AraDea

AraDea
Part 15 Kekuatan Askara


__ADS_3

“Iya, sayang.”


“Berarti dia itu nggak menyayangi ku dong,” jawab Pandan merajuk.


Melihat istrinya merajuk, Askara langsung mengecup lembut bibir istrinya yang tampak indah. Lalu, seraya memeluk tubuh Pandan wangi, Raja Askara langsung memutarkan kedua tangannya di atas bola kristal tersebut, seraya membuat satu permintaan.


Tak berapa lama kemudian, Pandan melihat dengan jelas, bayi yang berada di dalam kandungannya tampak bergerak, dan tumbuh sehat.


“Ya Allah, benarkah itu bayi kita Yang Mulia?” tanya Pandan tak percaya.


“Iya sayang, itu bayi kita berdua.”


Mendengar jawaban suaminya, Pandan langsung memegangi perutnya yang tampak masih datar dan kecil, Pandan merasa sedih kala itu, dia tampak meneteskan air matanya.


“Kenapa kamu menangis sayang?”


Pandan diam saja ketika mendengar suaminya bertanya pada dirinya, dia merasa sedih sekali saat itu.


“Katakan sayang, apa yang kamu inginkan, pasti akan saya turuti.”


“Benarkah itu yang Mulia?”


“Benar sayang,” jawab Askara seraya memegang dagu Pandan yang indah.


“Di Bumi, setiap seorang istri yang hamil itu, dia pasti merasakan kalau perutnya semakin hari semakin membesar, tapi aku hanyalah seorang Ibu yang bernasib malang.”


“Maksud Mu, apa?” tanya Askara yang tak mengerti dengan ucapan Pandan.


“Aku mau, bayi itu berada di dalam kandungan ku ini yang Mulia. Bukan di tempat lain,” jawab Pandan menangis di pelukan suaminya.


“Oh, sayang! Kamu mau bayi itu berada di dalam kandungan mu?”


“Iya, yang Mulia.”


“Baiklah, sekarang lihat perut mu dan rasakan apakah di dalamnya ada detak jantung seorang bayi?”


Mendengar ucapan suaminya, Pandan langsung melihat perutnya dan merabanya. Benar saja, saat itu Pandan merasakan ada detak jantung seseorang di dalam perutnya.”


“Oh, terimakasih sayang!” jawab Pandan seraya memeluk suaminya dengan mesra.


Melihat kebahagian mewarnai hati istrinya, Askara langsung menggendong tubuh Pandan dan membawanya ke kamar pengantin yang tampak begitu indah.


Mereka saling bercumbu dan memadu rasa di dalam kamar tersebut. Dengan lembut dan iklas, Pandan melayani suaminya dengan senang hati, tangan Askara yang begitu lembut mulai bergerak menyentuh tubuh Pandan yang tampak telah pasrah.


Askara sepertinya begitu senang mencium aroma tubuh Pandan yang begitu wangi dan harum, Pandan memang memiliki aroma tubuh yang wangi semenjak dia bayi.


Itu sebabnya, ketika Pandan sudah berusia lima belas tahun, dia jarang keluar rumah, karena semua orang bisa terhipnotis dengan aroma tubuhnya itu.


Yeni selalu menyembunyikan Pandan di dalam kamarnya, hanya sesekali Pandan di bawa oleh Yeni kekebun, untuk menghilangkan rasa jenuh di hati anaknya itu.

__ADS_1


Yeni sengaja melakukan hal itu, karena kalau pandan keluar rumah, banyak suami orang yang lupa diri, setelah mencium aroma tubuh Pandan. Hal itu membuat seluruh wanita desa tempat tinggalnya marah pada Pandan.


“Aku suka aroma tubuhmu sayang,” ujar Askara dengan suara lembut.


“Benarkah itu yang Mulia?”


“Iya sayang.”


“Kalau yang Mulia menyukai aroma tubuh ku, lalu kenapa yang Mulia nggak mencari keberadaan ku.”


“Aku udah lama mencari keberadaan mu, sayang. Begitu juga dengan prajurit kerajaan ini, semua telah turun ke Bumi untuk melihat dan mencari sumber wangi yang datang dari Bumi tersebut.”


“Benarkah?”


“Iya sayang.”


Di saat mereka sedang bermesraan di peraduannya, tiba-tiba saja perasaan Pandan wangi merasa tak tenang. Askara melihat istrinya sedikit gelisah.


“Ada apa sayang?” tanya Askara seraya menyentuh dagu istrinya yang indah.


“Kenapa ya, yang Mulia, perasaan ku saat ini nggak tenang.”


Di saat itu, Pandan melihat bola mata suaminya bercahaya dan mengeluarkan api. Pandan merasa ketakutan sekali, diapun bergegas untuk menjauh dari suaminya. Melihat istrinya ketakutan, Askara langsung berlari mengejar istrinya.


“Kenapa lari sayang?” tanya Askara heran.


“Ada api keluar dari mata mu! tunjukan pada ku siapa sosok yang berada di hadapan ku ini sebenarnya,” ujar Pandan ketakutan.


“Hantarkan aku ke bumi, yang Mulia.”


“Kenapa mesti pulang sayang, apakah kau nggak senang tinggal di Nirwana ini?”


“Hantarkan aku ke Ibu ku yang Mulia.”


“Baik sayang, kita akan turun ke Bumi seperti yang kau inginkan,” jawab Askara seraya memeluk tubuh istrinya.


Seperti sekejap mata saja, akhirnya mereka berdua tiba di dalam kamar milik Pandam. Akan tetapi sebelum Pandan meninggalkan dirinya, Askara memegang tangan istrinya.


“Sayang, aku nggak pernah berbuat jahat pada mu, begitu juga dengan Ibu mu, tadi aku melihat seekor binatang menghampiri Ibu mu, itu sebabnya mata ku mengeluarkan api, agar ular tersebut menjauhi Ibu mu.”


“Benarkah ?”


“Iya sayang.”


“Lalu kenapa yang Mulia tak memberi tahukannya pada ku tadi, ketika kita berada di Nirwana.”


“Aku sengaja nggak memberitahukan hal itu pada mu, agar kau nggak kepikiran pada keadaan Ibu mu.”


Mendengar penjelasan suaminya, Pandan menjadi sedikit ragu, apakah benar itu merupakan salah satu kekuatan suaminya atau selama ini Pandan telah menikah dengan makhluk yang mengerikan.

__ADS_1


“Selalulah bersikap jujur pada ku, jangan pernah yang Mulia membohongi ku.”


“Aku nggak pernah berbohong sayang, aku seorang Raja. Setiap ucapkan ku adalah titah yang harus di ikuti oleh semua prajurit kerajaan.”


“Katakan pada ku, kekuatan apa lagi yang Mulia punya selain mengeluarkan api dari mata itu?”


“Sayang, aku ini seorang Raja. Aku punya banyak keahlian dan ilmu yang belum ada tandingannya.”


“Benarkah begitu?”


“Nanti, jika kerajaan ku di serang oleh musuh, maka akulah yang akan memimpin prajurit ku untuk berperang.”


“Jika nanti yang Mulia terluka atau mungkin tiada, lalu bagai mana dengan aku?” tanya Pandan sedikit kuatir.


“Kamu kuatir sayang?” tanya Askara ingin tau.


“Tentu yang Mulia, karena aku adalah istri yang Mulia saat ini.”


“Oh, terimakasih sayang. Kau nggak marah kan?”


“Nggak sayang, aku hanya takut dengan kelebihanmu itu,” jawab Pandan meninggalkan suaminya sendirian di dalam kamar.


Di saat Pandan pergi ke dapur, Askara langsung rebahan di atas Kasur kamarnya, seperti manusia pada umumnya Askara juga tidur.


Sementara itu di dapur, Yeni tampak sedang mengemasi semua peralatan dapur yang berantakan.


“Ibu lagi ngapain?” tanya Pandan ingin tau.


“Sayang, kamu mau kemana nduk?”


“Aku mau nengok Ibu bekerja.”


“Mana suami mu?”


“Lagi tidur Bu,” jawab Pandan dengan suara pelan.


Lalu tanpa sengaja Yeni melihat perut Pandan yang tampak membesar. Kemudian Yeni datang menghampiri putri kecilnya itu.


“Kamu lagi hamil nduk?”


“Iya Bu.”


“Kok selama ini Ibu nggak lihat perutmu membesar?”


“Ah, masa. Padahal aku kan bersama Ibu terus setiap harinya.”


“Iya juga. Mungkin kali ini Ibu terlalu sibuk, jadi Ibu kurang memperhatikanmu,” jawab Yeni.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2