AraDea

AraDea
Part 40 Tugas untuk Dea


__ADS_3

"Dulunya, kerajaan Angkara belum menjadi musuh kerajaan Parahyangan. Akan tetapi, setelah raja Dasamuka merebut paksa kerajaan itu dari tangan Patih kala. Itu sebabnya, seluruh bangsa jin yang membela klannya masing-masing tidak setuju dengan cara pemaksaan tersebut."


"Apakah itu penyebabnya, terjadi kekacauan antara sesama jin, demi membela klannya masing-masing."


"Iya sayang, tapi mereka semua bukan membelah klannya masing-masing. Akan tetapi, mereka menuntut perbuatan raja Dasamuka atas perilaku buruk yang telah dilakukannya."


"Ooo, jadi mereka minta keadilan agar raja Dasamuka diadili."


"Iya sayang. Namun buntut dari semua itu, sampai saat sekarang belum pernah aman. Raja Dasamuka tidak terima kalau dia diadili. Untuk itulah, dia terus berusaha membela diri dan mengatakan, kalau kerajaan Angkara, dulunya adalah milik ketua mereka dan raja Patih kala lah, yang telah merebut kerajaan itu dari mereka."


"Lalu, kenapa Papa begitu takut, saat mendengar kalau raja Dasamuka memiliki seorang anak di bumi?"


"Karena titisannya itu, sangat kuat sayang, titisan genderuwo yang dilahirkan oleh seorang wanita, dia akan memiliki fisik yang sangat kuat sehingga begitu sulit bagi kita untuk dapat mengalahkannya."


Mendengarkan penjelasan dari Askara, Dea hanya bisa menganggukkan kepala. Pertanda, Dia mengerti dan paham sekali apa yang dikatakan oleh Askara.


Di saat mereka sedang berbicara, tiba-tiba datang seorang telik sandi menghadap raja Askara.


"Ampun Yang Mulia raja, menurut informasi yang telah didapat. Raja Dasamuka memang memiliki seorang putri di bumi. Raja Dasamuka menikahi seorang perempuan yang telah bersuami, yang bernama Kemuning."


"Apakah kamu tahu di mana mereka tinggal?" tanya raja Askara pada telik sandinya.


"Ampun, beribu-ribu ampun paduka raja. Saat ini, kami belum tahu persis di daerah mana mereka tinggal. Tapi menurut berita yang didapat oleh telik sandi kami. Tempat tinggal Kemuning dekat dengan tempat tinggal, yang mulia Ratu Pandan wangi."


"Benarkah itu prajurit!"


"Benar yang mulia," jawab prajurit itu dengan tegas.


"Putriku Dea chandramaya, tugas baru untukmu telah datang. Aku ingin kau menyelidiki keberadaan, Putri Kemuning itu. Kau pelajari semua kelebihan yang dia miliki."


"Baik yang mulia raja, titah yang mulia akan saya laksanakan," jawab Dea, seraya mohon diri dari hadapan Askara.


Setelah urusan Dea selesai. Dea kembali ke bumi, ke tempat asal nya. Pandan yang tampak tenang duduk di sofa menunggu kedatangan putrinya, dia merasa senang ketika Dea telah kembali.


"Mama!" sapa Dea yang jaraknya tak begitu jauh dari Pandan wangi.


"Kamu sudah kembali sayang?"


"Udah Ma, urusanku di Parahyangan telah selesai. Mama tahu nggak, Papa mengangkatku sebagai jenderal perang."

__ADS_1


"Apa seorang jenderal!" jawab Pandan wangi kaget.


"Bener Ma, Papa mengangkatku sebagai jenderal perang. Mengatur puluhan ribu prajurit di kerajaan Parahyangan. Papa telah mengangkatku sebagai seorang ratu kerajaan itu, saat ini, aku memiliki ribuan prajurit, Ma," ujar Dea bersemangat.


"Papa mu itu memang keterlaluan sekali ya, masa anak sekecil ini dijadikan seorang jenderal. Apa dia sudah berniat untuk membunuhmu." Pandan wangi begitu kesal sekali, setelah dia menerima informasi tersebut dari Dea.


"Mama nggak usah panik begitu, aku pun sanggup menerima jabatan itu Ma dan aku tak menolaknya sama sekali," jawab Dea.


"Kenapa kau lakukan itu sayang, apakah Kau nggak takut mati. Kau kira medan perang itu, apa Dea? di sana tempat pembunuh dan dibunuh. Begitu banyak mayat-mayat bergelimpangan nantinya nak. Mama nggak mau kehilanganmu. Batalkan pengangkatan itu sayang, Mama nggak setuju, kamu menjadi jenderal di kerajaan Parahyangan," tegas Pandan wangi pada putrinya.


Mendengar perkataan Pandan wangi, Dea hanya tersenyum, karena menurutnya, Mamanya itu tak akan pernah tahu, berapa besar kekuatan yang telah dia miliki.


"Ya sudah, kalau Mama nggak setuju aku menjadi jenderal perang. Baiklah, aku akan tetap di sisi Mama, menjadi seorang gadis yang pengecut dan nggak berani membela kerajaannya sendiri."


"Bukan begitu maksud Mama nak, apakah Papa mu nggak bisa sabar, menunggu sampai kau berusia 17 tahun. Mama nggak keberatan kok, asalkan Papamu mau bersabar. Bukan sekarang, saat ini kau masih kecil sayang."


"Terserah Mama saja, aku pasti menurut kok," jawab Dea dengan suara lembut.


"Baiklah sayang. Saat ini, kembalilah kamu ke kamar, istirahatlah. Besok kau mau sekolah kan?"


"Iya Ma."


"Nggak perlu Ma, aku akan ke sekolah bersama dengan Mela."


"Mela. Siapa itu Mela?" tanya Pandan wangi heran.


"Dia gadis baik, yang selama ini menjadi teman sebangku, aku Ma."


"O ya, benarkah dia seorang gadis yang baik?"


"Bener Ma, hanya saja Mela orang miskin, dia tak punya uang jajan untuk ke sekolah. Ibunya, hanya bisa memberinya biaya sekolah tapi tak sanggup memberinya uang jajan.


"Emangnya orang tua Mela, bekerja di mana sayang?"


"Kata Mela, semenjak ayahnya meninggal dunia, ibunya bekerja sebagai buruh cuci, untuk membiayai hidup mereka. Terkadang dia dapat makan dua kali sehari dan terkadang Mela tak pernah makan nasi dalam satu hari."


"Kalau begitu besok kau beri dia uang, biar Mela dapat membeli jajan di sekolah."


"Benarkah itu Ma?" tanya Dea tak percaya.

__ADS_1


"Iya sayang timpal Yeni yang tiba-tiba saja muncul dari arah dapur.


"Nenek!" ujar Dea seraya berlari, mengejar ini Yeni.


"Kami semua setuju, kalau Dea memberi mela uang jajan. Karena bersedekah kepada orang tak mampu itu, sangat besar pahalanya di sisi Allah.


" Begitu ya, nek?"


"Iya sayang, kamu boleh memberi Mela uang jajan, berapa saja yang kau inginkan."


" Nenek dan Mama nggak marah?"


"nggak sayang, karena agama Islam menganjurkan kita untuk saling memberi satu sama lainnya siapa yang kaya memberi yang miskin agar mereka bisa menikmati hidup ini dengan tenang dan bahagia.


"Baiklah Ma besok Dea akan memberi Mela uang untuk jajanannya di sekolah," ujar Dea dengan senang hati.


"Nah, sekarang pergilah tidur. Istirahat yang cukup dapat membuat fisikmu menjadi kuat."


"Baik Ma!" jawab Dea, seraya meninggalkan Yeni dan Pandan wangi.


Keesokan harinya, di saat Dea sedang mengikuti pelajaran di kelasnya, lalu dia mendengar bisikan gaib di telinganya.


"Tinggalkan pelajaranmu Dea, cari orang yang bernama Kemuning. Cari sampai ketemu."


"Kamu kenapa Dea?" tanya Mela saat Dea meletakkan kedua ujung telunjuknya di kening.


"Seseorang sedang memanggilku Mel," jawab Dea setengah berbisik.


"Siapa yang telah memanggilmu?" tanya Mela ingin tahu.


"Dia berasal dari negeri lain," jawab Dea polos.


"Negeri lain, di mana itu Dea. Apakah di luar negeri?" tanya Mela yang semakin penasaran.


"Jika pun aku jelaskan kepadamu, kau nggak bakalan tahu Mel. Lebih baik, kau nggak usah tahu ya, sahabat kecilku."


"Baiklah, kalau kau nggak menginginkan aku mengetahuinya," jawab Mela dengan suara pelan.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2