
Mereka semua langsung menyusup, di sekitar istana. Mereka berpencar, mencari tempat yang bisa melihat keberadaan Ara.
Setelah mereka berkeliling, di sekitar istana Angkara. Tiba-tiba, salah seorang dari telik sandi kerajaan Parahyangan, masuk ke dalam areal istana tersebut.
"Hei lihat! ternyata istana Angkara, tidak dipagari oleh rajah ghaib, seperti yang kita bayangkan."
"Benarkah?"
"Iya benar. Lihat aku, tubuhku tidak terbakar dan tidak terpental keluar, ketika aku telah memasuki jalur istana."
Mendengar informasi dari salah seorang diantara mereka, lalu sekawanan telik sandi dari Nirwana, langsung masuk ke dalam. Mereka menyusup melalui celah sempit istana.
Mereka semua mengendap-endap, bersembunyi dan menampakkan diri sesekali, untuk mencari keberadaan Ara.
Setelah sekian lama mengelilingi istana Angkara, tiba-tiba saja salah seorang diantara telik sandi tersebut, mendengar prajurit Angkara berbicara.
"Kasihan sekali nasib Ara, dia dihukum oleh Ayahnya hingga menderita."
"Iya. Padahal, raja Dasamuka sudah lama mengharapkan seorang putri dari keturunan manusia. Namun setelah dia dapat, malah dia menyiksa putrinya sendiri hingga tak berdaya."
Mendengar cerita kedua prajurit tersebut, salah seorang telik sandi, kerajaan Parahyangan datang menghampiri teman-temannya.
"Ada kabar apa?" tanya telik sandi itu pada temannya.
"Ternyata Putri Dasamuka tersebut, sedang mendapat hukuman oleh Ayahnya."
"Hukuman, hukuman apa?"
"Entahlah, aku juga nggak tahu. Tapi mereka bilang, Ara dihukum oleh Ayahnya hingga tak berdaya."
"Wah, kasihan sekali nasib Ara. Dia mendapat hukuman dari Ayahnya sendiri."
"Kok kasihan sih, mestinya kan kamu senang. Jika Ara selamat dan hidup, suatu saat nanti, dia pasti akan menghancurkan kerajaan kita dan kita tinggal di mana?"
"Iya aku tahu, yang membuat aku sedih Ara itu kan sahabatnya, yang mulia Dea."
"Siapa bilang Ara itu sahabatnya yang mulia Dea. Kudengar dari semua orang, bahwa Ara berulang kali hendak membunuh Dea, tapi yang mulia Dea memiliki ilmu tinggi. Jadi Ara tak mendapat kesempatan dan selalu gagal.
"Kalau begitu, ayo kita kembali ke istana. Yang penting, kita sudah mengetahui di mana Ara berada saat ini."
"Ayolah, sebelum raja Dasamuka dan seluruh prajuritnya menangkap kita. Lalu mengubur kita hidup-hidup di daerah ini."
"Ayo kita kembali, kalau nggak ingin mendapat masalah."
Lalu, mereka pun pergi meninggalkan kerajaan Angkara dan kembali ke Parahyangan. Telik sandi itupun melaporkan semua yang mereka dengar kepada raja Askara.
"Ampun Yang Mulia, kami mendapat informasi dari dua orang prajurit Angkara, yang saat itu sedang bertugas. Mereka bicara tentang keberadaan Ara."
__ADS_1
"Jadi, kalian semua sudah mengetahui, di mana Ara saat ini berada?"
"Dalam percakapan mereka berdua, kami mendapat informasi, bahwa Ara sedang menjalankan hukuman dari Ayahnya raja Dasamuka."
"Hukuman, hukuman apa itu?"
"Kami tak tahu yang mulia, hanya itu yang kami dengar dari kedua prajurit tersebut. Saat mereka sedang berbincang-bincang, di luar tembok istana."
"O iya yang mulia, ada yang lebih penting lagi dari itu. Ternyata kerajaan Angkara, tidak dilindungi oleh rajah ghaib dari kekuatan apapun."
"Dari mana kamu tahu, kalau kerajaan mereka bebas dari tipu daya seperti itu?"
"Tadi, tanpa sengaja kami masuk ke dalamnya yang mulia. Ternyata kerajaan Angkara nggak memakai rajah ghaib."
"Kalau memang kerajaan Angkara tidak mereka lindungi dengan rajah ghaib. Lalu kenapa putriku Dea tak sanggup menembus ke dalam istana tersebut."
"Pasti ada yang aneh, dengan semua ini."
Lalu raja Askara termenung, sembari mengangguk-anggukkan kepalanya, seakan-akan, dia sedang memikirkan sesuatu.
"Baiklah, kalau memang Ara saat ini sedang menjalani hukuman dari Ayahnya, aku akan kabarkan hal ini secepatnya pada putriku Dea."
Lalu raja Askara berkonsentrasi penuh, untuk menghubungi putrinya Dea, yang saat itu sedang berada di rumahnya. Bersama Mama dan Neneknya.
"Putriku Dea, Dea!"
"Baiklah, aku akan beritahu sesuatu padamu, tentang keberadaan Ara Putri Dasamuka. Ternyata raja Angkara itu, sedang menghukum putrinya sendiri, di ruang yang tertutup rapat di dalam istana."
"Benarkah itu, yang mulia?"
"Iya putriku saat ini arah sedang dikurung di sebuah ruangan di dalam istana mungkin saja ruangan itu penjara bawah tanah."
"Baiklah. Akan aku beritahukan hal ini kepada ibunya, siapa tahu ibunya dapat langsung bicara dengan raja Dasamuka, untuk melepaskan putrinya."
"Baiklah putriku, berhati-hatilah di sana. Jangan gegabah dan perhitungkan setiap langkah dan gerak-gerik mu."
"Baik yang mulia."
Setelah mereka selesai berbicara, lalu Dea langsung menuju rumah Kemuning. Di hadapan Kemuning, Dea langsung menyampaikan perihal Ara kepada ibunya.
"Benarkah itu nak?" tanya Kemuning tak percaya.
" Bener Bu, saat ini Putri Ibu Ara, sedang menjalani hukuman dari Ayahnya raja Dasamuka."
"Kamu tahu dari mana nak?"
"Ibu nggak perlu tahu, dari mana aku mendapatkan sumber berita ini. Tapi yang jelas, Ibu telah mendapatkan informasi yang benar. Bahwa Putri Ibu saat ini sedang menjalani hukuman dari Ayahnya sendiri."
__ADS_1
"Kurang ajar! ternyata dia telah menyekap putriku dan menghukumnya dipenjara."
"Benar Bu, maaf aku hanya bisa memberikan informasi ini kepada ibu. Ibu bisa bicara langsung kepada raja Dasamuka, siapa tahu dengan permohonan ibu, Putri Ibu Ara dapat diselamatkan.
"Baiklah nak, terima kasih atas informasi yang kau berikan."
"Iya Bu. Tapi ingat, jika Ibu tak sanggup mendapatkan Putri Ibu kembali, Ibu cukup bilang saja kepadaku, lewat perasaan ibu dan aku akan mendengarnya."
"Benarkah, kau masih bisa membantu ibu?"
"Iya Bu, aku bersedia membantu ibu."
"Terima kasih sayang, ibu akan selalu ingat jasamu."
"Sama-sama Bu, kalau begitu aku permisi dulu."
"Baiklah, terima kasih sekali lagi."
Setelah dia bicara dengan Kemuning, lalu Dea pun pergi meninggalkan rumah itu, di perjalanan menuju rumah Dea dihadang oleh beberapa makhluk aneh, yang Dea sendiri, tidak mengenalnya sama sekali. Makhluk seperti manusia biasa, tapi wajahnya sangat mengerikan.
"Kamu siapa?" tanya Dea pada sekelompok makhluk itu."
"Justru aku yang bertanya kepadamu, kenapa kau datang ke rumah Kemuning?"
"Ooo, ternyata Kau prajurit prabu Dasamuka, ya?"
Kau nggak perlu tahu, siapa aku?"
"Aku telah melaporkan ke ibunya, Kalau saat ini Putri Ara sedang disekap dan dihukum oleh Ayahnya, raja Dasamuka. Kenapa, kalian marah?"
"Kenapa kau melaporkan hal itu, pada Kemuning?"
"Karena Kemuning seorang ibu. Dia selalu bersedih dan menangis ketika kehilangan anaknya."
"Dasamuka adalah Ayahnya dan dia berhak atas putrinya!"
"Itu menurutmu, tapi bagi kami manusia, Ibunya lah yang paling berhak dengan keselamatan putrinya, karena seorang ibu telah melahirkan dan merawat serta membesarkan putrinya. Sementara Ayah, dia selalu jauh dari putrinya."
"Apapun itu alasanmu, kau tidak boleh melaporkan keberadaan Ara kepada ibunya."
"Kau mengancamku?"
"Bukan hanya mengancam, justru aku berencana untuk menghabisimu!"
"Hm...! coba saja kalau kau berani!" tantang Dea pada beberapa makhluk aneh itu.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*