
"Jadi kau berani melawan kami?"
"Emang. Kenapa? kau kira aku takut denganmu. Kalian boleh menghadapiku sekaligus, nggak usah satu persatu kita nggak perlu adu tanding."
"Jumawa kamu! satu orang saja kau belum tentu bisa melawan. Apalagi kami semua yang akan kau lawan. Jangan berharap kau bisa hidup dan terlepas dari kami."
"Baik, nggak perlu banyak bicara. Ayo, kita mulai!"
Lalu, mereka semua mengambil ancang-ancang, untuk untuk melakukan pertarungan.
"Hiaaat...!"
Dan pertarungan pun, tak dapat dielakkan lagi. Mereka saling adu kekuatan. mesti Dea saat itu sendirian, bagi makhluk itu Dea bukanlah lawan yang sepadan dengannya, beberapa di antara makhluk itu, telah dilumpuhkan oleh Dea dengan mudahnya.
Walaupun mereka kewalahan, namun mereka tetap terus menggempur dan menyerang Dea, dengan serangan yang membabi buta. Mesti demikian, Dea tak pernah gentar, menghadapi mereka. Satu persatu makhluk itu, dapat dilumpuhkan dengan mudah."
Setengah jam telah berlalu, pertarungan itu belum juga usai. Karena makhluk itu, seperti mendapatkan kekuatan gaib. Setiap kali dia dapat dilumpuhkan, maka secepat itu pula dia kembali berdiri dan menghajar Dea.
"Hm...! ternyata kalian tak bisa dianggap remeh. Sepertinya, ada yang telah membantu kalian."
"Kau tahu siapa kami, bocah?"
"Siapapun kalian. Kalian semua adalah prajurit dari Angkara."
"Benar. Kami adalah prajurit dari Angkara, kami ini adalah pasukan zombie kerajaan."
"Ooo, pantasan kalian begitu sulit untuk dibinasakan. Kalau begitu, aku harus menggunakan kekuatan lain untuk menghancurkan kalian.
Lalu, Dea duduk seperti orang sedang bersemedi. Saat itu, Dea meminta pedang naga dari raja Angkara.
"Prabu Askara, kembalikan pedang naga milikku, Aku akan melakukan sesuatu untuk prajurit Angkara ini."
Di saat itu, tiba-tiba saja di punggung Dea, telah terdapat dua pasang pedang yang sangat tajam.
Pedang itu seperti cahaya, mirip dengan sebuah cambuk. Dia meliuk-liuk, siapa yang terkena sabetan pedang itu, tubuhnya langsung terputus dan terpisah.
Melihat pedang itu, makhluk dari Angkara, langsung ketakutan. Dia bermohon kepada Dea, agar segera menghentikan pertarungan.
"Kenapa! kalian takut?" tanya Dea pada makhluk itu.
"Benar yang mulia, itu adalah pedang naga. Setiap yang terkena sabetan pedang naga, dia takkan pernah selamat, karena tubuhnya akan terpotong dan terpisah dengan sendirinya."
__ADS_1
"Benar. Ini adalah pedang naga, milik raja Askara, dari kerajaan Parahyangan. Kami bisa saja membunuhmu, dengan menggunakan pedang ini. Tapi karena kau bermohon untuk tidak melanjutkan pertarungan, maka aku pun mengabulkan permohonanmu."
"Terimakasih yang mulia!"
"Sekarang kembalilah kau ke angkara. Katakan pada rajamu, bahwa aku telah terlanjur mengabarkan berita itu kepada Kemuning."
"Baik yang mulia," ujar makhluk itu seraya menghilang dari hadapan Dea.
Seiring dengan kepergian makhluk itu, pedang naga milik Dea pun langsung menghilang. Dea pun berjalan kembali seperti biasa, menuju rumahnya.
Setibanya di rumah, Dea bertemu dengan ibunya, Pandan wangi. Saat itu dia sedang duduk, seraya membaca buku di dalam ruang tamu.
"Kamu dari mana sayang? kenapa lama sekali kembalinya?"
"Aku dari rumah Ara, Bu!"
"Ngapain kau ke sana nak?"
"Aku mengabarkan kepada Ibu Ara, bawa Ara, saat ini sedang berada di Angkara. Dia sedang menjalani hukuman yang diberikan raja Dasamuka."
"Kenapa Ara mendapatkan hukuman nak?"
"Aku nggak tahu Bu, tapi aku harus ke Angkara, untuk melihat kondisi Ara di sana."
"Kenapa Bu?"
"Karena itu, bukan urusanmu. Ara dihukum oleh Ayahnya sendiri, berarti Ara punya kesalahan yang tak bisa dimaafkan."
"Iya juga sih. Ara orangnya sangat keras, dia tak pernah mau mengalah. Setiap ucapannya harus terbukti dan tak boleh gagal. Sama dengan niatnya untuk membunuhku, mesti hari ini gagal, namun dia tetap berusaha untuk mengulanginya kembali."
"Kalau kau sudah tahu, lalu kenapa kau bersikeras untuk menyelamatkannya. Bukankah selama ini, dia selalu ingin menghabisimu, bahkan menyakiti keluargamu."
"Tapi dia temanku Bu. Mesti bagaimanapun, dia akan tetap menjadi temanku."
"Dia bukan temanmu Dea, dia itu musuhmu. Dia selalu ingin menghabisimu dan seluruh prajuritmu. Jika dia tiada semestinya kau bangga dan senang. Karena kerajaanmu akan terlindungi dan aman."
"Aku ini seorang Satria Bu, aku tidak boleh bersikap picik dan berbuat licik. Karena hal itu, akan merusak jiwa satriaku."
"Putriku Dea, jika kau datang ke Kayangan dan menyelamatkan Ara dari hukuman Ayahnya. Itu sama artinya, kau telah menggali lubangmu sendiri dan membuat seluruh prajuritmu akan menderita."
"Ibu benar, apa yang Ibu katakan semuanya benar dan aku nggak pernah membantahnya. Tapi aku sebagai seorang Satria, telah berjanji untuk menyelamatkan Ara dan mengembalikan dia pada ibunya."
__ADS_1
"Apa maksudmu Dea?" tanya Pandan wangi tak mengerti.
"Seorang Satria, harus bertanggung jawab dengan ucapannya. Teguh dengan janji, yang telah dibuatnya sendiri. Pantang untuk mengingkari, seberat apapun rintangan yang akan dihadapi nantinya."
"Mama nggak pernah melarangmu, untuk menolong orang lain. Tapi untuk kali ini, pikirkanlah terlebih dahulu. Apa yang akan kau kerjakan, apakah baik untuk dirimu, prajuritmu dan kerajaanmu sendiri."
Mendengar ucapan Mamanya, Dea hanya diam merenung. Mamanya berkata benar. Jika salah dalam melangkah, maka kerajaannya lah yang akan menjadi korban.
"Baiklah Bu, kalau itu yang Ibu katakan. Aku akan menunggu waktu yang tepat, untuk menyelamatkan Ara."
Setelah Dea selesai bicara dengan Pandan wangi, dia pun langsung menuju kamarnya untuk beristirahat sejenak.
Ketika Dea hendak memejamkan matanya, Dea mendengar satu bisikan ghaib di telinganya. Bahwa raja Askara, telah memerintahkannya untuk kembali ke Nirwana."
"Ada apa yang mulia? apakah kau sedang memerintahkan aku untuk kembali ke Nirwana?"
"Benar putriku, Dea Chandra Maya. Hari ini prajurit dari Angkara, akan menyerang kerajaan Parahyangan. Dipimpin langsung oleh Putri Ara sendiri."
"Apa! Putri Ara?"
"Ya benar, menurut telik sandi kerajaan, Putri Ara, telah berubah menjadi makhluk yang ganas dan mengerikan."
"Baiklah, hamba akan datang ke istana Parahyangan sekarang juga," jawab Dea dengan suara lembut.
Setelah selesai bicara dengan raja Askara, Dea langsung berpamitan dengan Pandan wangi, untuk pergi ke Nirwana.
Silakan putriku, jaga dirimu baik-baik selama berada di medan perang. Karena kedatangan lawan tidak bisa kau duga sama sekali."
"Baik Ma, nasihat dari Mama, akan aku laksanakan dan kujaga dengan baik."
Di saat Mereka bicara, lalu Dea pun menghilang dari pandangan Pandan wangi.
Tak butuh waktu lama, Dea sudah tiba di hadapan yang mulia raja Askara.
"Ampun beribu-ribu ampun yang Mulia, hamba Dea Chandra Maya telah datang menghadap yang mulia."
"Putriku, ada tugas berat yang akan kau emban. Hari ini, kerajaan Angkara telah menyerbu wilayah kita dari sebelah utara. Mereka kembali menduduki desa-desa, yang berada di sebelah utara wilayah Parahyangan. Tugasmu, bahwa prajurit secukupnya dan hadang mereka!"
"Baik yang mulia! titah yang mulia akan hamba laksanakan dengan sebaik-baiknya."
"Ingat putriku Dea Chandra Maya, musuhmu hari ini jauh lebih kuat dan lebih hebat dari hari-hari sebelumnya."
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*