
"Celaka! tubuh Dea menolak hawa murni, yang aku salurkan kepadanya. Apa yang mesti aku lakukan, untuk menyembuhkan luka dalamnya. Aku yakin, Dea nggak akan sanggup melakukannya sendiri tanpa bantuan ku."
Karena Dea semakin menderita akibat luka dalam yang dirasakannya, Ara semakin bingung, dia mencoba terus menyalurkan hawa murni ke tubuh Dea namun selalu gagal.
Di tengah hutan, di atas tanah dan beratapkan langit, Ara menahan tubuh Dea. Dia tak ingin membawa Dea ke Ibunya, dalam keadaan terluka parah.
Karena Ara menganggap, Ibu Dea tak mengetahui kelebihan yang dimiliki oleh putrinya. Itu sebabnya, Ara merasa takut membawa Dea pulang ke rumah dalam keadaan sekarat.
"Dea bangunlah, apa yang mesti aku lakukan?" tanya Ara dengan rasa khawatir yang semakin meningkat.
Mendengar suara Ara, Dea langsung membuka matanya. Pandangan matanya terasa begitu buram, sehingga Dea melihat wajah Ara tak begitu jelas.
"Kenapa dengan mataku ini Ara, kenapa aku nggak bisa melihat dengan jelas?"
tanya Dea.
"Aku yakin, racun gadis kupu-kupu itu, telah menjalar ke urat sarafmu Dea."
"Di mana kita sekarang Ara?"
"Kita berada di tengah hutan Dea."
"Kenapa kau membawaku ke sini? bukankah tadi aku berpesan untuk membawaku pulang ke rumah."
"Aku takut, Mamamu khawatir melihat kondisi tubuhmu yang parah begini. Tadinya aku berniat, untuk membawamu pulang ke rumah, tapi aku tak tega aku kasihan melihat Mamamu. Dia pasti sedih."
Mendengar kata Ara, Dea memegang tangan gadis itu dengan lembut.
"Sebenarnya hatimu sangat baik Ara, hanya saja selama ini aku tak pernah merasa, kalau gadis yang selalu bersamaku ternyata dia punya hati yang baik."
"Tidak Dea, aku tak seperti yang kau pikirkan. Aku menolongmu, karena terpaksa. Jika aku biarkan kau tergeletak, kau pasti tewas dan musuh bebuyutanku sudah tidak ada lagi. Tapi apa gunanya aku hidup Dea, kalau aku tidak mendapatkan musuh di dunia ini yang lebih kuat dan lebih sepadan denganku."
"Mendengar penjelasan Ara, Dea tersenyum dengan manis. Tangannya yang halus tetap memegang tangan Ara.
"Kau nggak usah khawatir Ara, mesti kita sama-sama berteman, aku masih tetap menganggap mu sebagai musuh kok. Suatu saat nanti, salah satu di antara kita pasti akan mati. Siapa yang menang, itulah yang berkuasa di jagat raya."
__ADS_1
"Ya kau benar Dea, salah satu diantara kita pasti akan mati. Entah kapan waktunya, kita sama-sama menunggu. Siapa yang hidup, maka dialah yang akan menjadi penguasa di jagat raya."
Mendengar jawaban Ara, Dea langsung menatap langit yang berada tepat di atasnya. Dea merasakan kengerian. Kenapa dia mesti berperang mati-matian, demi membela kerajaan. Padahal masa depan mereka berdua, masih terlalu panjang untuk dipertaruhkan.
"Ara apakah kau menyesal lahir ke dunia ini, dari keturunan bangsa jin?" tanya Dea ingin tahu.
"Sebenarnya iya, apalagi kalau wujud asliku muncul ketika aku sedang emosi. Aku sangat kesal dan malu pada diriku sendiri."
"Benarkah begitu?"
"Iya Dea."
"Sama Ara, tapi yang kusesalkan bukan dari mana asalku. Yang ku sesalkan adalah, mengapa kita berdua dipertaruhkan di medan perang. Padahal kita tidak tahu tentang kerajaan ini."
"Kau benar Dea, apa yang kau katakan itu benar. Aku juga merasakan hal yang sama denganmu, kenapa orang tua kita mempertaruhkan kita berdua di medan perang. Apakah kita dilahirkan hanya untuk berperang?"
"Aku yakin, mereka pasti punya rencana seperti itu Ara. "Jika putriku kelak lahir, maka dia bertugas untuk membela kerajaanku, menjadi panglima dan menjadi jenderal di medan perang."
"Aku lelah, Dea."
"Ya, aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Aku juga lelah menjalani hidup ini. Aku merasa tak diberi kebebasan oleh orang tuaku, kadang aku berpikir, apakah aku punya masa depan seperti gadis-gadis lainnya."
"Kata Papaku, Aku punya masa depan seperti gadis-gadis yang lainnya."
"Seperti apakah, masa depan kita itu Dea?"
"Aku nggak tahu Ara, tapi Mamaku bilang, masa depan itu indah. Kita punya keluarga kecil, punya anak, punya orang-orang yang kita sayangi. Melindungi mereka dengan penuh kasih sayang."
"Impianmu sangat indah Dea, tapi apakah hal itu benar-benar akan terjadi pada diri kita?"
"Entahlah Ara, sepertinya hal itu mustahil akan terjadi pada diri kita. Bukankah kau tahu sendiri, kita ini bukan manusia biasa. Kita hanya hidup bersama manusia dan kita berwujud separuh manusia."
"Lalu sekarang bagaimana Dea? apakah kita pulang ke rumah atau kita akan menetap di sini?"
"Sebaiknya kita pulang ke rumah Ara, karena di dirumah, kita tinggal lebih aman. Daripada di hutan, banyak binatang buas yang akan datang menghampiri kita."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, kita kembali ke rumahmu."
Di saat Ara bicara, Dea mencoba menyentuh tangan Ara. Rencana Dea untuk mengajak Ara, kembali pulang ke rumahnya tanpa harus berlari.
"Kau lagi ngapain Dea?" tanya Ara ingin tahu.
"Aku berencana untuk mengajakmu pulang ke rumahku, dengan menggunakan ilmu yang kumiliki. Tapi aku nggak bisa, mungkin karena fisik ku terlalu lemah, sehingga aku tidak bisa menggunakan ilmuku."
"Sudahlah Dea, kau jangan pikirkan ilmumu dulu, sekarang kau pegang aku kuat-kuat kita akan pulang ke rumahmu," ujar Ara, seraya menggendong tubuh Dea di punggungnya.
Gadis itu pun berlari dengan kencang sekali, dia berkelebat, melesat meninggalkan hutan yang penuh dengan binatang buas.
Tak butuh waktu lama, Ara pun tiba di rumah Dea. Lalu pintu diketuk dari luar. Tak berapa lama kemudian, Pandan wangi muncul dari balik pintu.
"Ya Allah, Dea! kamu kenapa nak?" tanya Pandan wangi dengan perasaan cemas.
"Bolehkah kami masuk dulu Bu, rasanya tubuhku udah pegal, menggendong Dea begitu jauh sekali."
"Oh silakan, ayo kita bawa Dea ke kamarnya," ujar Pandan wangi, seraya berjalan tergesa-gesa menuju kamar Dea.
Setelah tiba di kamar Dea, Ara langsung menaruh tubuh Dea di atas kasur. Sementara itu, Pandan wangi menatap wajah Ara dengan rasa heran.
"Sepertinya Ibu mengenalmu nak?" tanya Pandan wangi pada Ara.
Saat Pandan wangi bicara, Dea langsung menjawab. Mesti saat itu Ara ingin menjawabnya.
"Dia itu Ara, Bu. Putri raja Dasamuka," jelas Dea dengan suara lembut.
"Ya Allah, ternyata kau. Ngapain kau ke sini, apa yang kau lakukan pada Putri Ibu!" bentak Pandan wangi dengan rasa amarah di hatinya.
"Tenang dulu Bu, tenang. Aku nggak pernah menyakiti Dea. Aku ke sini justru menolongnya, tadi di jalan Dea di serang oleh seseorang, dengan ilmu yang sangat berbahaya."
"Benarkah begitu sayang, gadis ini nggak pernah menyakitimu?"
"Dia berkata jujur Ma, dia nggak pernah menyakiti aku. Mama tenang saja, kalau dia menyakitiku, maka akan ku gigit dia. Hingga lari terberit-birit.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*