
"Hahaha...! kau kira, kau bisa mempermainkanku raja Askara. Kita akan sama-sama lihat nanti, siapa yang lebih pintar dan lebih cepat dari apa yang telah kau duga selama ini," ujar Raja Dasamuka.
Setelah berita itu disampaikan oleh penasehat kerajaan dan terdengar oleh Brananta, dia pun tersenyum manis, karena rencananya telah berhasil.
"Rasakan pembalasanku Askara. Kau kira semudah itu mengusirku dari kerajaanmu. Setidaknya, aku akan puas dengan niatku ini."
Ternyata ucapan Brananta, diterima langsung oleh Dasamuka. Malam itu juga, Dasamuka melakukan penyerangan secara diam-diam, dari sebelah barat kerajaan Parahyangan.
Kemarahan Dasamuka meluap-luap, membakar seluruh Desa, di sepanjang barat kerajaan Parahyangan. Malam itu, penduduk Parahyangan menjerit dan merintih, karena rumah mereka, telah dibakar oleh pasukan Dasamuka.
Ratusan penduduk kehilangan rumah, kehilangan keluarga dan harta benda. Tak ada yang bisa diselamatkan, dari penyerangan Dasamuka malam itu.
Di malam kedua, Dasamuka menyerang dari sebelah Selatan kerajaan Parahyangan. Ratusan rakyat kehilangan nyawa di malam itu. Sementara raja Askara, tidak mengetahuinya sama sekali.
Di malam ketiga, Raja Dasamuka menyerang dari arah timur, kerajaan Parahyangan. Setelah ribuan penduduk tewas, barulah malam itu raja Askara mengetahuinya.
Seorang telik sandi datang berlari terburu-buru, menghadap Raja Askara. Malam itu, dia melaporkan kejadian penyerangan yang dilakukan oleh raja Dasamuka selama tiga malam berturut-turut.
Mendengar berita yang memilukan itu, raja Askara, langsung mendatangi Desa, yang mendapat serangan oleh prajurit Dasamuka. Dia melihat sendiri, begitu banyak rumah-rumah penduduk yang rusak dan dibakar oleh prajurit Raja Dasamuka. Ratusan penduduknya tewas bergelimpangan, di atas rumah-rumah yang mereka tempati.
Di saat itu, raja Askara memanggil Dea putrinya. Dengan sekejap, Dea pun tiba, di hadapan raja Askara.
Melihat kejadian yang memilukan itu, Dea pun meneteskan air mata. Duka di hatinya sangat pilu. Karena, tak disangka sama sekali, Raja Dasamuka telah menghabisi seluruh rakyatnya. Secara diam-diam, di saat mereka sedang tertidur pulas.
Tak ingin kejadian berikutnya terjadi lagi, Dea telah menunggu pasukan Dasamuka, di sebelah timur kerajaan Parahyangan. Karena dia yakin, malam itu pasukan Dasamuka akan datang menyerang kerajaan Parahyangan dari arah timur.
Benar saja, apa yang dipikirkan oleh Dea. Ternyata prajurit Dasamuka, datang menyelinap di setiap penjuru Desa. Tapi Dea lebih gesit dari apa yang mereka bayangkan, malam itu juga serangan dari prajurit Dasamuka, langsung mendapat balasan dari prajurit Dea.
Pertarungan tak dapat dihindari, Dea membantai begitu banyak prajurit Dasamuka yang datang menyelinap di malam itu. Bagai hantu pemangsa, Dea menghabisi, mereka dengan ganas sekali.
Para penduduk Desa berlarian kocar-kacir, karena ketakutan. Namun situasi, dapat ditangani oleh Dea dengan baik. Sehingga para penduduk, tak lagi kehilangan tempat tinggal mereka.
Setelah penyerangan malam itu, Dea membuat siasat. Dia melakukan penyerangan tepat di pusat kerajaan, seluruh prajurit telah diatur oleh Dea sedemikian rupa. Sehingga Dea merasa yakin, tak akan ada lagi kesempatan, untuk raja Dasamuka melarikan diri.
Di saat penyerangan itu berlangsung, tanpa sengaja, Dea melihat para prajurit kerajaan Angkara, yang berasal dari para menteri yang telah diusir oleh raja Askara.
Wahai Dasamuka, keluar kau! tunjukkan kekuatanmu kepadaku. Lihatlah, ratusan prajuritmu telah habis ku bantai!"
"Kau tidak perlu berteriak-teriak Dea. Akulah lawanmu yang sebenarnya!" ujar Ara di depan gerbang istana.
"Baguslah, kalau kau yang akan menjadi lawanku. Kau tahu Ara, ribuan penduduk kerajaan Parahyangan yang tidak berdosa, telah dibunuh oleh raja mu Dasamuka dan para prajuritnya!"
__ADS_1
"Itu bukan urusanku! karena kau datang sekarang untuk mencari lawan, maka aku akan menghadapimu!" jawab Ara dengan tenang.
"Baiklah, kalau itu mau mu, ayo kita akhiri semuanya. Agar tak ada lagi perselisihan, di antara kita berdua."
Lalu, pertarungan antara Dea dan Ara tak dapat dielakkan lagi. Adu kekuatan di antara keduanya, berlangsung begitu alot dan rumit. Baik prajurit dari Angkara maupun prajurit dari Parahyangan, mereka hanya bisa menonton kejadian itu dari kejauhan.
Dentingan suara pedang, membuat suasana malam itu menjadi bising. Adu kekuatan yang dilakukan oleh Ara dan Dea, membuat kerajaan Angkara bergetar.
Setelah beberapa lama mereka melakukan adu kekuatan, lalu Dea pun, mengeluarkan pedang naga miliknya. Ara yang tampak menyerbu Dea secara membabi buta, terkejut ketika pedang itu keluar dari tangan Dea.
Maafkan aku Ara, sebenarnya aku nggak mau melakukan hal ini. Tapi Ayahmu, Raja Dasamuka, telah membunuh seluruh penduduk kerajaan Parahyangan secara diam-diam."
"Aaaart....Aaaart...!" tampak Ara, menyeringai mengeluarkan kedua taringnya. Dia berjalan seperti zombie menghampiri Dea secara pelan.
Sementara itu, Dea terus memutar cambuk naga miliknya, di atas kepala. Suara desir putarannya, membuat badai kencang melanda kerajaan Angkara.
Seluruh benda-benda yang berada di sekitar kerajaan Angkara, tampak berterbangan akibat tiupan angin dari pedang naga milik Dea.
"Hati-hati Ara! pedangku tidak bermata, dia bisa saja memotong tubuh menjadi beberapa bagian, kalau kau tidak hati-hati!" ujar Dea memperingati sahabatnya itu.
Mesti Dea telah memperingatinya, Ara tak mempedulikan keselamatannya. Dia terus saja menyerang Dea dengan penuh semangat. Dalam pertempuran itu, Ara tak melihat Dea dengan baik. Matanya terasa sedikit kabur, ketika percikan api mulai keluar dari pedang itu.
"Hiaaat...!"
Keduanya tampak saling menyerang, pedang naga milik Dea dilibaskannya ke sana dan kemari. Rasa nyeri pun timbul di hati para prajurit, karena setiap benda yang tersentuh oleh pedagang itu, akan hancur berantakan.
Dampak dari pengaruh pedang naga milik Dea. Angin berhembus dengan kuat, yang disertai dengan petir yang selalu datang menyambar, setiap saat. Suara menggelegar serta getaran yang kuat, dapat mengguncang kerajaan Angkara, hingga porak poranda.
Merasa istananya dalam bahaya, Raja Angkara langsung berlari keluar. Dia berencana hendak menghentikan pertempuran. Namun sayang, pedang naga milik Dea menyambar sebelah kaki kanannya, hingga terputus.
Melihat kondisi Raja Dasamuka terpental, Dea langsung menghentikan putaran
cambuknya, dia pun menghampiri Raja Dasamuka.
Ketika Ayahnya terluka parah, Ara marah. Dia menyeringai dan menyerang Dea dengan membabi buta. Tapi Raja Dasamuka, melarangnya.
"Hentikan nak, hentikan! jangan Serang Dea.
"Kenapa Ayah. Bukankah dia telah memotong sebelah kaki Ayah, dengan pedangnya itu!"
"Dia tak sengaja melakukan itu nak, jika kalian terus saja berperang, maka istanaku akan hancur berantakan."
__ADS_1
Mendengar ucapan Ayahnya, Ara hanya bisa diam saja. Tapi matanya yang tajam, tak henti-hentinya menatap Dea dengan penuh amarah.
Raja Dasamuka memegang kedua tangan Ara dan Dea.
"Maafkan Aku Dea, ulah hasutan para menteri yang telah diusir oleh raja Askara, sekarang aku baru menyadarinya. Ternyata itu hanyalah tipu daya mereka, yang ingin peperangan terjadi, antara kerajaan Parahyangan dan kerajaan Angkara.
Lalu beberapa orang prajurit kerajaan Angkara, keluar dari istana Parahyangan. Dengan menyeret Brananta ke hadapan Dea."
"Dialah yang telah memfitnah antara kerajaan Parahyangan dan kerajaan Angkara," kata Dasamuka, dengan kondisi tubuh yang mulai melemah.
Dea menatap wajah Brananta dan menghunus pedang naga ke perutnya, hingga diapun tewas seketika.
"sementara itu, Ara terus saja merintih di samping tubuh Dasamuka.
"Aku telah banyak membunuh para penduduk Parahyangan dan hari ini, aku akan menerima balasannya. Namun setelah kepergianku nanti, kau pimpin kerajaan ini baik-baik. Jadilah seorang Ratu yang adil nak."
"Ayah mau ke mana?" tanya Ara dengan suara lirih.
"Ayah akan pergi. Semoga hubungan persahabatan kalian, tidak akan rusak dengan kejadian ini," jawab Dasamuka, seraya menutup kedua matanya.
"Ayah...! Ayah...!" mendengar suara jeritan Ara yang begitu memilukan, Dea pun meneteskan air mata.
"Maafkan aku Ara, aku berjanji akan selalu menjaga persahabatan kita untuk selama-lamanya. Kita pimpin rakyat kita dengan adil dan bijaksana."
"Baik Dea. Mulai hari ini, kita akan tetap menjadi AraDea yang selalu bersahabat untuk selama-lamanya.
Senyum bahagia pun terkuak lebar, dari kedua bibir gadis manis ini. Niatnya, untuk menyatukan kerajaan Angkara dan Parahyangan, mulai mereka rencanakan. Mesti ada salah seorang yang menjadi korban, namun mereka berjanji untuk memimpin kerajaan mereka secara adil dan bijaksana.
Raja Askara yang mendengar permintaan kedua orang putrinya tersebut, merasa senang dan bahagia. Lalu dia memeluk kedua gadis manis itu.
Karena kau masih muda dan belum cukup umur, untuk memimpin kerajaan. Maka menetaplah di sini, Aku akan mengajarimu bagaimana cara memimpin suatu kerajaan."
"Baik yang mulia. Hamba sebagai putri dari Raja Dasamuka, memohon maaf kepada yang mulia, atas kecerobohan Ayah hamba. Yang membuat begitu banyak penduduk Parahyangan, tewas secara sia-sia."
Kejadian yang telah berlalu, tak usah kita ungkit-ungkit lagi. Mulai hari ini, pimpinlah kerajaanmu dengan adil dan bijaksana. agar seluruh rakyat merasa senang dan bangga, dengan raja mereka."
Terima kasih yang mulia, atas semua nasihat yang telah diberikan kepada hamba."
Semenjak saat itu, Ara pun tinggal di istana Parahyangan, di bawah bimbingan raja Askara. Mereka hidup damai dan tentram di sana.
Begitu juga dengan Kemuning dan Pandan wangi mereka sering berkunjung ke Nirwana untuk melihat kedua Putri mereka.
__ADS_1
Kebahagiaan tampak jelas mewarnai suasana kerajaan Nirwana, yang terletak di jagat raya.
Tamat.