AraDea

AraDea
Part 14 Dikejar makhluk mengerikan


__ADS_3

Untung saat itu seorang Ustad lewat di jalan tempat Pak RT berlari. Ketika melihat seseorang sedang berlari, Ustad itu langsung berhenti dan menghampiri pria tua itu.


“Bapak kenapa berlari?” tanya Ustad itu pada Pak RT.


“Saya seorang RT di Desa ini, anak siapa?” tanya Pak RT ingin tau.


“Saya seorang Ustad, kebetulan saya sedang lewat, karena saya baru saja pulang berceramah di Desa sebelah.”


“Oh, syukurlah kalau begitu, boleh saya numpang bersama mu nak.”


“O, tentu. Mari ikut saya, biar Pak RT saya antarkan pulang kerumah,” ujar Ustad Rudi dengan suara lembut.


Di atas mobil ketika hendak menuju pulang kerumahnya, Pak RT tampak duduk tenang di bangku belakang.


Sementara itu Ustad Rudi dengan santainya terus melajukan kendaraannya.


Di sebuah tikungan ketika hendak berbelok ke arah kiri, tiba-tiba saja dia melihat sesuatu. Mobil pun langsung berhenti seketika, Pak RT yang berada di belakang langsung terbentur kaca mobil dan kepalanya sedikit memar.


“Aduh, ada apa nak Rudi, kenapa mobilnya langsung berhenti mendadak?”


Ustad Rudi tak menjawab. Akan tetapi, dia langsung menoleh kearah belakang, seperti orang yang sedang terheran-heran.


“Ada apa Nak?” tanya Pak RT kemudian.


“Apakah tadi Bapak bersama seseorang naik mobil saya?”


“Nggak nak, Bapak cuma sendiri kok.”


“Tapi, tadi saya melihat seseorang bersama Bapak.”


“Ah, nak Rudi serius?”


“Ah paling-paling itu hanya pandangan saya saja Pak,” jawab Ustad Rudi sedikit pelan.


Apa yang di lihat Rudi itu memang benar, di sebelah Pak RT, memang duduk makhluk bertubuh besar dan berwajah yang mengerikan, dia memiliki bulu yang cukup tebal dan memiliki taring yang panjang, dengan mata yang berwarna merah menyala.


Makhluk itu sengaja mengikuti Pak RT untuk menukar air kopi yang di bawanya dengan air kopi yang sesungguhnya, setelah tugasnya selesai, makhluk itupun langsung pergi keluar dari dalam mobil Rudi.


Setibanya Pak RT di depan rumahnya, pria itu langsung bergegas masuk kedalam, dan mengunci pintu rumah itu dengan rapat sekali.


“Ada apa Pak?” tanya Rahma heran ketika melihat suaminya pulang dengan wajah pucat.


“Bapak di ikuti seseorang Bu,” jawab suaminya gemetar.


“Diikuti oleh siapa?” tanya Rahma ingin tau.


“Makhluk yang cukup mengerikan sekali.”

__ADS_1


“Makhluk yang mengerikan?”


“Iya, dia memiliki bulu yang tebal dan mata yang merah menyala.”


“Ah, Bapak serius?”


“Iya, Bu.”


“Kenapa Bapak bisa di ikuti oleh makhluk itu?”


“Entahlah Bu, mungkin karena minuman ini.”


“Kenapa emangnya dengan minuman ini Pak?” tanya Rahma seraya mengambil minuman itu dari tangan suaminya.


“Eh jangan di pegang!” jawab Samiri sembari mengambil kembali minuman itu, dari tangan istrinya.


“Aduh, kenapa emangnya Pak?”


“Begini ceritanya Bu. Tadi ketika Bapak mampir di rumah Bondan, Bapak langsung di suguhi minuman oleh istrinya, untung saja minuman itu, belum Bapak minum. Namun tak berapa lama kemudian istri Bondan keluar seraya membawa dua gelas kopi hangat, sama dengan yang sebelumnya.”


“jadi, Bapak dan Bondan nggak curiga?”


“Itu makanya, kami berdua sepakat, untuk membawa kopi ini ke Ustad Asnan. Akan tetapi, sepanjang jalan menuju rumah ini, Bapak selalu di ikuti oleh makhluk itu.”


“Atau jangan-jangan, Bondan melakukan pesugihan, nggak Pak.”


“Kalau begitu, pasti Kemuning yang melakukan pesugihan itu. Bapak lihat sendiri, semakin hari keluarga Bondan tampak jaya dan senang, perasaan baru satu bulan yang lalu dia membeli sebuah mobil, kemudian tiga hari yang lalu istrinya membeli mobil pula.”


“Ih, Ibu, nggak baik mencurigai tetangga kita sendiri.”


“Siapa bilang dia itu tetangga Ibu, orang jarak rumah kita dengan mereka kan cukup jauh.”


“Iya, tapi dia itu kan warga Bapak, Bu.”


“Sebenarnya, Ibu hanya ngasih tau Bapak aja, agar Bapak waspada dengan keluarga Bondan.”


“Iya, Bapak akan ingat pesan Ibu itu.”


Keesokan paginya, Pak RT langsung menemui Ustad Asnan dan menyerahkan kopi itu pada Ustad tersebut.


“Kenapa dengan kedua bungkus kopi ini Pak RT?” tanya Ustad Asnan heran.


“Kopi itu di hidangkan oleh istri Bondan. Namun di hidangkan oleh dua orang istrinya yang serupa.”


“Maksud Bapak, saat itu istri Bondan ada dua orang?”


“Ya, pertama kemuning keluar dengan membawa dua gelas kopi, lalu tak berapa lama kemudian, Kemuning keluar lagi dengan membawa dua gelas kopi yang sama. Lalu kami sepakat untuk memeriksa kedua kopi ini, mana kopi yang aslinya dan mana yang palsu.”

__ADS_1


Kemudian Ustad Asnan mengambil kopi itu dari tangan Pak RT. Serta membacakan sebuah do’a untuk melihat kopi itu dengan mata batinnya.


“Kopinya sama- sama asli kok.”


“Maksud Pak Ustad, kedua istri Bondan itu asli juga?”


“Kalau Istri Bondan saya belum melihatnya secara pasti, tapi saya melihat, kopi ini memang asli, tapi di buat di tempat yang berbeda.”


“Maksud Pak Ustad?”


“Kopi ini sepertinya di bawa dari dua tempat yang berbeda.”


“Tapi kedua kopi ini asli kan Pak Ustad?”


“Ya, kedua kopi ini asli.”


“Aneh,” jawab Pak RT yang masih saja tak percaya dengan apa yang dia alami malam itu.


Malam itu, bulan purnam telah muncul di atas langit, angin berhembus sangat sejuk sekali, Bondan bersama dengan istrinya tampak menikmati suasana malam yang terang dan indah, mereka seperti merasa bahagia sekali malam itu.


Di malam itu pula, Pandan wangi di ajak suaminya untuk melihat alam nirwana yang sangat luas dan indah. Raja Askara membawa Pandan wangi ke dalam istana yang berlapis berlian yang berkilauan.


“Kau lihat sendiri kan sayang, betapa luasnya kerajaan ku ini, untuk itu aku butuh pendamping hidup agar dapat melanjutkan kerajaan ku.”


“Tapi hingga saat ini, aku belum juga hamil yang mulia.”


“Siapa bilang kau belum hamil sayang, coba kau lihat di dalam bola ini, di sana kau bisa juga melihat alam mu yang begitu indah dan luas.”


“Tapi aku nggak melihat apa-apa, yang mulia.”


“Ucapkan satu kata, yang kau inginkan sayang.”


“Baiklah,” jawab Pandan wangi seraya bicara pelan di hadapan bola kristal yang berada di hadapannya.


“Apa yang kau minta sayang?” tanya Raja Askara sembari tersenyum dan membelai rambut istrinya.


“Aku minta, agar bola kristal ini melihatkan bayi yang telah hidup di dalam kandungan ku.”


“Kau udah melihatnya?” tanya Askara dengan suara lembut.


“Belum yang Mulia, sepertinya bola kristal ini, nggak mau mengabulkan permintaan ku.”


“Kata siapa sayang, karena bola kristal itu selalu mengabulkan keinginan orang yang dia sayangi.”


“Benarkah?”


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2