
"Sekali lagi kau membantah perintahku, akan kupastikan. Kalau kau takkan pernah bertemu dengan Bondan lagi," ancam Dasamuka pada Kemuning.
"Kau tak perlu mengancamku, kalau kau tak suka kau boleh meninggalkan bumi ini dan pergi ke alammu," jawab Kemuning kesal.
"Aaah! kau membantahku Kemuning!"
"Aku nggak pernah membantahmu, tapi kau harus tahu satu hal, bahwa di dunia kami, punya aturan tersendiri dan kau harus mengikuti aturan itu karena di sini kau bukanlah seorang raja."
Merasa tersakiti oleh Kemuning, Dasamuka langsung menghilang dan dengan rasa sedih, Kemuning pun menangis di hadapan putrinya. Karena selama dia menikah dengan Bondan sekalipun Bondan tak pernah menyakiti hatinya sementara bersama Danu dia merasa tersiksa sekali.
"Mama kenapa sedih, Mama masih ingat ya dengan ucapan Ayah tadi?" tanya Ara pada Kemuning.
"Mama nggak apa-apa kok Nak, karena Ayah mu sudah pergi, mari kita masuk ke kamar kita tinggalkan ritual ini. Mama nggak mau lagi melakukannya."
"Mama yakin, kalau Mama nggak akan melakukannya lagi?" tanya Ara ingin tahu.
"Benar sayang, Mama nggak akan melakukannya lagi."
"Gimana kalau Ayah marah, dan memukul Mama?"
"Mama nggak akan takut, asalkan Ara mau membela Mama."
Ara tak menjawab, namun dia tersenyum. Bukan hanya Kemuning, Ara juga merasakan sakitnya atas perlakuan Ayah kandungnya itu.
Di saat Danu telah menghilang, Kemuning segera mengajak Ara untuk menemui Bondan yang saat itu sedang tak sadarkan diri di dalam mobilnya.
Ketika Kemuning dan putrinya tiba di dekat mobil Bondan, Kemuning melihat mobil itu sudah terbakar. Kemuning merasa panik dia menjerit histeris melihat mobil suaminya terbakar ludes.
"Ya Allah, Ara! lihat mobil Papa nak, sudah hancur menjadi arang pasti papamu sudah meninggal sayang, huhuhuhu!"
Kemuning tak bisa menahan kesedihannya Dia hanya bisa menangis melihat kejadian tragis yang menimpa suaminya. Lalu Ara memejamkan kedua matanya dan mengarahkan pandangannya ke mobil Bondan. Saat itu Ara melihat kalau Bondan sempat keluar sebelum mobil itu terbakar.
"Mama jangan nangis ya, Papa nggak ada di dalam mobil kok!"
"Benarkah sayang, kamu nggak bercanda kan?"
"Benar Ma, Papa sudah keluar sebelum mobilnya terbakar."
"Apakah kamu melihat Siapa yang telah membakar mobil papamu?"
"Lalu Ara kembali memejamkan matanya, di saat itu Ara melihat Ayahnya lah yang telah membakar mobil Bondan.
"Kau melihat sesuatu sayang?" tanya Kemuning pada putrinya.
"Ya ampun, apa yang harus Ara katakan pada Mama jika dia tahu yang membakar mobil Papa adalah Ayah. Mama pasti akan membenci Ayah, haruskah aku berbohong," ujar Ara pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Gimana nak, kamu ada melihat sesuatu?" tanya Kemuning sekali lagi.
"Nggak Ma, sepertinya mobil Papa terbakar sendiri tak ada siapa-siapa di dekatnya saat mobil itu terbakar," jawab Ara berbohong.
"Apakah kau melihat di mana Papamu saat ini nak?"
"Papa lari ke sana Ma," jawab Ara menunjuk ke arah hutan.
"Papamu lari ke hutan?"
"Sepertinya begitu, Papa sedang ketakutan dan dia berlari ke arah hutan."
"Apakah Ara melihat, ada yang sedang mengejarnya?"
"Iya Ma."
"Katakan pada Mama Nak, makhluk apa yang sedang mengejarnya manusia kah atau hewan."
"Ara tidak melihatnya Ma, hanya Ara melihat ada yang sedang mengejar Papa saat ini."
"Ya ampun, kalau begitu Papa mu dalam bahaya Ara, mari kita cari dia nak. Kalau kita nggak mencarinya, maka nyawa Papamu dalam bahaya. Mama yakin pasti ini semua adalah ulah ayah Danu."
"Mama yakin ini ulah Ayah Danu?"
"Iya sayang insting seorang istri tak pernah meleset, Mama yakin sekali ini semua pasti ulah ayahmu Danu."
Ketika mereka berdua menginjakkan kakinya di bibir hutan saat itu Ara merasakan sesuatu. Tubuhnya seperti didorong keluar. merasakan keanehan itu Ara langsung menarik tangan mamanya, untuk tidak memasuki hutan tersebut.
"Kenapa sayang, ada apa?" tanya Kemuning ingin tahu.
"Ara merasakan keanehan di hutan ini Ma," jawab Ara setengah berbisik.
"Coba kau pergunakan kekuatanmu sayang. Siapa tahu Ara bisa melihat keberadaan Papa di dalam sana," perintah Kemuning.
"Baik ma, akan Ara coba," jawab Ara Seraya memejamkan kedua matanya dan meletakkan kedua jarinya tepat di kedua sisi keningnya.
Dari pandangan mata batin Ara, gadis kecil itu melihat sesuatu di tengah hutan yang sangat jauh sekali tapi dia tak bisa memprediksinya, apakah itu Bondan atau makhluk lain.
"Apa yang kamu lihat sayang?" tanya Kemuning penasaran.
"Ara melihat sesuatu Ma, tapi Ara tak pasti, apakah itu Papa Bondan atau makhluk lain."
"Di mana Kau melihatnya nak?"
"Di tengah hutan Ma, apakah kau bisa mengantar Mama ke sana?"
__ADS_1
"Sepertinya hutan ini menolak kehadiran Ara Ma."
"Benarkah begitu sayang?"
"Iya Ma."
"Kalau begitu lakukan sesuatu sayang agar kita dapat membebaskan Papa Bondan dari cengkraman makhluk itu kalau nggak, Papamu nggak akan selamat nak. Mama mohon bantu Mama Nak," ujar Kemuning Seraya berharap pada Putri kecilnya itu.
"Mama jangan menangis ma, Ara nggak mau melihat Mama menangis terus."
"Mama takut sayang, kalau kita terlambat menolong Papa maka dia nggak bakalan selamat dan Mama nggak mau hal itu terjadi pada Papamu."
"Baiklah Ma akan Ara coba," jawab gadis kecil itu Seraya memegang tangan Kemuning.
Seraya mengucapkan sesuatu Ara bersama mamanya langsung menghilang dan menembus hutan larangan itu. pandangan gadis kecil itu langsung tertuju pada sosok yang berada di tengah hutan.
"Kita mau ke mana sayang?" tanya Kemuning yang semakin jauh dari bibir hutan.
"Ara akan membawa mama ke tempat papa berada."
"Apakah tempatnya sangat jauh sayang?" tanya Kemuning sedikit ketakutan.
"Iya Ma, sepertinya papa dibawa ke tengah hutan oleh makhluk yang mengerikan itu."
"Makhluk yang mengerikan? seperti apa bentuknya nak?" tanya Kemuning penasaran.
"Dia memiliki bulu yang sangat tebal mata yang merah menyala dan memiliki dua taring yang panjang di sisi kanan dan kirinya."
"Apakah kalau nggak takut sayang?"
"Nggak Ma, di alam Ayah Danu, Ara sering melihat makhluk seperti itu. Dia bertubuh besar, memiliki bulu yang lebat, mata yang merah menyala dan cakar-cakar yang panjang."
"Kamu serius nak?"
"Iya Ma. Ara sering melihatnya bahkan mereka semua sangat baik pada Ara."
Mendengar penjelasan putrinya, Kemuning langsung mengambil kesimpulan bahwa suaminya Danu itu, adalah seorang genderuwo yang menyerupai manusia.
Di saat itu, timbul niat di hati Kemuning untuk berhenti sejenak.
"Bisakah kita berhenti sebentar nak?" tanya Kemuning pada putrinya itu.
"Baik Ma," jawab Ara Seraya membuka mata.
Di tengah hutan yang lebat itu, Kemuning dan Ara berhenti sejenak. Lalu Kemuning berdiri di hadapan Ara.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*