AraDea

AraDea
Part 38 Rahasia Dea


__ADS_3

"Aku nggak ada mempelajarinya Mel, kelebihan yang kumiliki, sudah ada semenjak aku lahir."


"Wah kau hebat ya Dea, jika aku punya kepandaian sepertimu, pasti aku bangga sekali."


"Karena rasa bangga itulah, makanya kau nggak mempunyai kepandaian seperti itu."


"Loh, kok seperti itu?"


"Aku nggak pernah memperlihatkan kepandaianku kepada orang lain, kecuali kepadamu."


"Benarkah itu, kau hanya memberitahukan hal itu kepada aku seorang, gimana dengan teman-teman yang lain?"


"Mereka nggak ada yang tahu, aku mohon kepadamu tolong kau rahasiakan semua ini dari mereka."


"Oke, aku akan pegang rahasia ini sampai aku mati."


"Wah, janjimu hebat sekali. Apa kau sanggup memegang rahasia itu sampai mati?"


"Insya Allah, aku akan berusaha."


Di saat mereka berdua sedang berbicara, lalu Bu Lita menyuruh anak-anak membuka buku pelajarannya.


"Dengar baik-baik, anak-anak ibu sekalian. Hari ini, kita akan belajar tema 3. Coba kalian buka halaman 24."


" Baik Bu!" jawab semua murid serentak.


Lalu mereka semua mempelajari pelajaran bahasa indonesia pagi itu. setelah selesai belajar, bel istirahat langsung berdering, Dea mengajak Mela istirahat di gerbang depan sekolah.


Saat berdiri di depan gerbang tersebut, tiba-tiba saja dari kejauhan seorang perempuan tua menyeberang jalan. Saat itu, dia kurang memperhatikan, kalau dari arah kanannya, ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi.


Ketika mobil sudah mendekat, si Ibu langsung menjerit histeris. Begitu juga dengan orang yang berada di sekitar tempat itu.


Saat itu, semua orang sudah yakin, kalau ibu itu akan ditabrak oleh mobil tersebut. Karena jarak antara mobil dan ibu itu tidak begitu jauh. Sehingga sulit bagi orang untuk menyelamatkan nya.


Namun di luar dugaan semua orang, ternyata kecepatan mata Dea, langsung menghentikan mobil itu. Hanya berjarak beberapa senti dari Ibu tersebut, mobil itu langsung mundur ke belakang seperti ditarik oleh seseorang.


Andi yang berada di dalam mobil langsung menjerit ketika dia hendak menabrak si ibu. Namun betapa senang hatinya, ketika mobil itu tiba-tiba tertarik ke belakang.


"Aneh, siapa yang melakukan semua ini?" tanya Andi pada dirinya sendiri.


"Kau kah itu yang melakukannya Dea?" tanya Mela.


"Iya, tapi jangan kau bilang ke orang lain, kalau aku yang melakukannya," jawab Dea dengan sikap tenang.

__ADS_1


"Baik, aku janji! nggak akan ngasih tahu siapa pun tentang hal ini."


"Sekarang pergilah ke sana! lihat ibu itu, apakah dia selamat?"


"Baik, aku akan ke sana!" jawab Mela seraya berlari menghampiri ibu yang hendak ditabrak tadi.


Namun, setelah Mela tiba di depan mobil tersebut, Mela melihat ibu itu berada dalam keadaan sehat dan selamat. Tapi, ketika Mela melihat kearah Dea, sahabat nya itu malah telah pergi meninggalkannya.


Karena Dea sudah pergi, Mela langsung berlari meninggalkan tempat kejadian itu. Mela mencari keberadaan Dea di segala tempat, namun Mela tak melihat Dea dimana-mana. Akhirnya Mela ingat, kalau Dea suka memakan kembang. Lalu Mela mencari Dea di kebun bunga di belakang sekolah.


"Hai Dea, ibu itu selamat kok!" seru Mela dari kejauhan.


"Benarkah?" tanya Dea senang.


"Kita ke kantin yuk!" ajak Mela.


"Ngapain ke kantin?"


"Ya sarapan, kamu nggak mau makan jajanan kantin Dea?"


"Nggak, aku nggak suka. Makananku hanya kembang," jawab Dea pelan.


"Kenapa mesti makan kembang Dea? apakah kembang itu dapat mengenyangkan perutmu?"


"Bukankah manusia itu makan nasi Dea, bukan makan kembang."


"Maaf Mel, dari awal aku sudah bilang kan kalau aku nggak sama denganmu. Aku nggak pernah makan nasi, seperti yang kalian makan."


"Maaf, aku lupa kalau kau nggak sama dengan kami. Tapi aku masih bisa berteman kan, dengan gadis cantik sepertimu."


Mendengar perkataan Mela, Dea langsung tersenyum. Hatinya begitu senang, Dea pun memeluk tubuh Mela dengan lembut.


"Tubuhmu begitu wangi Dea," puji Mela terhadap sahabat kecilnya itu.


Dea hanya diam saja, dia hanya tersenyum tak mengomentari apa yang dikatakan oleh Mela. Bagi Dea, hal itu sudah biasa. Karena ibunya pun memiliki aroma tubuh yang sama dengannya.


"Maaf Dea, apakah Mamamu makan kembang juga?"


"Nggak Mel, Mamaku manusia biasa, dia makan nasi sama denganmu."


"Lalu siapa yang makan kembang di rumah, selain kamu?"


"Apa perlu aku menjawab pertanyaanmu Mel. Aku rasa, nggak semua pertanyaan yang bisa aku jawab kan," jawab Dea menyembunyikan identitas Papanya.

__ADS_1


"Ya udah, kalau kau nggak mau mengatakannya nggak apa-apa. Aku nggak marah kok, kita kan teman," ujar Mela sambil membantu Dea mengambilkan beberapa tangkai bunga.


Seraya tersenyum Mela memperhatikan Dea memakan satu persatu kembang yang ada di tangannya.


"Apa sih rasanya Dea?" tanya Mela ingin tahu.


"Enak! kau mau!" Dea langsung menyuguhkan setangkai kembang ke hadapan Mela.


"Oh, aku nggak biasa memakannya Dea. Nanti aku bisa mual dan sakit perut, karena kembang bukanlah makanan kami."


"Kalau kau nggak mau, nggak apa-apa. Aku nggak maksa kok," jawab Dea seraya memakan kembang yang berada di tangannya dengan tenang dan pelan.


"Wah, sebentar lagi jam pelajaran akan dimulai. Ayo kita kembali ke kelas yuk!" ajak Mela pada Dea.


"Pergilah dahulu Mel, bukankah dari jam istirahat tadi, kau belum sarapan. Pergilah ke kantin, Aku akan menunggumu di sini," jawab Dea.


"Nggak dea, aku nggak punya uang, untuk membeli makanan di kantin. Kalau pun aku punya, hanya seribu rupiah dan nggak cukup untuk kita berdua."


"Benar, kau nggak punya uang?"


"Iya Dea. Ibuku, hanya seorang buruh cuci. Sementara Ayahku, dia sudah lama sakit dan tak sanggup lagi mencari nafkah untuk kami. Kata ibu, jika aku ingin bersekolah, Ibu hanya bisa memberi uang sekolah saja dan Ibu nggak sanggup memberi aku jajan."


"Kasihan sekali nasibmu dan keluargamu."


"Terima kasih Dea, kaulah satu-satunya teman baikku."


"Aku juga merasakan hal itu. Seumur hidupku, baru kali ini aku mendapatkan seorang teman yang baik sepertimu."


"Nah, bel sekolah sudah berdering. Kita kembali ke kelas yuk!" ajak Mela pada Dea.


"Ayo, kita kembali ke kelas."


Lalu mereka berdua kembali ke kelas, seraya bergandeng tangan. Hari-hari bagi Dea, adalah sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya. Selain Dia punya dua dunia yang berbeda Dea juga mempunyai sahabat yang baik.


Tidak seperti Kemuning, yang selalu cemas ketika berpisah dengan Ara. Pandan wangi justru senang, Dea menikmati masa kecilnya bermain dengan bebas bersama teman dan orang di Desa nya.


Seperti anak-anak yang lain, Dea juga dibekali ilmu agama oleh orang tuanya. Dea diajari cara membaca ayat suci Alquran dan sholat lima waktu.


Karena Dea memiliki otak jenius, apapun yang diajarkan oleh Pandan wangi kepadanya dengan cepat dapat didapatnya dan langsung dikerjakan.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2