
Pagi itu. Seperti biasa, Dea berangkat ke sekolah sendirian. Dea tak mau diantar oleh Pandan maupun Neneknya. Dea lebih memilih berjalan kaki sendirian pergi sekolah.
Di saat Dea berjalan sendirian, tiba-tiba dia dipepet oleh sebuah mobil yang berwarna silver. Dea terkejut dan langsung melompat ke pinggir.
"Ya Allah, mobil siapa itu. Teganya dia menyerempet ku. Untung saja aku sigap dan melompat. Kalau nggak, pasti mobil itu sudah menabrak ku."
Melihat Dea hampir terjatuh, Ara langsung menoleh keluar dan mengulurkan lidahnya kepada Dea.
"Dasar orang jahat," ujar Dea, seraya melempar mobil itu dengan tanah liat. Namun lemparan Dea tepat mengenai kaca mobil tersebut hingga kaca itu pun pecah.
Karena kaca mobilnya pecah, sang pemilik mobil langsung turun dan menghampiri Dea yang berpura-pura terjatuh.
"Kamu nggak apa-apa Nak?" tanya Bondan ingin tahu.
"Aku baik-baik aja kok Pak," jawab Dea sembari menoleh ke pria yang berada di hadapannya.
"Kamu?" tanya Bondan heran.
"Bapak," jawab Dea seraya berusaha untuk berdiri.
"Kamu kan yang pagi itu datang ke rumah Bapak?"
"Benar Pak, aku yang datang ke rumah Bapak pagi itu."
"Ayo barengan sama Bapak pergi sekolah, di mobil ada putri Bapak lho, namanya Ara."
"O ya, Bapak mau ngajak saya?" tanya Dea dengan perasaan ragu.
"Iya, ayo!" ajak Bondan seraya memegang pergelangan tangan Dea.
"Lalu, bagaimana dengan kaca mobil Bapak yang pecah?" tanya Dea ingin tahu.
"Nggak apa-apa, nanti akan Bapak ganti ke bengkel. Yang terpenting kamu selamat," ujar bondan.
"Gembel Mana sih Pa, yang dibawa itu?" tanya Ara pada Bondan Papanya.
"Ssst, dia itu bukan gembel sayang, dia itu temanmu," jelas Bondan kepada putrinya.
"Temanku, rasanya aku nggak ada punya teman sepertinya. Lihat wajahnya, begitu kumal sekali. Apakah Papa nggak bisa membedakan dia itu siapa dan aku siapa."
"Aku tahu kok kau siapa!" jawab Dea dengan polos.
"Hah...! kau tahu siapa aku?"
"Iya, aku tahu siapa kau, asal usul mu, siapa ayahmu dan siapa ibumu."
Mendengar jawaban Dea, Ara langsung keluar dari mobilnya. Ara tak mau pembicaraan mereka didengar oleh Papanya. Karena selama ini, Ara bersama Mama nya menutup rapat rahasia mereka berdua.
Mendengar Dea hendak membuka rahasia, keturunan siapa Ara itu yang sebenarnya, Ara pun memegang tangan Dea dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.
"Kalau begitu ayo, kita barengan ke sekolah!" ajak Ara pada Dea.
__ADS_1
"Ayo!" jawab Dea mengikuti sandiwara Ara. "Hmm..! ternyata Ara, menyembunyikan jati dirinya kepada Bondan," ucap Dea pada dirinya sendiri.
Di atas mobil, Ara tampak memandang Dea, dengan tatapan mata yang begitu tajam. Sepertinya Ara marah, pada Dea. Dea sebenarnya mengetahui tatapan mata Ara tersebut, namun dia berpura-pura tak melihatnya.
Tangan Ara yang iseng tampak bergerak menghampiri Dea. Ara berniat hendak menjahili Dea, namun tangan itu langsung dipelintir oleh Dea sehingga Ara menjerit kesakitan.
Mendengar jeritan Ara, Bondan langsung berhenti dan menoleh ke belakang.
"Ada apa nak?" tanya Bondan ingin tahu.
Di saat itu Ara melirik ke arah Dea, yang tampak duduk tenang seperti tak terjadi apa-apa.
"Ada apa sayang, kenapa kamu nak?" tanya Bondan sekali lagi.
"Nggak ada apa-apa Pa," jawab Ara menutupinya dari Bondan.
"Emangnya, namamu siapa nak?" tanya Bondan ingin tahu."
"Dea Om."
"O Dea, ya. Dea udah kelas berapa saat ini?"
"Aku masih kelas satu Om."
"Berarti, kau manggil kakak sama putri Om ini ya!"
"Iya Om. Kebetulan aku nggak punya seorang kakak, yang baik seperti putri Om ini."
"Di saat Bondan sedang asyik mengendarai mobilnya, Ara menatap tajam ke arah Dea, tatapan bola matanya yang berwarna hitam legam, diarahkan ke Dea, dari kedua sisi mulut gadis kecil itu keluar dua taring yang sebagian panjangnya menutupi kedua bibir Ara.
Ara mengira, kalau Dea akan takut melihat taringnya tersebut. Namun di luar dugaan Ara, Dea justru membalas tatapan mata itu.
Tak cukup hanya sampai di situ, mereka berdua sama-sama menatap dengan kekuatan mereka masing-masing. dari kedua belah mata Ara keluar cahaya hitam yang menyorot ke arah Dea.
Namun saat itu, Dea juga mengeluarkan kekuatan gaibnya. dari matanya keluar cahaya berwarna putih. Kekuatan keduanya beradu dan menembus ke cakrawala.
Raja Dasamuka dan raja Askara. Mereka berdua sama-sama terkejut dengan kekuatan yang diadu oleh kedua Putri mereka.
"Ada apa ini!" teriak raja Dasamuka seraya berlari keluar dari gerbang istana. karena saat itu istana Angkara sedang mengalami guncangan yang sangat hebatnya.
Sementara itu, raja Askara yang sedang duduk di singgasana. Langsung memperhatikan fenomena alam tersebut di dalam bola kristal miliknya.
"Bola kristal, tunjukkan kepadaku apa yang telah terjadi, sehingga Nirwana bergoncang begitu kuat."
Tak lama kemudian bola kristal milik Askara langsung mengeluarkan satu gambar. Yang memperlihatkan putrinya beradu kekuatan dengan seorang perempuan yang sebaya dengannya.
"Siapa yang saat ini sedang bersamamu putriku?" tanya raja Askara pada Dea.
"Dia putri dari raja Dasamuka yang mulia."
"Kalau begitu, gadis itulah yang kelak akan menghancurkan kerajaan di jagat raya ini. Hati-hati dengannya putriku, karena gadis kecil itu memiliki ilmu yang sangat tinggi.
__ADS_1
"Baik yang mulia," jawab Dea dengan suara pelan.
"Kau sedang bicara dengan siapa?" tanya Ara ingin tahu.
"Aku sedang bicara dengan Papaku."
"Papamu di mana saat ini?"
"Ada di rumah."
"Kau bisa bicara dengan Papamu, dari jarak jauh ya?"
"Iya, kenapa emangnya. Apa kau nggak bisa seperti aku?" tanya Dea memancing kepandaian Ara.
Tentu, di bumi ini tak seorangpun manusia yang sanggup menandingi kekuatanku," jawab Ara dengan pongah nya.
"O ya."
"Ya tentu."
"Bagus deh kalau begitu."
Di saat mereka sedang asyik bercerita, tibalah Ara di sekolah nya. Lalu kekuatan yang sedang mereka adu, berakhir sampai disitu. Sementara itu, Dea masih sedikit jauh dari Ara.
"Aku turun di sini, Kau turun di mana?"
"Aku masih jauh, di depan sana."
"O, gitu."
"Boleh nggak, aku sekolah di tempat sekolahmu ini?"
"Kenapa nggak, aku nggak keberatan kok," jawab Ara pelan.
"Baiklah, besok aku akan pindah ke sini, Kau mau jadi teman aku kan?" tanya Dea pada Ara.
"Tentu, justru aku senang karena aku punya teman banyak ," jawab Ara singkat.
jawaban dari Ara, membuat hati Dea menjadi tenang. Niatnya untuk bersekolah di tempat Ara, sebentar lagi akan terwujud menjadi satu kenyataan.
Siang itu, setelah pulang sekolah. Dea langsung memberitahukan hal itu kepada Pandan wangi. Tentang niatnya untuk pindah ke sekolah Ara.
"Kamu yakin, pindah sekolah ke sana?"
"Yakin Ma, aku harus melakukannya karena ini tugas rahasia yang harus aku laksanakan."
"Baiklah Mama setuju, tapi ingat satu hal Jangan pernah memperlihatkan kekuatanmu kepada Putri raja Dasamuka tersebut.
Bersambung...
* Selamat membaca*
__ADS_1