AraDea

AraDea
Part 12 Air suci


__ADS_3

“Iya Pak Ustad.”


“Ada kabar apa, sore-sore begini datang?”


“Aku mau Pak ustad memberiku air do’a untuk mengobati rumah ku.”


“Air do’a. Emangnya rumah mu kenapa Bondan?”


“Banyak yang aneh terjadi akhir-akhir ini Pak Ustad,” jawab Bondan dengan nada lirih.


“Oh, baiklah. Masuklah dulu, kita akan bicara di dalam saja.”


“Baik, Pak Ustad,” jawab Bondan sembari mengiringi langkah Ustad Zakir dari belakang.


“Semenjak kapan kau merasakan hal itu nak Bondan?” tanya Ustad Zakir pada Bondan.


“Semenjak istri saya hamil Pak Ustad.”


Lalu Ustad Zakir mengambil segelas air putih dan membacakan do’a kedalam air itu. Setelah selesai membacakan do’a, Ustad Zakir memberikan air itu pada Bondan.


“Minumlah sekitar tiga teguk, sisanya kau percikkan di kamarmu dan di sekitar rumah mu, Insya Allah, iblis mana pun tak akan berani masuk kedalam rumah mu.”


“Baik, Pak Ustad,” terimakasih banyak.


“Sama-sama,” jawab Ustad Zakir dengan suara lembut.


“Saya mesti bayar berapa Pak Ustad?”


“Nggak usah di bayar, saya ikhlas kok, pulanglah sekarang.”


“Baik Pak Ustad, terima kasih banyak.”


Setelah mendapatkan air itu, Bondan langsung mohon diri, dia begitu senang saat itu, seraya tersenyum, Bondan pun keluar dari rumah Ustad Zakir.


Di saat Bondan hendak menuju pulang, ternyata mata-mata makhluk yang selalu bersama Kemuning melihat air itu berada dekat dengannya di atas mobil.


Lalu dengan pelan makhluk itu mencoba untuk memegang air itu. Saat tangan berbulu itu mulai menyentuh air suci tersebut, dia pun langsung terpental keluar mobil dan menabrak kaca mobil hingga pecah.


Bondan merasa kaget dan dia langsung merem mendadak laju mobilnya. Bondan merasa heran kenapa tiba-tiba saja kaca mobil itu pecah, padahal tak ada retak sama sekali.


“Aneh, kenapa kaca ini bisa pecah ya, pada hal nggak ada retak sebelumnya,” gumam Bondan pelan.

__ADS_1


Agar serpihan kaca itu tak mengenai para pejalan kaki, Bondan pun mengutip satu persatu kaca itu dengan berhati-hati.


Sementara itu, makhluk berbulu tebal yang telah menyentuh air pemberian Ustad Zakir, tangannya tampak terluka parah, sebagian bulu tangannya habis terbakar. Kejadian itu segera dia laporkan ke kayangan.


“Lapor yang mulia Raja, ada berita penting yang ingin saya sampaikan. Tadi di perjalanan Bondan, suami Kemuning, pergi kerumah Ustad Zakir untuk meminta perlindungan rumahnya. Lalu Ustad tersebut memberi Bondan air suci.”


“Untuk apa air suci itu, prajurit ku?”


“Ampun, beribu kali ampun yang mulia. Air itu di gunakan untuk melindungi rumahnya dari makhluk halus seperti kita ini.”


“Lalu apa hubungannya air itu dengan kita, wahai prajurit ku?”


“Jika air itu tersentuk sedikit saja oleh kita, maka kita akan terbakar yang mulia, seperti tangan saya ini.”


Mendengar penjelasan dari mata-matanya, lalu Sang Raja Dasa Muka marah, dia pun memanggil seluruh prajurit yang bertugas hari itu ke istana. Mendengar perintah raja mereka, lalu seluruh prajurit pun berkumpul di alun alun kerajaan.


“Wahai para prajurid ku yang setia, saat ini posisi Raja mu dalam bahaya, cepat kalian ke Bumi untuk menghalagi Bondan yang sedang membawa air suci saat ini, kapan perlu kalian tukar air yang ada di dalam botol itu dengan air putih biasa!”


Mendengar perintah dari raja mereka, seluruh maklhuk megerikan itu langsung turun untuk menghalangi Bondan sampai ketempat tujuannya.


Di perjalanan mereka semua membuat rencana, agar air yang berada di dalam botol itu bisa mereka tukar dengan air putih biasa.


“Gimana bisa kita menukarnya. Sementara untuk menyentuhnya saja kita udah terbakar kepanasan.”


“Itu mobilnya, sudah mendekati rumah!” ujar salah seorang dari mereka.


“Tapi gimana caranya, agar kita bisa menukar air itu dengan air biasa?” tanya salah seorang dari mereka yang merasa kebingungan.


Di saat semuanya berfikir, lalu salah seorang di antara mereka menemukan cara yang paling jitu. Dan hal itupun di laporkannya pada teman-temannya yang lain. Setelah mereka semua sepakat, lalu merekapun mulai beraksi.


Dua orang di antara mereka merubah wujudnya menjadi wanita yang sangat cantik, kedua wanita itu menyeberang jalan dengan tiba-tiba, sehingga Bondan merasa kaget dan mobil pun di rem dengan cara dadakan.


“Astagfirullah,” jawab Bondan kaget.


Saat mobil Bondan berhenti itulah, salah seorang dari makhluk itu mengorbankan dirinya demi raja mereka. Maklhuk itu masuk kedalam mobil dan membawa botol yang berisi air suci itu keluar.


Mesti tubuhnya terbakar dan seluruh bulu lebatnya habis, makhluk itu tetap membawa air di botol itu keluar dan melemparnya kesungai. Di dasar sungai telah menanti beberapa orang yang siap membuka botol itu dan mengganti airnya dengan air sungai.


Kerja sama yang sangat membutuhkan pengorbanan itu mereka lakukan dengan iklas demi raja mereka. Semua di lakukan dengan cepat sekali. Sehingga Bondan tak menyadarinya, kalau air itu telah mereka ganti dengan air sungai.


“Maaf Bang, nggak sengaja,” jawab kedua wanita itu seraya melanjutkan perjalananya menyeberangi jalan.

__ADS_1


“Ya Allah, untung saja,” gumam Bondan pelan.


Setelah itu, Bondan pun kembali melanjutkan perjalanannya. Namun hatinya begitu resah saat itu, entah apa sebabnya, dia sendiri tak mengetahuinya sama sekali.


Setiba di depan rumah, Bondan langsung memarkirkan kendaraannya, dan membawa air yang berada di dalam botol itu masuk kedalam. Kemuning melihat Bondan menenteng asoi yang berisi air putih, dia pun langsung bertanya pada suaminya.


“Air apa itu Kang Mas?”


“Air yang udah di tawar oleh Pak Ustad Zakir tadi.”


“Untuk apa?”


“Untuk melindungi rumah kita dari gangguan makhluk halus yang tak kasat mata.”


“Apa perlu hal itu di lakukan?”


“Tentu sayang, karena akhir-akhir ini, rumah kita selalu kedatangan orang yang aneh-aneh.”


“Ah itu hanya perasaan mu kang mas,” bantah Kemuning.


“Perasaan gimana?”


“Aku nggak merasakan hal yang aneh kok.”


“Kamu mana mungkin merasakannya, karena yang aneh itu, ya kamu sendiri.”


“Maksud kang Mas apa ya, aku nggak ngerti.”


“Ah udahlah, Kang Mas malas berdebat dengan mu.”


“Berdebat gimana? apanya yang berdebat, selama ini kita baik-baik saja kan Mas.”


“Itu menurut mu, tapi bukan menurut kang Mas.”


Mendengar jawaban dari suaminya, Kemuning merasa sedikit kuatir, takut kalau-kalau Bondan mengetahui perselingkuhannya dengan makhluk itu.


“Kenapa diam! ayo ngomong!” teriak Bondan.


Kemuning tak menjawab dia hanya berlari ke kamar bersama putri kecilnya Ara. Di dalam kamar Kemuning berpura-pura menangis, agar Bondan tak melanjutkan amarahnya.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2