
"Papa ini gimana sih, kalau kita langsung masuk ke dalam, Mama pasti bangun dan dia akan marah pada kita berdua," jawab Ara, seraya terus menyelinap masuk ke dalam rumahnya bersama Bondan.
Ketika mereka berdua, telah tiba di dalam kamar Ara. Bondan melihat jelas, seorang perempuan sedang tidur di atas ranjang Ara.
Lalu Bondan pun menghampiri perempuan itu dan menyentuh tubuhnya dengan pelan. Benar saja apa yang dikatakan oleh Ara, kalau saat itu, dia telah mengubah bantal guling mirip dengan dirinya sendiri.
"Apakah benar, ini bantal guling sayang?"
tanya Bondan penasaran.
"Papa bisa lihat sendiri, siapa sebenarnya perempuan itu," ujar Ara seraya menyentuh perempuan itu.
Saat tangan Ara menyentuh perempuan itu, tiba-tiba saja dia berubah menjadi sebuah bantal guling. Bondan kaget ketika melihat perubahan itu. Jantungnya berdetak sangat kuat sekali. Karena seumur hidupnya, baru kali itu dia melihat kejadian yang begitu aneh, tapi nyata.
"Jadi selama ini, Ara menipu Papa ya?"
"Nggak Pa, Ara nggak pernah menipu Papa, karena Ara sangat menyayangi Papa."
"Terima kasih ya nak. Papa juga sangat menyayangimu. Karena kau putri Papa satu-satunya, nggak ada yang lain. Kasih sayang Papa udah Papa curahkan semuanya, kepada kalian berdua."
"Iya Pa Ara tahu itu," jawab Ara dengan linangan air mata.
Mereka pun berdua saling berpelukan,, rasa haru mewarnai kebersamaan mereka malam itu. Di saat kesempatan itu, Bondan mengungkapkan isi hatinya kepada Ara Putri satu-satunya.
"Ara, ada sesuatu hal yang ingin Papa katakan kepadamu malam ini.
"Apa itu Pa?" tanya Ara ingin tahu.
"Mungkin Papa akan keluar dari rumah ini, sayang?"
"Kenapa Pa? Papa mau ninggalin kami?"
"Papa nggak akan meninggalkan kamu nak. Semuanya, hanya untuk sementara. semua ini sengaja Papa lakukan, agar Mamamu sadar, kalau perbuatannya itu akan merusak dirinya sendiri."
"Jadi, Papa mau tinggal di mana nantinya?"
"Papa akan tinggal bersama Kakek dan Nenekmu. Jika Ara sempat, Ara boleh kok datang ke rumah Kakek dan Nenek. Papa pasti di sana, Kakek dan Nenek sudah tua sayang, mereka itu tanggung jawab Papa. Jadi Papa harus merawatnya sampai akhir hayat mereka berdua."
"Benar, hanya itu alasan Papa keluar dari rumah ini?"
"Iya sayang, hal itu harus Papa lakukan. untuk merubah sikap Mamamu yang kasar dan serakah."
__ADS_1
Mendengar penjelasan Bondan, Ara hanya bisa diam. Dia tak dapat berbuat apa-apa, karena keputusan hanya ada pada Papanya sendiri.
"Nah sayang, malam ini Papa akan ke rumah sakit, kamu jangan kemana-mana ya nak, tetaplah di rumah. Kalau ingin menjenguk Kakek di rumah sakit, datanglah siang hari. Jangan malam hari ya nak, karena berbahaya."
"Baik Pa, Ara akan patuhi setiap perintah Papa."
"Oh sayang," ucap Bondan seraya memeluk tubuh putrinya dengan erat.
Setelah berpamitan, Bondan langsung pergi keluar dari rumah itu. Dengan pelan, Dia menyalakan mobil dan langsung pergi meninggalkan Ara di kamarnya.
Saat deru suara mobil, meninggalkan kebisingan. Kemuning pun terbangun dari tidurnya, dia langsung bergegas keluar kamar, untuk menoleh ke halaman depan.
"Hm..! sepertinya aku baru mendengar suara deru mobil, apa aku nggak salah dengar ya?" tanya Kemuning pada dirinya sendiri.
Seraya berpikir, Kemuning langsung menuju ruang tamu. Tenggorokannya terasa begitu kering malam itu, ketika dia hendak mengambil gelas, lalu tangannya disentuh oleh seseorang.
Saat itu, Kemuning langsung menoleh ke arah pria, yang memegang tangannya.
"Bang Danu!" ujar Kemuning kaget.
"Kau baru saja mendengar deru mobil Kemuning?"
Mendengar pertanyaan Danu, Kemuning nggak berani untuk menjawab. Karena dia tahu, kalau Danu saat itu sedang memperolok-olok dirinya.
"Mendengar ucapan Danu, Kemuning jadi merinding ketakutan. Semakin hari, kehadiran Danu serasa mengganggu hidupnya. Namun Kemuning tak dapat berbuat apa-apa, karena Danu telah menjeratnya dengan seorang anak dan harta yang berlimpah.
"Mau mu, apa sih Bang?" tanya Kemuning dengan tegas.
"Aku mau tubuhmu, tubuhmu sangat harum Kemuning."
Sebenarnya Kemuning sangat mencintai Danu. Tapi sejak dia tahu, siapa Danu sebenarnya, hati Kemuning berubah seketika. Perasaan cintanya, berubah menjadi rasa takut yang mengerikan.
Namun, Danu mempunyai ilmu yang tak dapat diketahui oleh Kemuning. Ilmu Danu bisa meluluhkan hati Kemuning. Meski Kemuning menolaknya, berulang kali.
Malam itu seperti biasa, Danu membawa Kemuning ke dalam kamar dan dia melakukan hubungan badan dengan istrinya itu.
Seperti waktu dulu, Kemuning merasakan kembali kenikmatan yang tiada tara dari Danu. Desah nafasnya, membuat seluruh hewan tertunduk diam.
"Aaaahh...!"
"Apa yang kau rasakan sayang?" bisik Danu di telinga Kemuning.
__ADS_1
"Aku bahagia sekali, aku senang malam ini dan aku merasa puas, kau memang pria perkasa."
Mendengar jawaban Kemuning yang merasa puas, Dasamuka menjadi senang. Dia tertawa kegirangan, sehingga suara gelak tawanya menggetarkan rumah Kemuning.
"Bang, Bang! jangan tertawa lagi, rumahku akan hancur mendengar suara ketawamu."
"Benarkah sayang?"
"Jika kau ketawa, maka seluruh isi rumahku akan porak poranda. Kau mau aku capek membersihkannya."
Mendengar jawaban istrinya, Danu langsung menarik tangan Kemuning untuk keluar dari kamar.
"Mulai hari ini, kok nggak akan pernah membersihkan rumah lagi. prajurit!"
Di saat itu, puluhan prajurit turun dari kayangan, menghadap raja mereka.
"Sekarang, tugas kalian perbesar lagi rumah ini. Isi dengan perabotan yang antik, yang tidak dimiliki oleh warga di Desa ini."
"Baik yang mulia," jawab seluruh prajurit itu seraya bekerja.
Di saat seluruh prajurit bekerja membersihkan dan mengubah rumah Kemuning. Dasamuka sedang asyik bercumbu dengan istrinya di dalam kamar.
Mesti Kemuning telah berulang kali menolak kehadiran Danu, namun setelah Danu memberikan kenikmatan kepadanya, justru Kemuning sendirilah yang tak ingin Danu keluar dari kamarnya.
Sementara itu, Bondan suaminya tertidur pulas, di ruang tunggu rumah sakit. Saat itu, Bondan bermimpi rumahnya diliputi kabut berwarna hitam.
Dia begitu sulit sekali untuk masuk ke dalamnya, karena seluruh permukaan rumah itu telah tertutup oleh kabut tersebut.
Di saat Bondan terbangun dari tidurnya, keningnya langsung berkerut. Seakan-akan mimpi itu memberinya suatu petunjuk tentang keadaan rumahnya.
"Aneh, aku bermimpi sangat aneh sekali. Apa maksud semua ini?" tanya Bondan pada dirinya sendiri.
"Kamu kenapa Le?" tanya Suminah ketika melihat putranya sedikit bingung dan resah.
"Aku tadi bermimpi Bu."
"Mimpi apa Le?"
"Rumahku seperti ditutup oleh kabut berwarna hitam. Aku sudah berusaha untuk masuk ke dalamnya, tapi aku tidak menemukan pintu rumah itu. Karena semuanya tampak gelap sekali."
"Mimpimu sangat mengerikan Le, Ibu sangat khawatir sekali. Jika kau kembali ke rumah itu kau akan mendapatkan hal yang buruk."
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*