AraDea

AraDea
Part 57 Perselisihan Ara dan Dea


__ADS_3

Siapa yang melakukannya, apa ada orang yang iri kepada Agus. Sehingga dia tega melakukan hal ini padanya?"


"Entahlah Pak Kades, saya nggak tahu."


"Apa menurut Ibu, Agus punya musuh di Desa ini atau di Desa sebelah?"


"Suami saya nggak pernah bercerita Pak Kades, kalau dia punya musuh di Desa ini maupun di Desa sebelah."


"Lalu siapa menurut Bu Lena, yang tega melakukan perbuatan keji ini?"


"Saya nggak tahu, Pak Kades."


"Kalau menurut Ibu nggak ada yang patut dicurigai, berarti Agus suami Ibu, memang sengaja melakukan bunuh diri. Mungkin ada masalah lain yang belum sempat diceritakannya kepada ibu, yang membuat dia mengakhiri hidupnya dengan cara seperti ini."


"Lena yang mendengar cerita dari Pak Kades, dia pun tak dapat berbuat apa-apa. Dia hanya sedih, menangis di hadapan jasad suaminya."


Di saat semua warga sedang ribut di luar, Bondan pun muncul di antara mereka. Bondan heran, kenapa pagi itu begitu banyak warga desa yang datang ke dekat rumahnya.


"Ada apa ini, apa yang terjadi?" tanya Bondan ingin tahu.


"Ada yang bunuh diri Bang," jawab Tina.


"Bunuh diri, siapa yang bunuh diri?" tanya Bondan penasaran.


"Agus Bang, pagi itu ada warga yang melihat Agus tergantung di pohon besar itu."


"Ya Allah, benarkah itu?" tanya Bondan, seraya bergegas menghampiri kerumunan orang banyak tersebut.


Merasa penasaran, Bondan langsung melihat wajah Agus yang tampak membiru.


"Kapan kejadiannya ini, Pak Kades?"


"Saya sendiri nggak tahu Bondan, tapi semua warga mengatakan kalau Agus tergantung di pohon ini tadi pagi. Mungkin saja dia melakukan hal ini tadi malam /karena cepat berpamitan dengan istrinya tadi malam untuk beli rokok namun Agus nggak pernah pulang lagi ke rumah.


Mendengar suara ribut-ribut di luar, Kemuning dan Ara pun ikut menengok.


"Ada apa sih sayang, Mama dengar ada suara ribut-ribut di luar?"


"Entahlah Ma, ayo kita lihat keluar."


Mereka berduapun bergegas keluar rumah, untuk melihat apa yang telah terjadi saat itu.


"Bu, Bu! ada apa ya, kenapa rame sekali?" tanya Kemuning pada seorang perempuan yang lewat.


"Di sana ada orang yang bunuh diri, itu namanya Agus."


"Agus, kenapa dia bunuh diri?"


"Entahlah Bu, saya nggak tahu," jawab perempuan itu, seraya berlalu meninggalkan Kemuning dan Ara.

__ADS_1


Setelah perempuan itu pergi, Kemuning langsung mengajak Ara masuk, karena pagi itu arah harus segera pergi ke sekolah.


"kamu udah siap sayang?" tanya Kemuning pada Ara.


"Udah Ma, ayo kita berangkat. Nanti bisa terlambat loh," jawab Ara seraya menggandeng tangan Kemuning.


Saat diperjalanan, Kemuning melihat Ara tampak terdiam.


"Kamu kenapa nak? nggak biasanya Mama lihat kamu diam aja. Biasanya ngoceh seperti burung. Tapi pagi ini, kok Mama nggak mendengar suaramu?"


"Ara kesal, melihat murid baru yang datang semalam. Dia begitu sombong sekali, Ara kesal sekali melihatnya Ma."


"Emangnya, apa yang telah dilakukan oleh murid baru itu, sehingga Ara bisa kesal kepadanya?"


"Dia selalu saja ingin menguji kesabaran Ara, Ma."


"Kesabaran Ara bagaimana, yang diuji murid baru itu?"


"Ah, udah lama. Nggak usah dilanjutkan, semakin Ara menceritakan dirinya, maka semakin sakit rasa hati Ara, Ma.


"Kamu itu aneh ya sayang. Tadi katanya mau ceritain, tiba-tiba kalau diceritain malah sakit hati, maksud kamu itu apa sih nak? kamu nggak perlu menutupi apa-apa, dari Mama dong!"


"Ara takut Ma. Kalau Ara bercerita, Ayah pasti marah."


Di saat Ara bicara seperti itu, Kemuning merasa tersakiti. Lalu, dia menghentikan laju mobil yang dikendarainya.


"Saat ini, hanya ada kita berdua sayang. Ceritakan semuanya, nggak ada yang perlu ditutup-tutupi dari Mama."


"Kamu ini kenapa sih sayang. Apa kamu nggak percaya sama Mama!"


"Jika Ara bercerita sama Mama, Ayah pasti memarahi Ara. Karena ini rahasia kerajaan."


"Ya sudah. Mulai hari ini, kita urus diri masing-masing. Kalau Ara punya rahasia, simpanlah rahasia itu. Begitu juga dengan Mama, jika Mama punya rahasia, Mama nggak akan buka rasa itu pada Ara."


"Melihat Mamanya sedih, Ara hanya bisa menatap wajah Mamanya dengan perasaan iba. Namun, Ara tak bisa berbuat apa-apa. Karena rahasia yang dipendamnya, akan membuat Mamanya shock bila mendengarnya.


"Nah, sekarang turunlah. Kita udah sampai!" perintah Kemuning pada Ara.


"Mama masih marah sama Ara?"


"Sekarang pergilah sekolah, tutup pintunya,"0 jawab Kemuning dengan ketus.


"Ara nggak akan pergi, sebelum Mama bersikap manis kepada Ara.


"Bersikap manis gimana lagi! kamu tahu sendiri kan, kalau Mama sedang marah!"


"Ya sudah, Ara akan pergi sekolah!" jawab Ara yang melangkah meninggalkan Kemuning.


"Maafkan Ara, Ma. Ara nggak bisa berkata jujur sama Mama, karena Ayah melarang Ara, untuk bicara banyak kepada Mama," gumam Ara pelan.

__ADS_1


Setiba di depan kelas, Ara tak langsung masuk ke dalam. Dia duduk diam di depan kelas. Tak lama kemudian, Dea pun datang menghampirinya.


"Kamu kenapa, kok kelihatan sedih?" tanya Dea ingin tahu.


"Apa kau melihat Ara sedih?"


"Sepertinya begitu, wajahmu tak menggambarkan keceriaan sedikitpun. Itu berarti, kau pasti sedang bermasalah," ujar Dea seraya menebak kesulitan yang dialami oleh Ara.


"Sok tahu kamu. Urus aja dirimu sendiri, nggak perlu mengurusi Ara."


"Siapa juga yang ngurusin kamu, aku ke sini untuk mengabari sesuatu padamu."


"Kabar, kabar apa itu?" tanya Ara ingin tahu.


"Kepala sekolah kita, telah meninggal dunia tadi malam," ujar Dea sedikit tenang.


"Meninggal, serius kamu?” tanya Ara seolah-olah tak percaya.


"Pelakunya pasti kamu," jawab Dea dengan polos.


"Maksudmu apa, kau mau nuduh Ara yang melakukannya?"


"Kalau bukan kamu, siapa lagi. Kata orang, ada bekas gigitan binatang buas di lehernya."


"Kalau ada gigitan binatang buas di lehernya, lalu kau menuduh Ara yang melakukannya?"


"Siapa juga yang menuduh kamu melakukannya. Tapi boneka darah milikmu lah, yang melakukannya. Dia menghisap darah orang, untuk diberikan ketuanya, yaitu kamu!"


"Apa maksudmu Dea!" bentak Ara dengan suara lantang.


"Kau nggak usah bersembunyi, di balik topeng kepolosan mu itu. Aku tahu siapa kamu!"


"Emangnya aku siapa?"


" Hm..! kau ingin aku bongkar, asal usul mu?"


"Katakan saja, kalau memang kau mengetahui asal usul ku."


"Aku tahu, kalau kau adalah putri raja Dasamuka. Genderuwo yang kejam dan jahat, yang saat ini berkuasa di daerah Angkara. Apa perlu aku membuka kedok mu, di depan semua orang!"


"Hiiih...!"gerutu Ara marah.


"Nggak perlu marah, bukankah kau sendiri yang menginginkan aku membongkar, siapa dirimu sebenarnya."


Karena merasa kesal dengan ucapan Dea, Ara langsung menatap mata Dea, dengan tatapan yang dipenuhi oleh kemarahan. Bola matanya yang indah, seketika berubah menjadi hitam legam. Bukan hanya itu, Dea melihat sendiri, dari kedua sisi mulut Ara mengeluarkan taring yang panjang.


"Cukup, apa kau ingin semua orang mengetahui siapa kamu!" teriak Dea seraya menekan suaranya ke dalam.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2