
"Nggak akan. Mana mungkin aku akan melakukannya padamu, bukankah selama ini kita berteman. Mesti dalam saat-saat tertentu, kita menjadi lawan.
"Lalu, kenapa kau memutar-mutar pedang naga mu, di atas kepala ku?"
"Semua itu sengaja aku lakukan, agar emosi mu bisa sedikit mereda."
"Jadi kau mempermainkan aku hah, ujar Ara seraya mengejar Dea yang saat itu juga berlari.
Mereka berdua terlihat begitu cocok dan kompak, mereka berlari dan tertawa berdua.
"Setelah perang usai, mereka pun kembali ke kerajaan masing-masing. Dea kembali membawa sisa pasukannya, sementara Ara juga membawa sisa pasukannya yang masih tertinggal.
Kondisi mereka semua terlihat lemah dan lelah, sehabis melakukan Perang.
Wahai para prajurit ku, jika kalian merasa lelah kita beristirahat lah dahulu. Akan aku tunggu satu jam, untuk beristirahat," ujar Dea pada seluruh prajurit nya.
Mendengar perintah jenderal mereka, seluruh prajurit tampak beristirahat. Di mana saja mereka duduk, yang penting mereka dapat meredakan rasa lelah yang bergelayut di sekujur tubuhnya.
Melihat kondisi pasukan yang lemah, Dea tampak duduk merenungkan diri. Sementara jalan menuju kerajaan parahyangan, masih tersisa satu hari perjalanan lagi.
Saat itu pun muncul ide di benak Dea, dia mencoba menguji kehebatan ilmunya. Wahai prajurit ku, sekarang berpegangan lah satu sama lainnya, duduk dan diam lah. Konsentrasi kan pikiran mu, pada kerajaan parahyangan."
Mendengar ucapan Dea, semua prajurit itu duduk, mereka memusatkan pikiran mereka ke kerajaan Parahyangan. Benar saja, setelah Dea menyentuh mereka semua, tiba-tiba saja seluruh prajurit itu telah berada di kerajaan Parahyangan, dengan posisi duduk.
"Sekarang buka mata kalian, kita sudah tiba di kerajaan Parahyangan."
Ketika mata mereka dibuka, maka suatu keajaiban langsung mereka rasakan, perjalanan jauh yang akan mereka tempuh ternyata bisa dipersingkat oleh Dea dalam sekejap mata.
"Terima kasih yang mulia, kau telah mengembalikan kami ke rumah secepat ini. Sehingga kami tidak mengeluarkan tenaga, yang sangat melelahkan."
"Iya sama-sama," jawab Dea, seraya meninggalkan seluruh pasukannya.
Setelah Dea pergi, seluruh prajurit itu pun langsung beristirahat, mereka memulihkan kondisi mereka kembali setelah perang.
Lalu Dea menghadap kepada raja Askara, yang saat itu sedang duduk di singgasana.
"Ampun yang Mulia, saat ini seluruh prajurit Parahyangan telah kembali ke kerajaan dengan selamat."
"Putriku Dea, apa yang kau dapat dari peperangan, kalian hari ini."
__ADS_1
"Antara kerajaan Angkara, Pancalaka dan Parahyangan terjadi perang yang disebabkan atas kesalahpahaman oleh pasukan Angkara."
"Kalian berperang?"
"Iya yang Mulia!"
"Bukankah aku hanya memerintahkanmu untuk menyelidikinya terlebih dahulu, apa benar ini sebuah kenyataan atau hanya provokasi dari kerajaan lain."
"Ampunkan hamba yang mulia, awalnya prajurit hamba hanya menyelidikinya, kami mencoba menyatu dengan rakyat yang berada di pinggiran kerajaan Parahyangan. Namun saat kami telah menyatu dengan rakyat, tiba-tiba saja prajurit dari Angkara menyerang kami."
"Apakah itu penyebabnya kalian menyerbu mereka?"
"Iya yang Mulia!"
"Kenapa Dea, kenapa kau membantah perintahku!"
"Maafkan hamba yang mulia, prajurit hamba terpaksa menyerang mereka. Karena antara prajurit Angkara prajurit Parahyangan dan prajurit Pancalaka, sudah berbaur menjadi satu, mana yang rakyat dan mana yang prajurit, begitu sulit untuk di bedakan."
"Apakah banyak korban jiwa?"
"Iya yang Mulia!"
"Ampunkan hamba yang mulia, hamba lalai."
"Apakah kau tahu, berapa orang rakyat kita yang mati karena penyerangan itu?"
"Hamba nggak sempat menghitung yang mulia."
"Pasti banyak Dea, pasti banyak. Karena mereka semua adalah rakyat sipil, yang tak memiliki senjata."
"Kau telah membunuh mereka secara sia-sia. Lihatlah, kau perhatikan baik-baik berapa banyak anak-anak yang kehilangan Ayahnya, berapa banyak Ibu-ibu yang kehilangan suaminya, semua itu atas kelalaian mu Dea."
Mendengar amarah dari raja Askara, Dea hanya bisa tertunduk diam. Tanpa mampu mengangkat kepalanya, dihadapan sang Ayah Dea tetap bersimpuh. Agar raja Askara mau memaafkannya.
"Atas kelalaianmu saat ini, kerajaan Parahyangan akan menjatuhkan hukuman kepadamu. Menarik kembali, senjata pusaka "pedang naga" dari tanganmu."
Mendengar perintah dari raja Askara, Dea langsung menyerahkan pedang naga, ke tangan Papanya. kemudian dia pun memberi hormat dan langsung menghilang tanpa bicara sepatah kata pun kepada raja Askara.
Di perjalanan menuju rumah, Dea hanya diam saja tubuhnya yang bergelimang darah langsung terhenyak duduk di dalam ruang pustaka.
__ADS_1
Melihat Dea datang dengan berlumuran darah, seluruh murid-murid berlarian meninggalkan Dea sendirian.
Melihat semua teman yang berlarian, Dea langsung mengambil tas dan bukunya dan membawanya keluar dari sekolah.
Selama berada di perjalanan, banyak pasang mata yang melirik dan melihat kepada Dea. Mereka semua curiga, karena di tangan dan tubuh Dea penuh bercak darah.
Hal itu, tak pernah dilakukan Dea sebelumnya, karena setiap selesai perang Dea menukar pakaiannya, namun kali itu berbeda dari yang biasanya, karena amarah dan rasa emosi, Dea langsung kembali pulang ke bumi.
Di belakangnya ada beberapa orang guru menyusulnya, ingin memastikan keadaan Dea, apakah Dea sedang sakit atau biasa-biasa saja.
Ketika para guru memanggil Dea, gadis cantik itu terus saja berjalan tanpa menghiraukannya. Panggilan guru yang berulang kali didengarnya, hanya diabaikan Dea begitu saja.
Hati Dea terasa begitu sakit, atas perlakuan Papanya. Karena semua itu bukan semata-mata karena kesalahannya, di medan perang tak ada yang dapat diduga, tapi Ayahnya tak mempedulikan alasan yang diberikan Dea.
"Dea, Dea! kenapa kamu keburu-buru pulang nak?" tanya Bu Sinta, yang saat itu terus berlari mengejarnya.
"Maaf Bu, maaf! sebaiknya kalian kembali saja ke sekolah, karena saat ini aku ingin pulang."
"Ibu mengerti nak, tapi ada yang ingin Ibu tanyakan sama kamu, kenapa kamu berdarah, apa yang terjadi nak? mana Ara kenapa Ibu nggak melihatnya."
"Sebentar lagi Ara akan datang Bu," jawab Dea dengan suara pelan.
"Dea Putri Ibu yang baik, tolong kamu jelaskan kepada Ibu nak, apa yang terjadi denganmu. Kenapa pakaian mu berdarah. Begitu juga dengan baju, rambut dan seluruhnya berdarah ada apa ini, nak?"
"Aku baru selesai berperang Bu," jawab Dea dengan polos.
"Berperang, berperang dengan siapa sayang?"
"Dengan kerajaan Pancalaka dan kerajaan Angkara."
"Astaghfirullah, kamu kenapa nak, mana ada kerajaan di bumi ini, semuanya telah musnah nak."
"Kerajaan Angkara dan kerajaan Pancalaka itu, tidak di bumi letaknya Bu. Tapi di atas langit sana, di negeri Kayangan dan di negeri Nirwana. Bukan di bumi ini Bu."
"Ya Allah, Dea. Kamu kenapa sayang?" tanya Bu Sinta yang tak mengerti dengan jawaban Dea, Bu Sinta merasa kalau Dea saat itu, sedang berkhayal tentang negeri Kayangan dan negeri Nirwana.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1