AraDea

AraDea
Part 76 Menuju hutan larangan


__ADS_3

"Nggak yang mulia, jangan lakukan itu. Aku nggak mau para prajuritku, menjadi korban karena ingin membantu aku. Biar aku sendiri, yang akan menyelesaikan masalah ini yang mulia. Jangan libatkan mereka."


"Putriku Dea Chandra Maya, itu tugas telik sandi kerajaan untuk menyelidiki, jika ada keluarga kerajaan yang diculik atau dalam keadaan bahaya."


"Tidak yang mulia, aku nggak mau mereka akan menjadi korban keganasan raja Dasamuka. Biar aku sendiri, yang akan menyelesaikannya. Beritahu aku, di mana keberadaan Mama dan Nenek saat ini."


"Sayang, kenapa kau begitu keras kepala. Ikuti sajalah, apa yang Aku perintahkan kepadamu. Jika aku melarang, jangan kau kerjakan. Tugasmu hanya patuh dan taat pada rajamu."


"Ku mohon yang mulia, aku nggak mau mereka menjadi korban. Beritahu aku, di mana keberadaan Mamaku. Biar aku sendiri yang mencari cara untuk menyelamatkan mereka."


Mendengar bantahan dari Dea, raja Askara murka dan marah pada Dea, yang dianggap membangkang, pada perintah yang telah ditetapkannya.


Bukti kemarahannya, raja Askara tak mau berhubungan dengan Dea. Dia tidak mau memberi petunjuk kepada Dea, tentang keberadaan Mama dan Neneknya.


Karena raja Askara tidak mau, Putri satu-satunya, menjadi korban karena menyelamatkan orang yang disayanginya."


"Wahai telik sandiku, pergilah ke hutan larangan kerajaan angkara! selamatkan ratu dan Ibunya, dari kejahatan raja Dasamuka."


"Baik yang mulia, titah yang mulia segera kami laksanakan."


"Segeralah berangkat, bawa pasukan dan tunggu di perbatasan kerajaan Angkara!"


"Baik yang mulia," jawab telik sandi kerajaan seraya bergegas meninggalkan istana.


Kepergian telik sandi istana, bersama puluhan prajurit kerajaan. Raja Askara langsung memeriksa di sekitar kerajaan Angkara, apakah di sana ada jebakan atau pasukan pengintai, yang berjaga-jaga di perbatasan kerajaan.


Sementara itu, Dea yang saat itu sedang berada di bumi merasa tak tenang. Karena Ayahnya, tak mau lagi berhubungan dengannya. Dia pun memutuskan untuk pergi ke Nirwana tanpa seizin raja Askara.


Kedatangan Dea langsung disambut baik oleh para dayang istana. Dea dikenakan pakaian kerajaan dan diantar ke singgasana kerajaan.


"Ketika berada di samping raja Askara, Dea hanya diam saja, hatinya sedikit sakit. Karena Papanya tak mau memilih dirinya, menjadi pemimpin dalam pencarian kedua Mama dan Neneknya.

__ADS_1


Di samping prabu Askara Dea hanya diam membisu tak sepatah kata pun yang diucapkannya saat itu sementara itu raja askara menatapnya dengan penuh kasih sayang.


"Putriku sayang, kamu tahu kenapa Papa tidak memberimu izin untuk mencari keberadaan Mama dan Nenekmu. Hutan larangan, yang dihuni oleh ribuan makhluk halus yang jahat dan kejam, mereka sangat berbahaya untukmu."


"Kenapa Pa, apa menurut Papa aku nggak sanggup melawan mereka. Aku sanggup Pa, demi Mama dan Nenek."


"Papa tahu sayang kalau kau sanggup melawan mereka tapi Papa nggak mau kau pergi ke sana untuk melawan mereka."


"Kenapa Pa?"


"Karena hutan larangan, bukan sembarang hutan sayang. Jika ada yang masuk ke dalamnya, Dia tak akan bisa keluar, kecuali telik sandi kerajaan. Sebab mereka sudah sering ke sana, mereka tahu jalan keluar nya."


"Tapi aku takut Pa, nanti terjadi sesuatu pada Nenek dan Mama, aku tak bisa memaafkan diriku sendiri."


"Tenanglah sayang, duduk manislah di sini, kita akan hentikan kabar berikutnya. pantaulah mereka dari bola kristal itu, kalau kau benar-benar menginginkan keselamatan mereka berdua."


"Mendengar ucapan raja Askara, Dea langsung bergegas menuju bola kristal istana. Di dalam bola kristal itu, apa saja yang kita inginkan dapat dilihat.


"Telik sandiku! telik sandiku! kau dengar aku!" teriak Dea dengan suara lantang.


Raja Askara yang melihat tingkah Dea yang lucu, dia pun langsung tertawa dan menepuk pundak putrinya itu.


"Sayang, kamu nggak perlu mengeluarkan suara dengan lantang seperti itu. Cukup bicara pelan saja, arahkan telik sandimu ke tempat yang kau maksud."


"Baik yang mulia, aku akan mengarahkan mereka ke sana. Apakah aku bisa bicara dengan mereka?"


"Tentu, lakukanlah sesuka hatimu!"


Lalu Dea mulai mengarahkan beberapa orang telik sandinya ke tempat Mama dan Neneknya disekap.


Saat berada di hutan larangan, beberapa orang telik sandi kerajaan Parahyangan merasa sedikit kesulitan, karena mereka dihadang oleh begitu banyak makhluk-makhluk yang kejam dan beringas.

__ADS_1


"Kalian mau ke mana?" tanya makhluk yang berbulu tebal dengan wajah yang mengerikan."


"Apa urusanmu! kami datang ke sini untuk menjemput istri paduka raja Askara beserta Ibunya. Jika kalian tidak mengembalikan mereka secepatnya, maka akan terjadi perang besar-besaran, antara kerajaan Angkara dan kerajaan Parahyangan."


"Tak ada istri raja Askara di sini. Ini hutan larangan, tak ada yang boleh masuk ke dalamnya, kecuali para penghuninya yang tetap."


"Kalau kalian tak ingin kami masuk ke dalamnya, maka kembalikan istri dan Ibu raja Askara yang kalian culik."


"Kami tak menculik siapa-siapa, apa yang mesti kami kembalikan," jawab para makhluk itu dengan suara yang menyeringai membuat bulu kuduk berdiri.


Lalu tiba-tiba saja, datang begitu banyak makhluk yang mengepung pasukan telik sandi istana, yang saat itu sedang berada di dalam hutan larangan.


Ketika Dea melihat telik Sandi istana dikepung oleh pasukan hutan larangan, yang berada di kerajaan Angkara. Hati Dea menjadi tak tenang dia gelisah dan marah.


"Aku mohon yang mulia, izinkan aku ke hutan larangan sekarang juga. Aku ingin menolong mereka semua. aku nggak ingin mereka menjadi korban di hutan larangan tersebut."


"Putri Dea, cobalah bersikap tenang. Seorang Satria harus bersikap tenang, tidak ceroboh dalam bertindak. Karena satu saja kesalahan yang dilakukan, dapat mengakibatkan yang lain sebagai korbannya."


"Yang mulia lihat sendiri bukan, pasukan kita telah mereka permalukan. Mereka telah mengepungnya. Izinkan aku membantu mereka!"


"Tak perlu putriku, tugasmu hanya memantau mereka dari bola kristal kerajaan. Jika terjadi sesuatu padanya, kau tak perlu jauh-jauh ke sana. Cukup kau menggerakkan tanganmu dan mereka semua akan tumbang berjatuhan."


Mendengar ucapan raja Askara, Dea merasa tenang. Karena dia bisa mengatur prajuritnya, menjauh atau mendekati musuh. Dengan cara, menggerak-gerakkan tangannya ke mana yang dia inginkan.


"Telik sandiku, berjalanlah kau ke arah utara. Cepat melangkah! karena di sampingmu ada prajurit Angkara!" seru Dea dari luar bola kristal kerajaan.


Meski Dea telah mencoba berulang-ulang kali, namun hatinya tetap merasa tak tenang. Untuk itu, Dea minta restu kepada raja Askara.


"Sepertinya kau merasa tak tenang putriku, di saat kesusahan dan kesulitan sedang melanda keluargamu. Untuk itu, aku akan izinkan kau pergi menyusul mereka ke hutan larangan."


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2