AraDea

AraDea
Part 115 Menyelidiki kerajaan Buana


__ADS_3

Jadi apa yang kita lakukan selama berada di sini?" tanya Donggala ingin tahu.


"Tugas kita hanya menyembah raja Buana. Memberi sesajen, melakukan ritual."


"Waah...! itu sesat namanya. Bukankah selama ini, kita punya keyakinan, bahwa kita harus menyembah Allah. Bukan makhluk."


"Iya, itu benar. Tapi di kerajaan ini, kita disuruh menyembah Raja Buana. Karena menurut pendapatnya, dialah yang menguasai kerajaan ini. Kalau bukan karena dia, kerajaan Buana tak akan berdiri dengan megah seperti ini."


"Wah celaka, ternyata mereka semua telah menipu kita. Jadi, iming-iming kita mau diberi tanah itu, nggak benar ya?"


"Ya Tuan, itu nggak benar. Mereka hanya menipu kita saja."


"Aduh Bang gimana ini, aku takut sekali," ujar istri Donggala ketakutan.


"Tenanglah sayang, nggak akan terjadi apa-apa, mesti kita dikurung di dalam ruangan tertutup ini. Tapi mereka tak menuntut banyak, kecuali hanya menyembahnya."


"Mesti menyembahnya, itu berarti kita telah bertentangan dengan ajaran kita sendiri. Bang aku nggak mau menyembahnya, Bang."


"Ssst...! jangan bicara keras-keras, nanti terdengar oleh prajurit kerajaan Buana dan kita akan menjadi bulan-bulanan mereka."


"Ayah, ini semua karena kecerobohan Ayah," ujar Dirga kesal.


"Iya sayang, maafkan Ayah nak. Sekarang kita harus mencari jalan keluar, gimana caranya lepas dari tempat terkutuk ini."


"Aku nggak tahu Ayah, aku nggak punya solusi untuk itu."


"Gimana dengan mu prajurit, apa kau punya solusi untuk keluar dari tempat terkutuk ini."


"Sudah dua bulan aku mencari jalan, gimana caranya bisa keluar dari tempat ini. Tapi aku nggak berhasil tuan, justru jika kita bersikeras, mereka akan menyiksa kita tuan."


"Benarkah, apakah ada yang sudah disiksa oleh mereka?"


"Sudah banyak tuan. Mereka mencoba melarikan diri, yang akhirnya tertangkap dan mendapat hukuman rajam hingga tewas tuan."


Mendengar cerita prajurit tersebut, putra-putri Donggala berusaha bersembunyi di balik punggung Ayahnya. Mereka semua merasa ketakutan, akan siksaan yang akan mereka alami nantinya.


"Tenanglah sayang, nggak akan terjadi apa-apa denganmu," ujar Donggala menenangkan hati putra-putrinya.


"Tapi aku takut Ayah, mereka nanti akan menghukum kita."


"Tenang sayang, Ayah akan cari solusi, bagaimana agar kita bisa keluar secepatnya dari sini.


"Baik Ayah. Ayah janji akan segera membawa kita keluar dari sini kan."

__ADS_1


"Iya nak, kita akan segera keluar dari tempat ini."


Semenjak hari pertama Donggala masuk ke dalam aula kerajaan Buana, hingga beberapa hari kemudian. Dia tak juga mendapat sedikitpun celah, untuk bisa keluar dari tempat itu.


Sementara di kerajaan Parahyangan, semua menteri dan para petinggi kerajaan telah berkumpul di alun-alun istana. Raja Askara tampak berdiri di depan singgasananya.


"Putriku, putriku Dea Chandra Maya, datanglah ke Nirwana. Secepatnya!" perintah raja Askara.


Beberapa saat setelah Raja Askara memanggil putrinya, Dea langsung muncul, di hadapan seluruh rakyat dan para petinggi kerajaan.


"Ampunkan hamba yang mulia, adakah perintah yang akan hamba laksanakan. Sehingga Paduka Raja, memanggil hamba."


"Benar sayang, duduklah dulu. Ada berita mengerikan yang telah melanda kerajaan kita saat ini."


"Berita apakah itu yang mulia?"


"Di sebelah selatan kerajaan Parahyangan, telah berdiri kerajaan baru bernama Buana. Yang dipimpin oleh seorang raja yang bernama Buana. Itu sebabnya, kerajaannya bernama kerajaan Buana."


"Lalu, ada apa dengan kerajaan Buana yang mulia?"


"kerajaan Buana, telah melakukan penipuan. Terhadap beberapa orang rakyat dan para prajurit kerajaan Parahyangan. Kerajaan Buana, telah mengiming-imingi rakyat kita, dengan berbagai macam kemewahan. Bahkan mereka memberi sebidang tanah, jika rakyat kita mau berpindah tempat ke kerajaan Buana."


"Apakah para prajurit dan para petinggi kerajaan ini, berpindah ke sana yang mulia?"


"Benarkah begitu?"


"Ya, aku melihat sendiri dari bola kristal istana. Mereka semua, berada di suatu tempat yang sangat gelap sekali. Mereka tidak mendapat izin keluar walau hanya sebentar."


"Benarkah, mereka semua rakyat dari Parahyangan?"


" Benar putriku. Mereka pergi secara diam-diam ke sana, karena Raja Buana mengiming-imingi harta dan sebidang tanah kepada mereka."


"Sekarang apa yang akan padukan perintahkan kepada hamba?"


"Pergilah, ke kerajaan Buana. Selidiki, apa benar Raja Buana telah menipu rakyat kita, atau benar mereka mendapatkan sebidang tanah yang mereka harapkan."


"Jika benar mereka menipu kita, lalu apa yang harus hamba lakukan yang mulia?"


"Buatlah perdamaian perang, agar Raja Buana bersedia mengembalikan seluruh rakyat dan prajurit kita."


"Jika Raja Buana tidak mau, bagaimana mulia?"


"jika Raja Buana tidak mau mengembalikan para prajurit dan rakyat kita, maka kita akan menyerang kerajaan itu hingga hancur berantakan. Sehingga impian mereka pun untuk menjadi seorang Tuhan, takkan pernah terwujud lagi."

__ADS_1


"Apa maksud yang mulia?"


"Selama ini, Raja Buana menganggap dirinya, adalah Tuhan yang harus disembah. Oleh para rakyat dan prajuritnya."


"Astagfirullah, berarti dia mengembangkan ajaran sesat yang mulia."


"Benar putriku, dia mengembangkan ajaran sesat di kerajaannya. Seluruh rakyat dan prajuritnya wajib menyembahnya. Karena kehebatannya, kerajaan Buana yang megah itu bisa berdiri kokoh dan kuat."


"Kalau begitu, hamba akan melaksanakan perintah itu sekarang yang mulia."


"Ingat putriku, jangan sampai kejadian yang telah lewat terulang lagi. Sekarang tugasmu, hanya menyelidikinya, bukan untuk menyerang. Karena dengan menyerang secara tiba-tiba, banyak rakyat yang akan menjadi korban."


"Baik yang mulia, kalau begitu hanya hamba akan membawa beberapa orang telik sandi saja."


"Lakukanlah sekarang!" perintah raja Askara.


"Baik yang mulia," jawab Dea, seraya mengundurkan diri dari hadapan raja Askara.


Dengan langkah tergesa-gesa, Dea langsung menuju, ke arena pelatihan para prajurit istana.


Melihat kedatangan Dea, seluruh prajurit bersorak riang gembira. Karena jendral perang mereka, telah kembali dengan berseragam lengkap.


"Wahai prajuritku, tugas akan segera menanti kita. Siapkan diri kalian, berlatihlah dengan baik dan benar. Karena sebentar lagi, kita akan berangkat ke kerajaan Buana."


"Apakah kami harus menunggu yang mulia?" tanya seorang prajurit kepada Dea.


"Ya benar. Untuk kali ini, aku bersama telik sandi akan menyelidiki tempat kerajaan Buana terlebih dahulu. Setelah perundingan gagal, maka kita akan menyerang mereka semua!"


Setelah Dea bicara, pada seluruh prajurit. Lalu Dea memanggil beberapa orang perwakilan prajurit, untuk datang ke depan.


"Kepada beberapa orang perwakilan prajurit itulah, Dea memberitahukan langkah-langkah dan trik, bagaimana cara menyerang kerajaan Buana untuk sementara waktu. Jika situasinya terdesak.


"Kalian paham?"


"Paham yang mulia!"


"Baiklah, untuk kali ini aku akan membawa dua puluh orang telik sandi dan para prajurit andalan. Untuk menyelidiki terlebih dahulu situasi di kerajaan Buana."


"Baik yang mulia," jawab salah seorang prajurit yang saat itu langsung memerintahkan dua puluh orang prajurit pilihan untuk mengikuti Dea, menuju kerajaan Buana.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2