
Mendengar ucapan Danu, Kemuning diam saja. Karena dia tak dapat membantah perkataan Danu. Sebab, menurut Kemuning, Ara memang jalan Danu untuk menuju bumi.
Karena merasa tak senang dengan perkataan Danu, Kemuning langsung pergi. Namun Danu menahan pergelangan tangan Kemuning dan menyuruhnya untuk duduk di sisinya.
"Jangan gitu dong sayang, nggak baik meninggalkan suami ketika dia berada dalam rumah," ujar Danu pada Kemuning.
"Kau salah Bang, kau bukan suamiku yang sah. Suamiku yang sah adalah Bondan."
"Mesti Bondan adalah suamimu yang sah, tapi kau memiliki keturunan dariku. Sementara Bondan, dia tak memiliki apa-apa sama sekali, termasuk seorang putri yang cantik seperti Ara."
Ara yang mendengar perdebatan kedua orang tuanya, mencoba untuk bersikap adil, serta berusaha untuk menghentikan perselisihan tersebut.
"Ayah sama Mama kenapa berantem sih, nanti didengar oleh Papa Bondan, bisa gawat," ujar Ara menasehati keduanya.
Mendengar ucapan Ara, Kemuning baru menyadarinya. Karena, jika Bondan mengetahui perdebatan mereka, Bondan pasti marah dan mengusir keduanya dari rumah.
Lalu Kemuning pun keluar dari kamar Ara, dia tak ingin Bondan mengetahui, perselingkuhannya dengan Danu.
Di saat Kemuning pergi, Danu juga pergi meninggalkan Ara. Tapi sebelum dia pergi, dia berpesan kepada putrinya Ara, agar tidak mengambil Dea sebagai tumbal boneka darah miliknya.
"Kenapa Ayah, boneka Ara sanggup kok, membunuh Dea dan keluarganya."
"Kau bohong Ara, bonekamu nggak akan sanggup membunuh Dea dan keluarganya. Kau tahu kenapa? karena Dea itu memiliki ilmu lebih tinggi darimu. sementara Ibu dan Neneknya, mereka taat beribadah. Boneka iblismu takkan mampu menyentuh mereka."
"Benar yang mulia raja, aku tidak sanggup menghadapi mereka. Rumah Dea terasa butuh panas, aku sudah berusaha mencoba menghisap darah Ibunya, tapi ibunya taat beribadah sehingga tubuhku terpental. Begitu juga dengan Neneknya, mereka sekeluarga adalah orang taat beribadah," jawab boneka darah milik Danu.
"Sekarang Ayah akan kembali ke Angkara, jaga dirimu baik-baik dan jaga boneka ini. Karena di dalamnya, ada telik sandi yang sangat Ayah hargai pengabdiannya."
"Baik Ayah. Aku akan mengingat pesan Ayah itu," jawab Ara dengan suara pelan.
Setelah Danu pergi, Ara langsung marah dan mengacak-acak isi kamarnya, Ara begitu kesal sekali, karena kehendaknya dicegah oleh Ayahnya raja Dasamuka.
Karena kesal tidak mendapatkan darah di malam itu, sebagian tubuh Ara terasa lemah. Sehingga dia tak mampu melakukan ritual pemujaan di balkon rumahnya.
Bondan yang telah membelikan kembang tujuh rupa untuk putrinya tersebut, merasa heran. Kenapa malam itu, dia tak melakukan pemujaan seperti biasanya.
__ADS_1
Rasa penasarannya itu, mendorongnya untuk menemui Ara, Putri tercintanya di kamar. Saat itu, sebenarnya Bondan merasa senang, karena Ara tak melakukan ritual pemujaan lagi.
Akan tetapi, Bondan juga ingin mengetahui apa alasan putrinya, tak melakukan pemujaan di malam itu.
Di balik celah pintu kamar yang terbuka. Bondan memperhatikan Ara, yang saat itu masih sedih dan menangis di atas kasurnya.
Dengan pelan, Bondan pun masuk menghampiri Ara dan duduk di samping Putri tercintanya tersebut.
"Ada apa sayang, kenapa isi kamarmu berantakan sekali?" tanya Bondan heran.
"Papa!" ujar Ara yang saat itu begitu kaget, ketika melihat Papanya sudah berada di sampingnya.
"Kamu dimarahin Mama ya?" tanya Bondan ingin tahu.
"Nggak Pa," jawab Ara singkat.
"Lalu, apa yang membuatmu merasa kesal, sehingga kau mencampakkan semua isi kamarmu?"
Mendengar pertanyaan dari Bondan, Ara hanya bisa diam. Karena dia bingung, mesti menjawab apa. Jika Ara bilang penyebabnya adalah Danu, pasti Papanya akan bertanya siapa Danu itu.
"Ara kesal sama teman-teman di sekolah, mereka menyebalkan sekali. Selalu usil dan mengganggu Ara."
"Benar begitu, mereka suka mengganggu Ara?"
"Iya Pa, mereka usil. Apalagi dengan gadis yang bernama Dea, dia selalu bikin Ara emosi bila dekat dengannya."
"Emangnya kehebatan dia itu apa sih, kok dia bisa begitu usil dan jahat pada mu?"
"Dia selalu menggagalkan rencana Ara, Pa."
"Menggagalkan rencanamu, emangnya Ara punya rencana apa?"
Mendengar pertanyaan Papanya, Ara semakin sulit untuk berkilah. Karena setiap ujung pertanyaan, selalu menjurus ke Ara. Rahasia yang selama ini dia sembunyikan dengan begitu rapat.
"Hmm...! sepertinya semakin aku mencari alasan, maka semakin sulit aku memberi jawabannya," gumam Ara pelan.
__ADS_1
"Gimana sayang, kamu mau nggak cerita sama Papa. Rencana apa yang telah kamu buat di sekolah, yang selalu digagali oleh anak yang bernama Dea tersebut."
"Rencana yang Ara buat di sekolah itu, hanya khusus untuk anak remaja, jadi Papa nggak perlu tahu, kalau Papa tahu berarti acaranya bukan khusus untuk anak remaja dong!" jawab Ara seraya mempengaruhi pikiran Papanya.
"Kalau Ara nggak mau jujur sama Papa, nggak apa-apa. Papa nggak marah kok. Tapi Papa yakin, saat ini Ara sedang menyembunyikan sesuatu dari Papa. Ara tahu, dosa seorang anak itu merahasiakan sesuatu pada orang tuanya."
"Iya Pa, Ara tahu. Sekarang Papa boleh pergi, karena Ara mau tidur, sebab besok arah mau sekolah Pa."
"Baiklah, kalau begitu Papa keluar dulu, jangan lupa baca doa, agar tidurmu tidak diganggu oleh iblis, sehingga kau mimpi buruk."
"Baik Pa, Ara akan dengarkan nasihat Papa."
"Terima kasih sayang," ujar Bondan, seraya berlalu meninggalkan kamar putrinya.
Ketika Bondan telah pergi, Ara langsung melakukan semedi. Dia menerawang, melihat keberadaan rumah Dea yang jaraknya sangat jauh dari rumahnya. Saat itu Ara melihat jelas, kalau keluarga Dea hidup bergelimang harta.
"Hm..! ternyata gadis itu orang kaya raya dari mana ya, dia mendapatkan harta sebanyak itu?" tanya Ara pada dirinya sendiri.
"Bukan hanya sekedar menyelidiki keberadaan harta Dea, Ara juga mencari celah di mana Dea dan keluarganya memasang rajah ghaib untuk melindungi rumahnya, dari pengaruh buruk boneka darah milik Ara.
Setelah berulang kali Ara melakukan penerawangan ke arah rumah Dea, Ara tak ada melihat, kalau rumah itu dipagari oleh ilmu ghaib. Sebab penerangan Ara bisa masuk ke dalam rumah itu, tanpa ada hambatan sama sekali.
"Kurang ajar, ternyata boneka darah itu berbohong kepadaku!" ujar Ara, seraya menekan suaranya agak sedikit pelan.
Merasa tak puas dengan kerja boneka darah miliknya, Ara kembali menyuruh boneka itu untuk mendatangi rumah Dea. Yang malam itu, merupakan incarannya untuk mendapatkan darah, dari gadis yang selalu membuat hidupnya sial.
"Pergilah Kau ke rumah gadis yang bernama Dea!"
"Maafkan Aku yang mulia Ratu, aku nggak berani. Karena rumah itu, telah dilindungi oleh rajah ghaib milik raja dari Nirwana."
"Bohong! kau berbohong padaku. Rumah itu nggak pernah dilindungi oleh rajah apapun, seperti yang kau katakan kepadaku!" bantah Ara dengan emosi.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1