
"Coba tunjukkan pada Mama, kekuatan apa yang Ara miliki, sayang?"
"Kenapa Mama menanyakan hal itu, untuk apa?"
"Mama hanya ingin melihatnya saja, sayang."
"Nanti Mama bisa takut loh."
"Nggak sayang. Mama harus melihatnya, agar Mama tahu, siapa anak mama sebenarnya.
Karena itu permintaan Kemuning, Ara pun terpaksa mengikutinya. Dia mencoba merubah bola matanya yang indah itu menjadi hitam dan dari sudut tengah kedua matanya mengalir darah berwarna hitam.
Setelah itu, dari sudut bibir keluar taring yang panjang hingga menutupi sebagian bibirnya. kemuning merasa takut, ingin sekali dia berlari menjauhi Ara. Namun karena itu adalah permintaannya, Kemuning berusaha untuk tetap tenang dan tegar agar Ara tidak tersakiti.
"Sudah cukup sayang. Mama sudah tahu siapa kamu dan siapa Ayahmu," jawab Kemuning dengan tenang.
"Jadi mama nggak takut ya, melihat wajah Ara?" tanya Ara ingin tahu.
"Kenapa mesti takut sayang, Ara kan anak Mama, darah daging Mama dan Mama yang telah melahirkan Ara."
Mendengar kata Kemuning, Ara semakin lega. Karena selama ini, Ara selalu menutupi keburukan wajahnya kepada Kemuning. Namun, setelah Kemuning mengatakan, kalau dia tidak takut kepada Ara maka Ara pun menjadi senang.
"Kalau begitu, mari kita lanjutkan perjalanan kita Ma, agar Papa dapat kita selamatkan dari makhluk itu."
"Baik sayang, kita akan selamatkan Papa sekarang. Mama yakin, ini pasti ulah Ayahmu Danu. Dia kesal kepada kita karena kita tidak melakukan pemujaan kepadanya."
Lalu mereka berdua melanjutkan perjalanan mencari keberadaan Bondan, yang dibawa makhluk halus ke dalam hutan. Setelah begitu jauh tibalah Ara di tempat yang dituju. Benar saja, di bawah pohon kayu yang besar tampak Bondan sedang duduk Seraya menundukkan kepalanya.
"Papa!" panggil Ara tepat di belakang Bondan.
Mendengar namanya dipanggil, Bondan langsung memalingkan wajahnya. Betapa bahagianya dia saat itu, ketika dilihatnya ada Kemuning beserta putrinya di sana.
"Kamu kah ini sayang?" tanya Bondan seraya memeluk Putri kecilnya.
"Iya Pa, ini Ara. Ayo kita keluar dari tempat ini Pa, sebelum makhluk itu menyiksa Papa."
"Baik sayang, kamu benar-benar anak yang pintar!" puji Bondan saat itu.
"Sekarang Papa pegang tangan Ara dengan kuat, jangan pernah Papa membuka mata begitu juga dengan Mama. Karena kita akan kembali ke rumah saat ini."
Setelah Ara mengucapkan satu kalimat, tiba-tiba saja dia sudah berada di dalam rumahnya bersama Bondan dan Kemuning.
"Nah, sekarang buka mata kalian, Papa dan Mama pasti terkejutkan?" tanya Ara seraya tersenyum lebar.
"Wah, benar. Kita sudah tiba di rumah sayang. Tapi Papa heran, kenapa kamu punya kepandaian seperti itu nak?" tanya Bondan ingin tahu.
__ADS_1
"Aku belajar Pa," jawab Ara berbohong.
"Belajar, belajar dari siapa?" tanya Bondan lagi.
Namun, ketika Bondan menanyakan hal itu, Kemuning langsung mengalihkan pertanyaan tersebut, agar Bondan tidak mempertanyakan hal itu lagi kepada Ara. Karena Kemuning takut, jika Bondan mengetahui hal itu dari Ara, maka Bondan pasti merasa yakin, kalau Ara bukanlah darah dagingnya.
"O iya, Mas pasti capek kan, sebaiknya istirahat dulu, nanti kita lanjutkan ceritanya," ajak Kemuning seraya menggandeng tangan suaminya.
"Tapi Mas belum selesai bertanya sayang, di mana Ara mendapatkan kepandaian itu?"
"Iya Mas, nanti setelah Mas Bondan selesai istirahat, kan bisa bertanya lagi sama Ara. sekarang Mas istirahat dulu, Mas pasti capek kan?"
"Ya udah, Mas mau istirahat dulu. Tapi kamu harus ingatkan nanti ya sayang, Mas mau nanya sama ke Ara. Siapa yang telah mengajarkan ilmu itu kepadanya."
"Kenapa kamu begitu ngotot sih, Mas?" tanya Kemuning ingin tahu
"Karena Mas, ingin belajar hal serupa pada Ara."
"Buat apa Mas?" tanya Kemuning semakin penasaran.
"Buat jaga diri, karena selama ini Mas selalu diikuti oleh makhluk berbulu tebal itu. Nggak siang, nggak malam, dia selalu ada di belakang Mas, mesti kemanapun Mas pergi, dia tetap mengikutinya."
"Benarkah begitu, Mas?"
"Iya sayang," jawab Bondan singkat.
"Untuk apa, justru jika Mas kasih tahu kamu malah tambah ketakutan Kemuning. Karena bentuk makhluk itu sangat mengerikan sekali."
"Benarkah begitu Mas?"
"Iya sayang."
Di saat Bondan terus bercerita, Kemuning pun mempersiapkan semua kebutuhan untuk mandi maupun pakaian tidur suaminya.
Setelah selesai mempersiapkannya dan meletakkan di atas kasur, lalu Kemuning keluar dari kamar itu dan menuju kekamar Ara.
Saat Kemuning mengintip dari luar, dia melihat Ara sedang bermain dengan boneka darahnya. Namun Kemuning tidak mengetahui, kalau boneka itu selalu mencari tumbal setiap bulan purnama.
"Kamu lagi ngapain sayang?" tanya Kemuning ingin tahu.
"Ara sedang bermain dengan boneka pemberian Mama ini," jawab Ara, seraya tersenyum manis.
Lalu, Kemuning pun menghampiri putrinya itu. Dia melihat putrinya begitu asyik bermain boneka, lalu dengan pelan Kemuning membisikkan sesuatu ke telinga Ara.
"Jika nanti Papa Bondan bertanya, tentang kepandaian yang Ara miliki, jangan kasih tahu kepadanya. Kalau Ara mempelajarinya dari orang lain."
__ADS_1
"Lalu Ara Mesti jawab apa nanti, Ma?"
"Alihkan pertanyaan Papamu dengan berbagai macam alasan."
"Kenapa menyembunyikannya sih, Ma?"
"Karena Papamu nggak perlu tahu tentang hal itu."
"Baiklah, kalau itu memang perintah Mama, Ara nggak akan ngasih tahu Papa tentang kelebihan yang anda miliki.
"Bagus, kamu harus tetap diam dengan kepandaian dan kelebihanmu itu."
"Baik Ma. Ara janji, Ara nggak bakalan ngasih tahu siapapun tentang, siapa Ara sebenarnya."
"Pintar, kamu memang Putri Mama yang paling pintar," puji Kemuning Seraya memeluk Putri kecilnya itu.
Setelah Bondan selesai mandi dan berpakaian, lalu dia pun bergegas menuju kamar Ara, rasa ingin tahunya mendorongnya untuk bertanya.
"Kamu udah selesai mandi mas?" tanya Kemuning ingin tahu.
"Udah sayang, nah sekarang kita lanjutkan pertanyaan tadi."
"Pertanyaan yang mana Pa?" tanya Ara
"Itu, yang tadi Papa mau tahu. dari Mana Ara mendapatkan kepandaian itu?"
"Masa Papa nanya itu terus sih, Ara nggak punya jawaban ya Pa. Ara mau Papa belikan kembang untuk Ara. Saat ini Ara udah lapar sekali.
"Iya, nanti Papa belikan. Tapi jawab dulu pertanyaan Papa ini."
"Ayolah Pa, belikan Ara kembang sekarang. Ara udah lapar nih," ujar Ara seraya menarik tangan Bondan untuk keluar dari kamarnya.
"Tapi sayang mobil Papa kan udah terbakar, Papa nggak punya mobil lagi sekarang nak."
"Kan ada mobil Mama di luar. Papa bisa pakai kok untuk beli kembang."
Saat Ara bicara, Kemuning langsung mengambil kunci mobilnya dan melemparkannya ke Bondan.
"Nanti setelah Papa kembali dari toko bunga, Papa mau bertanya pada Ara tentang kepandaiannya Ara miliki.
"Kenapa Papa begitu ngotot sih ingin tahu, dari mana Ara dapat kepandaian itu?"
"Papa ingin belajar juga nak, agar Papa nggak selalu bergantung kepadamu," jawab Bondan pelan.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*