AraDea

AraDea
Part 96 Pertarungan tiga kerajaan


__ADS_3

Ketika pihak sekolah sibuk mencari keberadaan Ara dan Dea, kedua gadis itu justru telah berada di negeri mereka masing-masing. Mereka ditarik secara paksa oleh kerajaan mereka.


"Ampun beribu-ribu ampun Yang Mulia, apa yang mesti hamba lakukan pada saat ini."


"Putriku Dea Chandra Maya, saatnya kita berperang melawan kerajaan Pancalaka. Karena kerajaan itu telah memfitnah antara kerajaan Angkara dengan kerajaan Parahyangan.


"Emangnya apa yang telah mereka lakukan yang mulia. Sehingga antara kerajaan Pancalaka dengan kerajaan Parahyangan bisa berperang.


"Kerajaan Pancalaka, merebut sebagian kekuasaan kerajaan Parahyangan, di perbatasan sebelah Selatan. Tanah jajahan yang telah kita dapat dengan bersusah payah, sekarang menjadi hak kerajaan Pancalaka. Mereka juga bukan hanya sekedar mengganggu kerajaan kita, menurut telik sandi, mereka juga mengganggu kerajaan Angkara."


"Lalu tugas apa yang harus hamba lakukan yang mulia!"


"Bawa beberapa orang prajurit, bersama telik sandi kerajaan. Selidiki kerajaan Pancalaka, apa benar kerajaan itu telah merebut sebagian wilayah kita dan para penduduknya, atau hanya sekedar memprovokasi kerajaan kita.


"Baik yang mulia, titah yang mulia akan hamba laksanakan dengan baik."


Setelah mendapat perintah dari raja Askara, Dea dan beberapa orang pasukannya langsung bergerak menuju kerajaan Pancalaka.


Tim pengintai dan beberapa orang telik sandi kerajaan, telah dikerahkan. Mereka berpencar mencari posisi masing-masing, bergerak dengan cepat tanpa harus menunggu perintah.


Dari kejauhan, Dea melihat kerajaan Pancalaka berdiri megah di atas bukit.


Prajuritku, kalian lihat sendiri kan itulah kerajaan Pancalaka. Sekarang laksanakan tugas kalian, beri informasi yang aktual kepadaku, jangan berbelit-belit. Selidiki dengan betul, apa benar kerajaan Pancalaka telah merebut sebagian wilayah kerajaan Parahyangan."


"Baik yang mulia, perintah yang mulia akan kami laksanakan," jawab seluruh prajurit itu, seraya bergerak mencari posisinya masing-masing.


Di tengah hutan belantara, Dea dan pasukannya mulai mengendap-endap mencari posisinya, untuk menyelidiki gerak-gerik pasukan Pancalaka.


"Dari kejauhan, Dea bersama prajuritnya, mencoba untuk menyatu dengan masyarakat, yang berada di perbatasan kerajaan Parahyangan."


Namun, ketika Dea dan pasukannya hendak menyatukan diri, dengan masyarakat yang berada di perbatasan Pancalaka, tiba-tiba saja pasukan dari Angkara, datang menyerbu pasukan Pancalaka.


Tak dapat dihindarkan lagi, pasukan dari Parahyangan, terpaksa harus melawan pasukan dari Angkara. Saat itu mereka mengira, kalau pasukan Parahyangan adalah pasukan dari Pancalaka.

__ADS_1


Pertarungan sengit pun terjadi di antara 3 kubu, yang sedang berseteru. Mereka sama-sama aduh kekuatan, menyelamatkan kerajaan mereka masing-masing. Di sana Dea bertemu dengan Ara dan juga jenderal perang dari Pancalaka.


"Serbu....!"teriak Dea dengan suara lantang.


"Serang...!" seru Ara dari sisi sebelah kanan.


"Hancurkan mereka semua...!" ujar pasukan dari kerajaan Pancalaka.


Saat itu, prajurit benar-benar bingung. Karena tiga kubu yang berlawanan itu, sama-sama saling serang di antara mereka.


Pasukan dari Angkara, menyerang pasukan Parahyangan dan juga pasukan Pancalaka. Begitu juga dengan pasukan Parahyangan, mereka menyerbu pasukan Pancalaka dan pasukan Angkara. Begitu juga dengan pasukan Pancalaka mereka sama-sama saling serang satu sama lain.


Di saat adu kekuatan terjadi di medan perang, Ara menarik mundur pasukannya, yang saat itu, pasukannya sedikit terdesak hingga ke perbatasan kerajaan Parahyangan.


Namun ketika kerajaan Angkara mulai menepi di kerajaan Parahyangan, kerajaan Parahyangan langsung menyerbu kerajaan Angkara tersebut, hingga mereka kembali lari ke medan perang. Ara yang saat itu melihat Dea mengatur pasukannya, merasa kesal dan marah.


Merasa tak terima dengan perlakuan pasukan Dea. Ara langsung naik darah, dia berteriak dengan suara yang sangat lantang.


Teriakan Ara yang nyaring dengan disertai tenaga dalam yang sangat sempurna, membuat prajurit dari kerajaan Parahyangan dan kerajaan pancalaka mengalami rasa sakit di bagian telinga mereka.


Dea tak kuasa menyelamatkan pasukannya, karena saat itu mereka telah berpencar di seluruh tempat. Melihat kondisi itu, Dea langsung menggunakan tenaga dalamnya untuk menyalurkan hawa murni di sekitar prajurit Parahyangan dan prajurit Pancalaka.


"Tutup telinga kalian! semua, tutup telinga kalian...!" teriak Dea pada prajurit Parahyangan dan prajurit Pancalaka. suara Dea yang lantang membuat seluruh prajurit mendengar jelas, apa yang dikatakan oleh jenderal perang Parahyangan itu.


"Di saat mendengar suara Dea, seluruh pasukan langsung menutup telinga mereka dan Dea langsung menyerang Ara, yang saat itu mengeluarkan tenaga dalamnya, untuk membunuh seluruh prajurit.


Di saat tendangan Dea tepat mengenai dada Ara, gadis cantik itu pun langsung tersungkur dengan menyemburkan darah di mulutnya.


"Kau membokong ku, Dea!" teriak Ara seraya meringis menahan rasa sakit.


"Apa maksudmu Ara, apa kau ingin membunuh seluruh prajurit itu!" bentak Dea dengan amarah yang meluap-luap.


"Apapun yang akan aku lakukan, itu urusanku, bukan urusanmu!" seru Ara yang masih terkapar bersimbah darah.

__ADS_1


"Jika itu yang kau inginkan, aku juga bisa melakukan apa yang aku mau. Tapi ingat Ara. Aku tidak suka kau melakukan hal ini secara licik, bertarunglah dengan cara sportif Ara!"


"Enyah kau Dea...!" teriak Ara seraya menyerang Dea, dengan sisa kekuatannya yang masih ada.


"Di saat Ara menyerangnya, Dea ikut membalas, hingga pertarungan pun terjadi di antara mereka berdua. Sementara itu, seluruh prajurit hanya menjadi penonton.


"Mereka bertarung habis-habisan, emosi mereka menyebabkan angin badai yang sangat kencang sekali. Seluruh prajurit merasa ketakutan, atap rumah berhamburan, dentingan senjata mereka, mengeluarkan percikan api yang sangat mengerikan.


Pertarungan yang sangat mengerikan itu, tak cukup hanya sampai di situ. Dea bahkan mengeluarkan senjata andalannya pedang naga.


Pedang itu Dea gunakan, bukan untuk membunuh Ara. Tapi Dea sengaja melakukannya untuk menakut-nakuti Ara. Karena, jika emosi Ara mereda, otomatis kekuatannya pun akan berkurang.


Pedang naga itu diputar oleh Dea, di angkasa, tepat di atas kepala Ara. Sehingga suara debutnya, mengakibatkan langit menjadi gelap seperti hendak turun hujan. Percikan api yang keluar dari cambuk itu, dapat membakar apa saja yang berada di dekatnya.


Mesti demikian, Dea tetap saja melakukannya, tanpa memikirkan rasa takut para prajurit.


Ara yang melihat pedang naga itu berputar-putar di atas kepalanya, membuat nyalinya semakin ciut. Karena pandangan naga itu, sewaktu-waktu dapat memotong tubuhnya menjadi beberapa bagian.


"Hentikan Dea! apa kau ingin membunuhku!" teriak Ara, seraya berlari kesana kemari untuk menghindari percikan api dari pedang itu.


"Kenapa Ara, apakah kau ketakutan?"


"Aku tidak takut Dea. Tapi lihat prajurit di sekitarmu, merekalah yang justru ketakutan, melihat sikap arogan mu itu."


Mendengar ucapan Ara, Dea baru sadar, kalau perbuatannya dapat memicu rasa takut pada seluruh prajurit. Untuk itu, Dea langsung menghentikan perbuatannya.


Dengan cepat pedang naganya dimasukkan ke dalam sarang, agar tidak lepas dan mencari korban yang begitu banyak.


Ketika Dea a menyimpan pedangnya, Ara merasa sedikit lega, lalu dia duduk di atas setumpuk batu. Menyusul pula dengan Dea, yang saat itu duduk di balik sebatang pohon.


Sepertinya hari ini, hari yang melelahkan Ara," ujar Dea.


"Benar Dea, hari ini, hampir saja nyawaku melayang ,oleh pedang nagamu itu."

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2