
Merasa herang dengan panggilan seseorang dari luar, Kemuning langsung bergegas menuju pintu dan membukanya.
“Kalian siapa?” tanya Kemuning ingin tau.
“Saya utusan dari kayangan,” jawab perempuan itu.
“Utusan dari kayangan?”
“Iya, Ibu ratu.”
“Kenapa begitu banyak?” tanya Kemuning heran.
Tak ada jawaban, di saat pertanyaan itu di ajukan Kemuning pada kesepuluh orang prajurit itu. Suasana tampak sunyi sekali.
“Lalu, dengan apa saya akan membayar kalian semua?”
Tetap tak ada jawaban, dari kesepuluh prajurid kayangan tersebut. Mereka diam membisu, sepertinya mereka semua memang di larang bicara melebihi dari yang di perintahkan oleh Rajanya.
“Baiklah, silahkan masuk. Tapi ingat, jika suami saya datang, jangan pernah kalian menyentuh bayi saya, biarkan dia tergeletak di dalam ayunan.”
“Baik Bu.”
Setelah mendapat izin dari Kemuning, lalu kesepuluh prajurit itu, mengambil posisi mereka masing-masing. Kemuning bingung, tugas apa yang akan dia berikan pada kesepuluh prajurit kayangan tersebut.
Setengah hari rumahnya di jaga oleh sepuluh prajurit kayangan, Kemuning sibuk berada di dapur untuk membuatkan makanan. Lalu menghidangkannya di atas meja makan.
Tak berapa lama kemudian Bondan pun pulang dari kantor, Bondan heran, kenapa begitu banyak makanan yang berada di atas meja makan.
“Ada apa ini sayang? Kenapa kau begitu banyak sekali memasak hari ini, apakah ada tamu yang akan datang?”
Mendengar pertanyaan dari suaminya, Kemuning tak tau mesti menjawab apa, karena sesuai dengan perintah Kemuning, maka sepuluh prajurid kayangan itu langsung menghilang di saat Bondan datang kerumahnya.
“Aduh, pada kemana mereka ya?” tanya Kemuning pada dirinya sendiri.
Samar-samar, Bondan mendengar apa yang di ucapkan oleh Kemuning saat itu. Bondan heran sepertinya Kemuning sedang menyembunyikan sesuatu pada dirinya.
“Kau lagi mencari siapa sayang?” tanya Bondan heran.
“Aku lagi mencari!” saat kata-kata itu hendak di lanjutkannya, lalu Kemuning teringat pada pesan suminya, bahwa dia tak boleh memberitahukan kehadiran sepuluh orang prajurit itu pada Bondan suaminya.
“Mencari siapa?” tanya Bondan heran.
“Oh, eh. Nggak!” jawab Kemuning gugup.
Karena istrinya gugup, Bondan merasa sedikit curiga. Namun dia tak mau membicarakan hal itu secara langsung pada Kemuning, Bondan takut kalau Kemuning tersinggung dengan ucapannya.
__ADS_1
Dengan tenang, Bondan kembali duduk di meja makan seraya mengambil si kecil dari gendongan Kemuning.
“Sayang, nggak rewel tadi kan?” tanya Bondan sembari mencium bayinya dengan gemes sekali.
Akan tetapi betapa terkejutnya Bondan, ketika putri cantiknya itu mengedipkan sebelah matanya ke Bondan.
“Ya, Allah!” teriak Bondan heran.
“Ada apa Mas?” tanya Kemuning ingin tau.
“Tadi akang melihat putri kita mengedipkan matanya sebelah kanan kearah Akang.”
“Ah, yang benar saja, masa sih, dia mengedipkan matanya.”
“Barang kali Akang salah lihat sayang.”
Mendengar ucapan dari suaminya itu, Kemuning yakin kalau Bondan tak salah lihat, karena dia tau kalau putrinya itu punya bermacam keanehan yang tak di duga sama sekali.
Setelah putri kemuning hidup dengan damai di keluarga yang begitu menyanyaginya, lain pula kisahnya dengan seorang gadis manis yang tinggal di penghujung Desa.
Mesti terbilang keluarganya hidup sederhana, namun Pandan tak pernah mengeluh, Pandan menerima kehidupan yang sederhana itu sebagai takdir yang harus di jalaninya dengan ikhlas.
Pagi itu setelah suara ayam jantan berkokok, Pandan langsung terbangun dan bergegas menuju dapur untuk memasak. Tak berapa lama kemudian Pandan pun mendengar suara bedug subuh, pertanda waktu sholat telah masuk.
Di saat dia hendak mengambil air wuduk, seorang pria datang menghampirinya dengan jalan sempoyongan, wajah pria itu terlihat babak belur seperti habis di hajar seseorang. Pipinya berdarah dan luka lebam di sekujur tubuhnya.
“Ada apa sayang? Kenapa menjerit?”
“Maaf, Bu. Ada seseorang di sana!” teriak Pandan ketakutan.
“Siapa rupanya nak?”
“Nggak tau Bu? tapi dia seperti terluka parah,” jawab Pandan dengan suara pelan.
“Mana nak?”
“Itu Bu, disana!” tunjuk Pandan ke suatu tempat.
“Tunggu sebentar, Ibu akan mengambil senter dulu.”
“Baik Bu,” jawab Pandan seraya berdiri diam di dekat sumur.
Tak berapa lama kemudian, Yeni keluar dari dalam rumahnya, seraya membawa senter di tangannya. Yeni pun menghampiri pria itu dari dekat dengan pelan.
“Kamu siapa nak?” tanya Yeni pada pria itu.
__ADS_1
Pria itu tak menjawab, dia hanya diam saja dan meringis menahan rasa sakit. Yeni merasa kuatir dengan keadaan pria itu. Lalu dia memanggil Pandan untuk minta pendapat darinya.
“Gimana ini nak, Ibu nggak ngerti?”
“Sebaiknya kita tolong aja dia dulu Bu.”
“Baiklah sayang, mari bantu Ibu untuk membawanya ke dalam,” jawab Yeni seraya menghampiri pria itu.
Lalu mereka pun, membawa Pria itu masuk kedalam rumah dan membaringkannya di atas sofa yang telah rusak.
“Maaf nak, rumah Ibu hanya seperti ini,” ujar Yeni seraya membersihkan luka lebam di wajah pria itu, sementara itu Pandan membuatkan teh hangat untuk pria tersebut.
Setelah selesai membuat teh, lalu Pandan menyuguhkan teh itu kemulut pria yang di rawatnya dengan menggunakan sendok.
Awal mulanya pria itu menolak, akan tetapi, Pandan tetap menyuguhkannya dengan pelan.
“Minumlah, biar perut Abang terasa sedikit hangat,” ujar Pandan dengan suara lembut.
Lalu pria itu, membuka mulutnya, di saat itulah Pandan melihat ada cahaya yang berkilau di dalam tenggorokan pria itu.
“Ya Allah!” teriak Pandan terkejut.
“Ada apa sayang?” tanya Yeni ingin tau.
Di saat Yeni bertanya, Pria itu menatap Pandan dengan sorot mata yang sedikit aneh, seakan-akan dia begitu berharap agar Pandan tak bicara apa pun pada Ibunya.
“Nggak ada apa-apa Bu.”
“Ya udah, lanjutkan pekerjaan mu, Ibu mau sholat dulu,” ujar Yeni pada Pandan.
“Baik, Bu,” jawab Pandan dengan suara lembut.
Di saat Yeni pergi, pria itu memegang pergelangan tangan Pandan yang sangat halus dan lembut.
“Pandan mencoba menarik tangannya dari genggaman pria itu.”
“Ssst!” ujar pria itu pada Pandan.
Karena pria itu menyuruh diam, Pandan wangi langsung diam, tak sepatah katapun terucap saat itu. Lalu secara pelan Pandan mundur kebelakang dan pergi ke sumur untuk mengambil air wudhu.
Di dalam kamarnya Pandan melakukan ibadah dengan khusuk sekali, sehingga dia tak menyadari kalau ada pria itu di depannya. Di saat Pandan mengucapkan salam, pria itu langsung berkata pada Pandan.
“Aku mencium aroma kesalehan mu di Nirwana,” ujar pria itu dengan suara lembut.
“Siapa Abang sebenarnya?” tanya Pandan setengah berbisik.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*