Bang?" tanya Tuti heran.

__ADS_1


"Aku takut, jika kau bisa bicara berarti kau akan menjadi provokasi berikutnya. Setelah hampir sepuluh tahun kau tak bisa bicara."


"Ya jelas dong Bang, aku akan bongkar kebusukan Pandan wangi dan suaminya itu. Abang tahu kan, gara-gara perempuan busuk itu aku jadi kehilangan suaraku."


"Kok kau tahu, gara-gara Pandan wangi suaramu bisa hilang?"


"Saat itu aku sedang menceritakan keburukannya, pada orang lain."


"Berarti semua itu bukan kesalahan Pandan wangi, tapi kesalahan dirimu sendiri. makanya Allah mengazabmu dengan membuatmu bisu, biar kau nggak lagi menggunjingkan orang di kampung ini."


"Kamu itu kenapa sih Bang, selalu saja belain Pandan wangi. Sedikit-sedikit Pandan wangi, emangnya aku ini apa Bang!"


"Karena memang begitulah kenyataannya, setiap saat kau hanya menceritakan keburukan Pandan wangi saja, tanpa kau memikirkan rasa sakit di hati orang yang kau ceritakan."


"Itu kan terserah dia Bang, emangnya gue pikirin," jawab Tuti dengan jumawa.


"Astagfirullah Ma, apa Mama nggak takut suatu saat nanti Mama akan bisu kembali. Kalau Mama nggak segera tobat sekarang, maka azab Allah itu akan diturunkannya lagi kepada Mama. Mama mau jadi orang bisu lagi!"


"Kalau bisu sih nggak, itu kan kebetulan sayang. Itu bukan kutukan dari Allah untuk Mama, kenapa sih kamu terpengaruh dengan Papamu itu."


"Karena Papa itu bicara benar Ma, kalau Mama tak intropeksi diri, maka Mama akan mengalami hal serupa lagi nantinya. Ingat, jika sekali lagi Mama bisu, maka untuk selamanya Mama tetap akan bisu."


"Kau lagi nyumpahin Mama Nunik!"


"Aku nggak nyumpahin Mama. Tapi aku lagi nasehat Mama, biar Mama sadar dengan kesalahan Mama yang telah lewat. Jangan sampai terulang lagi."


"Nggak suami, nggak anak, sama saja. Selalu saja nyalahin Mama, belain terus itu Pandan wangi. Sekalian, kalian berdua tinggal di rumahnya," jawab Tuti kesal.


"Semestinya kau bersyukur Tuti, Allah telah mengembalikan suaramu kalau nggak, kau akan menjadi orang bisu selamanya. Saat ini putrimu sedang menasehatimu, kenapa kau nggak mendengarkannya?"


"Karena nasihat kalian itu nggak ada gunanya sama aku Bang, karena kalian berdua itu bisanya hanya mengejek aku saja dan menyalah-nyalahkan aku tanpa melihat siapa yang salah di antara kami berdua."


"Sebenarnya yang salah itu Mama bukan Pandan wangi."


"Kau juga ikut nyalahin Mama ya, Nunik."

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2