AraDea

AraDea
Part 73 Kekalahan Ara


__ADS_3

"Baik Paduka, saya akan berhati-hati menghadapi Ara."


Setelah Dea berpamitan dengan raja Askara, dia bersama pasukan langsung bergerak menuju kota winsan. Yang terletak di sebelah utara, kerajaan Parahyangan. Kota winsan sangat ramai penduduknya, mereka semua adalah penghasil bunga terbanyak di Nirwana.


Kerajaan Parahyangan, menjadi pelanggan pertama, untuk tanaman bunga yang mereka hasilkan. Seluruh masyarakatnya ,giat dan bersemangat dalam bekerja.


Sepertinya kerajaan Angkara, telah mencium adanya kejayaan, di kota Winsan.


Setelah menempuh beberapa hari perjalanan, tibalah Dea bersama pasukannya, di pinggir kota Winsan. Saat itu, kota terlihat kosong, seluruh penduduk dan masyarakat yang ada di situ, mengungsi ke tempat yang lain.


Pertarungan Dea kali ini memang terasa sulit dan berat. Karena Ara yang dinyatakan mendapat hukuman selama ini, dia jauh lebih kuat dari yang sebelumnya.


"Hati-hati yang mulia, sepertinya Putri Dasamuka tersebut, tampak begitu kuat sekali."


"Iya prajurit ku, sepertinya Putri Dasamuka itu lebih kuat."


"Untuk itu, berhati-hatilah yang mulia!"


"Baik prajuritku!"


Lalu Dea pun berlari ke tengah pertempuran. Dea menghantam dan membunuh, siapa saja yang mencoba menghalanginya. Kecepatan pedang yang dimainkannya membuat pasukan Ara kocar-kacir ketakutan.


Bukan hanya itu saja, Pedang naga yang selalu tersadar di punggung Dea, diputar secara bergantian di angkasa. Sehingga angin badai yang sangat kencang, menyapu begitu banyak prajurit dari kerajaan Angkara.


"Ribuan pasukan Ara, terlempar di bawah dahsyatnya angin kencang. Akibat putaran pedang naga milik Dea.


Suara dentingan pedang membuat suasana menjadi bising. Bukan hanya itu, darah pun berceceran di mana-mana. Mayat bergelimpangan, sehingga mereka berlari di atas tumpukan tumpukan makhluk-makhluk yang mengerikan itu.


"Dea...!" teriak Ara seraya berlari menghampiri Dea.


Dea melihat Ara berlari menghampirinya, Dea pun sudah siap dengan pedang andalannya. Kecepatan dan kekuatan yang dimiliki Dea membuat para musuh menjadi ciut.


Dengan semangat, Ara langsung menyerbu Dea dan pasukannya. dengan cara membabi buta. Kekuatan yang dimiliki Ara saat itu, membuat Dea kewalahan dan terdesak, hingga ke perbatasan kota Winsan.


"Kita terdesak yang mulia, apa yang mesti kita lakukan?" tanya seorang prajurit pada Dea.

__ADS_1


"Jangan kuatir, teruslah bertahan. Karena sebentar lagi, pasukan dari arah selatan akan menuju ke sini!"


"Baik yang mulia," jawab prajurit sembari terus melawan pasukan dari Angkara.


Benar saja, apa yang dikatakan oleh Dea. Tak berapa lama kemudian, pasukannya dari arah selatan datang menyerbu, dari arah yang berlawanan. Lalu pasukan terbang juga datang menyerbu dari setiap pepohonan yang berada di dekat itu.


Ketika pasukan Ara sudah mulai letih, pasukan Dea dari arah timur dan barat langsung menyerbu secara bersamaan. Begitu juga dengan pasukan cadangan, yang berada di sisi kanan, kiri mereka, juga ikut datang menyergap secara tiba-tiba.


Ide perang yang dicanangkan oleh Dea, tak diketahui oleh pasukannya. Di saat mereka sedang putus asa, maka bantuan datang dari setiap arah.


Ara yang memiliki kekuatan yang sangat luar biasa, ternyata tak bisa bertahan lama. Karena Ara tak bisa mengatur tenaga yang dia keluarkan. Sehingga, tubuhnya cepat mengalami kelelahan.


Lagi- lagi, kemenangan berpihak kepada kerajaan Parahyangan. Seluruh pasukan yang dibawa oleh Ara mengalami kekalahan. sehingga pasukan itu mundur secara pelan.


Ketika melihat pasukan Ara kocar-kacir dan berlari, prajurit Parahyangan pun bersemangat untuk mengejar mereka. Tapi Dea melarang. Karena menurut Dea, tak baik menyerang musuh yang sudah menyerah.


"Jangan dikejar! biarkan dia tetap hidup. Sebaiknya kita kembali ke istana, karena perang telah usai.


Melakukan perang besar-besaran, membuat pasukan Dea Marasa lelah. Banyak diantaranya yang tak sadarkan diri, setibanya di istana.


Melihat semua prajurit tergeletak pingsan karena kelelahan. Dea langsung turun tangan sendiri untuk merawat mereka. Berbagai macam obat-obatan, diramunya untuk membantu penyembuhan para prajuritnya yang kelelahan dan sakit.


Mesti Ara menjerit dan meronta-ronta minta dilepaskan, namun raja Dasamuka tak mempedulikannya. Sesuai dengan kesalahan yang telah dibuat Ara, raja Dasamuka tetap melakukan penyiksaan kepada Ara.


Sedangkan Kemuning, dia merasa sedih karena putrinya belum juga kembali. Mesti Dea telah menghubungi Danu, dengan berulang kali, namun Danu tak pernah datang ke bumi.


Kemuning tak berdaya, karena dia sendiri tak bisa datang ke Kayangan, kalau Danu tidak membantunya.


Di atas balkon rumah mewah itu, Kemuning melakukan ritual pemujaan. Dia menari seperti seorang sinden yang sedang kerasukan. Dia tak lagi memperdulikan kesehatannya, malam itu Kemuning terus menari dan menangis di hadapan sesajen yang telah berada di depannya.


"Sudahlah sayang, kita doakan saja semoga putrimu, segera kembali kepangkuanmu."


Kenapa begitu lama sekali Mas, aku sudah lelah menunggunya," ujar Kemuning seraya menangis di pelukan suaminya.


Sebenarnya Kemuning tahu, di mana putrinya berada saat itu. Tapi dia, tidak bisa bicara dengan Bondan, karena Kemuning takut. Jika dia mengetahui siapa Ara sebenarnya, untuk itu Kemuning hanya bisa menangis sedih.

__ADS_1


Saat itu Kemuning teringat pesan Dea. baru dia berlari ke kamarnya dan memanggil Dea secara berulang-ulang kali.


Sementara itu, Dea yang mendengarkan panggilan dari Kemuning, Dia merasakan sesuatu lalu dia melakukan semedi. Dalam semedinya, Dea mendengar Kemuning memanggil dan menyebut-nyebut namanya.


"Hm...! ternyata Ibu Ara belum menemukan putrinya, oh bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan, sementara aku tahu sendiri, kalau tubuh Ara telah berubah menjadi genderuwo.


Saat itu juga, arah pun tiba di hadapan Kemuning, seraya tersenyum Dea menyentuh tangan Kemuning.


"Ibu memanggilku?" tanya Dea pelan.


"Kau udah datang nak ,dari mana kau masuk tanya Kemuning heran.


"Aku bukan manusia biasa ibu, aku keturunan Raja Askara. Kalau ibuku baru seorang manusia."


"Benar ibu, aku bisa melakukan apa saja untuk ibu. Katakan, ada keperluan apa sehingga Ibu memanggilku?"


"Baiklah nak, sebenarnya arah belum juga kembali hingga saat ini. Ibu sangat mencemaskan keberadaannya."


"Sejauh ini, apa ibu belum mengetahui dimana keberadaannya?"


"Iya nak, Ibu belum mengetahuinya secara pasti.


"Saat ini, Ara berada di kerajaan Angkara bersama dengan Ayahnya. Semalam kami melakukan peperangan, maaf Ibu, putrimu mengalami kekalahan saat melawan pasukanku."


"Oh jadi, di alam jagat raya kalian bermusuhan?"


"Iya Ibu, bukan di alam jagat raya di bumi ini pun kami selalu bermusuhan."


"Kalau memang kalian bermusuhan, Lalu kenapa kau berniat ingin membantu ibu mencari keberadaan Ara?"


"Aku keturunan raja Askara. Aku melakukan apa saja yang menurutku baik."


"Emangnya, apa yang telah dilakukan Ara kepadamu selama ini?"


"Dia berulang kali ingin menghabisiku dan keluargaku. Namun dia selalu saja gagal gagal dan gagal lagi.

__ADS_1


"Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2