
Mendengar jawaban Dea, semuanya pun tertawa terbahak-bahak. Mereka merasa senang, karena mesti dalam keadaan bermusuhan, namun mereka saling tolong di antara keduanya.
"Sekarang Dea telah kembali ke rumah dengan selamat. Aku juga ingin pulang ke rumah, nanti Mama mencariku keberadaan ku dimana-mana."
"Iya nak, terima kasih atas kebaikan budimu, semoga kalian berdua selalu seperti ini hendaknya, bermain bersama."
"Iya Ma, kami juga berharap seperti itu. Tapi kerajaan kami punya tuntutan masing-masing," jawab Dea.
"Ya sudah Bu, kalau begitu aku pulang dulu ke rumah."
"Iya nak, silakan."
Baru saja Pandan wangi bicara, Ara tiba-tiba saja sudah menghilang dari hadapan keduanya.
"Ternyata kalian, sama-sama punya ilmu yang tinggi. Jika saja hal itu dimanfaatkan untuk kebaikan, pasti hasilnya juga baik."
"Iya Ma," jawab Dea yang saat itu mulai melemah.
Melihat kondisi Dea yang semakin melemah, Pandan wangi merasa cemas. Dia melakukan berbagai macam cara, untuk mengobati putrinya. Namun tetap saja luka Dea semakin parah.
Dea mengeluarkan darah segar dari mulutnya, sepertinya racun gadis kupu-kupu itu sudah menjalar ke seluruh pembuluh darahnya.
Saat itu, Pandan wangi mencoba menghubungi suaminya, dengan menggunakan ilmu batin yang diajari oleh Askara.
"Ada apa sayang, kenapa kau memanggilku?"
"Putrimu diserang oleh seseorang Bang, turunlah ke bumi. Saat ini dia dalam keadaan tak sadarkan diri."
Belum selesai Pandan wangi bicara, Askara sudah muncul di hadapannya dan menyentuh pundak Pandan wangi.
"Apa yang terjadi istriku, kenapa dengan Putri kita?"
"Lihatlah sendiri Bang. Sepertinya Dea dalam keadaan kritis, kau harus membantu mengobatinya, sampai sembuh," ujar Pandan wangi seraya berharap pada suaminya.
"Tabib istana, tabib istana! turunlah ke bumi, obati putriku."
Ketika raja Askara memanggil tabib istana, tak berapa lama kemudian tabib itu pun, datang dan berdiri di samping raja Askara.
"Hamba datang yang mulia. Apa tugas yang akan hamba lakukan saat ini, yang mulia?" tanya tabib istana.
"Kau sembuhkan luka dalam, yang dialami oleh putriku. Apapun caranya, buat dia sadar dan sembuh kembali."
"Baik yang mulia, titah yang mulia, akan hamba laksanakan dengan nyawa hamba sendiri, sebagai taruhannya."
"Bagus, kerjakan sekarang."
__ADS_1
Tampa bertanya lagi, tabib istana langsung memeriksa kondisi Dea, yang saat itu sudah tak sadarkan diri.
"Gimana tabib, apa yang diderita oleh putri Dea?" tanya raja Askara pada tabib itu.
"Sepertinya putri yang mulia, diserang oleh Ratu kupu-kupu, hutan larangan."
"Apa! ratu kupu-kupu dari hutan larangan?"
"Benar yang mulia, racunnya pun sangat kuat. Saat ini, telah menjalar hingga masuk ke dalam pembuluh darahnya."
"Aku tidak peduli, sembuhkan dia atau ku penggal kepala mu!" bentak raja Askara dengan mata melotot pada tabib istana.
"Ampunkan hamba yang mulia, tapi penyakit itu sulit untuk diobati."
"Prajurit, tangkap dan jebloskan tabib ini ke dalam penjara bawah tanah, sebelum dia mau mengobati putriku, jangan pernah kalian lepaskan dia."
"Siap yang mulia," jawab seluruh prajurit seraya menarik tangan tabib istana.
Tabib itu pun menjerit-jerit, memohon pertolongan dari raja Askara, agar dia diberi kesempatan untuk mengobati Dea apapun resikonya.
"Ampunkan hamba yang mulia, baiklah hamba akan mencoba untuk mengobati putri yang mulia. Tapi hamba butuh bantuan dari beberapa orang tabib lainnya, untuk membantu hamba."
"Lakukan secepatnya, panggil beberapa orang tabib lainnya, asalkan kalian semua bisa menyembuhkan putriku!"
Di saat beberapa orang tabib itu, sedang berusaha mengobati Dea, raja Askara tampak berjalan hilir mudik di ruang tamu. Hatinya begitu sakit dan hancur, ketika putrinya terbaring dengan tubuh membiru.
"Ratu kupu-kupu. Kau telah membuat masalah denganku. Kau akan terima akibatnya, gerutu raja Askara saat itu.
"Kau jangan cepat mengambil keputusan Bang. Sebaiknya kau tanyakan dulu, hal itu pada putrimu. Apa benar Ratu kupu-kupu, yang telah mencelakainya?"
"Kenapa kau nggak percaya sayang, bukankah tabib istana mengatakan hal itu. Bahwa Ratu kupu-kupu lah, yang telah menyerang Putri kita."
"Mereka melakukan hal itu, pasti ada alasannya Bang. Nggak mungkin kan Ratu kupu-kupu menyerang Dea, tanpa ada alasannya."
"Apapun alasannya, Ratu kupu-kupu telah membuat masalah denganku. Dia ingin mencelakai putriku. Jika saja nanti putriku tidak tertolong, maka akan ku balas perbuatannya itu."
Mendengar curahan hati suaminya, Pandan wangi tak bisa berbuat apa-apa.
Dia hanya bisa menunggu dengan sabar, sampai Dea benar-benar sadar.
Di saat itu, Pandan wangi teringat ucapan Ara, kalau Dea, diserang oleh gadis kupu-kupu. Tapi Pandan wangi diam saja, dia tidak ingin membuat masalah suaminya bertambah rumit.
"Kapan terjadinya penyerangan ini sayang?" tanya raja Askara pada Pandan wangi.
"Aku nggak tahu Bang, tadi Putri raja Dasamuka yang membawa Dea ke sini."
__ADS_1
"Benarkah?"
"Iya Bang."
"Lalu kau percaya begitu saja, pada gadis dari musuh bebuyutanku itu?"
"Dia berkata jujur Bang, dia tidak mencelakai Dea, justru dia yang telah menyelamatkan Dea. Putri mu pun mengakuinya hal itu kok."
"Tapi aku tak pernah percaya dengan gadis genderuwo itu. Karena suatu waktu, dia bisa saja membunuh Dea dari belakang."
"Tapi selama ini, Dea bersama Ara selalu pergi sekolah bersama dan bermain bersama. Apa aku harus menghentikan persahabatan mereka?"
"Kamu tak perlu melakukan hal itu sayang, tugasmu hanya menjaga Putri kita."
"Baiklah, hal itu sudah kulakukan selama bertahun-tahun. Tugasku, hanya menjaga putrimu!"
"Apa maksudmu, Pandan wangi."
"Aku tak bermaksud apa-apa, tugasku untuk menjaga putrimu sudah aku lakukan dengan baik."
"Jika kau telah menjaganya dengan baik, tak mungkin dia akan celaka seperti ini. Tapi karena kelalaianmu, akhirnya Putri kita menjadi celaka."
"Benarkah, semua itu karena kelalaianku?"
"Kalau bukan karena kelalaianmu, nggak mungkin kan, Dea bisa celaka.
"Ooo. Jadi kau sudah bisa menyalah-nyalahkan aku sekarang, kejadian yang dialami Dea putrimu itu, bukan karena kesalahanku. Tapi kesalahanmu sebagai seorang raja yang tak mampu menjaga rakyatnya dengan baik!"
Di saat mereka sedang bertengkar, lalu tabib istana keluar dari kamar Dea. Melihat tabib istana keluar, Askara dan pandan wangi, langsung mendatangi mereka.
"Bagaimana kondisi putriku?" tanya raja Askara dengan suara sedikit meninggi."
"Kami masih berusaha yang mulia, semoga saja Putri Dea kembali sembuh dari sakitnya."
"Sekarang apa yang telah kalian lakukan di dalam sana. Sehingga begitu lama kalian memproses, masa penyembuhan putriku."
"Kami semua sedang berusaha yang mulia."
"Jangan ucapkan kata-kata itu lagi di hadapanku. Kalau kalian tidak sanggup, maka kalian akan diseret ke dalam penjara."
"Ampunkan hamba yang mulia, hamba kembali masuk ke dalam."
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1