
“Kenapa nggak boleh?” tanya Tuti ingin tahu.
“Nggak.”
“Kamu kok begitu ketus sekali Yen, ingat kita ini bertetangga lho.”
“Kalau bertetangga, kenapa emangnya?”
“Ya, kalau kita bertetangga, suatu saat kau pasti butuh bantuan kami.”
“Kata siapa, selama ini kita juga bertetangga kok, tapi aku nggak pernah butuh bantuan mu. Kau tau kenapa?”
Mendengar pertanyaan Yeni, Tuti hanya diam saja, hatinya terasa begitu sakit sekali, karena Yeni tak mengizinkannya untuk masuk kedalam rumah.
“Kau jawab aja sendiri!” ujar Tuti dengan nada ketus.
“Untuk apa aku menjawabnya aku nggak butuh jawabannya kok, karena yang butuh jawabannya itu, kamu Tuti. Udah sana kamu pergi!”
“Jangan sombong kau Yeni, kalau butuh apa-apa, aku nggak bakalan membantu mu nantinya.”
“Nggak usah, cukup kau jaga aja suami mu agar dia nggak kemana-mana!” seru Yeni ketika Tuti udah menjauh.
Mendengar ucapan Yeni, hati Tuti sedikit marah dan dia langsung menghentikan langkah kakinya serta berbalik kebelakang.
“Hei Yeni, kau tau nggak. Semua orang udah curiga dengan mentumu yang aneh itu, jangan-jangan dia itu orang bunian yang berubah wujud menjadi seorang pria tampan, aku melihatnya sendiri kok, kemaren sore dia memakai mahkota raja di kepalanya.”
“Kalau emang dia itu pria bunian, kenapa? Apa dia pernah mengganggu mu?”
“Aku hanya ngasih tau kebenarannya saja pada mu.”
“Nggak perlu kau beri tahu, aku nggak butuh jawaban dari tetangga yang berhati busuk seperti mu.”
“Baik, kalau begitu kau tanggung sendiri resikonya nanti. Dasar keluarga aneh!” gerutu Tuti seraya pergi meninggalkan rumah Yeni.
“Kalian yang aneh, suamimu yang jelalatan anak gadis orang yang di jadikan sasaran nya,” jawab Yeni seraya membanting pintu rumahnya dengan kuat.
“Ibu marah?” tanya Pandan ingin tau.
“Ibu kesal sekali dengan Tuti, dia selalu saja ingin tau urusan orang lain.”
“Bukankah tadi Bang Askara sudah memberitahu Ibu, kalau Ibu nggak usah membukakan pintu untuk Bu Tuti, tapi kenapa Ibu mesti membukanya? Kan Ibu sendiri yang kesal di buatnya.”
“Suami mu benar nak, Ibu merasa sakit hati sekali dengan Tuti, dari pasar kemaren dia selalu bertanya tentang suami mu.”
“Emangnya Bu Tuti menanyakan masalah apa dengan Ibu?” tanya Askara pada Ibu mertuanya.
“Bu Tuti bilang, kalau kamu itu orang halus, atau sejenis lelembut.”
__ADS_1
“Dari mana Bu Tuti tau kalau aku ini bukan manusia?”
“Kemaren, sewaktu dia menyapu halaman belakang rumahnya dia melihat kamu berpakaian seperti seorang raja, memakai mahkota di kepala mu.”
Mendengar penjelasan Ibunya, Pandan langsung menoleh kearah suaminya, pandangan matanya penuh tanda tanya pada suaminya.
“Benar, apa yang di katakana oleh Ibu itu, yang Mulia?” tanya Pandan setengah berbisik.
“Aku sengaja melakukan semua itu, agar dia tak lagi menghina keluarga mu.”
“Kenapa yang Mulia melakukan semua itu?”
“Emangnya nggak boleh sayang?”
“Di dunia manusia, hal seperti itu lama kelamaan akan menjadi sebuah gosip yang di sebarkan kemana-mana oleh Ibu-Ibu, seperti Bu Tuti itu.”
“Maaf kan aku sayang, sebenarnya aku nggak bermaksud seperti itu.”
“Aku nggak marah kok,” jawab Pandan seraya tersenyum pada suaminya.
“Makasih sayang, kau begitu baik pada ku.”
“Ya jelas dong, yang Mulia itu kan suami aku.”
Setelah Yeni masuk, Pandan dan suaminya juga ikut masuk kedalam. Tampak oleh Pandan Ibunya duduk diam di atas sofa.
“Hati Ibu masih terasa sakit sayang, Tuti benar-benar kelewatan, dia bukan hanya menyakiti mu saja, tapi dia juga menyakiti Ibu juga.”
“Udahlah Bu, nggak usah di ambil pusing,” jawab Pandan menenangkan hati Ibunya.
Begitulah kehidupan Pandan, dari usia lima belas tahun, Pandan mereka kucilkan seperti anak yang berpenyakitan dan membawa pengaruh buruk pada mereka semua.
Tak terasa waktu terus berlalu meninggalkan semua kenangan yang di lewatinya, sesuai dengan usia Ara yang waktu itu genap satu tahun.
Kemuning merasa sangat bahagia sekali, mesti dalam masa itu, Bondan mengalami begitu banyak kesulitan dan rasa curiga yang berlebihan pada istri dan putrinya. Namun Bondan tak ingin mempersulit dirinya sendiri dengan memikirkan hal yang nggak masuk akal itu.
Pagi itu tampak Kemuning melakukan persiapan, untuk meresmikan acara satu tahun putri kecilnya, hari ulang tahun Ara yang jatuh tempo tepat di hari itu, akan mereka rayakan dengan meriah.
“Aku akan merayakan ulang tahun putri kita kang Mas.”
“Kapan sayang?” tanya Bondan ingin tau.
“Hari ini.”
“O ya, kenapa baru sekarang kau beri tahukan pada kang Mas.”
“Ku kira kang Mas akan mengingat hari kelahiran putri kita ini.”
__ADS_1
“Maafkan kang Mas, Kemuning. Mungkin karena terlalu sibuk bekerja, sehingga kang Mas tak mengingatnya lagi.”
“Ya udah, kalau kang Mas udah tahu, apakah kang Mas akan libur bekerja hari ini?”
“Tentu sayang, aku akan mengambil cuti untuk dua hari ini.”
Karena hari itu adalah hari ulang tahun putrinya yang pertama sekali, Bondan langsung mengambil cuti, mereka merayakan pesta ulang tahun putrinya dengan meriah.
Tepat di hari ulang tahun Ara yang pertama kali, di saat bersamaan putri Pandan wangi pun, lahir ke dunia dengan selamat.
Saat itu Yeni tak mengetahuinya, kalau putrinya Pandan hendak melahirkan, itu sebabnya Yeni pergi ke kebun untuk memetik sayur.
Di saat Ibunya pergi kekebun, Pandan menangis menahan rasa takut, di saat itu Askara yang mendengar suara tangisan Pandan, dia langsung turun ke Bumi untuk melihat istrinya. Benar saja, saat itu Pandan sedang merintih menahan rasa sakit.
“Kamu kenapa sayang?” tanya Askara ingin tahu.
“Sepertinya aku hendak melahirkan yang Mulia, perut ku terasa begitu sakit sekali.”
“Apakah kau ingin melahirkan bayi ini sayang?”
“Maksud yang Mulia apa?”
“Kalau kau nggak ingin merasa sakitnya, maka kita kembalikan lagi dia kedalam bola kristal, setelah itu kita akan mengeluarkannya dari sana.”
“Benarkah yang Mulia?”
“Iya sayang,” jawab Askara, seraya meletakkan tangannya di perut Pandan.
Setelah Askara meletakkan telapak tangannya di perut Pandan, kandungan Pandan langsung menghilang, lalu Askara mengangkat tubuh istrinya ke Nirwana dan melihat bola kristal yang berada di kerajaannya.
Di saat itu Pandan melihat bayi mungilnya tergeletak di atas sebuah ayunan yang di jaga oleh lima orang dayang yang sangat cantik jelita. Dengan perlahan Pandan langsung menghampiri dayang-dayang itu.
“Selamat yang Mulia Ratu, bayi yang mulia telah lahir dengan selamat dan sehat.”
“Benarkah itu?”
“Dia seorang putri yang cantik yang Mulia.”
“Oh bayi kecil ku yang cantik,” ujar Pandan sembari menggendong bayi mungilnya, yang telah melihat betapa indahnya istana orang tuanya.
“Di sinilah tempat tinggal mu sayang, kau seorang putri cantik istana Nirwana.”
Mendengar ucapan Pandan, hati Askara menjadi senang, dia merasa kagum sekali dengan istrinya itu, selain dia cantik Pandan memiliki jiwa yang baik.
Lalu Pandan mengangkat putri kecilnya itu, dan menyerahkannya kepada Askara. Askara langsung mengambil bayi itu dari tangan Pandan.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*