AraDea

AraDea
Part 101 Kembali bisu


__ADS_3

"Aku nggak nyalahin Mama, hanya Mama saja yang enggak bisa dikasih tahu. Kalau terjadi sesuatu pada Mama nanti, baru Mama menyesal."


"Kau nggak perlu mengajari Mama, tugasmu sekolah, belajarlah yang sungguh-sungguh. Mama lebih tahu darimu," ujar Tuti seraya bergegas menuju dapur.


Setelah Tuti pergi, Edi dan Nunik hanya bisa geleng kepala, Tuti memang sulit diberitahu. Dia tak mau menerima kebenaran yang masuk kepadanya, mesti bagaimanapun cara mengajarinya.


Sementara itu, Askara yang merasa rahasianya akan terbongkar oleh Tuti, malam itu dia keluar dari rumah Pandan wangi. Saat Askara keluar dari rumah, tanpa sengaja Dea melihatnya.


"Hm... Papa pergi ke mana ya, malam-malam begini?" tanya Dea pada dirinya sendiri.


Penasaran dengan gelagat Papanya, yang tampak begitu mencurigakan. Dea pun mengikutinya secara diam-diam dari belakang.


"Kau mau ke mana Dea?" tanya Pandan wangi, ketika melihat putrinya hendak membuka pintu rumah bagian depan."


Mendengar suara Mamanya, Dea mengurungkan niatnya untuk mengikuti Papanya dari belakang. dia pun kembali surut dan menutup pintu depan serta menguncinya.


"Sebenarnya kau mau ke mana nak?" tanya Pandan wangi ingin tahu.


"Aku nggak ke mana-mana Ma, hanya saja Aku ingin menghirup udara segar di luar."


"Nggak perlu putriku, saat ini cuaca terlalu ekstrem untuk keluar rumah. Sebaiknya kamu belajar dan kembalilah ke kamarmu."


"Baik Ma," jawab Dea seraya kembali ke dalam kamarnya.


Di saat Dea kembali ke dalam kamarnya, Askara saat itu sudah tiba di depan rumah Tuti. Karena semua pintu rumah Tuti tertutup, untuk itu Askara merubah wujudnya menjadi kabut berwarna putih.


Kabut itu menyelinap masuk, ke dalam celah sempit pintu yang terbuka. Setibanya Askara di dalam rumah Tuti, dia melihat Tuti sedang asyik menonton televisi di ruang tamu, bersama suami dan putrinya.


Saat itu, Askara mencoba untuk berdiri di balik sebuah lemari, menunggu kesempatan datang untuk menghampiri Tuti.


Dengan sabar Askara berdiri menunggu kesempatan yang datang, tak berapa lama kemudian, Edi suami Tuti merasa ngantuk dan dia pun meninggalkan istri dan putrinya di ruang tamu.


Menyusul pula sesudah itu Tuti. Dia berjalan pelan menuju kamarnya dengan mulut yang selalu menguap karena ngantuk.


Di saat mulut Tuti menganga, kesempatan itu dimanfaatkan oleh Askara untuk masuk ke dalam mulutnya tersebut. Askara mencoba menekan sedikit anak lidah Tuti, sehingga perempuan itu tak dapat bicara dengan jelas.


Setelah tugasnya selesai, Askara langsung menyelinap keluar dan berlalu meninggalkan Tuti yang kembali membisu.

__ADS_1


Setibanya dia di dalam kamar, ternyata suaminya belum tidur. Saat itu Edi masih membaca koran, seraya senderan di ranjang miliknya.


"Apa Nunik udah tidur Ma?" tanya Edi pada istrinya.


"Hak..hak...Haag..!"


Tuti terkejut, tiba-tiba saja dia tak lagi bisa bicara, mesti dia telah mencobanya berulang kali. Namun tetap saja dia tak bisa bicara walau satu kata pun.


Melihat hal itu, Edi langsung bertanya kepada istrinya, yang saat itu tampak sedang menangis.


"Kamu kenapa Ma?" tanya Edi heran.


"Ak...aa..ak..!"


"Kamu nggak bisa bicara lagi?"


Lantaran Tuti nggak bisa bicara, iya terpaksa harus menganggukkan kepala di hadapan suaminya. Edi pun mencoba menghampiri istrinya.


"Benar kau nggak bisa bicara lagi?"


Tuti kembali menganggukkan kepalanya. Rasa sedihnya saat itu, tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Baru saja dia bisa bicara, akan tetapi nasib sial kembali menghampirinya.


"Haah..hak..!"


Ucapan suaminya yang telah menasehati dirinya, Tuti menjadi marah. Dia membentak suaminya, mesti dia sudah tak sanggup lagi bicara.


"Sedang sakit saja, kau masih sanggup membentakku. Apalagi sehat, kelakuanmu mungkin bertambah parah. Untung saja Allah memberimu azab, sehingga kau bisa berbenah diri," ujar Edi dengan suara pelan.


"Huuh...!" jawab Tuti seraya menghempaskan tubuhnya di atas kasur.


Melihat sikap istrinya yang seperti itu, Edi hanya bisa geleng kepala. Karena memang Tuti begitu sulit untuk diberitahu, dia keras hati. Sikap jahatnya tak pernah bisa berubah, mesti dia telah mendapat siksaan seperti itu.


Dendamnya kepada Pandan wangi, telah membutakan mata hatinya, untuk dapat merubah sikap nya sendiri. Sehingga dia terlalu berambisi untuk menjatuhkan Pandan wangi, serta mencari keburukannya.


Hal itu sengaja dilakukan Tuti, agar semua warga membenci Pandan wangi, termasuk suaminya.


Sementara itu, Askara yang telah selesai dengan tugasnya, dia langsung kembali pulang ke rumah dan menghampiri istrinya.

__ADS_1


"Kamu masih marah sayang?" tanya Askara pada Pandan wangi.


"Untuk apa marah, toh nggak ada gunanya bukan. Apapun yang telah terjadi, itulah yang sebenarnya. Hanya saja, aku tak ingin kau bersikap keras kepada putri kita."


"Sebenarnya aku tidak bersikap keras kepadanya, tapi putrimu sudah keterlaluan pandan wangi. Dia telah banyak membunuh orang di kerajaanku. Itu sebabnya dia ku hukum, dengan menarik senjata pusaka miliknya."


"Kenapa dia membunuh orang, bukankah selama ini tugasmu untuk mengaturnya?"


"Dia tidak menjalankan amanah yang telah aku berikan kepadanya, untuk itu aku terpaksa harus menghukumnya. Aku rasa, itulah yang menyebabkan dia marah kepadaku."


"Kenapa kau nggak segera minta maaf kepadanya dan mengembalikan pedang miliknya. Bukankah dia seorang jenderal? Suatu penghinaan baginya, jika senjatanya diambil dari tangannya."


"Peraturan kerajaan harus dijalankan Pandan wangi, siapapun dia. Jika dia salah harus di hukuman, sesuai dengan kesalahan yang dia lakukan.


"Kalau begitu, kau sudah tahu konsekuensinya kan, Putri mu marah dan dia tidak ingin berbicara denganmu, walau sepatah kata pun."


"Kau harus ajari dia Pandan wangi, agar dia bisa menghormati aku sebagai Ayahnya."


"Dia sudah besar Bang, dia bisa memilih jalannya sendiri. Kita hanya bisa menjaganya, bukan untuk menghukumnya."


"Baiklah, kalau begitu tak ada jawaban dari kemarahanku kepadanya. Sekarang aku harus kembali ke Nirwana, aku tak bisa berlama-lama meninggalkan kerajaanku di sana."


"Silahkan pergi Bang," jawab Pandan wangi seraya membalikkan tubuhnya.


"Tolong kau jaga Putri kita baik-baik, karena dia adalah jenderal perang ku."


Di saat Askara bicara, Pandan wangi hanya diam saja. hatinya masih terasa sedikit sakit, karena suaminya begitu keras kepada putrinya Dea.


Setelah Askara pergi, Pandan wangi langsung menuju kamar putrinya Dea, yang saat itu masih melakukan latihan fisik di dalam kamarnya.


"Mama, kenapa malam-malam begini Mama belum tidur?" tanya Dea pada Pandan wangi.


"Ada yang ingin Mama bicarakan denganmu nak?"


"Apa Ma, bicara apa?" tanya Dea seraya terus berlatih di hadapan Pandan wangi.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2