
"Ngapain Abang ke sana?"tanya istri Donggala.
"Pergi menyembah raja Buana, yang mengaku sebagai Tuhan, pencipta seluruh makhluk di jagat raya ini."
"Apa benar dia itu, penguasa dan pencipta seluruh makhluk di jagat raya ini?"
"Begitulah menurut pendapat, dari raja Buana tersebut."
"Emangnya kerajaan Buana itu, sudah lama berdiri Bang?"
"Baru sekitar beberapa tahun ini. Lagian, kalau kita mau menyembah nya, maka raja tersebut memberi kita sebidang tanah, lengkap dengan kebun bunga di atasnya."
"Benarkah begitu Bang?"
"Iya, buktinya sudah banyak yang pindah secara diam-diam, dari kerajaan Parahyangan ke kerajaan Buana tersebut."
"Apakah raja Askara nggak marah kepada kita Bang?"
"Untuk apa dia marah, bukankah kita sudah keluar dari kerajaan Parahyangan."
"Kenapa kita mesti pindah dari kerajaan Parahyangan Bang? bukankah kerajaan itu mencukupi seluruh kebutuhan kita, selama berada di sana. Apa lagi, raja Askara begitu baik pada kita."
"Sebenarnya, Abang juga tak ingin pindah dari sana. Apalagi posisi Abang sebagai menteri, sudah mencapai tingkatan teratas. Tapi sayang, Dupa prajurit yang selalu melayani kami para menteri, justru dia diangkat menjadi penasehat raja."
" Kenapa begitu?" tanya Lesi heran.
"Ah sudahlah, jangan membahas masalah itu lagi. Abang semakin sakit hati mendengarnya."
"Ya sudah, kalau Abang nggak mau membahas masalah itu, lebih baik kita lupakan saja," jawab Lesi.
"Sebenarnya, kita ini mau ke mana Ayah?" tanya Dirga pada Ayahnya.
"Kita akan pindah ke kerajaan seberang. Karena disana, kita diberi sebidang tanah oleh raja kerajaan Buana."
"Kenapa mesti perginya secara diam-diam Ayah. Bukankah raja Askara, begitu baik pada keluarga kita."
"Raja Askara memang baik pada kita nak. Tapi di kerajaan Buana, kita mendapat sebidang tanah."
"Nanti, kalau raja Askara mengetahui kepergian kita, apakah dia tidak marah Ayah?"
"Untuk apa dia marah, bukankah kita tak akan kembali lagi ke sana."
"Aku tak mau menjadi prajurit kerajaan Buana Ayah, aku hanya ingin menjadi prajurit kerajaan Parahyangan. Karena di sanalah aku dibesarkan."
"Bodoh kamu! kenapa mesti menjadi prajurit kerajaan Parahyangan? bukankah kita sudah diberi sebidang tanah, oleh kerajaan Buana, jangan mencari masalah nak."
__ADS_1
Mendengar ucapan Ayahnya, Dirga hanya diam saja. Untuk sementara waktu, Dirga hanya menuruti perintah Ayahnya. Akan tetapi, dia akan mencari jalan keluar yang terbaik, untuk pergi dari kerajaan Buana tersebut, suatu saat nanti.
Setelah mereka semua, melewati perbatasan kerajaan parahyangan. Donggala bersama istri dan anaknya, menyeberang hingga ke kerajaan Buana. Di sana beberapa orang prajurit kerajaan Buana, menghalangi kedatangan mereka.
"Kalian dari mana?" tanya prajurit tersebut.
"Kami dari Parahyangan. Kami ingin menetap di kerajaan Buana dan menjadi prajurit kerajaan Buana."
Lalu para prajurit tersebut memeriksa fisik Donggala, beserta putranya Dirga.
"Sepertinya kamu nggak cocok untuk menjadi seorang prajurit, begitu juga dengan putra mu ini, sepertinya belum bisa untuk menjadi seorang prajurit. Karena tubuhnya masih kecil."
"Jadi gimana, apakah kami bisa masuk ke dalam?"
"Tidak!"
"Kau tahu nggak prajurit, kalau aku ini adalah menteri di kerajaan Parahyangan. Kedudukan ku jauh lebih tinggi dari mu."
"Kalau kau seorang menteri, kenapa mesti pindah ke kerajaan Buana, bukankah di kerajaan Parahyangan kau hidup berkecukupan."
"Iya, itu benar. Tapi aku ingin mengadu nasib di kerajaan Buana. Bukankah kerajaan Buana baru dibangun, siapa tahu mereka sangat membutuhkan seorang menteri seperti aku."
Setelah mendengar ucapan Donggala, prajurit tersebut, langsung bermusyawarah. Tak berapa lama kemudian, salah satu di antara mereka datang menghampiri Donggala dan keluarganya.
"Baiklah, tunggulah di sini sebentar. Aku akan melaporkannya kepada raja."
Setelah menunggu beberapa saat, prajurit tersebut pun muncul di hadapan Donggala, beserta keluarganya. Melihat kedatangan prajurit itu, Donggala langsung berdiri dan menghampirinya.
"Gimana prajurit, apakah raja mu mau menerima kedatangan kami?"
"Tentu," jawab prajurit dari kerajaan Buana.
"Bukankah tadi aku sudah bilang, raja mu pasti bersedia menerima kedatangan ku. Nyatanya bener kan, kalau rajamu bersedia menerima kedatanganku."
"Nanti tuan akan lihat sendiri, apa yang dilakukan oleh raja kepada tuan," ucap prajurit tersebut kepada Donggala.
Lalu prajurit Buana itu, langsung membawa Donggala beserta keluarganya ke dalam istana.
Setibanya di dalam istana, Donggala disambut baik oleh raja Buana.
"Benar, kamu ingin tinggal di kerajaan Buana?"
"Benar yang mulia raja, hamba beserta keluarga, bersedia bekerja dan tinggal di kerajaan Buana sampai akhir hayat kami."
"Benarkah begitu, apakah tak ada penyesalan di hatimu, tinggal di kerajaan Buana. Karena peraturan kerajaan Buana, berbeda dengan peraturan di kerajaan Parahyangan."
__ADS_1
"Hamba dan keluarga hamba, telah sepakat untuk keluar dari kerajaan Parahyangan yang mulia."
"Tentu kau punya alasan yang tepat, untuk kau berikan kepadaku. Kenapa kau keluar dari kerajaan Parahyangan, bukankah selama ini, kerajaan Parahyangan sangat baik kepada keluargamu."
"Betul yang mulia, apalagi selama hamba bekerja di kerajaan Parahyangan, hamba seorang menteri yang dipercaya oleh raja Askara."
"Benarkah kau seorang menteri?" tanya raja Buana ingin tahu.
"Benar yang mulia, di kerajaan Parahyangan, Hamba adalah seorang menteri yang dipercaya oleh raja Askara."
"Lalu kenapa kau keluar dari kerajaan tersebut, bukankah kau seorang menteri yang dipercaya?"
"Hamba hanya ingin mencari pengalaman bagus, di kerajaan Buana ini yang mulia."
"Benarkah, apakah tak ada alasan yang lain?"
"Tidak yang mulia."
"Baiklah, untuk sementara saya percaya dengan ucapan mu. Tapi ingat, suatu saat nanti, saya akan menyelidiki sendiri. Kenapa kau keluar dari kerajaan Parahyangan."
"Iya yang mulia, Hamba bersedia diperiksa oleh yang mulia."
Sekarang masuklah ke dalam, bergabunglah bersama para prajurit lainnya," ujar raja Buana.
Setelah perintah diterima, seorang prajurit langsung membawa Donggala beserta keluarganya kedalam. Akan tetapi, betapa terkejutnya Donggala saat itu. Karena para prajurit Parahyangan, yang telah keluar dari kerajaan Parahyangan. Ternyata berkumpul di suatu aula, yang sangat luas.
Di aula tersebut, Donggala bertemu dengan begitu banyak prajurit, dari Parahyangan.
"Donggala!" ucap seorang prajurit yang mengenal menteri Donggala."
"Kamu, bukankah kamu sudah pindah dua bulan yang lalu dari Parahyangan?"
"Benar tuan."
"Lalu kenapa kau masih berada di sini, bukankah setiap yang datang kerajaan Buana, langsung diberi sebidang tanah."
"Itu benar tuan, itu hanya janji belaka raja Buana."
"Jadi, hanya janji raja Buana. Yang akan memberi kita tanah, ternyata itu hanya bohong belaka?"
"Iya tuan justru selamat dua bulan ini kita tak diizinkan keluar, mesti hanya sebentar. Mereka mengurung kita di sini dan tak mengizinkan kita untuk pergi."
"Benarkah begitu?"
"Iya tuan, sepertinya kita di tipu."
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*