
“Ya udah Bu, aku kekamar dulu.”
“Iya nduk,” jawab Yeni yang masih memandangi putrinya dari belakang.
Keesokan harinya saat Yeni pergi kepasar. Tuti, tetangga dekat Yeni datang menghampiri Yeni yang sedang memilih sayur.
“Banyak sekali Bu Yeni membeli sayurnya?” tanya Tuti ingin tahu.
“Iya, karena saat ini Pandan sedang hamil.”
“Ooo, jadi pandan lagi hamil ya?”
“Iya, Bu,” jawab Yeni seraya tersenyum manis.
“Kenapa ya, Yen. Kok Pandan nggak pernah keluar rumah semenjak dia menikah.”
“Kenapa Bu Tuti bertanya seperti itu?”
“Kenapa, nggak boleh saya bertanya?”
“Ibu sadar nggak dengan pertanyaan yang Ibu ucapkan?”
“Kau nggak usah marah dong, Yen.”
“Aku nggak marah, hanya saja kau mungkin sudah lupa, dengan ucapan mu delapan tahun yang lalu.”
“Aku nggak lupa kok, aku bilang begitu, karena putrimu sudah menikah, kalau masih gadis, aku juga nggak izinkan dia keluar rumah.”
“Dasar ular!” ujar Yeni kesal.
“Orang cuma bilang begitu doang, langsung saja menyembur kayak air comberan, yang sedang meluap.” Tuti pun ngomel sepanjang jalan.
Melihat Tuti ngomel terus, Dewi yang mendengarnya langsung menghampiri perempuan yang memiliki lidah ular tersebut.
“Hei Tuti, kenapa ngomel terus. Dari tadi saya perhatikan kayaknya kamu nggak berhenti bicara?” tanya Dewi heran.
“Tuh, Si Yeni, masa nanya anaknya doang dia langsung marah, aneh kan?”
“Emangnya kau tadi nanya apa, sama Yeni?”
“Aku cuma nanya, kenapa Pandan nggak pernah keluar rumah semenjak dia menikah.”
“Emangnya kau kepingin, melihat Pandan keluar rumah dan menegur suami kita.
Apa kau sudah lupa, kalau Pandan memiliki aroma tubuh yang sangat wangi.”
“Mana mungkin aku lupa.”
“Ya udah, kalau kau nggak lupa, ingat terus dong.”
“Iya, ya,” jawab Tuti dengan mulutnya yang bawel.
__ADS_1
Setelah Dewi pergi Tuti langsung pulang kerumahnya. Ketika dia tiba di depan pintu, Tuti menyempatkan diri melirik kearah rumah Pandan yang tampak sepi.
Sebenarnya hampir setiap pagi Tuti melirik kearah rumah Pandan, namun tak sekalipun dia melihat gadis cantik itu berada di luar rumah.
Di saat Tuti sedang mengintip dari sudut rumahnya, tiba-tiba saja suaminya datang dan memegang pundaknya dari belakang.
Hal itu membuat Tuti terkejut dan langsung terjungkal kebelakang, Tuti marah dan memukul suaminya yang tampak tertawa melihat Tuti terjatuh.
“Iiih, kamu Bang, ngagetin aja tau!”
“Habis, abang perhatikan hampir setiap pagi, kau selalu melirik kearah rumah Pandan, kau lagi lihatin apa?” tanya Edi ingin tau.
“Mau tau aja, urusan orang.”
“Kok kamu marah di tanyain?”
“Siapa juga yang marah, habis Abang kelihatanya ngotot banget mau tahu.”
Mendengar jawaban istrinya, Edi hanya tersenyum manis, dia tahu kalau istrinya paling nggak suka melihat Pandan, oleh sebab itu, Edi hanya tersenyum saja.
“Kamu tau nggak Ti, udah delapan tahun lho, Pandan nggak pernah keluar rumah karena kalian melarangnya.”
“Biar aja, emangnya itu urusan gue!”
“Ya urusan mu lah, bukankah yang paling bersemangat bicara waktu itu adalah kamu!”
“Ooo, jadi abang udah rindu melihat wajah Pandan!”
“Itu bukan urusan kita bang. Lagian sewaktu pesta kalian kan udah puas melihat wajahnya, bahkan sampai tujuh hari tujuh malam lagi.”
“Emangnya, kurang kerjaan apa, cuma hanya melihat wajah Pandan.”
“Nggak usah munafik kamu Bang.”
Mendengar jawaban istrinya yang mulai meninggi, Edi langsung masuk kedalam. Edi nggak mau membahas masalah Pandan pada istrinya, karena istrinya sudah lama menaruh rasa cemburu pada gadis wangi itu.
Sore hari ketika Tuti sedang menyapu halaman belakang rumah, tak sengaja dia melihat Pandan yang sedang duduk bermesraan dengan suaminya.
Namun, setelah dia melihat wajah Pandan, Tuti malah terkapar nggak sadarkan diri di halaman belakang. Nunik yang melihat Mama nya nggak sadarkan diri, dia langsung menjerit dengan histeris.
Sementara Edi yang mendengar putrinya menjerit, dia pun langsung berlari kebelakang rumah untuk melihat apa yang terjadi.
“Kamu kenapa menjerit sayang?” tanya Edi ingin tahu.
“Ibu, Pa. Ibu pingsan di belakang,” jawab Nunik panik.
Mendengar penjelasan dari putrinya, Edi pun berlari ke halaman belakang rumah, benar saja apa yang di katakan putrinya, kalau saat itu Tuti sedang terkapar tak sadarkan diri di belakang rumah.
“Mama mu kenapa Nik?” tanya Edi pada putrinya.
“Aku nggak tau Pa, tadi saat aku kebelakang aku melihat Mama udah nggak sadarkan diri tergeletak disini,” jawab Nunik seraya menangis karena kuatir.
__ADS_1
“Ayo bantu Papa, ngangkatin Mama kedalam.”
“Baik Pa,” jawab Nunik seraya membantu mengangkat tubuh Mamanya yang pingsan.
Setibanya di dalam kamar, Tuti langsung sadar dan melihat di sekelilingnya. Tuti merasa heran kenapa saat itu dia sudah berada di dalam kamarnya.
“Kenapa, mengapa dengan Mama nak?” tanya Tuti heran.
“Kami nemukan Mama nggak sadarkan diri di belakang rumah, Mama kenapa pingsan?”
“Mama melihat suami Pandan berpakaian seperti seorang raja.”
“Berpakaian seorang Raja? Kamu salah kali!” bantah Edi pada istrinya.
“Aku nggak salah lihat Bang, aku melihat Pandan bersama suaminya tadi duduk di belakang rumah, ketika aku sedang menyapu halaman.”
“Ya sudah, kalau memang suami Pandan berpakaian seorang Raja, kenapa kamu yang merasa sakit dan pingsan?”
Mendengar ucapan suaminya, Tuti hanya diam saja. Tuti sadar kalau perbuatannya itu terlalu berlebihan.
Sedangkan Pandan yang duduk bersama suaminya saat itu, dia tak mengetahui kalau Tuti sedang pingsan ketika melihat suaminya. Namun tidak dengan Askara, dia sengaja memperlihatkan hal itu, agar Tuti merasa jera.
Semalaman Tuti tidak bisa tidur, pikirannya selalu tertuju pada Pandan dan suaminya, dia bertanya-tanya di dalam hati.
“Siapa ya suami Pandan itu yang sebenarnya? Kalau emang dia itu manusia biasa, lalu kenapa dia berpakaian seperti seorang pangeran.”
Hingga pagi hari pertanyaan Tuti tak pernah terjawab, namun sikap ingin tahunya mendorong Tuti untuk mendatangi rumah Yeni.
“Tok, tok, tok!”
Mendengar pintu di ketuk dari luar, Yeni langsung bergegas untuk membukanya, namun saat dia hendak menghampiri pintu, Askara langsung melarang Ibunya untuk membukanya.
“Jangan di buka Bu,” ujar Askara dengan suara pelan.
“Kenapa nak?”
“Nggak ada gunanya, jika Ibu bukakan, itu hanya akan menambah sakit hati Ibu aja.”
“Kok kamu tau, kalau Ibu buka pintu akan menambah sakit hati Ibu aja?”
“Kalau Ibu nggak percaya, silahkan Ibu buka pintunya.”
Mendengar ucapan dari anak mantunya Yeni merasa ragu untuk membukanya, namun karena Askara tetap memaksa, akhirnya Yeni membukakan pintu itu.
“Ada apa?” tanya Yeni ketika melihat wajah Tuti di depan pintu.
“Boleh aku masuk?”
“Nggak, kalau kau mau bicara bicarakan aja di sini, nggak perlu masuk kedalam,” jawab Yeni pelan.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*