AraDea

AraDea
Part 95 Ganti rugi


__ADS_3

"Malu, malu kenapa Bu?"


"Jika orang tahu kalau Ara bukan manusia biasa, semua orang pasti menghina dan melecehkannya. Apalagi kalau ada orang yang sempat melihat Ara, memakan daging dan meminum darah segar, mereka pasti mengusir Ara dari kampung ini nak."


Di saat Kemuning menceritakan semuanya kepada Dea, Ara pun keluar dari kamar mandi. Ara marah ketika kemuning menceritakan semuanya kepada Dea, yang selama ini menjadi musuh bebuyutannya.


"Mama! apa-apaan ini, kenapa Mama menceritakan semuanya kepada Dea! Mama tahu sendiri kan, kalau Dea itu, bukan sahabatku tapi dia musuh bebuyutanku."


"Sudah terlambat, Mamamu sudah menceritakan semuanya kepadaku. Kenapa, kau takut kalau aku akan memberitahukan semua orang tentang penyakitmu ini?"


"Kurang ajar, kau mengancamku?"


"Terserah apa tanggapanmu."


Mendengar jawaban Dea, Ara merasa sakit hati. dia langsung mendorong Kemuning hingga Mamanya itu tersungkur.


"Ara! apa yang kau lakukan. Kau begitu kejam pada Mama mu!"


"Aku akan lebih kejam lagi, kalau Mama menceritakan semuanya kepadamu dan kepada seluruh penduduk desa ini.


"Ara, kenapa kau lakukan nak. Apa menurutmu Mama pernah melakukan kejahatan kepadamu?"


"Mamamu benar Ara, apakah selama dia pernah berbuat jahat kepadamu?"


"Kesalahan Mama terbesar adalah, menceritakan keburukanku kepada Dea. Padahal Mama tahu, kalau Dea adalah musuh bebuyutanku."


"Jika pun kau diam atau berbicara, Nirwana juga mengetahui, kalau kita adalah musuh bebuyutan. Tapi nggak perlu diceritain dong sama Mamamu, dia nggak tahu apa-apa Ara.


"Udah! udah ayo kita kembali ke sekolah," ujar Ara seraya menarik tangan Dea.


"Udah Bu, kami harus kembali ke sekolah," ucap Dea dengan suara lembut.


"Iya nak, pergilah."


Setelah mendapat restu dari Kemuning, Ara dan Dea, langsung meninggalkan rumah itu. Mereka berdua berlari kencang menuju ke sekolah.


Setibanya mereka di sekolah, Ara langsung dipanggil kepala sekolah. Dia masuk ruangan majelis guru dengan tenang untuk menuju ruang kepala sekolah.


"Bapak memanggilku?" tanya Ara ingin tahu.


"Duduklah, kau yang bernama Ara bukan?"


"Iya Pak."


"Apa yang telah kau lakukan, di dalam kelasmu tadi pagi?"


"Mereka menghina ku Pak."


"Menghina, menghina gimana?" tanya Kepsek heran.

__ADS_1


"Mereka mual dan muntah, ketika berpapasan denganku tadi pagi di dalam kelas. Aku tersinggung, jika tangan ini, kumpulkan ke mereka aku takut terjadi sesuatu pada mereka. Makanya, aku terpaksa memukul dinding untuk menahan rasa emosiku Pak."


"Lihat tangan mu!"


Mendengar perintah kepala sekolah, Ara mengeluarkan tangannya dengan pelan. Lalu kepala sekolah memegang tangan itu.


"Tangan selembut ini yang kau pergunakan untuk meninju dinding?"


"Iya Pak."


"Bapak nggak melihat apa-apa dari tanganmu, kenapa kau sanggup meninju dinding hingga retak?"


"Maaf Pak, hal itu terjadi dengan spontan. Saya sendiri juga nggak menyadarinya. Tapi mereka keterlaluan, jika mereka tidak melakukan hal itu, mungkin aku nggak akan melakukannya juga."


"Sekarang kau lihat sendiri kan, akibat dari perbuatanmu, kau dan teman-temanmu nggak bisa belajar. Mereka hanya berdiri di luar, karena mereka takut dinding kelasmu akan roboh dan menimpa mereka semua.


"Aku janji, akan mengganti rugi semuanya Pak."


"Apa orang tuamu mampu menggantinya?"


"Tentu Pak, besok pagi seluruh bahan bangunan sudah datang, begitu juga dengan para pekerjanya."


"Baik Bapak pegang omonganmu. Tapi ingat, jika kau tidak memperbaiki ruangan yang rusak itu, maka kalian semua nggak akan bisa belajar dengan tenang."


"Iya Pak, saya mengerti."


"Baik Pak, terima kasih."


Setelah mendapat izin dari kepala sekolah, Ara langsung kembali ke kelasnya untuk mengambil tas. Saat gadis itu melintasi di antara teman-teman yang banyak, semuanya tampak diam tak ada yang berkutik.


Lalu Ara, mengambil tasnya di dalam kelas dan membawanya keluar menuju perpustakaan.


"Kau ke mana Ara?" tanya Dea ingin tahu.


"Ke perpustakaan."


"Ngapain di sana?" tanya Dea ingin tahu.


"Kepsek menyuruh kita belajar di perpustakaan, kalau kalian ingin pergi ke sana belajar ikutlah bersamaku. Tapi jika tidak, tinggalan di sini menunggu ruangan ini kembali membaik," jawab Ara ketus.


Mendengar ucapan Ara, semua siswa hanya bisa saling pandang, mereka tak mengerti apa yang dimaksudkan Ara kepadanya. Namun Dea, telah mengambil keputusan. Dea mengajak teman-temannya, untuk mengikuti Ara belajar di perpustakaan.


Di dalam ruang perpustakaan yang sempit dan penuh dengan buku, Ara duduk senderan di dinding perpustakaan tersebut. Dia yang melihat kesedihan di wajah Ara, langsung menghampiri gadis manis itu.


"Kok sedih, kenapa? apa kamu ditegur Pak kepala?"


"Nggak."


"Lalu apa yang membuatmu sedih?" tanya Dea penasaran.

__ADS_1


"Ulah mereka semua, aku terpaksa harus membangun sebuah ruangan baru untuk kelas kita."


"Siapa yang memerintahkan, apakah kepala sekolah?"


"Nggak Dea, semua itu atas keinginanku sendiri."


"Kenapa kau lakukan itu, kau kira membuat sebuah ruangan nggak memerlukan dana yang besar. Apa Mamamu, sanggup membangun ruangan kelas kita?"


"Tentu Dea, bukankah Ayahku seorang raja."


"Itu benar. Ayahmu memang seorang raja. Tapi dia nggak di sini kan, dia jauh di sana, di kayangan. Lagian hubungan kalian, sedang tidak baik-baik saja bukan."


"Aku akan membujuk Mama, untuk meminta Ayah membuatkan aku sebuah bangunan."


Di saat mereka sedang berbicara, lalu guru biologi pun masuk ke dalam. Dia melihat Ara dan Dea, duduk dalam satu tempat.


"Anak-anak, hari ini kita lanjutkan pelajaran kita, yang membahas tentang dampak perubahan iklim. Coba kalian buka halaman 23 bab 3."


Mendengar perintah guru biologi tersebut, seluruh siswa langsung membuka buku paket milik mereka masing-masing. Setelah ditemukan halaman yang dimaksud, mereka pun duduk tenang mendengarkan guru menerangkan di depan kelas.


Saat bersamaan, telinga Ara dan Dea berdengung. Mereka pun bergetar dan menghilang seketika.


Melihat Ara dan Dea menghilang, seluruh murid menjadi terkejut mereka berlari menjauhi tempat duduk Ara dan Dea. Sementara itu, guru biologi yang sedang menerangkan di depan kelas, juga merasa heran.


"Ke mana Ara dan Dea?" tanya guru tersebut.


"Kami nggak melihatnya Bu, tiba-tiba saja mereka berdua menghilang!"


"Menghilang ke mana? bukankah tadi dia masih belajar bersama kita."


"Iya Bu, tapi tiba-tiba saja dia menghilang entah ke mana."


Kejadian menghilangnya Ara dan Dea, langsung dilaporkan guru biologi ke kantor kepala sekolah.


"Menghilang gimana Bu, coba jelaskan dengan benar, saya jadi nggak mengerti," ujar kepala sekolah sekali lagi.


"Saat Kami belajar di pustaka, tiba-tiba saja mereka berdua menghilang begitu saja. Seluruh murid juga heran Pak."


"Apakah tas dan peralatan sekolahnya, juga ikut menghilang?"


"Tas dan peralatan sekolahnya, masih ada , di dalam pustaka, Pak."


"Apakah Ibu sudah melihat di sekeliling sekolah?"


"Sudah Pak. Namun mereka berdua tidak ditemukan."


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2