
Mendengar keluhan dari putrinya, raja Dasamuka sangat marah sekali. wajahnya yang sangat mengerikan tampak memerah, semua prajurit kerajaan menjadi ketakutan.
"Para prajurit ku semuanya, turunlah kalian ke bumi, cari gadis kecil yang bernama Dea. Dia telah membuat putriku gagal dalam memperoleh tumbal. Pergilah dan jangan kalian kembali sebelum mengetahui di mana Dea itu tinggal."
Mendengar perintah dari raja Dasamuka, semua prajurit bergegas turun ke bumi mencari Dea yang telah menggagalkan rencana Ara untuk mendapatkan tumbal.
Semua prajurit, raja Dasamuka berkumpul di rumah Ara. Prajurit itu menyamar menjadi warga desa dan datang menemui Ara.
Siapa kalian?" tanya Bondan yang tampak heran, ketika melihat begitu banyak orang di depan rumahnya.
Karena tak ada yang menjawab pertanyaan dari Bondan, lalu Bondan pun masuk ke dalam dan menghampiri kemuning.
"Sayang, kenapa begitu banyak orang di luar, ada apa?" tanya Bondan bingung.
"Entahlah mas, aku nggak tahu. Tapi, siapa yang datang malam-malam begini?"
"Mereka nggak ada yang bicara, saat mas bertanya kepadanya."
Mendengar perkataan dari suaminya, kemuning langsung menemui putrinya yang saat itu sedang berada di dalam kamar.
"Ada apa sayang, kau memanggil pasukan Ayahmu?" tanya Kemuning ingin tahu.
" Iya Ma, dia sengaja datang ke sini untuk mencari perempuan yang telah menggagalkan rencana ku."
"Rencana, rencana apa sayang?" tanya Kemuning ingin tahu.
Saat Mamanya bertanya. Ara baru sadar, kalau selama ini dia sengaja menyembunyikan tentang boneka itu dari keluarganya.
"Ara! rencana apa yang gagal sayang?"
Saat Mamanya bertanya, Ara diam saja. Karena dia telah berjanji pada Ayahnya, untuk tidak memberitahu hal itu pada Mamanya. Tentang tumbal yang selalu dia cari setiap malam bulan purnama.
"Maaf Ma, aku keluar sebentar. Aku akan menyuruh mereka semua pergi," jawab Ara, seraya berlari keluar melintasi Mamanya.
"Kenapa dengan Ara sayang? apa Yang dia lakukan?"
"Entahlah Mas, aku juga bingung apa yang telah dilakukan oleh Putri kita saat ini," jawab Kemuning seraya bergegas menyusul putrinya.
Di saat Kemuning tiba di luar, seluruh orang yang berada di depan rumahnya sudah pergi dan Kemuning tak melihat siapa pun di sana.
"Pergi kemana mereka Kemuning?" tanya Bondan heran.
"Entahlah Mas, aku juga nggak tahu, tiba-tiba saja mereka semua bubar dan pergi entah ke mana," jawab Kemuning berbohong.
Tak berapa lama kemudian, Ara pun masuk ke dalam untuk menghampiri kedua orang tuanya.
"Mereka sudah pergi kok Ma," jawab Ara dengan tenang.
__ADS_1
"Emangnya mereka itu siapa sayang?" tanya Bondan penasaran.
Ara tak sanggup menjawab pertanyaan dari Papanya, karena saat itu Ara tak punya jawaban untuk pertanyaan itu. Tanpa memperdulikan pertanyaan Bondan, Ara langsung masuk ke dalam.
"Ada apa sayang? kenapa diam?" tanya Bondan sekali lagi.
Namun, Ara tetap berlalu meninggalkannya. Bondan yang merasa tak senang, berencana untuk mengejar putrinya tersebut. Tapi Kemuning telah menghalangi langkah suaminya.
"Nggak usah dikejar Mas, biarkan aja. Barangkali dia nggak bisa menjawab apa yang Mas tanyakan itu."
"Kenapa nggak bisa menjawab, kan Mas cuma tanya siapa mereka yang di luar itu?"
"Udahlah Mas, jangan cari masalah deh. Nanti Ara bisa ngambek, kan kita juga yang susah."
"Ya udah, kalau Ara nggak mau ditanyai."
Sementara itu, Ara yang tak punya jawaban untuk Papanya, dia langsung masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dari dalam.
"Ayah, prajuritmu telah membuat masalah denganku."
"Masalah apa sayang?"
"Dia datang ke rumahku dan menunggu di depan pintu. Kenapa Ayah nggak menyuruh mereka, mencari langsung
dimana perempuan itu tinggal?"
"Dia itu bukan prajurit Ayah Ara, tapi dia prajuritmu yang sengaja ayah kirimkan untuk membantumu dalam mencari tumbal."
"Iya sayang, Kau bisa lakukan apa saja pada mereka, kau juga bisa memerintah mereka sesuai dengan keinginanmu."
"Terima kasih Ayah, kalau begitu besok mereka akan patuh pada perintah ku."
Dengan senang hati, Ara langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Perasaannya sangat bahagia sekali, karena dia telah diberi beberapa orang prajurit untuk mengurus dan menjaganya selama berada di bumi.
Sambil menunggu pasukan gaibnya datang, Ara melakukan semedi di dalam kamarnya. Di saat itu, Ayahnya datang menghampirinya di dalam kamar.
"Putriku Ara, apakah kau ingin ikut bersama Ayah, ke Kayangan?"
"Ayah mau mengajak aku ke Kayangan?"
"Iya sayang," jawab raja Dasamuka dengan tenang.
"Kapan itu Ayah?"
"Sekarang."
"Benarkah itu?"
__ADS_1
"Iya sayang, kunci pintu dan jangan bilang pada siapapun kalau kau pergi ke Kayangan."
"Baik Ayah, aku akan ikut bersama Ayah," jawab Ara, seraya memegang ujung jemari tangan Ayahnya.
Mesti Ara lebih tua dari Dea, tapi Ara tak pernah menginjak kayangan apalagi kerajaan Angkara. Sementara itu, Dea yang masih berusia enam tahun, dia malah sering ke kerajaan Parahyangan, bahkan dia sudah diberi perintah oleh Ayahandanya untuk berperang.
Ketika tiba di Kayangan, Ara disuguhi beraneka ragam makanan yang lezat dan nikmat. Dia juga melihat pemandangan yang begitu indah dan menakjubkan.
"Wah, wah, wah! ternyata Kayangan sangat indah sekali, kenapa Ayah nggak pernah membawaku ke sini?" tanya Ara pada raja Dasamuka.
"Kau belum cukup umur putriku, jadi Ayah belum bisa membawamu ke sini."
"Lalu kenapa Ayah mengajakku ke sini?"
"Karena ada tugas berat yang akan kau emban putriku."
"Tugas berat apa itu Ayah?" tanya Ara penasaran.
"Dua hari lagi, akan terjadi perang besar-besaran antara kerajaan Angkara dengan kerajaan Parahyangan. Ayah ingin kau yang menjadi panglima perang kerajaan Angkara."
"Panglima perang, apa aku mampu untuk itu Ayah?"
"Kenapa tidak, di dalam tubuhmu mengalir darah dariku. Kau jauh lebih kuat dari para prajurit yang ada di Kayangan ini."
"Tapi aku nggak sanggup Ayah, aku belum pernah mencobanya."
"Kau harus sanggup putriku, karena sebagai keturunanku, tugasmu adalah menjaga dan melindungi kerajaanmu ini."
"Bukankah Ayah memiliki jendral, yang mengawal dan melindungi kerajaan ini?"
"Iya sayang, tapi jenderal yang ada di kerajaan Angkara ini, baru saja dibunuh dan telah pergi ke alam baka. Karena seorang jenderal dari Parahyangan telah membunuhnya."
"Berarti jenderal itu, sangat kuat dan hebat Ayah."
"Dia hanya seorang anak kecil, tapi memiliki kekuatan lebih kuat dari orang dewasa. Bukan hanya sekedar membunuh. Tapi, dia juga mengalahkan dua ribu pasukan Ayah yang bertempur melawan pasukannya.
"Ayah merasa sedih dan sakit hati, karena pasukan yang kuat dan berani bisa dimusnahkan dan dihancurkan oleh seorang anak kecil."
"Aku mau lihat seperti apa wajah anak itu?"
Sekarang Ayah harus melakukan penempaan padamu."
"Untuk apa Ayah?"
"Agar kau punya kekuatan lebih, dibandingkan dengan kau yang masih kecil."
"Baiklah, aku bersedia mengikuti perintah Ayah," jawab Ara dengan suara pelan.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*