AraDea

AraDea
Part 86 Rahasia yang dibongkar


__ADS_3

"Diusir oleh siapa Pak? aku nggak pernah ngusir Bapak lho."


"Jika kalian berdua merasa nggak pernah mengusir Bapak dan Ibu. Lalu siapa yang telah mengusir kami berdua Le?"


"Aneh sekali, sungguh aneh," gumam Bondan pelan.


Saat itu, Bondan baru menyadari, kalau di rumahnya ada makhluk tertentu. Yang bisa menyerupai dirinya setiap saat.


Ketika itu Bondan juga teringat, dengan dua orang Kemuning, yang membuatkan dua gelas kopi panas, permintaan nya saat itu.


Di saat Bondan sedang berpikir, lalu tiba-tiba saja rumah Bapaknya dilempar dengan sebuah batu. Hingga kaca depan rumah itu, pecah berantakan.


Sontak saja hal itu, membuat Bondan dan Bapaknya terkejut. Begitu juga dengan Suminah ibunya, yang saat itu sedang melaksanakan shalat.


"Ya Allah, siapa yang telah melempar rumah Bapak Le?" tanya Tito heran.


"Entahlah Pak, aku sendiri nggak tahu," jawab Bondan, seraya berlari keluar rumah.


Saat Bondan keluar rumah, untuk melihat siapa yang berada di dekat rumahnya dan yang telah melempar rumah Bapaknya. Namun Bondan tak Melihat siapa-siapa di sana. Tak ada orang di dekat rumah itu, Bondan juga hilir mudik di depan rumah Bapaknya, namun dia juga tidak melihat siapa-siapa.


"Kamu lihat siapa Le?" tanya Suminah pada putranya itu.


"Aku nggak lihat siapa-siapa, Bu?"


"Lalu siapa yang telah melempar rumah Ibu, Le?"


"Entahlah Bu, sepertinya ada yang aneh."


"Aneh apanya Le?" tanya Tito seraya menghampiri Bondan.


"Aneh apanya, emangnya kau melihat apa Le?" tanya Suminah penasaran.


"Jika saja rumah kita dilempar, pasti orangnya berdiri di sini, tepat di sini dan dia melempar tepat di depan kita. Tapi siapa yang melempar ya, kok bisa lemparannya tepat mengenai kaca yang ada di antara kita?"


"Pasti orangnya pintar, melempar ya Le?"


"Sepertinya begitu Bu," jawab Bondan seraya kembali masuk ke dalam rumahnya.


"Sepertinya, ada yang marah pada kita Le."


"Ya, mungkin saja begitu Pak," jawab Bondan yang saat itu masih kebingungan.


Setelah mereka bertiga masuk ke dalam rumah. Bondan teringat kembali dengan masalah adiknya Dina.


"O iya Pak, aku teringat kembali dengan pertanyaanku tadi. Emangnya Dina menikah dengan siapa Pak?"

__ADS_1


"Dengan Rusli, anaknya Pak Kades."


"Ooo, dengan Rusli. Syukurlah, dia dapat pria yang baik dan berpengalaman."


"Bapak sama ibumu yang menjodohkannya, dengan anak Pak Kades Le, sebenarnya Dina enggan menerima pernikahan tersebut, karena menurut Dina Rusli sudah berumur dan jauh lebih tua darinya."


"Tapi syukurlah. Sampai saat ini, Dina masih menerima pernikahan tersebut."


"Apakah Dina sudah memiliki anak Bu?" tanya Bondan pada ibunya.


"Udah Le, anaknya perempuan cantik seperti Dina."


"Ngomong-ngomong, kenapa anak dan istrimu nggak kau bawa ke sini?"


"Nggak Pak, aku sedang nggak baik hati, datang ke sini."


"Nggak baik hati kenapa?"


"Tadi telah terjadi sesuatu di rumah kami. Aku bertanya kepada Ara, apa yang terjadi sebenarnya. Namun mereka tak mau menceritakan Pak."


"Apa yang terjadi di rumahmu Le?"


"Tadi sore rumahku bergetar sangat kuat sekali, seperti terjadi gempa. Seluruh perabotan rumah terjatuh dan berserakan di lantai. Ara dan Kemuning bilang, ada suara makhluk yang sangat kuat, sehingga menggetarkan rumah kami."


"Suara makhluk apa?"


"Jika suaranya besar dan menggelegar, berarti itu makhluk genderuwo itu Le."


"Benarkah, Bu?"


"Iya Le, makhluk genderuwo, dia berwujud besar berbulu tebal dan berwajah mengerikan. Diapa saja yang melihatnya, pasti merasa ketakutan."


"Kurasa makhluk itulah, yang pernah dilihat Tono waktu di atas mobilku."


"Emangnya Tono pernah melihatnya?"


"Iya Pak, Tono bilang aku melakukan pesugihan, sehingga aku diikuti ke mana saja oleh makhluk itu."


"Berarti makhluk itulah yang telah dipuja oleh istri dan putrimu."


Mendengar penjelasan dari Ibunya, Bondan hanya diam saja. Dia sangat yakin, kalau selama ini makhluk itulah yang selalu berubah wujud di rumahnya.


"Apakah genderuwo bisa merubah wujud Pak?"


"Tentu Le, dia bisa saja berubah wujud menjadi siapa yang diinginkannya."

__ADS_1


"Berarti orang yang Bapak lihat, selama ini mirip denganku dan mengusir kalian dari rumah, dia pasti makhluk itu. Berarti rumahku selama ini telah mereka kuasai, tanpa sepengetahuan aku."


"Atau jangan-jangan, istrimu telah tidur dengan makhluk itu Le."


"Benarkah?"


"Iya, sebab Ibu begitu yakin, putrimu itu tidak ada mirip-miripnya denganmu. Begitu juga dengan Kemuning, dia nggak mirip sama sekali Le."


"Benarkah begitu, Bu."


"Cobalah kau perhatikan, tindak tanduknya di rumah. Perilakunya, makanannya, apa menurutmu sama dengan manusia biasa?"


Mendengar ucapan Ibunya, Bondan baru sadar, kalau selama ini putrinya tak pernah makan nasi sama sekali. Dia lebih senang makan kembang, karena kembanglah yang membuat perutnya kenyang. Begitu juga dengan istrinya, semenjak dia hamil, istrinya selalu makan kembang. Jika tidak mendapatkan kembang, Kemuning merasa sedih dan menangis.


"Ibu benar, putri ku nggak pernah makan nasi, dia lebih memilih makan kembang ketimbang makan nasi."


"Kalau begitu, Ibu yakin, istrimu telah tidur bersama genderuwo tersebut. Dia akan datang pada istrimu, dengan menyerupai wajah siapa saja yang dia inginkan."


Disaat mereka saling bercerita dan berbagi pendapat, tiba-tiba saja rumahnya, dilempar lagi dengan sebuah batu yang lebih besar dari yang pertama. Lemparan batu itu, tepat mengenai pintu rumahnya, yang terbuat dari kaca.


Kaca itu pun hancur berantakan, seluruh pecahannya berserakan dan bahkan mengenai kepala Tito sendiri.


"Aaaaw...! sakitnya!" jerit Tito, seraya mencabut kaca yang menancap di kepalanya.


"Bapak terkena serpihan kacanya?" tanya Bondan ingin tahu.


"Iya nak, lihat lukanya seperti sangat lebar sekali."


"Melihat kepala Bapaknya berdarah, Bondan segera menyuruh Ibunya untuk mengambil kain pembalut, agar darahnya segera berhenti mengalir.


"Wah lukanya semakin mengalirkan darah Le, gimana ini?" tanya Suminah saat melihat darah di kepala suaminya tak berhenti mengalir.


"Tenanglah Bu, biar lukanya aku balut dulu, nanti kalau darahnya nggak berhenti, Bapak kita bawa ke Puskesmas. Barangkali lukanya perlu dijahit."


"Iya Le, hanya ibu cemas, kalau darahnya nggak berhenti mengalir, Ibu takut Bapakmu akan kehabisan darah.


Benar saja apa yang ditakutkan oleh Suminah, darah suaminya tak pernah berhenti mengalir, mesti Bondan dan Ibunya telah berusaha membalutnya dengan kain.


Malam itu juga, mereka melarikan Tito ke rumah sakit. Namun tubuhnya terlihat begitu lemah, karena banyak darah yang mengalir.


Di ruang tunggu Puskesmas, tampak Suminah menangis tiada henti. Rasa sedihnya akan takut kehilangan suami, membuatnya sulit untuk memejamkan mata di malam itu.


"Tidurlah Bu, biar aku yang menjaga Bapak. Ibu tenang saja, nggak akan terjadi apa-apa dengan Bapak, Bu."


"Tapi Ibu takut Le, takut terjadi sesuatu dengan Bapakmu."

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2