
"Sebenarnya apa maksud dan tujuan dari raja kerajaan Buana ini? apa mereka ingin mencari begitu banyak rakyat atau bagaimana?" tanya raja Dasamuka kepada petinggi kerajaannya.
"Ampunkan hamba yang mulia. Menurut pendapat hamba, kerajaan Buana yang baru saja berdiri, sebenarnya mereka membutuhkan begitu banyak prajurit. Itu sebabnya, kerajaan tersebut memakai cara-cara seperti itu."
"Iya, saya tahu. Tapi tujuannya seperti itu untuk apa?" tanya raja Dasamuka pada menterinya.
"Yang mulia. Secara tak langsung, orang yang telah melakukan penyembahan terhadap raja Buana, lama-kelamaan mereka akan dinyatakan, sebagai rakyat dari kerajaan itu."
"Begitukah?"
"Iya yang Mulia."
"Bukankah para penduduk itu, kembali lagi ke tempatnya semula?"
"Hamba yakin yang mulia, itu hanyalah permainan politik raja dari kerajaan Buana tersebut. Sebab, hanya dengan cara begitulah, lama-kelamaan, seluruh penduduk dari kerajaan mana saja, akan berbondong-bondong datang ke wilayah tersebut hanya untuk mendapatkan sebidang kebun bunga."
"Lalu apa yang mesti kita lakukan, wahai para menteri?"
"Kita lakukan penyerangan yang mulia, kita kepung kerajaan Buana, kita kembalikan para penduduk ke tempat asalnya."
"Bukankah menurut telik sandi kita, penduduk yang pergi ke kerajaan Buana hanya untuk menyembah rajanya dan mendapatkan sebidang tanah, lalu mereka kembali lagi ke kerajaan asalnya."
"Itu benar yang Mulia. Tapi hamba yakin, hal itu hanya sementara saja. Suatu saat nanti, kerajaan Buana akan merayu penduduk yang telah menyembahnya, untuk tetap tinggal di kerajaan tersebut. Dengan cara di iming-imingi fasilitas yang lengkap."
"Kurang ajar, ternyata mereka ingin mencari permusuhan."
"Iya yang Mulia."
Tak ingin merasa kehilangan, raja Dasamuka langsung mengutus beberapa orang prajurit untuk menjaga perbatasan wilayah kerajaan Angkara. Karena dengan dilakukan penjagaan ketat, para penduduk pasti merasa ketakutan dan mereka tak ada yang berani pergi secara diam-diam menuju kerajaan Buana.
Ketika raja Dasamuka merasa ketakutan, karena perbuatan raja dari kerajaan Buana tersebut. raja Askara juga mengalami ketakutan. Pasalnya, Putri kesayangannya Dea, belum juga sembuh setelah mengalami luka, dalam yang begitu parah.
Raja Askara tampak hilir mudik di luar kamar Dea, sementara itu Pandan wangi yang melihat suaminya gelisah dia mencoba untuk menenangkan suaminya tersebut.
"Duduklah Bang, kenapa kau mesti gelisah begitu. Bukankah kau seorang raja, kau juga punya ilmu yang cukup tinggi, kenapa bukan kau sendiri yang menolong putrimu. Kenapa mesti tabib atau berharap kepada Ratu kupu-kupu."
"Mendengar ucapan Pandan wangi, Askara tersentak. Dia sadar, kalau pedang naga bisa menyerap luka dalam yang diderita oleh putrinya. Lalu Askara pun kembali ke istana Parahyangan.
__ADS_1
Setibanya dia di kerajaan Parahyangan, dia pun dihadang oleh beberapa orang telik sandi kerajaan, yang mengabarkan berita yang mengejutkan."
"Yang mulia, ada berita penting, yang ingin hamba sampaikan kepada yang mulia!"
"Wahai telik sandiku, bersabarlah dahulu putriku sekarang sedang sekarat. Dia butuh pertolonganku, ceritanya kau tahan dulu, nanti setelah aku kembali, baru kita musyawarahkan bersama," jawab raja askara.
"Tapi, ini mendesak yang mulia."
"Nyawa putriku lebih berharga, dari kerajaan ini, prajurit."
"Baik yang mulia," jawab telik sandi tersebut, seraya pergi meninggalkan alun-alun istana.
"Bagaimana, apakah beritanya sudah kau sampaikan kepada yang mulia raja?" tanya teman dari telik sandi tersebut.
"Putri raja Askara sedang kritis. Dia tidak bisa mengabaikan anaknya. Sementara saat ini, dia telah mengabaikan kekuasaannya."
"Lalu apa yang mesti kita lakukan?"
"Kita terpaksa harus menunggu keputusan dari raja."
"Jika menunggu keputusan dari raja, berarti seluruh prajurit kita sudah pindah ke kerajaan Buana."
"Mari kita menghadap, ke para menteri kerajaan."
Setelah sepakat, mereka pun berlari menuju ruang rapat para menteri dan melaporkan kejadian itu kepada para menteri."
"Apakah kalian telah melaporkan kejadian ini, kepada yang mulia raja?"
"Sudah tuan."
"Kalau begitu, laporkan ke Patih kerajaan. Biar semua urusan ini, mereka yang mengambil alih."
"Baik tuan!"
Setelah mendapat petunjuk dari para menteri, lalu telik sandi tersebut menghadap ke Patih kerajaan. Hal serupa juga di ucapkan oleh Patih kerajaan, bahwa jalan satu-satunya adalah, keputusan raja. Jika keputusan raja telah ditetapkan, maka seluruh prajurit baru bisa bergerak.
"Baiklah, kami akan menunggu keputusan dari raja, apapun nanti yang telah ditetapkannya, kami akan menjalaninya."
__ADS_1
Sesuai dengan perintah Patih kerajaan, para prajurit Parahyangan menunggu dengan sabar, kedatangan yang mulia raja Askara.
Namun, sebagian dari para prajurit Parahyangan, kesempatan itu dimanfaatkan untuk meninggalkan kerajaan Parahyangan dan pindah ke kerajaan Buana.
Biasanya para penduduk dari kerajaan Parahyangan, hanya pindah untuk sementara waktu. Namun saat itu, mereka benar-benar pindah. Seluruh keluarga di bawa, begitu juga dengan barang bawaan mereka, berupa harta benda dan yang lainnya.
Para petinggi kerajaan, tak ada yang mampu mencegah mereka. Karena tak ada perintah dari raja, untuk menghalangi kepergian mereka semua.
Sementara itu, raja Askara yang berada di bumi, menerima kedatangan Ratu kupu-kupu bersama Ara.
Tampa menunggu perintah, Ratu kupu-kupu langsung mengobati Dea. dia menyalurkan hawa murni, ke tubuh gadis cantik tersebut. Namun usaha Ratu kupu-kupu gagal, karena hawa murni yang disalurkan oleh Ratu kupu-kupu tersebut, ditolak oleh Dea.
"Tubuhnya tak mau menerima, hawa murni yang kusalurkan kepadanya."
"Cobalah sekali lagi, siapa tahu tubuh Dea, mampu menerima hawa murni darimu."
"Mesti Ratu kupu-kupu telah melakukannya secara berulang kali, Dea masih saja tak sadarkan diri. Tubuhnya semakin membiru, luka dalam yang dideritanya telah menyumbat seluruh pembuluh darah."
"Aku tak mampu melakukannya yang mulia!" ujar Ratu kupu-kupu secara pelan.
"Kenapa? bukankah kau yang telah melakukan penyerangan terhadap putriku?"
"Benar yang Mulia. Tapi ilmuku tak mampu mengobatinya. Aku sudah berusaha untuk menyalurkan hawa murni ke tubuhnya, namun tubuh gadis ini selalu menolak."
Mendengar ucapan Ratu kupu-kupu, raja Askara langsung mengeluarkan pedang naga miliknya. Pedang itu diletakkan di atas tubuh Dea, yang terbaring tak berdaya.
"Pedang naga, sembuhkan luka dalam yang diderita oleh putriku. Karena selama ini, kau telah menjadi teman baik untuk putriku. Maka lakukanlah sekarang."
Di saat perintah raja selesai diucapkan, pedang naga milik Dea, langsung bercahaya, dari pedang itu keluar asap berwarna hitam. Cahayanya juga membalut tubuh Dea secara keseluruhan.
"Apa yang telah dilakukan oleh pedang itu?" tanya Ratu kupu-kupu kepada Ara.
"Aku yakin, pasti pedang itu sedang menghisap luka dalam yang diderita oleh Dea."
"Semoga saja, ucapanmu itu benar dan aku tak bersusah payah lagi mengobatinya," ujar Ratu kupu-kupu.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*