
"Ini perintahku. Kalau terjadi sesuatu pada kalian, aku pasti kehilangan kalian untuk selama-lamanya. Tapi, jika aku yang tertangkap, cukup aku sendiri yang merasakan nya."
"Tapi yang mulia!"
Di saat salah seorang prajurit itu belum selesai bicara, Dea tiba-tiba saja menghilang dan muncul di penjara bawah tanah. Saat itu dia mencoba mengendap-endap masuk ke dalam, menelusuri lorong yang begitu panjang di bawah tanah. Tepatnya di bawah kerajaan Angkara.
"Wah panjang sekali lorongnya, di mana ya, kira-kira Ara disekap?" tanya Dea pada dirinya sendiri.
Mesti demikian, dia tak putus asa. Dea berkeliling memeriksa setiap penjara, apakah ada Ara yang disekap di antara mereka atau tidak.
"Ternyata, nggak ada Ara di sini. Lalu di mana dia disiksa," gumam Dea pelan.
Setelah Dea terus berkeliling, akhirnya Dea pun menemukan penjara bawah tanah, yang paling terpencil di antara begitu banyak penjara. Di sanalah Ara mengalami penyiksaan.
Dea yang melihat penyiksaan, yang dilakukan oleh seorang prajurit kepada Ara, membuat hatinya tersentuh. Dengan menggunakan ajian kabut bayangan, Dea langsung menarik tubuh Ara, dari belenggu penjara Angkara dan melarikannya, sampai keterbatasan kerajaan Angkara.
Namun, kehilangan Ara diketahui oleh prajurit penjara bawah tanah. Mereka semua sibuk, mencari keberadaan Ara yang menghilang.
Sementara itu, Dea menyuruh seluruh prajuritnya untuk kembali ke Parahyangan dan membawa Ara kembali ke bumi secepat kilat.
Tepat di hadapan Kemuning, Dea dan Ara muncul. Hal itu membuat Bondan dan Kemuning terkejut, melihat kedatangan mereka berdua.
"Ara, Dea! kalian sudah pulang nak!" ujar Kemuning dengan suara lirih.
"Udah Bu, aku berhasil membawa Ara pulang. Tapi sebentar lagi, prajurit Angkara akan merebut Ara. Untuk itu, biarkan Ara didalam kamar dan aku akan melindungi kamarnya dari pandangan prajurit Angkara."
"Benarkah nak? kau bisa melakukan semua itu?"
"Sekarang Ibu nggak usah banyak bicara, ayo cepat! kita bawa Ara ke kamar. Sebentar lagi, prajurit dari Angkara akan datang ke sini untuk mencarinya."
"Baik nak," jawab Bondan dan Kemuning serentak.
Lalu mereka pun membawa Ara ke dalam kamarnya, serta menutup pintu dari luar. Dea pun langsung melindungi kamar Ara, dengan menggunakan rajah gaib miliknya.
"Hanya Ibu dan Bapak yang bisa melihat Ara di dalam dan hanya kalian berdua pula lah yang bisa keluar masuk kamar ini, selain itu tak ada yang mampu dan tak ada yang dapat melihatnya."
"Baiklah, terima kasih nak," jawab Kemuning dengan senang hati.
__ADS_1
Setelah melindungi kamar Ara, dengan rajah ghaib miliknya, Dea pun keluar dari rumah itu dan meninggalkan keluarga Kemuning dengan tenang.
Di perjalanan menuju rumah, Dea berpapasan dengan seseorang. Namun Dea tidak memiliki wajah orang tersebut. mukanya datar dan rambutnya terurai.
"Nak boleh Ibu bertanya sesuatu?" tanya perempuan itu pada Dea.
Saat melihat wajah perempuan itu, sekilas Dea sudah tahu kalau perempuan itu bukanlah manusia. Untuk itu, Dea tak mau menatap wajahnya yang terlihat datar.
"Ibu mau bertanya apa?" jawab Dea dengan suara lembut.
"Kenapa kau nggak mau melihat wajah ibu?" tanya perempuan itu.
"Tadi Ibu mau bertanya sesuatu, katakan saja apa pertanyaan ibu itu?"
"Kau kenal dengan gadis yang bernama Ara?"
"Nggak, Ara itu siapa ya?"
"Dia seorang gadis yang sebaya denganmu?"
"Aku nggak kenal dengan Ara?"
"Ibu nggak percaya dengan aku?"
"Percaya kok."
"Kalau begitu, silakan Ibu tanya pada orang lain, siapa tahu mereka mengenali Ara seperti yang Ibu tanyakan tadi."
"Baiklah. Terima kasih," jawab perempuan itu seraya meninggalkan Dea.
Sekitar berjarak lima meter, Dea pun langsung menoleh ke belakang. Akan tetapi, perempuan itu sudah menghilang.
"Hm..! kau kira aku nggak mengenalmu, wahai prajurit Angkara. Bagaimanapun bentuk tubuhmu dan seperti apapun kau menyamar, aku pasti mengenali kalian semua," gumam Dea pelan.
Setelah perempuan itu menghilang, Dea langsung pulang ke rumahnya. Setibanya di depan rumah, Dea melihat seluruh peralatan rumahnya berantakan.
Lalu Dea bergegas mencari keberadaan Ibu dan Neneknya, namun mereka tak ada di rumah. Dea kemudian bergegas menuju kamarnya di dalam kamar tersebut dia pun bersemedi untuk mencari keberadaan Ibu dan Neneknya yang menghilang.
__ADS_1
"Yang mulia raja, yang mulia raja! aku putrimu Dea chandramaya!"
"Ada apa putriku, kenapa kau memanggilku! apa yang terjadi di bumi?" tanya raja Askara.
"Di perjalanan, aku berpapasan dengan seorang prajurit Angkara. Tapi setelah kepergiannya, aku melihat Ibu dan Nenek tidak berada di rumah. Sementara peralatan rumahku berantakan. Aku sudah mencoba menerawang keberadaan mereka, tapi aku tidak bisa."
"Baiklah sayang, Papa akan melihatnya di bola kristal istana."
Setelah mereka selesai berkomunikasi, raja Askara langsung melihat istri dan Ibunya di bola kristal istana, milik Nirwana. Saat itu, dia melihat istri dan Ibunya diikat di bawah sebatang pohon besar di tengah hutan.
"Kurang ajar, ternyata prajurit Dasamuka telah menculik istri dan Ibuku!" ujar raja Askara marah.
"Yang mulia raja, yang mulia raja! adakah informasi yang terlihat dari bola kristal istana, tentang keberadaan Ibu dan Nenekku?"
Di saat pertanyaan itu diulang kembali oleh Dea. Raja Askara berpikir, jika saja berita itu akan disampaikan kepada Dea, pasti Dea segera mencari keberadaan orang tuanya. Hal itu sangat membahayakan sekali bagi jiwa putrinya, untuk itu raja Askara hanya diam saja.
Berulang kali Dea mencoba menghubungi Ayahnya di Parahyangan, namun dia tak berhasil. Karena Ayahnya tak mau menjawab.
"Ada apa ini, kenapa yang Mulia raja Askara, tak mau menerima panggilanku. Apa yang terjadi sebenarnya dengan Ibu dan Nenekku, kenapa aku tidak bisa menerawang mereka."
Karena tak bisa melihat keberadaan Ibu dan Neneknya, Dea hanya bisa mondar-mandir di ruang tengah. Sembari memandangi isi rumah yang berantakan.
"Apakah perempuan tua tadi, adalah raja Dasamuka yang lagi menyamar? dia sengaja menculik Ibu dan Nenekku, untuk ditukar dengan Ara. Aku yakin, pasti itu rencananya gumam Dea pelan.
Di saat itu, Dea kembali melakukan penerawangan, untuk mencari keberadaan Ibu dan Neneknya, dia terus mencoba Mesti tak berhasil sama sekali.
"Yang mulia, yang mulia raja. Bantu aku, cari Ibu dan Nenekku, di manapun mereka berada saat ini."
Merasa kasihan melihat putrinya dalam keadaan sedih, raja Askara langsung menjawab pertanyaan putrinya tersebut.
"Tenanglah putriku, Ibu dan Nenekmu ada di suatu tempat. Prajurit raja Dasamuka sepertinya telah menyembunyikan mereka berdua, untuk ditukar dengan Ara, yang telah kau culik dari penjara bawah tanah kerajaan Angkara."
"Maafkan aku apa yang mulia, aku harus menolong Ara, karena Ibunya telah bermohon dan menangis kepadaku. Aku tak kuasa menolak permintaannya."
"Itulah resiko yang akan kau terima. Jika kita salah dalam melangkah putriku. Saat ini Ibu dan Nenekmu, sedang disekap oleh mereka di suatu tempat. Tapi kamu jangan khawatir, karena telik sandi kerajaan, telah aku perintahkan untuk mencari keberadaan Ibu dan Nenekmu.
"Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*