
"Kenapa Ara ingin menghabisi kalian sekeluarga?"
"Karena Ara Putri Dasamuka. Sementara raja Dasamuka, adalah musuh bebuyutan raja Askara yaitu Papaku sendiri. Itu sebabnya, Ara selalu berambisi ingin menghabisi kami sekeluarga. Karena itu adalah perintah dari raja Dasamuka."
"Kenapa Ibu nggak tahu ya, kalau selama ini Ara Begitu jahat padamu?"
"Tapi Ibu nggak perlu cemas, karena nggak semudah itu Ara bisa mengalahkan aku. Dengan kekuatannya yang luar biasa saat ini, Ara belum sanggup mengalahkan aku. Kecuali jika dia ingin berbuat baik."
"Maksudmu apa? emangnya selama ini Ara jahat ya?"
"Tergantung orang yang menilainya."
"Emangnya pada teman yang lain, apakah Ara pernah berbuat jahat?"
"Ara tak pernah berbuat jahat, hanya dia sedikit usil dan suka memperlihatkan kelebihannya kepada orang lain."
"Kelebihan, kelebihan apa?"
"Masa Ibu nggak tahu, apa kelebihan Putri Ibu?"
"Apakah matanya, atau mungkin taringnya?"
"Iya. Dia selalu memperlihatkan matanya kepada teman-teman, sehingga temannya menjadi pingsan."
"Ya ampun, benarkah itu? apa sih tujuannya memperlihatkan hal itu kepada temannya?"
"Sepertinya hal itu sengaja dilakukan Ara, agar temannya menjadi marah dan memusuhinya."
"Tapi apa gunanya Ara memusuhi temannya nak?"
"Aku takut mengatakannya kepada ibu," jawab Dea pelan.
"Kenapa mesti takut, ceritakanlah apa adanya. Ibu siap kok mendengarkannya."
"Benar ibu siap mendengarkannya, karena hal ini, bisa saja membuat ibu terluka atau merasa rendah diri di hadapanku."
"Maksudmu apa nak?"
"Ibu tahu nggak, kenapa Ara suka mencari gara-gara?"
"Nggak nak."
__ADS_1
"Jika orang marah kepada Ara, maka Ara akan membunuhnya dan meminum darah orang itu."
"Apa! kau jangan sembarang ngomong gitu, tahu! kalau kau marah pada Putri Ibu, kau nggak perlu menjelek-jelekkan Ara seperti itu!" bentak Kemuning dengan nada penuh amarah.
"Bukankah tadi sudah aku katakan kepada Ibu, apakah Ibu sanggup mendengarnya atau tidak, lalu Ibu bilang, Ibu sanggup menerimanya dan aku disuruh bicara apa adanya. Benar begitu kan Bu?"
"Iya nak," jawab Kemuning singkat.
"Sekarang Ibu sudah mendapat jawabannya. Ibu terima atau tidak, Itu terserah lbu. Namun kenyataan tak dapat dipungkiri, hal yang sudah terjadi tak bisa ditarik kembali. Kalau selama ini, Ara adalah gadis penghisap darah."
Mendengar ucapan Dea, Kemuning merasa sedih. Dia menangis histeris, dengan cara menyebut-nyebut nama putrinya. Kepiluan hatinya tak dapat diobati, dengan obat apapun. Hatinya hancur saat dia mendengar, kalau putrinya seorang penghisap darah.
"Ibu yang sabar, itu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Apapun adanya Ara, dia itu adalah Putri Ibu."
"Tapi kenapa lbu bisa nggak tahu, kalau selama ini Ara selalu mengisap darah manusia?"
"Karena selama ini, Ara memiliki sebuah boneka yang telah dirasuki roh iblis oleh Ayahnya. Iblis itu adalah, orang kepercayaan raja Dasamuka."
"Boneka?"
"Ya sebuah boneka, yang selalu disuruh Ara untuk mencari korban berikutnya."
"Ya Allah, kenapa aku nggak tahu?"
"Maaf nak, boleh Ibu bertanya sesuatu padamu?"
"Iya silakan, Bu?"
"Emangnya, apa guna Ara meminum darah itu?"
"Untuk kekuatan tubuhnya, jika Ara tidak meminum darah, maka kondisi tubuhnya akan melemah. Dia akan pucat dan sakit."
"Mendengar penjelasan dari Ara, Kemuning teringat sewaktu di rumah sakit. Ketika pihak rumah sakit kehilangan darah. karena telah diminum oleh Ara. Ternyata benar, apa kata Dea, kalau selama ini Ara mengkonsumsi darah untuk tubuhnya."
Baiklah Bu, aku permisi dulu."
"Tapi bagaimana, dengan Putri Ibu Ara?"
"Bukankah tadi, sudah aku katakan. Kalau Putri Ibu Ara, berada bersama dengan Ayah kandungnya."
"Ibu mengerti nak, Tapi maksud ibu, maukah kau menolong lbu, untuk mengembalikan Ara kepada lbu?"
__ADS_1
Mendengar perkataan Kemuning, Dea bingung, Ingin rasanya dia menolong Kemuning, namun ibunya pernah bilang, kalau seandainya Ara diselamatkan, maka akan terjadi perang besar, antara kerajaan Angkara dan kerajaan Parahyangan.
Meski demikian, Dea tak tega melihat Kemuning menangis, seraya bermohon kepadanya. Dengan berat hati, Dea terpaksa harus menganggukkan kepalanya, agar Kemuning bisa tersenyum.
"Baiklah, akan ku usahakan, berdoalah lbu agar Ara bisa kembali pulang dengan selamat, tak kurang satu apapun."
"Baik, terima kasih nak. Semoga kau selalu dilindungi."
Setelah Kemuning selesai bicara, Dea langsung menghilang dari hadapannya. Di perjalanan menuju ke rumah, Dea melakukan penerawangan menuju kerajaan Angkara.
"Namun Dea tak melihat apapun di sana, selain kegelapan. Seluruh kerajaan Angkara seperti telah diselimuti oleh kabut hitam. Sehingga sulit bagi Dea, untuk menembus kabut tersebut.
Karena tak berhasil menembus kerajaan Angkara, Dea mohon izin kepada Ayahnya, untuk masuk ke kerajaan Angkara.
"Untuk apa mencari masalah putri ku, jika kau tertangkap nanti. Kau juga akan di hukum, sama seperti Ara Putri raja Dasamuka itu sendiri."
"Tapi yang mulia, Aku telah berjanji pada Ibunya, untuk mengembalikan putrinya dalam keadaan selamat, aku tak bisa menolak permintaan Ibu Kemuning yang mulia.
Mendengar ucapan Dea, raja Askara tak bisa berbuat apa-apa, sebagai seorang Satria, putrinya harus bisa memegang ucapan. Bertanggung jawab dengan perbuatan dan melaksanakan janji yang telah diucapkan."
"Baiklah, di perbatasan kerajaan Angkara, seribu prajuritku telah berada di sana, menunggumu. Masuklah kau ke dalamnya, dengan aman putriku."
"Seribu prajurit, untuk apa yang mulia?"
"Untuk membantumu, menyusup ke dalam kerajaan Angkara."
"Tidak Ayah, jika seribu pasukanku ketahuan, oleh prajurit Dasamuka, maka mereka akan ditawan dan dijadikan mangsa oleh kerajaan Dasamuka.
"Biarlah, aku sendiri yang masuk dan menyusup, ke dalam kerajaan Angkara. Jika saja nanti aku yang tertangkap, maka aku sendiri yang akan menerima hukuman nya."
"Tidak putriku. Kau adalah jenderal perang kerajaan Parahyangan. Jika terjadi sesuatu kepadamu, maka separuh tubuh Parahyangan, akan mengalami kelumpuhan. Untuk itu, mau tidak mau kau harus menerima seribu prajurit, yang saat ini telah berada di perbatasan kerajaan Angkara."
Di saat Dea dan raja Askara bicara, seribu pasukan telah berada di perbatasan kerajaan Angkara, ketika Dea tiba di sana, mereka telah menunggu dan bersiap-siap untuk segera memasuki kerajaan Angkara.
"Wahai prajuritku, aku bukan bersenang-senang di sini. Tapi besar resiko yang sedang aku hadapi saat ini. Jika nanti, aku ketahuan oleh kerajaan Angkara, maka aku akan menjadi taruhan mereka."
"Ampun yang mulia, kami datang ke sini atas perintah raja Askara, untuk menemani yang mulia mencari gadis yang bernama Ara."
"Kalian tunggulah di sini, biar aku sendiri yang menyusup ke dalam. Jika nanti terjadi sesuatu kepadaku, maka kalian boleh mencariku."
"Kami nggak mau yang mulia, jika kami membiarkan yang mulia menyusup sendiri ke dalam kerajaan Angkara, maka kami semua akan mendapat hukuman dari raja Askara.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*