AraDea

AraDea
Part 21 Sulit bicara


__ADS_3

Di perlakukan kasar oleh suaminya, Tuti hanya diam saja, mesti di Tarik sekuat apapun, Tuti tetap menurut.


“Kamu ini ya, selalu bikin malu, sekarang tanggung sendiri akibatnya!” bentak Edi kesal.


“Ak…ak…ak!”


“Diam kamu, masih juga membela diri, udah jelas salah begitu!”


Mendengar suara ribut-ribut di dalam kamar orang tuanya, Nunik langsung berlari keluar dan menghampiri kamar orang tuanya itu.


“Ada apa Pa?” tanya Nunik heran.


“Entah! tanya Mamamu!” ujar Edi dengan suara lantang.


Dengan pelan Nunik pun menghampiri Mamanya yang sedang menagis di sudut ranjang kamarnya, melihat Mamanya menangis, Nunik juga ikut bersedih, tapi dia belum tahu kalau Mamanya tak bisa bicara.


Seraya memegang lembut tangan Mamanya, Nunik juga menghapus air mata mamanya yang mengalir dengan deras.


“Ada apa Ma?” tanya Nunik pelan.


“Ak..ak…ak!”


“Mama kenapa? Mama nggak bisa bicara ya?”


Lalu Tuti menganggukkan kepalanya, Edi yang melihat hal itu hanya tertunduk sedih begitu juga dengan Nunik.


“Lalu apa yang mesti kita lakukan Pa?” tanya Nunik bingung.


“Entahlah sayang, Mama mu sedang menerima ganjaran dari apa yang telah dia lakukan.”


“Maksud Papa, Allah lagi menghukum Mama, gitu!”


“Sepertinya begitu sayang.”


“Lakukan sesuatu dong Pa, jangan diam saja,” pinta Nunik pada Papanya.


“Biarkan aja sayang, biar Mama mu dapat memetik hikmah dari perbuatannya.”


“Aku nggak mau Pa, aku nggak mau!” rengek Nunik yang membuat Papanya kesal.


“Lalu Papa mesti gimana?”


“Lakukan sesuatu dong Pa, jangan diam aja!”


"Papa bingung sayang."


"Aku nggak perduli, yang penting Papa harus berusaha," jawab Nunik seraya menangis.


“Gimana kalau kita ke rumah Pandan dan minta maaf pada mereka yang selama ini telah di fitnah oleh Mamamu.”


“Iya, Pa. Aku setuju,” jawab Nunik pelan.


Mendengar kesepakatan, suami dan putrinya, Tuti langsung berdiri dan menarik tangan Nunik untuk melarangnya menemui Pandan dengan cara menggelengkan kepalanya.


“Kenapa Ma, siapa tahu dengan cara mendatangi kak Pandan dan meminta maaf, suara Mama bisa kembali normal.


“Ak…ak…ak,” ujar Tuti seraya menggelengkan kepalanya.


Mesti Mamanya melarang, namun Nunik tetap menarik tangan Papanya untuk mendatangi Pandan dan mengabaikan anjuran Mamanya itu.


Karena Nunik dan suaminya tetap nekat untuk pergi, Tuti merasa marah dia pun menangis histeris dan membanting semua benda yang berada di dekatnya.


Edi yang melihat istrinya menangis, karena dia hendak kerumah Pandan, tetap berangkat tanpa memperdulikannya.

__ADS_1


Setibanya di rumah Pandan, Edi merasa enggan untuk masuk kedalam, karena selama ini dia telah begitu jahat pada keluarga itu.


“Kenapa berhenti Pa?” tanya Nunik heran.


“Papa malu pada mereka semua sayang.”


“Kalau Papa nggak bisa ngomong, biar aku yang bicara pada mereka nantinya.”


“Kau mau bicara apa nantinya nak?”


“Aku akan minta maaf pada mereka atas kesalahan Mama selama ini. kalau Papa nggak mau, aku akan tetap mendatangi kak Pandan.”


“Emangnya kamu kenal dengan kak Pandan?”


“Nggak.”


“Kamu kenal dengan wajah kak Pandan?”


“Nggak!”


“lalu gimana cara kamu minta maaf pada kak Pandan?”


“Kenapa harus bingung, mana perempuan yang cantik dan wangi itu pasti kak Pandan,” jawab Nunik pada Papanya.


“Cobalah kesana, kalau kamu benar-benar berniat ingin membantu Mama mu.”


Setelah Nunik tiba di depan rumah Pandan yang megah dan indah itu, Nunik langsung mengetuk pintu rumah itu dengan pelan.


“Tok, tok, tok!”


Mendengar suara pintu di ketuk dari luar, Pandan langsung bergegas untuk membukanya. Satu meter sebelum Pandan mencapai pintu, Nunik telah mencium aroma wangi dari perempuan yang di benci oleh Mamanya itu.


“Kak Pandan kan?” tanya Nunik menebaknya.


“Waah, ternyata kak Pandan cantik sekali!”


“Kamu siapa?” tanya Pandan sekali lagi.


“Maaf, aku Nunik, yang tinggal di rumah sebelah.”


“Ooo,” jawab Pandan singkat.


“Begini kak, saat ini Mama saya sedang sakit.”


“Mama mu sedang sakit, lalu apa urusannya dengan kakak?”


“Mama tiba-tiba saja nggak bisa bicara, setelah di menceritakan kakak di pondok ronda.”


“Menceritakan gimana ya, kakak nggak mengerti?”


“Maaf kan Mama ku, kak.”


"Emangnya Mama mu salah apa?”


“Dia menceritakan keburukan kakak pada semua orang.”


“Jadi apa urusannya dengan kakak?”


Mendengar pertanyaan dari Pandan, Nunik diam saja, tak berapa lama kemudian Nunik langsung bersimpuh di hadapan Pandan. Dia memohon agar Pandan mau memaafkan Mamanya dan Mamanya bisa kembali bicara.


“Kamu sepertinya telah salah memohon pada kakak, kalau Mama mu punya kesalahan, minta ampunlah kepada Allah,” jawab Pandan yang langsung menutup pintu rumahnya.


“Kak, kak Pandan! Maafkan Mama ku kak!” ujar Nunik seraya menggedor-gedor pintu rumah Pandan wangi.

__ADS_1


Yeni yang mendengar suara pintu luar di gedor, dia pun datang menghampiri Pandan putrinya. Setelah dekat, lalu Yeni menanyakan pada Pandan perihal orang yang berada di luar.


“Katanya dia itu anak Bu Tuti, Bu.”


“Anak Tuti?”


“Iya, katanya begitu.”


“Ngapain dia ke sini?”


“Dia minta aku memaafkan kesalahan Mamanya yang saat ini nggak bisa bicara.”


“Maksudnya Tuti nggak bisa bicara?”


“Katanya begitu Bu.”


“Kalau nggak salah, kemaren dia masih bisa bicara dengan Ibu, tapi sekarang kok udah nggak bisa bicara?”


“Katanya, baru saja Mamanya nggak bisa bicara, setelah dia menceritakan keburukan ku, pada Ibu-Ibu di pondok ronda.”


“Keburukan mu, keburukan apa maksud mu nak?”


“Aku nggak tahu Bu, lagian aku nggak mau menanyakan pada gadis itu apa yang di bicarakan Mamanya di pondok ronda.”


“Dasar kurang ajar itu, si Tuti!”


“Udahlah Bu, nggak usah dia ambil pusing.”


“Ibu nggak terima, dia menjelek-jelekan mu nak.”


“Lagian dia udah menerima ganjarannya kok, kita nggak perlu dendam pada orang seperti itu.”


“Orang seperti itu harus di kasih pelajaran sayang, kalau nggak, dia semakin melunjak dan merusak nama kita di kampung ini,” jawab Yeni sembari bergegas untuk keluar rumah.


Ketika Yeni bergegas menuju pintu, Pandan Wangi langsung memegang tangan Ibunya dan melarang Yeni untuk menghampiri Tuti yang sudah sakit.


“Nggak usah Bu, biarkan aja!”


“Nggak sayang!”


“Kenapa Ibu tetap bersikeras, cobalah sedikit tenang Bu,” bujuk Pandan pada Ibunya.


Di saat hati Yeni sedikit melemah, tiba-tiba saja dari luar, terdengar suara Tuti dengan sangat lantang sekali.


“Pulang kau Nunik, Mama udah sembuh kok! nggak perlu mengemis-ngemis pada keluarga sombong itu!”


“Hah tu kan, dia itu hanya berpura-pura sakit aja, agar kita kasihan padanya dan memaafkan semua keburukannya itu.”


“Udahlah Bu.”


Pandan berusaha terus menenangkan Ibunya yang terlanjur kesal pada tetangganya itu, hatinya sakit, karena Tuti selalu saja mencurigai keluarganya.


Sementara itu, Nunik yang melihat Mamanya sudah kembali bersuara, dia pun kembali berlari pulang kerumah.


“Mama udah sembuh?” tanya Nunik sedikit senang.


“Ik..ik..ik.”


“Tadi aku dengar Mama udah bisa bicara, kenapa sekarang kembali bisu.”


“Oh,” keluh Tuti pelan.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2