AraDea

AraDea
Part 90 Di hajar Bondan


__ADS_3

"Nggak Yah, aku nggak pernah melakukan semua itu. Dina berbohong!" ujar Rusli, seraya menghampiri Dina dan mendorongnya hingga Dina terjatuh.


"Aduuh...! sakit tau!" jerit Dina kesakitan.


"Tolong jaga mulutmu kalau bicara. Kau kira, kau sedang bicara dengan siapa hah!" ujar Rusli emosi.


"Kenapa Bang, kenapa aku nggak boleh bersuara, kenapa aku nggak boleh buka mulut!"


"Awas kau Dina, akan ku buat hidupku menyesal!" bentak Rusli, seraya pergi meninggalkan Dina.


Baru beberapa langkah Rusli berjalan, Bondan pun datang menghampiri dan memukul wajah Rusli, hingga pria itu tersungkur.


Bukan hanya sekali pukulan, bahkan Bondan memukul tubuh Rusli berkali-kali. Hal itu, membuat Dina menjerit histeris karena ketakutan.


"Tenang nak Bondan, tenang. Jangan main kekerasan terus. Kan bisa kita selesaikan, dengan cara baik-baik," ujar Pak Kades.


"Putramu udah keterlaluan Pak Kades. Jangan karena Bapak berkuasa, lalu dia bisa berbuat semena-mena terhadap adikku."


"Tapi semuanya, bisa kita selesaikan baik-baik nak Bondan. Bukan begini caranya. Kau telah main hakim sendiri,"


ujar Pak Kades pada Bondan.


Mendengar ucapan Pak Kades tersebut, Bondan tak menggubrisnya. Dia langsung menarik paksa tangan Dina dan membawanya pergi dengan mobil.


"Kenapa kau begitu kasar kang Mas?" tanya Dina heran.


"Aku akan lebih kasar lagi, kalau kau nggak mau menghargai orang tuamu sedikitpun. Apakah pernah Bapak sama Ibu, mengajarkanmu untuk tidak menghormati mereka?"


"Nggak kang Mas."


"Lalu kenapa kau mengikuti ajaran sesat suamimu itu. Apa kau ingin masuk neraka!"


"Mendengar ucapan Bondan, Dina hanya diam saja. Karena selama ini, Dina memang tak pernah melihat kedua orang tuanya. Semua itu, karena Rusli telah melarangnya untuk menemui mereka.


Setelah tiba di depan rumah sakit. Bondan pun turun, lalu mereka berdua masuk ke dalam ruangan rumah sakit. Di tempat Ibunya, duduk menunggu dengan sabar.


Dari kejauhan, Suminah melihat putrinya berjalan dengan tergesa-gesa, bersama Bondan. Dia pun berdiri dan langsung menghampiri mereka berdua.


"Ibu!" ujar Dina seraya mendekap erat tubuh Ibunya yang sudah tua.


"Kemana saja kamu nduk, sejak kau menikah dengan Rusli. Kau nggak pernah menemui Ibumu lagi, kami sekeluarga sedih nduk."


"Maafkan aku Bu, aku lalai. Aku nggak pernah menemui Ibu lagi."

__ADS_1


"Kenapa, apa kalian ada masalah?"


Mendengar pertanyaan Ibunya, Dina hanya diam saja. Dia tak berani mengutarakan isi hatinya, karena dia takut Ibunya akan tersinggung dan merasa berkecil hati.


Karena Dina tak mampu menjawab, pertanyaan Ibunya. Lalu Bondan pun bicara.


"Dina nggak mau menemui Ibu dan Bapak, karena dia dilarang Rusli, Bu."


"Benar begitu nduk?"


Saat pertanyaan itu diajukan Suminah pada dirinya, Dina masih saja tertunduk dan tak mau bicara sepatah kata pun.


"Bicaralah nduk, jangan ragu dan takut. Ibumu ini akan selalu mendengarkan, apa yang kalian katakan. Bukankah Rusli itu Ibu dan Bapakmu yang menjodohkannya, jadi kau nggak usah takut untuk menceritakannya kepada Ibu.


Mendengarkan ucapan dari Ibunya, Dina langsung menangis dan memeluk tubuh Suminah dengan erat. Air mata yang selama ini dia bendung, saat itu tak kuasa lagi untuk ditahannya. Dipelukan sang Ibu, Dina pun menangis tersedu-sedu.


Suminah tak dapat berbuat banyak, selain kata-kata sabar, yang seringkali diucapkannya kepada putrinya itu.


"Sebenarnya, aku udah nggak tahan Bu, hidup bersama Bang Rusli."


"Kenapa nduk, kenapa nggak tahan? apa penyebabnya sayang?"


"Bang Rusli selalu menuntut ku, untuk dapat melahirkan seorang anak, tapi hingga saat ini Aku nggak mampu untuk itu Ibu."


"Bukan hanya itu saja Bu, Bang Rusli sering memukul aku, jika aku mendatangi kekasih gelapnya."


"Maksudmu Rusli, suka main perempuan Din?" tanya Bondan pada Dina.


"Iya kang Mas, aku sudah sering memergokinya. Bukan hanya satu orang, tapi Bang Rusli melakukan itu, dengan banyak perempuan."


"Kenapa kau diam saja Dina, kenapa tadi kau nggak bicara seperti itu pada kang Mas. Kita harus laporkan itu pada Pak Kades, agar dia bisa mendidik anaknya supaya tidak semena-mena terhadap orang lain!"


"Aku takut kang Mas. Bang Rusli selalu mengancam akan membunuh ku, kalau aku mencoba buka mulut pada Ayah dan Ibunya serta pada keluarga kita."


"Kurang ajar kau Rusli, kau telah memperalat adikku dan menyiksanya dengan kejam," ujar Bondan seraya mengepalkan tinjunya.


"Kang Mas lihat sendiri tadi kan, dia mencoba mengancam ku."


"Ya sudah, biarlah kang Mas yang akan mengurus dia nanti. Kamu tunggulah Bapak dan Ibu di sini."


"Tapi kang Mas!"


"Tenanglah Din, suamimu itu nggak akan kang Mas bunuh. Kang Mas hanya ingin, memberi dia pelajaran. Agar dia tahu, cara menghargai istrinya."

__ADS_1


"Kang Mas jangan main kekerasan, Pak Kades nggak suka."


"Iya," jawab Bondan seraya bergegas keluar dari ruang tunggu.


"Aku takut Bu, nanti mas Bondan main kekerasan pada Rusli dan aku yang akan menjadi landasannya, nanti Bu.


"Tenanglah nduk, nggak akan terjadi apa-apa dengan suamimu itu. Bondan tahu, bagaimana cara memperlakukan orang yang berbuat semena-mena terhadap adiknya."


"Kalau mereka bertengkar, aku nggak bakalan masuk lagi ke dalam rumah itu Bu. Aku udah lelah untuk terus bersabar menghadapinya."


"Iya nduk, keputusanmu Ibu dukung sepenuhnya, asalkan kau jangan bersedih lagi."


"Makasih Bu, terima kasih!"


"Sama-sama nduk," jawab Suminah seraya membelai rambut putrinya.


Setelah kepergian Bondan, Suminah dan Dina duduk di ruang tunggu. Mereka menunggu kabar kesadaran Bapaknya, yang saat itu telah dipindahkan ke ruang perawatan.


Semenjak kejadian malam itu, Tito nggak kunjung sadarkan diri mesti telah dilakukan operasi. Sementara itu, Bondan yang telah beberapa hari meninggalkan rumahnya, dia terus mengintai keberadaan Rusli.


Tepat malam itu, ketika Bondan sedang duduk di teras rumah orang tuanya. Tiba-tiba saja, dia melihat Rusli sedang bergandengan tangan dengan dua wanita sekaligus.


"Saat itu, Bondan melihat Rusli sedang mabuk berat, sehingga kedua perempuan itu terlihat sedang memapah tubuhnya.


Bondan yang merasa sakit hati dengan perlakuan Rusli kepada adiknya, dia langsung menghampiri kedua perempuan itu dan menyuruhnya pergi meninggalkan Rusli sendirian.


"Rusli, Rusli, ternyata seperti ini, kelakuan putra seorang Kades yang terhormat di desa ini."


"Ah siapa kau!" teriak Rusli seraya mengacung acungkan telunjuknya.


"Kau lupa, dengan orang yang pernah menamparmu?"


"Mas Bondan?"


"Kau nggak perlu menyebut namaku dengan mulutmu yang bau alkohol itu."


"Apa mau mu?" tanya Rusli seraya terus mengeluarkan sendawa akibat minum terlalu banyak.


"Mauku yang kau tanya, mau ku ya ini!" ujar Bondan seraya memukul wajah Rusli hingga babak belur.


Mesti terasa begitu sakit, namun Rusli tak bisa membalasnya. Karena tubuhnya saat itu, sangat lemah dan tak berdaya. Sebab mabuk telah membuatnya tak bertenaga.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2