
Suara yang sangat dahsyat itu mengguncangkan bumi. Seluruh penduduk merasa khawatir dan ketakutan. Petir menyambar, kilat pun melintas setiap saat di angkasa.
Saat itu Pandan wangi merasa ketakutan, karena di saat kejadian itu, Dea belum juga kembali ke rumah. Begitu juga dengan Kemuning, Putri satu-satunya belum juga kembali ke rumahnya.
"Ya Allah, Bu. Kenapa cuaca gelap sekali. Seperti hendak terjadi hujan deras!" ujar Pandan wangi seraya menatap ke atas langit.
"Iya nak sepertinya Hujan akan turun sebentar lagi tapi putrimu belum juga kembali ibu sangat cemas sekali."
"Iya Bu, aku juga cemas menunggu kedatangannya. Kemana dia ya Bu, belum juga kembali."
"Teruslah berdoa putriku. Semoga dia dilindungi oleh Allah."
Mendengar nasehat ibunya, Pandan wangi pun berdoa kepada Allah. Semoga putrinya Dea tetap berada dalam lindungannya.
Sementara itu, Ara dan dea yang terus saja bertarung di tengah hutan perbatasan desa, tidak memperhatikan situasi di sekelilingnya.
Kekuatan yang dimiliki keduanya, membuat angin menjadi menggila. Putarannya sangat kencang, hingga melanda rumah para penduduk. Namun mereka berdua tetap saja bertarung hingga raja Askara mengingatkan putrinya, untuk menghentikan pertarungan.
"Dea putriku! jika pertarungan terus kalian lanjutkan, maka bumi akan hancur. Seluruh rumah penduduk akan porak-poranda, oleh dahsyatnya ilmu kalian berdua. Hentikanlah pertarungan itu. Jika kalian tetap melanjutkannya, maka akan terjadi malah petaka di bumi.
Mendengar bisikan dari raja Askara, Dea langsung mundur dan menghentikan pertarungan. Ketika Dea mundur beberapa langkah, Ara menjadi heran dan dia pun tetap menyerang Dea dengan kekuatannya.
"Tidakkah kau lihat Ara! perhatikan di sekelilingmu, apa kau ingin Mama dan Papamu, menjadi korban atas keganasan pertarungan ini?"
"Aku tak peduli, ayo kita lanjutkan. Agar kita tahu siapa yang menang di antara kita."
"Bertarung lah kau sendiri Ara. Aku mau pulang, melihat orang tuaku!" seru Dea seraya berlari kencang meninggalkan Ara.
"Hai Dea, tunggu! aku mau ikut bersamamu!" teriak Ara yang berlari menyusul Dea dari belakang.
"Kau mau ke mana Ara?" tanya Dea ingin tahu.
"Mau ikut bersamamu. Kenapa! nggak boleh ya?"
"Apakah kau, nggak menengok Mamamu di rumah. Pasti dia pun cemas menunggu kedatangan mu," ujar Dea pada Ara.
"Benarkah. Kau serius, kalau Mamaku juga mencemaskan aku?"
"Tentu Ara, pulanglah. Aku juga pulang ke rumah, untuk melihat Mama dan Nenek."
__ADS_1
"Baiklah, aku akan pulang ke rumah. Tapi ingat, pertarungan kita belum selesai dan kita akan menyelesaikannya nanti."
"Aku nggak mau melakukan pertarungan itu lagi Ara!"
"Kenapa, kau takut denganku?"
"Aku nggak pernah takut dengan siapapun Ara. Tapi akibat pertarungan kita, bumi ini akan hancur. Kau mau Mamamu nggak punya tempat lagi di bumi ini."
Mendengar ucapan Dea, Ara hanya bisa diam saja. Namun setelah Dea pergi, Ara pun ikut pergi menuju rumahnya.
Apa yang dikatakan Dea saat itu memang benar, Kemuning menunggu kedatangan Ara dengan perasaan cemas dan takut. Namun, di saat mereka melihat Ara datang, hati Kemuning menjadi senang."
"Oh Putri Mama, ke mana saja kau nak? kenapa lama sekali pulangnya, lihatlah langit sebentar lagi akan turun hujan deras nak."
"Tapi aku udah pulang Ma, percayalah padaku nggak akan terjadi apa-apa."
Melihat putrinya duduk tenang, di hadapannya. Kemuning langsung memeluknya, hatinya tenang dan bahagia saat itu, setelah dia melihat wajah putrinya pulang, dalam keadaan selamat dan sehat.
Setelah Ara masuk ke dalam kamarnya, langit kembali cerah seperti semula. Tiada lagi angin kencang, tak ada lagi mendung di langit. Semuanya kembali seperti semula.
Seperti Ara, Dea juga dinantikan oleh Mama dan neneknya. Mereka berdua sangat cemas, karena Putri satu-satunya belum kembali ke rumah. Di saat melihat Dea datang menghampirinya, Pandan wangi langsung memeluknya.
"Aku baru pulang sekolah Ma!"
"Lihatlah, langit gelap sekali. Seperti hendak turun hujan deras."
"Sebentar lagi gelap ini akan hilang Ma, tak kan ada hujan yang turun pada hari ini," jawab Dea pada Mamanya.
"Kenapa kau begitu yakin, kalau nggak akan ada hujan turun hari ini."
"Lihatlah sebentar lagi Ma, cuaca akan kembali cerah seperti semula."
Benar saja apa yang dikata Dea, di saat ucapannya baru keluar dari mulutnya, cuaca pun langsung berubah menjadi cerah kembali. Pengaruh buruk dari pertarungan mereka berdua telah berakhir.
Di saat itu, Dea pun masuk ke dalam kamarnya, dia langsung melakukan aktivitas seperti biasa belajar dan berlatih.
Mesti terbilang masih muda dan belia, tapi Dea selalu rajin berlatih kungfu. dia tidak ingin gagal di medan perang, dalam membela kerajaannya yang selalu di grogoti oleh para musuh.
"Dea beristirahatlah nak, jangan dilanjutkan. Kau pasti lelah sekali sore ini," ujar Pandan wangi ketika melihat putrinya sedang berlatih kungfu.,,,
__ADS_1
"Baik Ma, sebentar lagi aku juga mau istirahat kok," jawab Dea seraya berhenti berlatih.
" Minumlah nak, ucapkan Pandan wangi, seraya menyuguhkan teh hangat kepada Dea.
"Baik Ma, terima kasih."
Setelah Dea meminum teh hangat, yang disuguhkan oleh Pandan wangi, dia pun langsung beristirahat di kamar. Selesai mandi Dea langsung bersemedi, memantau keadaan kerajaan parahyangan. Ketika dia masuk ke dalam kamarnya, Pandan wangi langsung mengiringi ya, dia melihat gadisnya sedang duduk diam.
Di saat dia sedang melakukan semedi Ara justru sedang tidur dengan lelap nya, bertepatan dengan itu, Ayahnya Danu datang menghampirinya dan mencoba membangunkan putrinya yang sedang tertidur pulas
"Ara, bangunlah nak."
Suara yang tak asing lagi bagi Ara terdengar jelas di telinganya. Hal itu, membuat Ara terbangun dari tidurnya.
"Ayah!" ujar Ara, seraya berlari menjauh dari tempat tidurnya.
"Kau nggak mau memeluk Ayah nak?" tanya Danu pada putrinya.
"Nggak, menjauh dariku! kalau tidak aku kan menjerit memanggil Mama. Agar semua orang tahu, kalau kau datang menyelinap ke dalam kamarku!" ujar Ara dengan suara lantang.
"Kenapa kau takut, aku ini Ayah mu?"
"Kau bukan Ayah ku, kau orang jahat yang telah menyekap dan menyiksaku, di penjara bawah tanah istanamu."
"Maafkan Ayah nak, Hal itu sengaja Ayah lakukan, agar kau bisa merubah sikapmu. dan tidak kasar lagi kepada ayah."
"Aku nggak sudi melihat Ayah dan aku nggak sudi bertemu dengan Ayah."
" Kenapa?"
" Karena aku nggak mau punya Ayah jahat dan kejam sepertimu Dasamuka.
"Maafkan Ayah nak. Ayah janji, hal itu nggak akan Ayah ulangi lagi. Ayah janji, akan berbuat baik selalu kepadamu.
"Nggak, aku nggak mau. Jangan mendekat pada ku Ayah!" seru Ara dengan suara lantang.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1