
Setelah terpilih menjadi prajurit andalan Dea, lalu mereka semua berangkat menuju kerajaan Buana. Yang letaknya, menempuh satu hari satu malam perjalanan.
Selama di perjalanan, mereka tampak tenang dan biasa-biasa saja. Hewan yang mereka tunggangi, bergerak cepat menuju kerajaan Buana.
Setibanya Dea dan beberapa telik sandi di perbatasan kerajaan Buana, lalu mereka mencoba mengatur siasat untuk memasuki kawasan kerajaan Buana.
Seorang telik sandi telah diperintah masuk terlebih dahulu oleh Dea, dia menyamar sebagai rakyat biasa.
"Kamu dari mana?" tanya prajurit kerajaan Buana.
"Aku dari kerajaan Parahyangan Bang."
"Kerajaan Parahyangan lagi, kenapa kalian semua pingin pindah ke kerajaan Buana. Bukankah di kerajaan Parahyangan, kalian hidup mewah di sana?"
"Benar Bang, kami memang hidup mewah di sana. Tapi di kerajaan Parahyangan kami tidak punya tanah untuk kami kelola. Itu sebabnya, banyak para penduduk, dari kerajaan Parahyangan yang ingin pindah ke daerah ini. Bukankah Raja Buana menjanjikan kami, sebidang tanah dan harta yang cukup."
"Hahaha...! kalian memang bodoh ya, mau saja kalian diperbodoh oleh Raja Buana. Kalian tahu nggak, tanah yang mereka janjikan itu tidak ada sama sekali. Lihatlah di sana, didalam aula itu, ribuan penduduk kerajaan Parahyangan terkurung di dalamnya."
"Apa maksudmu?"
"Hahaha... bodoh, bodoh! apa Raja kalian tak pernah mengajari, agar jangan terlalu percaya ucapan makhluk lain."
"Jadi, tanah yang diberikan oleh Raja Buana itu, bohong?"
"Ya tentu. itu semua hanyalah bualan kami semata, agar kalian menjadi pengikut Raja Buana. Penyembah Tuhan kami. Yaitu Raja Buana, hahaha...!"
"Kalau begitu, aku nggak jadi pindah ke kerajaan Buana. Aku pulang aja ke kerajaan Parahyangan!" ujar prajurit yang menyamar tersebut.
"Hep..! tidak bisa! kau kira semudah itu, untuk lari dari kami. Padahal kau sudah mengetahui rahasia kerajaan kami. Imbalan yang pantas untukmu, adalah hukuman mati."
"Jangan tuan, jangan. Maafkan aku, aku janji akan menyimpan rahasia ini baik-baik. Maafkan aku yang hanya rakyat biasa ini tuan!"
"Sudah terlambat! prajurit seret makhluk tak berguna ini dan bunuh."
"Ampunkan aku tuan, ampunkan Aku!" teriak-telik sandi tersebut, seraya menata-ronta dari kedua pria yang mencoba menariknya.
Dea dan beberapa orang telik sandi, yang menyaksikan kejadian itu, langsung keluar dari persembunyiannya.
Dengan wajah nya yang cantik, Dea mencoba merayu prajurit tersebut.
"Ada apa ini, kenapa dia diseret. Bukankah selama ini Raja Buana, membutuhkan seorang prajurit?"
"Ya, yang kami butuhkan memang seorang prajurit bukan makhluk dekil, seperti ini!"
__ADS_1
"Kau salah, aku kenal betul siapa dia," seru Dea seraya menghampiri mereka semua.
"Kau siapa?" tanya prajurit itu pada Dea.
"Apa perlu aku tunjukkan identitasku kepada kalian?"
"Tentu, karena Raja Buana tidak sembarangan mengambil orang luar, yang akan dijadikannya prajurit di sini."
"Itu bohong! mereka itu bohong, ujar telik sandi itu, bersandiwara."
"Bohong, bohong apa?" tanya Dea berpura-pura.
"Mereka nggak pernah memberikan kita tanah, mereka juga mengurung seluruh penduduk Parahyangan yang telah datang ke tempat ini. Buana hanya menjadikan mereka para penyembahnya."
"O ya, dari mana kau tahu!"
"Mereka sendiri yang bilang padaku dan saat ini, mereka ingin membunuhku agar rahasia mereka tidak terbongkar!"
"Hah diam! kamu banyak cerita!"
"Ayo prajurit, seret dia, jangan biarkan dia bicara sepatah kata pun!"
"Oh tunggu!" emangnya apa kesalahannya, kenapa kalian mesti menyeretnya. Bukankah dia juga ingin menjadi prajurit kerajaan Buana."
"Tapi Aku nggak melihat siapa-siapa, kalau memang ratusan kerajaan Parahyangan pindah ke daerah ini, tidak mungkin daerah ini sepi, bukan?"
"Karena mereka semua kami kurung di sebuah aula di dalam kerajaan. Agar tak seorangpun yang bisa keluar dari sini dalam keadaan hidup-hidup."
"Jadi, kalian ingin membunuh mereka?"
"Kami akan menjadikan mereka budak di kerajaan Buana ini. Penyembah raja Buana yang agung."
"O ya, jadi itu tujuan kalian merayu dan membujuk prajurit, serta penduduk kerajaan Parahyangan. Ternyata, untuk kalian jadikan budak penyembah raja kalian?"
"Iya, tapi itu semua karena kebodohan Raja mereka, sehingga seluruh penduduk dan prajuritnya terlalu mudah untuk dihasut dan diiming-imingi tanah dan harta."
Mendengar ucapan prajurit tersebut, darah Dea langsung naik ke ubun-ubun. Hatinya terasa begitu sakit, mendengar ucapan bajuri Buana tersebut.
Namun karena posisinya saat itu, sedang dalam penyamaran, maka dia mencari cara agar telik sandi kepercayaannya, bisa dilepaskan.
"Tunggu sebentar prajurit, boleh aku mengeluarkan pendapat?"
"Bagi makhluk cantik sepertimu, aku nggak keberatan menerima pendapatmu.
__ADS_1
"Mengenai orang yang akan kau bunuh itu, aku sangat menginginkan dia menjadi pekerja di kebun ku. Percuma kan, jika kau membunuhnya. Aku janji, setiap bulan aku akan memberikan bunga yang segar untuk kalian."
"Benarkah itu, cantik?"
"Ya, seumur hidup aku, aku nggak pernah berbohong. Tapi jika, kau mengajak aku bicara terus, maka aku bisa saja berbohong nantinya."
" Baiklah, lalu apa yang kau inginkan dari kami?"
"Aku hanya ingin dia yang tak berguna itu, menjadi budak di kebun bunga milikku."
"Apakah kau punya kebun bunga?"
"Ya, kebun bunga ku sangat luas. semenjak kedua orang tuaku pergi dua bulan yang lalu, aku terpaksa harus mengurus kebun bungaku sendiri."
"Emangnya ke mana orang tuamu cantik?"
"Katanya, dia ingin mengadu nasib di kerajaan Buana. Namun setelah kepergian nya, sampai sekarang ini, dia belum juga kembali. Aku takut sekali, di rumah sendirian."
"Kan ada aku yang menjadi temanmu, kau nggak perlu takut cantik."
"Ah kau sudah jelas menjadi temanku, tapi aku butuh Ayah dan Ibu untuk bekerja di rumah. Karena aku tak bisa mengerjakan apapun tanpa bantuan Ibu dan Ayahku."
" Baiklah, kalau begitu. Ikuti aku, biar ku carikan orang tuamu. Bukankah mereka berada di dalam aula."
" Iya benar, kedua orang tuaku berada di dalam aula itu. Aku yakin, mereka pasti tak diizinkan keluar oleh raja Buana."
" Baiklah ikutlah bersamaku, kita masuk secara diam-diam."
" Kenapa mesti diam-diam, bukankah ini kerajaan mu juga."
" Iya, tapi jika raja Buana tahu, kami pasti akan dipenggal dan dijadikan santapan makhluk ganas."
" Baiklah, aku akan mengikuti mu dari belakang," ujar Dea.
Lalu dengan perlahan, mereka pun masuk ke dalam kerajaan. Karena situasinya sangat gelap, untuk itu prajurit tersebut menyalahkan lampu.
Setelah pintu terbuka dan lampu pun dinyalakan oleh prajurit tersebut, kesempatan itu dimanfaatkan oleh Dea, untuk membunuh prajurit itu hingga tewas.
Lalu dengan pelan Dea mengajak seluruh tawanan raja Buana, untuk kabur dari aula tersebut. Mereka keluar dengan cepat dari aula tersebut dan berlari menghampiri perbatasan kerajaan Parahyangan.
Ketika mereka semua hendak tiba di perbatasan, beberapa orang prajurit dari kerajaan Buana menghadang mereka dari depan.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*