
Mesti demikian, Ara tak kehabisan akal. Otaknya yang encer, selalu memikirkan jalan keluar, bagaimana cara menyingkirkan Dea dalam hidupnya.
"Kau kenapa Ara?" tanya Dea heran, ketika melihat mata Ara menoleh ke arahnya.
"Aku nggak ngapa-ngapain, kok."
"Bohong, aku melihat kau sedang merencanakan sesuatu bukan?" jawab Dea dengan kening yang berkerut.
"Ah, itu kan menurut pemikiran mu aja, aku nggak pernah memikirkan sesuatu tentangmu," bantah Ara.
"Ya udah. Syukurlah, kalau kau nggak memikirkan sesuatu tentang aku. Karena buruk akibatnya, jika sesuatu hal terjadi padaku nanti."
"Kau mengancam aku, ya?" tanya Ara dengan nada sedikit meninggi.
"Iya," jawab Dea singkat.
"Ada apa Ara, Dea, kenapa kalian ribut?" tanya Bu Zubaidah yang saat itu sedang menerangkan pelajaran biologi.
"Nggak Bu, Ara hanya bertanya tentang suatu hal padaku."
"Bohong Bu, aku nggak nanya apapun kok sama dia. Dianya aja yang merasa hebat.
Kalau memang nggak ada yang kalian perebutkan, tolong perhatikan ibu menerangkan. Nanti kalau ibu tanya, kalian satu persatu, kalian nggak kan dapat menjawabnya.
"Iya Bu," jawab Ara pelan.
Karena mendapat peringatan dari Zubaidah, lalu keduanya memperhatikan, guru biologi tersebut, menerangkan di depan kelas.
Setelah jam pelajaran usai, anak-anak beristirahat di lapangan. mesti Ara dan Dea saling berseberangan, namun mereka selalu berdua kemanapun mereka pergi.
Setiap perbuatan Ara yang menyimpang, selalu dicegah oleh Dea. Sehingga begitu sulit bagi Ara, untuk melakukan perbuatan yang sesuai dengan keinginannya.
Di saat semua murid pergi ke kantin untuk berbelanja, Ara dan Dea justru pergi ke kebun bunga. Mereka berdua, menikmati lezatnya bunga yang baru bermekaran.
Tak seorang teman pun yang tahu. Kalau Dea hanya memakan sari bunga untuk tubuhnya. Sementara Ara, selain memakan kembang, dia juga meminum darah untuk kebugaran tubuhnya.
Disaat mereka berdua, sedang asyik menikmati suasana taman bunga yang indah. Tiba-tiba saja, terdengar sebuah bisikan gaib di telinga Dea, seperti seseorang telah menyuruhnya kembali pulang.
setelah mendengar bisikan tersebut, dengan cepat Dea langsung menghilang entah Kemana.
"Idih, kemana perginya Dea? tadi masih disini bersamaku," ujar Ara seraya menoleh ke segala penjuru taman.
Sementara itu, Dea yang mendapat bisikan gaib, telah tiba di rumahnya. Ilmu piringan tubuh yang Dea miliki, sangat sempurna. Sehingga Dea, bisa berlari secepat mungkin.
"Mama, aku diperintah oleh Papa, untuk ke Nirwana."
__ADS_1
"Benarkah nak, ada apa?" tanya Pandan wangi, ingin tahu.
"Entahlah Ma, aku nggak tahu."
"Iya, pergilah. Hati-hati," jawab Pandan wangi.
Disaat itu, Dea langsung menghilang dari pandangan Pandan wangi dan Neneknya. Seketika itu juga, Dea telah tiba di Nirwana di hadapan prabu Askara.
"Ampun beribu-ribu ampun paduka raja, saat ini, hamba telah datang untuk menghadap."
"Putriku, Dea Chandra maya. Hari ini, kau ku tugas kan untuk kembali ke medan perang."
"Baik paduka raja!"
"Ada pasukan dari kerajaan Pura, datang untuk merebut, wilayah kerajaan parahyangan, dari sebelah selatan.
Tugasmu, gagalkan rencana mereka. Kapan perlu, kau serang mereka, hingga mereka tak mampu lagi menginjakkan kakinya di wilayah kita."
"Baik paduka raja, titah paduka segera hamba laksanakan!"
"Mereka itu, adalah segerombolan manusia kelelawar. Yang menyerang di saat malam hari, sekarang kau beristirahatlah putriku, nanti malam kau akan menyerbu kerajaan pura tersebut."
"Baik paduka, kalau begitu saya akan istirahat dulu."
Ketika Dea disuruh beristirahat di dalam kamarnya. Dea merasa tak nyaman, dia pun pergi ke alun-alun kerajaan, untuk melihat pasukan perang yang dipimpinnya.
Ketika seluruh prajurit, melihat kedatangan jenderal perang mereka. Semuanya bersorak gembira. Dea yang melihat pasukannya, bersemangat untuk berperang. Hatinya merasa senang.
"Wahai prajurit ku! tugas negara telah memanggil kita. Nanti malam, kita semua akan menyerbu kerajaan Pura, yang seluruh penghuninya adalah manusia kelelawar. Mereka akan memangsa kita, kalau kita lalai dan lengah."
"Baik yang mulia!" teriak seluruh prajurit serentak.
"Sekarang lanjutkan latihan kalian, setelah selesai beristirahat lah. Persiapkan seluruh senjata kalian, untuk peperangan nanti malam!"
"Kenapa harus nanti malam yang mulia?" tanya seorang prajurit pada Dea.
"Karena manusia kelelawar, hanya keluar pada malam hari. Sementara itu, pada siang hari mereka berpencar, bersembunyi di gua, yang kita sendiri tidak mengetahuinya."
"Bagaimana, kalau mereka telah membuat siasat untuk menghancurkan kita semua yang mulia?"
"Kalian nggak usah cemas, karena semuanya sudah saya atur sedemikian rupa dan tak ada yang perlu di kuatir kan!" seru Dea dengan suara lantang.
Mendengar ucapan jenderal mereka, seluruh prajurit merasa aman dan tenang. Setelah mereka selesai melakukan latihan, mereka langsung beristirahat.
Setelah mentari terbenam di ufuk barat. Seluruh pasukan Dea mulai bergerak, mereka menyebar dari empat titik penjuru.
__ADS_1
Pasukan Dea bukan hanya di darat saja. Akan tetapi, mereka juga bisa terbang diatas. Untuk itu, dia membagi, delapan bagian. Sehingga menghasilkan kelompok penyerangan yang tangguh.
"Strategi yang telah diatur Dea, sangat rumit. Akan tetapi, hal itu dapat membuat pasukan dari kerajaan Pura kocar-kacir.
Disaat prajurit dari kerajaan Pura, hendak menyerbu kerajaan parahyangan. Tanpa mereka duga, pasukan Dea telah menghadang perjalanan mereka.
Perkelahian pun tak dapat dielakkan lagi. Sebagian kecil pasukan Dea, menyerbu langsung ke pusat markas kerajaan Pura.
Sehingga pasukan manusia kelelawar beranggapan, bahwa pasukan dari kerajaan Nirwana hanya sebagian kecil saja.
Itulah sebabnya, prajurit dari Pura langsung menggempur prajurit dari Parahyangan. Semangat tempur mereka sangat luar biasa. Sehingga mereka tak memperhatikan kalau dari segala penjuru, pasukan Dea siap menyerang mereka.
Mesti demikian, pasukan Dea mampu membuat pasukan dari kerajaan pura sedikit kewalahan. Mereka terdesak sebelum bantuan datang, namun ketika bantuan datang, pasukan Dea telah menyerbu mereka terlebih dahulu.
Siasat perang yang dibuat oleh Dea, membuat pasukan dari kerajaan lain kocar-kacir. Mereka terdesak, hingga banyak dari mereka melakukan bunuh diri karena ketakutan.
Ketika Dea mengepung pasukan musuh yang hendak melakukan bunuh diri, Dea langsung menghampiri mereka dan mengangkat sebelah tangannya.
"Jangan lakukan hal itu!" teriak Dea dengan suara lantang.
Mendengar ucapan Dea, prajurit dari kerajaan Pura tak jadi melakukan bunuh diri tersebut. Mereka terhenti sejenak, di saat Dea datang menghampirinya.
"Kenapa kalian melakukan bunuh diri. Padahal kami tak akan menghukum kalian."
Mendengar ucapan Dea, para prajurit dari kerajaan Pura langsung menghampiri Dea.
"Benarkah apa yang kau katakan itu?" tanya salah seorang dari panglima perang kerajaan Pura.
"Benar! saya tak akan menghukum kalian, tapi dengan satu catatan. Kalian jangan pernah berniat, untuk menguasai sebagian dari kerajaan Parahyangan.
"Baik, kami tak akan mengganggu kerajaan Parahyangan lagi! asalkan kau bersedia melepaskan kami semua!"
"Silakan! kembalilah kalian ke kerajaan kalian, jangan pernah lagi kalian datang mengusik ketenangan kerajaan Parahyangan."
"Baik, kami akan pergi!"
Setelah pimpinan mereka membuat kesepakatan dengan Dea, untuk tidak merampas wilayah kerajaan Parahyangan, seluruh prajurit dari kerajaan Pura, diizinkan untuk kembali ke istana mereka.
Dea sengaja memberi mereka kesempatan, karena Dea tidak ingin, banyak korban jiwa yang berjatuhan, akibat peperangan tersebut.
Bersambung...
*Selamat membaca*
.
__ADS_1