AraDea

AraDea
Part 7 Melahirkan Pewaris kayangan


__ADS_3

Lalu perempuan itu pun pergi meninggalkan kemuning. Sementara itu pria tampan yang saat itu masih berada di atas kepalanya tetap duduk dengan tenang.


“Bang, bagai mana keadaan bayi ku?” tanya Kemuning ingin tahu.


“Bayi mu sehat sayang! dia cantik seperti Ibunya,” jawab Danu pelan.


Di saat pria itu bicara, Kemuning menarik tangan pria itu dan menciumnya berulang kali.


“Terimakasih sayang, kau telah memberiku seorang bayi yang cantik dan sehat.”


“Ya, jagalah anak itu dengan sepenuh hati, jangan kau beritahu siapapun tentang dirinya pada orang lain.”


“Baiklah, akan ku jaga rahasia ini dengan nyawaku sendiri.”


“Iya, sayang, kau adalah seorang istri yang memegang amanah, hiduplah dengan damai dengan putri tercinta mu.”


Di saat mereka sedang berbincang-bincang, dari luar tiba-tiba saja pintu diketuk, Kemuning yakin kalau itu adalah Bondan yang pulang dari warung.


“Apakah kamu itu, kang Mas?”


“Iya sayang, aku udah pulang!” jawab Bondan seperti terengah-engah.


“Masuklah Kang Mas, dorong aja pintunya, aku nggak bisa berdiri.”


“Kenapa sayang?” tanya Bondan sembari mendorong pintu itu dari luar.


“Aku baru saja melahirkan putri kita kang Mas!”


“Benarkah itu sayang?”


“Iya Mas.”


Mendengar istrinya telah melahirkan, Bondan langsung saja bergegas masuk. Saat itu, Bondan melihat banyak darah yang berserakan dilantai dan diatas perlak plastik.


“Ya Allah, siapa yang telah menolong mu melahirkan sayang?”


“Nggak ada Mas, aku melahirkan sendiri.”


“Maafkan kang Mas sayang, kang Mas terlambat menolong mu.”


“Nggak apa-apa, yang penting bayi kita telah lahir dengan selamat,” jawab Kemuning seraya tersenyum lebar.


Bondan sangat bahagia sehingga dia lupa menanyakan kepada Kemuning tentang ari-ari bayi tersebut yang hilang entah ke mana.


Tiga hari setelah bayi itu lahir, saat Kemuning pergi kekamar mandi, kemuning mendengar si kecil menangis histeris, lalu tiba-tiba saja dia terdiam seketika, kemuning yang merasa ada yang aneh dengan bayinya langsung bangkit dan melihat keluar.


Bersama putrinya ada seorang perempuan bertubuh sangar dan berwajah hitam berbulu lebat, dengan kedua gigi taringnya keluar. Perempuan itu tampak begitu asik tersenyum manis bersama putri Kemuning.


“Kamu siapa?” tanya kemuning heran.


Di saat perempuan itu memperlihatkan wajahnya, tiba-tiba saja Kemuning terkejut dan dia langsung pingsan tergeletak.

__ADS_1


Kesempatan itu di mamfaatkan makhluk itu, untuk mengangkat tubuh gadis kecil itu dari ayunan. Tapi gadis kecil itu marah dan membakar wajah perempuan itu dengan tatapan matanya yang tajam.


Perempuan itu langsung menjerit-jerit kepanasan, semua bulu yang melindungi tubuhnya habis terbakar oleh api yang terpancar dari kedua mata gadis kecil itu.


Jeritan makhluk itu terdengar jelas di seluruh penjuru Desa, membuat semua penduduk terkejut dan berlarian menuju rumah Kemuning.


Dari luar rumah, samar-samar Kemuning mendengar suara yang begitu ramai sekali. Akan tetapi, kepalanya terasa begitu pusing untuk dapat bangkit.


“Kemuning! ada apa nduk!” panggil Suminah dari luar.


“Buka pintunya kak! ujar Dina sembari menggedor-gedor pintu itu berulang kali.”


Walau semua orang berteriak memanggil nama Kemuning, namun Kemuning tetap tak bisa untuk bangkit.


Karena takut terjadi yang tak diinginkan, lalu Suminah menyuruh orang untuk mendobrak pintu rumah Kemuning.


Benar saja, apa yang mereka takutkan ternyata terjadi, mereka melihat Kemuning tergeletak dilantai tak sadarkan diri, sementara itu sikecil tampak menangis tiada henti.


“Oh sayang, cup, cup, cup! diam ya anak manis!” kata Dina seraya menggendong bayi itu, sembari meninabobokan nya.


Di saat Dina menggendong si kecil, Suminah langsung membantu Kemuning untuk membaringkannya di atas ranjang.


Setelah di beri obat, kemuning langsung sadar dan menatap heran kesemua orang yang hadir dirumahnya.


“Ada apa? kenapa begitu banyak orang disini?” tanya Kemuning heran.


“Kami semua mendengar suara jeritan seseorang, kami kira itu suara mu, makanya kami berlari menuju rumahmu.”


“Mana putri ku? mana dia?” tanya Kemuning seraya berlari menghampiri kotak bayi yang berada dekat dengannya.


“Bayi mu ada bersama aku kak,” jawab Dina yang terus menggendong bayi mungil itu.


“Alhamdulillah!” jawab Kemuning sembari mengambil bayinya dari gendongan Dina.


“Sebenarnya ada apa nak?” tanya Bu Rika dengan suara lembut.


“Tadi ketika aku sedang mandi, terdengar putriku menangis, lalu aku datang menghampirinya, ternyata di samping ayunannya, ada seorang perempuan yang sangat mengerikan sekali.”


“Kau melihatnya nak?”


“Iya, Bu.”


“Ya Allah! makhluk apakah itu gerangan?”


“Entahlah aku sendiri nggak tau,” jawab Kemuning seraya mencoba untuk mendiamkan bayinya.


“Cup, cup, cup! diam ya sayang!” ucap Kemuning seraya terus mengajak bayi mungil itu tersenyum.


“Kapan rencananya, kau ngasih bayi mu nama Kemuning?” tanya Pak Lurah ingin tau.


“Aku belum punya rencana untuk itu Pak, lagian Mas Bondan belum punya uang.”

__ADS_1


“Kalau kau mau, pakailah dulu uang kas kelurahan, ada disana sampai saat ini uang itu belum terpakai.”


“Nggak usah Pak, nanti biar Mas Bondan aja yang nyariin biayanya.”


“Ooo, nggak apa-apa. Tapi kalau nanti uangnya nggak cukup, kalian datanglah ke kelurahan.”


“Baik Pak, terimakasih.”


“Kalau begitu, kami permisi dulu!”


“Iya Pak, terimakasih.”


“Jika ada sesuatu nantinya, berteriak lah, semua warga pasti akan datang membantu mu.”


“Baik Pak.”


“Dan satu lagi! jangan pernah meninggalkan bayi mu sendirian di dalam rumah, bawa dia kemana pun kau pergi.”


“Iya, terimakasih atas nasehat yang Bapak berikan.”


“Iya,” jawab Pak Lurah sembari melenggang meninggalkan rumah Kemuning.


Setelah suasana sunyi, tiba-tiba saja makhluk itu datang menghampiri Kemuning, aroma tubuhnya tercium oleh Kemuning, dia datang karena putrinya dalam bahaya.


“Bukankah sudah ku katakan padamu, jangan tinggalkan putri kita sendirian!”


“Maafkan aku Bang, tadi aku sedang ke kamar mandi.”


“Kenapa kau nggak cari pembantu untuk anak kita ini?”


“Aku nggak punya uang untuk menggaji mereka semua,” jawab Kemuning.


“Baiklah, besok akan ku utus beberapa orang untuk menjaga putri kita dan membantu mu selama di rumah.”


“Lalu bagai mana cara aku menggaji mereka semua?”


“Kau nggak perlu menggaji mereka, karena mereka itu prajurit ku dari kayangan,” jawab pria itu.


“Lalu, bagai mana kalau Mas Bondan bertanya tentang prajurit yang Abang kirimkan itu?”


“Suami mu nggak akan melihat mereka, karena mereka semua makhluk gaib yang nggak sembarang orang yang bisa melihatnya.”


“Baiklah, aku akan mematuhi keinginan mu,” jawab Kemuning dengan suara pelan.


Setelah mereka selesai berbicara, lalu pria itu langsung menghilang dari pandangan Kemuning. Tak berapa lama kemudian, datanglah beberapa orang mengetuk pintu Kemuning dari luar.


“Siapa?” tanya Kemuning heran.


“Saya kanjeng ratu,” jawab seorang perempuan dari luar.


“Kanjeng Ratu? Siapa yang mereka maksudkan kanjeng Ratu itu?”

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2