AraDea

AraDea
Part 106 Hasutan Tuti


__ADS_3

"Ada apa dengan Pandan wangi, Tuti?" tanya Dewi ingin tahu.


Meski Dewi bertanya berulang kali, namun Tuti tetap tidak mau menjawabnya. Dia mengajak Dewi dan Ibu-ibu lainnya, untuk bersembunyi di balik tembok rumahnya.


Lalu Tuti menunjuk ke arah rumah pandanwangi. Saat itu, seluruh Ibu-ibu melihat begitu banyak orang hilir mudik keluar masuk rumah tersebut.


"Kenapa dengan mereka semua, Tuti?" tanya Nina ingin tahu.


Lalu Tuti berlari menuju rumahnya, sementara seluruh Ibu-ibu, tampak duduk di belakang tembok pagar rumah Tuti.


Tak berapa lama kemudian, Tuti kembali dengan membawa secarik kertas dan sebuah pena. Setiap pertanyaan dari Ibu-ibu, ditulis oleh Tuti.


"Ooo, ternyata, orang itu masuk dengan keadaan yang aneh."


"Maksudmu, apa Tuti?"


Lalu Tuti pun menyodorkan kertas yang telah ditulisnya kehadapan Dewi.


"Jadi orang itu, masuk dan keluar dengan pintu tertutup rapat."


"Huuh..!" jawab Tuti seraya menganggukkan kepalanya.


"Benarkah?" ujar Dewi, seraya menoleh ke arah rumah Pandan wangi, bersama dengan Ibu-ibu yang lain.


Benar saja apa yang dikatakan Tuti. Saat itu, semua orang yang keluar masuk dari rumah Pandan wangi terlihat aneh. Orang itu masuk, setiba di depan pintu langsung menghilang. Begitu juga dengan yang keluar, mereka tak membuka pintu terlebih dahulu. Namun mereka muncul, di depan pintu secara tiba-tiba."


"Jadi mereka itu semua, adalah hantu?" tanya Yuna pada Tuti.


"Huuh...!"


"Ya ampun, ternyata Pandan wangi menikah dengan hantu. Masya Allah, ini satu kabar yang sangat bagus. Bagaimana kalau kita melaporkan hal ini, pada Pak Kades dan seluruh warga. Biar rumah Pandan wangi, kita grebek dan kita bakar habis."


"Huuh...!" ujar Tuti, seraya menganggukkan kepalanya.


Setelah mereka sepakat, mereka berlima langsung pergi ke menuju rumah Pak Kades. Yang saat itu, masih berada di kantor. Kelima Ibu-ibu tersebut, meminta para petugas kantor Desa, untuk memanggilkan Pak Kades.

__ADS_1


Seluruh Ibu-ibu itu berteriak, membuat kantor Desa menjadi ribut dan riuh. Mulut mereka berkoar-koar, di kantor desa. Meminta kepala Desa untuk segera keluar.


"Ada apa ini?" tanya Pak Kades ingin tahu.


"Ini Pak Kades, ada kejadian aneh di rumah Pandan wangi."


"Kejadian apa?" tanya Pak Kades heran.


"Ada kegiatan yang mencurigakan di rumah itu Pak Kades. banyak orang hilir mudik keluar masuk dari rumah itu, tanpa harus membuka pintu rumah itu terlebih dahulu. Mereka bisa masuk menembus pintu dan keluar juga menembus pintu."


"Kalian serius, kalian melihat sendiri, kalau di rumah itu telah terjadi sesuatu yang aneh?"


"Benar Pak Kades, kami berlima melihat sendiri kejadian itu. Saat ini masih banyak orang keluar masuk dari rumah itu, tapi tidak melewati pintu Pak Kades. Mereka semua, menembus pintu rumah Pandan wangi."


"Baiklah, ayo kita lihat ke sana!" ajak Pak Kades pada seluruh Ibu-ibu itu.


Di saat semua warga Desa, sedang menuju rumah Pandan wangi. Askara bersama Pandan wangi, justru merasa pusing dan cemas melihat kondisi Dea yang sedang kritis.


"Gimana ini sayang. Abang sangat cemas sekali, melihat kondisi Putri kita."


"Apa yang mesti kita lakukan sayang?"


"Aku nggak tahu Bang, gimana kalau abang datangi hutan larangan dan meminta maaf kepada Ratu kupu-kupu, untuk mau mengobati Putri kita."


"Itu nggak mungkin sayang, hal itu nggak akan mungkin terjadi. Abang nggak mau menundukkan kepala ini, untuk meminta maaf kepadanya."


"Bagaimana, kalau aku saja yang melakukannya Bang. Aku mau melakukan apa saja, asalkan Putri kita sembuh," jawaban Pandan wangi dengan suara lirih.


"Tidak sayang, kau tidak boleh datang ke hutan larangan. Karena hutan itu, sangat berbahaya sekali untuk seorang manusia. Sebab di hutan itu, hawa mistik nya sangat kuat. Hal itu dapat membuatmu kehilangan nyawa."


"Aku rela mati Bang, asalkan Putri kita bisa sembuh. Aku akan memohon kepada Ratu kupu-kupu, untuk bersedia mengobati Putri kita."


"Tidak! hal itu tidak akan kubiarkan terjadi!" jawab Askara dengan tegas.


Mendengar jawaban dari suaminya, Pandan wangi tak bisa berbuat apa-apa. Karena hutan larangan, memang sangat berbahaya untuk manusia biasa, seperti Pandan wangi. Apalagi, Pandan wangi seorang Ratu yang sangat berkuasa di Parahyangan. Dia tak mungkin merendahkan dirinya, memohon kepada Ratu kupu-kupu.

__ADS_1


Di saat itu Ara tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka berdua.


Ibu nggak usah ke sana, urusan Ratu kupu-kupu biar aku yang menghampirinya. Karena hutan larangan terletak di kerajaan Angkara, berarti Ratu kupu-kupu adalah bawahan Ayahku, raja Dasamuka.


Mendengar ucapan dari Ara, Pandan wangi langsung memeluk tubuh gadis itu, dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Ibu tahu, kau dengan Dea tidak pernah akur. Kalian saling bermusuhan. Tapi Ibu yakin, di hatimu masih tersisa sedikit rasa belas kasihan, kepada sahabatmu ini," ujar Pandan wangi kepada Ara.


"Ibu nggak usah cemas, karena itu sudah menjadi kewajibanku menolong sahabat, yang selama ini telah berbuat baik kepadaku."


"Terima kasih sayang," jawaban Pandan wangi sembari melepaskan pelukannya.


"Di luar keadaan sangat gawat, Pak Kades beserta beberapa orang lainnya, sedang menuju ke rumah ini," jawab Ara sembari menghilang dari pandangan Pandan wangi dan Askara.


Mendengar ucapan Ara, Askara baru sadar, kalau saat itu dia terlalu sibuk, mengurus keadaan Dea. Sehingga dia melupakan lingkungan di sekitarnya."


"Benar sayang, saat ini Pak Kades bersama beberapa orang Ibu-ibu termasuk Tuti, sedang bergerak menuju rumah kita."


"Kalau begitu, perintahkan seluruh anak buahmu dan tabib istana untuk menyamarkan dirinya, dari pandangan mereka semua."


"Baik sayang," jawab Askara, seraya menutup rumah itu dengan raja gaib miliknya.


Tak berapa lama kemudian, Pak Kades bersama yang lain, tiba di depan rumah Pandan wangi. Saat itu, mereka semua langsung mengetuk pintu rumah tersebut.


Mendengar pintu diketuk dari luar, Pandan wangi pun bergegas untuk membukanya. Saat kemunculannya di depan pintu, seluruh Ibu-ibu tampak mencibir melihat ke arahnya.


"Sekarang terbongkar rahasiamu Pandan wangi. Kau telah memasukkan makhluk gaib ke rumahmu!" ujar Bu Dewi dengan suara lantang.


"Makhluk ghaib, apa maksud Ibu?" tanya Pandan wangi heran.


"Ah sudahlah, kami melihat sendiri kalau dari tadi, banyak orang yang hilir mudik keluar masuk rumahmu. Tapi mereka tak terlihat membuka pintu sama sekali, mereka lewat dalam keadaan pintu tertutup, berarti mereka semua adalah makhluk halus peliharaanmu."


"Ya. Kami yakin, kalau kau selama ini telah memelihara makhluk ghaib, untuk kemewahan rumahmu ini, kau melakukan pesugihan Pandan wangi!"


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2