
"Ternyata kau ingin mati ya," ujar makhluk itu pada Dea.
"Bukan aku yang ingin mati, tapi kau!"
Lalu mereka pun kembali aduh kekuatan. Makhluk yang bertubuh besar itu sepertinya merasa kesulitan menghadapi Dea, meski kecil namun ilmu kanuragannya tak dapat dianggap remeh.
"Kenapa! kau takut menghadapiku!" tentang Dea pada makhluk itu.
"Buat apa takut, dengan anak kecil sepertimu," jawab makhluk itu.
"O ya, ayo kita lanjutkan. Karena aku nggak akan pergi sebelum salah seorang diantara kita lenyap dari muka bumi ini," ujar Dea seraya kembali menyerang makhluk itu.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Dea dapat menaklukkan makhluk itu. Di bawah kaki Dea makhluk Itu, tampak bertekuk lutut.
"Bagaimana? apakah kau masih sanggup melawanku?" tanya Dea ingin tahu.
"Ampunkan aku. Aku mengaku kalah, kau hebat dan sanggup mengalahkan aku. Padahal aku makhluk paling kuat, dari kerajaan Angkara."
"Jadi, kau makhluk dari kerajaan Angkara?"
"Ya, aku utusan raja Dasamuka. Ini wilayah ku dan tak seorangpun yang bisa memasukinya tanpa seizin raja Dasamuka."
"Kenapa kau bisa berkuasa di bumi, bukankah kerajaan Angkara ada di kahyangan?"
"Benar. Tapi kami punya wilayah yang luas di bumi. Kami bisa berbuat apa saja di bumi dan kami bisa menaklukkan semua penduduk desa ini," jawab makhluk itu dengan pongahnya.
"Benarkah. Buktinya saja, kau nggak sanggup mengalahkan aku, padahal aku masih anak kecil. Apa kau sanggup melawan orang lebih dewasa?" tanya Dea pada makhluk itu.
"Kekuatan manusia, tak sama dengan kekuatan makhluk halus. Kekuatan kita jauh lebih hebat dari dia dan lebih kuat serta lebih perkasa."
"Benarkah? lalu kenapa kau nggak sanggup melawan aku, bukankah aku seorang manusia?"
"Aku lihat sesuatu dari fisikmu dan dari kekuatan yang kau milik. Kau bukanlah manusia biasa. Karena manusia tak memiliki kekuatan sepertimu."
"Kau melihat kekuatan dari tubuhku?"
"Ya, kau bukan manusia, tapi kau keturunan dari bangsa jin."
"Kata siapa aku keturunan jin, Ayah dan ibuku seorang manusia. Kami lahir di bumi juga seperti manusia. Lalu kenapa kau mengatakan kalau aku bukan manusia?"
"Aku melihat, apa yang kau makan setiap hari, bukanlah makanan yang sering dimakan oleh manusia. Kau juga memakan kembang seperti Ara.
__ADS_1
"Ara! siapa itu Ara?"
"Dia adalah junjunganku!"
"Junjunganmu, apakah kau memiliki junjungan seorang manusia?"
"Tidak! aku tak memiliki junjungan seorang manusia. Tapi berbeda dengan Ara, dia adalah titisan raja Dasamuka.
Mendengar jawaban dari makhluk itu, hati Dea menjadi sedikit tenang. Mesti dia belum mengenal gadis yang bernama Ara tersebut. Namun telah dipastikan bahwa Ara, adalah titisan raja Dasamuka.
"Boleh aku menemui junjunganmu?" tanya Dea pada makhluk itu.
"Tak semua manusia yang bisa menemui junjunganku, termasuk kau anak kecil!"
"Aha, kau masih menganggap aku anak kecil? bukankah tadi, aku sudah sempat melawanmu dan kau bertekuk lutut di bawah kakiku. Apa kau perlu ku hajar sekali lagi!"
"Tidak! aku mohon ampun kepadamu. Tapi, pergilah sejauh-jauhnya dari tempat ini, karena jika raja Dasamuka mengetahuinya, maka aku akan dibunuh dan disingkirkan dari khayangan."
"Kau takut dihukum oleh rajamu?"
"Tentu saja, karena selama ini aku telah mengemban tugas dengan baik. Hanya karena kehadiran anak kecil sepertimu, aku langsung mendapat hukuman dan disingkirkan dari khayangan. Kau tahu, kerajaan Angkara adalah tempat aku dilahirkan dan dibesarkan. Aku tak punya tempat lain selain dari kerajaan itu."
"Baiklah, kalau hanya karena aku kau akan mendapat hukuman, aku akan pergi meninggalkan tempat ini. Tapi dengan satu catatan. Aku ingin kita berteman dan saling memberi informasi agar kita sama-sama mengetahui kerajaan kita masing-masing."
"Ya, bumi ini adalah tempat lahirku, inilah kerajaanku!" jawab Dea dengan tegas.
"Kenapa aku tidak melihat kerajaanmu, di sekitar sini?"
"Kau nggak bakalan bisa melihat kerajaanku di bumi ini, karena letaknya tersembunyi dari pandangan makhluk sepertimu."
"Apa maksudmu? bukankah tadi aku sudah memberitahukan hal kerajaan Angkara kepadamu. Lalu kenapa kau tak mau memberikan informasi tentang kerajaanmu kepadaku?" tanya makhluk itu sedikit kecewa.
"Sudahlah, bukankah kita berteman. Suatu saat nanti, kau akan tahu sendiri siapa aku dan di mana kerajaanku," jawab Dea dengan tenang.
"Baiklah, kita berteman," jawab makhluk itu, seraya mengulurkan tangannya pada Dea.
Setelah mereka berdua membuat kesepakatan, lalu Dea kembali ke rumahnya, hatinya tenang karena perintah yang diberikan oleh raja Askara telah dilaksanakan dengan baik dan sukses. Malam itu, Dea menghadap raja Askara untuk mengabari informasi yang telah ia dapat di bumi.
"Datanglah putriku. Aku menunggumu di singgasana."
"Baik paduka yang mulia, saya akan ke sana untuk menghadap."
__ADS_1
Setelah perintah didapat oleh Dea, lalu gadis kecil itu menghadap Pandan wangi untuk mohon izin pergi ke Nirwana.
"Pergilah sayang. Kau pasti punya tugas berat yang harus di laksanakan."
"Terima kasih Ma, aku akan pergi."
"Iya sayang."
Saat itu juga, Dea menghilang dari pandangan keduanya. Yeni dan Pandan wangi hanya bisa menarik nafas panjang, melepas kepergian Dea ke Nirwana.
"Kau sedih nak?" tanya Yeni pada putrinya.
"Terkadang, Bu."
"Maksudmu apa?"
"Terkadang aku sedih, melihat putriku yang masih kecil telah menjadi jenderal perang kerajaan Parahyangan. Tapi itu sudah menjadi kewajibannya sebagai Putri seorang raja, mengemban tugas yang sangat berat membawa ribuan pasukan ke medan perang, itu bukan perkara yang mudah Bu."
"Ibu mengerti betul nak, betapa sakitnya hati kita jika orang yang kita sayangi mengemban tugas yang sangat berat. Bahkan menaruhkan nyawa demi itu.
"Iya Bu," jawab Pandan dengan singkat.
"Tapi, bukankah suamimu telah menjamin keselamatan Dea putrinya?"
"Itu benar Bu, tapi lawan Dea sangat tangguh sekali."
"Selalulah berdoa, mohon perlindungan kepada Allah untuk putrimu. Semoga dia dapat menjadi jenderal perang yang bisa menaklukkan semua musuh-musuhnya dan menjadikan jagat raya aman, dari angkara murka."
Mendengar nasehat dari ibunya, hati Pandan wangi sedikit senang. karena kegundahan hatinya telah mendapatkan penerangan yang tak bisa dia lakukan sendiri.
Sementara itu, Dea yang diutus menghadap ke Nirwana, telah berada di hadapan raja Askara.
"Putriku, Dea Chandra Maya, apakah tugas yang kau emban telah kau laksanakan dengan baik?"
"Ampunkan saya paduka raja. Tugas yang mulia raja titahkan kepada saya, telah saya laksanakan dengan baik."
"Apa hasilnya putriku? apakah saat ini kau membawa kabar baik kepada Ayahmu, atau kabar buruk untuk kehancuran kerajaan Parahyangan?"
"Tugas yang diembankan kepada saya, telah dilaksanakan dengan baik. Perempuan yang bernama Kemuning, memang telah melahirkan seorang putri di bumi. Dia bernama Ara Pramudya. Seluruh kawasan yang berada di sekeliling rumah Kemuning telah dijaga ketat oleh pasukan raja Dasamuka dan tak seorangpun yang bisa menembus ke dalamnya."
"Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*