
Setelah naik keatas mobil, Bandan langsung melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang, sementara itu, Ara yang berada di sebelahnya tampak begitu senang menikmati perjalanan mereka sore itu.
“Kita langsung ke toko kembang sayang?” tanya Bondan pada Ara.
“Jangan Pa,” jawab Ara dengan suara lantang.
“Kenapa? Sepertinya Ara begitu senang kali ini.”
“Ara mau keliling-keliling dulu Pa.”
“Keliling kemana sayang?”
“Terserah Papa deh, asalkan jangan ke toko kembang dulu.”
“Nanti Mama bisa marah lho.”
“Nggak Pa, nanti kalau Mama marah, biar Ara yang bicara sama Mama nanti.”
“Emangnya Ara berani?”
“Ya berani dong Pa, masa ngasih tahu itu aja Ara nggak berani.”
“Nanti kalau Mama marah gimana?”
“Pokoknya Papa aman deh, biar itu menjadi urusan Ara nantinya.”
“Ok deh kalau gitu,” jawab Bondan dengan senang hati.
Setelah sepakat dengan Ara, lalu Bondan membawa putrinya keliling desa, pemandangan yang indah di desa membuat Ara begitu senang dan menyukainya. Setelah selesai berkeliling, lalu Bondan mengajak Ara ke toko kembang.
“Sayang, tuh toko kembangnya, katanya Ara udah lapar.”
“Iya Pa,” jawab Ara yang langsung turun dari mobilnya.
Melihat putrinya tak sabaran untuk makan kembang, Ara langsung berlari dan mengangkat wadah yang berisi kembang itu ketempat yang lapang, untuk memakannya.
“Eeeh, kamu siapa?” tanya Mak Rodiah, ketika melihat Ara mengangkat wadah kembang jualannya.
“Biarkan aja Mak, dia itu putri ku,” jawab Bondan yang masih berada di luar toko.”
“Ooo, jadi ini putrimu itu Bondan?”
“Iya, Mak. Saat ini tingkah lakunya sama dengan Kemuning yang suka memakan kembang."
“Iiiy…! Mak kok jadi merinding ya Bondan.”
“Merinding kenapa Mak?”
“Melihat tingkah laku putrimu ini, Mak merasa kelakuannya mirip sekali dengan lelembut, Bondan.”
“Kok Mak bicara seperti itu sih, dia itu kan putri ku, mak.”
__ADS_1
“Maaf Bondan, Mak kan hanya bilang kelakuannya mirip dengan lelembut, bukan berati dia itu anak lelembut.”
Mesti Mak Rodiah membawanya dalam situasi bercanda, namun Bondan menafsirkannya dalam bentuk keseriusan.
“Kenapa kau melamun Bondan?”
“Nggak Mak, aku hanya kepikiran saja dengan ucapan Mak tadi.”
“Mak hanya bercanda Bondan, jangan di masukkan kedalam hati ya.”
“Iya, Mak, aku maklum kok.”
Ara yang mendengar percakapan mereka berdua, merasa begitu tersinggung sekali, saat Mak Rodiah mengatakan kalau dia itu anak lelembut.
“Awas kau perempuan tua! akan ku balas penghinaan ini,” ujar Ara membatin.
Benar saja setelah Ara selesai memakan kembang, lalu Bondan membayar semuanya. Mak Rodiah yang masih terheran-heran melihat kelakuan putri Bondan tersebut, dia merasa gagal fokus.
“Putri mu bukan manusia biasa Bondan,” ujar mak Rodiah pelan.
Walau mak Rodiah bicara pelan, namun Ara menyimaknya dengan jelas, hatinya terasa sakit mendengar ucapan penjual kembang tersebut.
“Udah selesai makannya sayang?” tanya Bondan pada Ara, dengan suara lembut.
“Udah Pa,” jawab Ara yang terus menatap wajah mak Rodiah dengan pandangan amarah.
Melihat Ara menatapnya dengan pandangan yang aneh, mak Rodiah langsung menunduk, namun ketika mak Rodiah melihatnya, dia begitu terkejut sekali, karena saat itu bola mata Ara berubah menjadi hitam legam.
“Maaaak!” teriak keduanya serentak.
“Bondan yang mendengar teriakan keduanya, dia pun langsung berbalik kebelakang dan bergegas menghampiri mak Rodiah.
Di saat itu Ara berusaha mencegah Papanya untuk membantu mak Rodiah yang terkapar di lantai toko kembang.
“Kenapa Papa nggak boleh membantunya nak, dia itu kan udah tua, Papa sangat kasihan sekali padanya.”
“Kita harus segera pulang, Pa, sebelum Mama marah dan menghajar Papa habis-habisan.”
“O ya,” jawab Bondan seraya menggelitik pinggang putrinya yang lucu tersebut.
“Ah, Papa! Ara merasa geli, jangan dong, Pa,” jawab gadis kecil itu dengan manjanya.
Bondan yang merasa geli melihat wajah mungi putrinya itu, dia langsung mencium Ara dengan penuh kelembutan, anak Papa yang cantik sekali,” puji Bondan seraya tersenyum manis.
Bondan yang begitu menyayangi Ara, langsung saja mengikuti keinginan putri kecilnya itu. Akan tetapi karena jarak toko dan rumah Bondan sedikit jauh, maka di perjalanan Ara pun tertidur dengan pulas.
Bondan yang kasihan melihat Ara tertidur sambil duduk, mobilnya pun langsung berhenti dan memindahkan Ara ke kursi bagian belakang, dengan tujuan agar Ara bisa berbaring dengan tenang di sana.
Namun, ketika Bondan melihat ke belakang, sekilas Bondan melihat ada makhluk yang mengerikan sedang duduk di samping kepala Ara dan menaruh kepala Ara di pangkuannya.
Bondan yang melihat dengan sekilas, langsung menginjak pedal rem, sehingga mobil pun berhenti mendadak dan Ara terjatuh ke kolong bangku bagian belakang.
__ADS_1
Merasa kesakitan, Ara menangis histeris, sementara itu Bondan langsung bergegas menolong Ara dan meminta maaf pada putrinya itu.
“Papa kenapa sih, kan kepala Ara jadi sakit,” ujar Ara seraya menangis.
“Maafkan Papa nak, Papa tadi nggak sengaja sayang.”
“Tapi kepala Ara sakit Pa.”
“Mana yang sakit nak, sini Papa lihat,” ujar Bondan seraya memeluk tubuh kecil putrinya itu.
Mesti terasa sakit, namun Ara tidak menunjukan rasa sakit itu sepenuhnya pada Bondan, karena Ara sangat menyayangi Papanya itu, Ara tak ingin Bondan merasa bersalah kepada nya.
“Udah Pa, Ara nggak sakit lagi.”
“Benar udah nggak sakit lagi sayang?”
“Iya Pa. Ayo kita kembali pulang, nanti Mama marah kalau kita terlambat pulang Pa.”
“Iya sayang, ayo kita pulang.”
Karena merasa sedikit aman, Bondan kembali membawa Ara pulang kerumahnya. Belum sempat Bondan membuka pintu mobilnya, Kemuning langsung keluar dan membawa Ara masuk kedalam rumah.
Tak sepetah kata pun yang terucap dari mulut kemuning ketika itu, karena ada segunung amarah yang membara sedang bersemayam di dadanya terhadap Bondan.
Hingga keesokan harinya pun kemuning belum bersedia buka mulut, dia masih kesal dengan perbuatan Bondan yang membawa putrinya hingga larut malam.
Pagi itu, ketika Bondan hendak pergi ke kantor, Kemuning tak melayani suaminya seperti biasa, dia hanya sibuk mengurus Ara di kamarnya.
Melihat sikap Kemuning seperti itu, Bondan langsung masuk ke kamar putrinya, dia melihat Kemuning sedang asik menyisir rambut Ara.
“Kamu kenapa sayang?”
Kemuning tak menjawabnya, mesti dia mendengar dengan jelas ucapan Bondan saat itu, sementara itu, Ara yang berada di hadapan Kemuning langsung berbalik.
“Mama lagi marah, Pa,” jawab Ara pelan.
“Kenapa marah, emangnya Papa salah apa?”
“Karena Papa terlambat membawa Ara pulang kerumah tadi malam.”
“Hanya masalah itu, kamu marah sayang?”
“Kau merasa hal itu, hanya sebuah kesalahan ringan Mas.”
“Kalau bukan kesalahan ringan, lalu kau menganggapnya itu kesalahan yang fatal.”
“Lebih dari itu Mas.”
Bersambung...
*Selamat membaca*-
__ADS_1